Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Bab 47: Pertemuan Dua Ratu di Bawah Satu Atap
Mobil Rolls-Royce hitam itu akhirnya berhenti dengan mulus di pelataran megah kediaman Alessandro. Amora melangkah turun dengan keanggunan seorang model, matanya berbinar menatap rumah masa kecilnya yang selalu ia rindukan. Dixon mengekor di belakangnya, aura kebapakan yang hangat masih menyelimuti pria berusia 39 tahun itu.
Begitu mereka melangkah masuk ke dalam lobi utama yang luas dan sunyi, Dixon menepuk pelan bahu ramping putrinya.
"Amora, masuklah ke kamarmu dulu untuk menaruh barang-barang dan menyegarkan diri," ucap Dixon dengan suara baritonnya yang tenang namun berwibawa. "Daddy akan naik ke kamar utama untuk memanggil ibu tirimu. Beliau sudah menunggumu sejak sore."
"Oke, Daddy! Jangan lama-lama ya, aku beneran udah penasaran banget!" sahut Amora riang. Ia menyambar tas jinjing mewahnya lalu melangkah lebar menaiki tangga menuju kamarnya yang terletak di sayap kiri lantai dua.
Sementara itu, Dixon melangkah menuju kamar utama. Begitu pintu terbuka, ia mendapati Cia sedang duduk tegap di tepi ranjang dengan gaun tidur satin hitam yang kontras dengan kulit pucatnya. Sisa-sisa ketakutan dari drama di kantor siang tadi sengaja masih Cia perlihatkan lewat tatapan matanya yang sedikit meredup.
Dixon berdeham rendah, melangkah mendekat. "Valencia, Amora sudah sampai. Dia sekarang ada di kamarnya."
Cia mendongak, lalu memaksakan sebuah senyuman lembut yang tampak begitu tulus dan berusaha tegar. Ia berdiri dari ranjang, merapikan jubah satinnya dengan anggun. "Begitu ya, Mas... Syukurlah dia sudah sampai dengan selamat. Aku akan langsung pergi ke kamarnya untuk berkenalan."
Cia berjalan mendekati Dixon, mengulurkan tangannya untuk merapikan kerah kemeja suaminya yang sedikit kusut. "Kamu pasti lelah setelah menjemputnya dari bandara. Mandilah dengan air hangat yang sudah kusiapkan, Mas. Biarkan aku yang menyambut putri kita malam ini," ucap Cia dengan nada seorang istri yang teramat pengertian.
Melihat perhatian dan kelembutan Cia setelah ia bentak siang tadi, rasa bersalah di dada Dixon kembali berdenyut. Tembok esnya mencair lagi. Ia mengangguk pelan, menyentuh sekilas bahu Cia. "Baiklah. Terima kasih, Valencia."
Begitu Dixon melangkah masuk ke dalam kamar mandi, senyuman lembut di wajah Cia seketika menguap. Sepasang matanya menggelap, memancarkan kilat kegelapan yang teramat pekat dan mematikan. Langkah kakinya yang beralaskan sandal bulu tipis bergerak tanpa suara, membelah lorong sunyi lantai dua menuju kamar Amora.
Cklek.
Pintu kamar Amora yang tidak dikunci terbuka perlahan. Di dalam ruangan bernuansa merah muda dan emas itu, Amora sedang memunggungi pintu, sibuk mengeluarkan beberapa barang dari kopernya.
"Daddy? Cepat banget? Mana ibu tiri baruku—" Kalimat Amora terputus saat ia membalikkan tubuh tegapnya.
Detik itu juga, waktu seolah berhenti berputar. Sepasang mata angkuh Amora membelalak sempurna, membeku di tempatnya berdiri. Tatapan mereka bertemu di udara. Di ambang pintu, Cia berdiri tegak, bersedekap anggun dengan sebuah senyuman miring yang teramat licik, dingin, dan mengerikan terukir di bibir ranumnya.
"K-Kau...?!" Amora tersentak mundur satu langkah, jemarinya meremas tepi meja rias dengan sangat kuat. Wajah cantiknya seketika berubah pucat pasi, dipenuhi rasa syok yang luar biasa dahsyat. "Valencia?! Kenapa lo... bagaimana bisa lo ada di sini?!"
Cia melangkah masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang pelan namun terdengar seperti dentang lonceng kematian bagi Amora. Cia berjalan perlahan, mengikis jarak di antara mereka dengan ketenangan seorang predator.
"Apa yang kau lakukan di rumahku, jalang?!" desis Amora, suaranya bergetar hebat di antara amarah yang meledak dan rasa tidak percaya.
Mendengar makian "jalang" dari mulut musuh bebuyutannya, Cia justru terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar begitu renyah namun sarat akan racun yang mematikan. Ia berhenti tepat dua langkah di depan Amora, menatap rendah gadis yang dulu pernah menghancurkan hidupnya itu.
"Aku?" Cia memiringkan kepalanya sedikit, menyunggingkan seringai iblis yang semakin melebar, memancarkan kepuasan yang teramat dahsyat dari lubuk hatinya. "Aku adalah ibumu yang baru, Amora. Jaga ucapanmu mulai sekarang."
Deg.
Bagaikan dihantam gada tak kasatmata tepat di dadanya, pasokan oksigen di sekitar Amora seketika habis. Seisi kepalanya berputar hebat, dipenuhi gaung kalimat Cia yang mengerikan.
"N-No... no, no! Gak mungkin!! Lo pasti bohong!" jerit Amora histeris, menggelengkan kepalanya kuat-kuat seolah mencoba mengusir mimpi buruk ini. Air mata frustrasi mulai menggenang di matanya yang merah. "Daddy gak mungkin nikah sama pelayan rendahan kayak lo! Daddy benci cewek caper! Gak mungkin lo istri baru Daddy, gak mungkin!!"
"Kenapa nggak mungkin, Sayang?" potong Cia, suaranya mendadak berubah menjadi teramat manis namun dingin menusuk tulang. Ia maju satu langkah lagi, membuat Amora terpaksa mendongak ketakutan. "Dua hari lalu, di sebuah kapel privat, Daddy-mu yang tampan itu sudah mengucapkan janji sucinya di depan altar untuk menjagaku seumur hidupnya. Bahkan, dia sendiri yang mencium keningku sebagai tanda kepemilikan yang mutlak."
Cia mencondongkan wajahnya, berbisik tepat di depan wajah Amora yang sudah berlinang air mata syok. "Sesuai perkataanmu di telepon tadi... bukankah kamu bilang ingin menjadi bestie dengan ibu barumu?
Amora mencengkeram tepi meja riasnya begitu kuat hingga kuku-kuku ber-manikurnya yang mahal memutih. Napasnya memburu, naik turun dengan tidak teratur seiring dengan detak jantungnya yang berdegup liar karena rasa syok dan amarah yang berbaur menjadi satu. Ia menatap Cia dengan tatapan yang sarat akan kebencian mendalam.
"Lo... lo sengaja 'kan deketin Daddy gue?!" tuduh Amora dengan suara yang bergetar hebat, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang runtuh. "Sebenarnya mau lo apa, hah?! Harta?! Uang?! Bilang sama gue berapa yang lo butuh buat pergi dari hidup Daddy, dasar pelayan miskin! Atau... atau lo ngelakuin ini semua karena dendam?!"
Mendengar kata terakhir yang keluar dari bibir Amora, Cia tidak terkejut. Sebaliknya, ia justru menghentikan langkahnya, melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menaikkan sebelah alisnya dengan gestur yang teramat elegan namun dingin menusuk.
"Dendam?" tanya Cia, mengulang kata itu dengan nada meremehkan.
Cia maju satu langkah lagi, membuat siluet tubuhnya yang terbalut gaun tidur satin hitam seolah menenggelamkan Amora dalam ketakutan. "Dendam yang mana yang kamu maksud, Amora yang terhormat? Dendam karena kamu sudah memanipulasi kecelakaan maut yang merenggut nyawa paman dan bibi yang membesarkanku? Atau dendam karena kamu dengan murahannya merebut kekasihku di masa sekolah dulu hanya demi memuaskan ego busukmu itu, hm?"
Amora seketika bungkam seribu bahasa. Tenggorokannya mendadak terasa kering kerontang bagai tercekik udara malam. Wajah cantiknya yang semula angkuh kini sepenuhnya memucat, menyiratkan kepanikan yang teramat pekat. Kilasan memori kelam di masa SMA yang selama bertahun-tahun ini berusaha ia kubur dalam-dalam, mendadak dibongkar paksa oleh wanita di hadapannya.
Melihat perubahan ekspresi Amora yang mati kutu, Cia menyunggingkan senyuman yang teramat puas—sebuah kepuasan iblis yang sudah ia nantikan selama bertahun-tahun kesendiriannya.
"Kenapa diam? Takut?" bisik Cia, suaranya terdengar begitu lembut namun sarat akan ancaman berbahaya. "Sekarang, izinkan aku bertanya satu hal padamu... Apa Daddy-mu yang terhormat itu tahu soal seluruh kelakuan bejatmu di masa lalu? Apa Dixon Luca Alessandro tahu kalau putri tunggal kesayangannya ini adalah seorang pembunuh berdarah dingin yang sudah menghancurkan hidup seorang gadis yatim piatu?"
Deg.
Pertanyaan menjebak dari Cia bak petir yang menyambar langsung ke ulu hati Amora. Gadis itu terdiam kaku dengan mata membelalak sempurna. Ia tahu persis bagaimana watak ayahnya. Dixon adalah pria yang sangat tegas, disiplin, dan menjunjung tinggi kehormatan nama baik keluarga. Jika Dixon sampai tahu bahwa putrinya terlibat dalam skandal kriminal yang merenggut nyawa orang, posisi Amora sebagai putri mahkota kesayangan pasti akan berada di ujung tanduk. Amora tahu ayahnya menyayanginya, tapi ia juga tahu ayahnya tidak akan menoleransi kejahatan sekotor itu.
Melihat Amora yang gemetar ketakutan tanpa bisa membalas sepatah kata pun, Cia semakin merasa di atas angin.
Namun, rasa syok Amora perlahan berubah menjadi keputusasaan yang defensif. Mengingat posisinya sebagai anak kandung, Amora mencoba menegakkan kembali pundaknya, menatap Cia dengan kilat mata yang memerah karena amarah yang memuncak.
"Gue... gue nggak bakal biarin lo tinggal di rumah ini!" desis Amora dengan nada mengancam, giginya menggeretak menahan emosi. "Gue bakal lakuin segala cara buat bikin Daddy sadar siapa lo sebenarnya! Gue bakal usir lo keluar dari rumah ini, Valencia! Lo gak pantas ada di sini!"
Cia tidak gentar sedikit pun mendengar ancaman itu. Ia justru mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke dalam manik mata Amora dengan kilat kemenangan yang menyala-nyala.
"Silakan coba saja kalau kamu mampu, Amora Sayang," tantang Cia dengan nada meremehkan, berbalik arah menuju pintu kamar dengan gerakan yang teramat anggun. "Tapi ingat satu hal... siang tadi di kantornya, Daddy-mu sudah berjanji padaku bahwa dia tidak akan memedulikan apa pun perkataanmu atau bagaimana reaksimu terhadap pernikahan ini. Jadi, berteriaklah sesukamu, menangislah sampai air matamu habis, karena di rumah ini... aku adalah Nyonya Besar yang sah."
Tanpa menunggu balasan lagi, Cia membuka pintu kamar, melangkah keluar, dan menutupnya kembali dengan bunyi klik yang tegas, meninggalkan Amora yang seketika luruh terduduk di lantai kamarnya sembari menangis histeris menahan rasa frustrasi yang luar biasa dahsyat.
toh Dixon ga menghargai kamu
mending kamu pergi
balas dendam bisa lewat apa aja
jarak jauh pun bisa
kamu punya bukti2 aborsi Amora
kamu bisa kirim bukti itu ke Dixon,
ngapain harus merendahkan diri sendiri
kalo Dixon cinta sama kamu pasti akan cari kamu