Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35 - Data Ponsel
Pelukan itu bertahan cukup lama. Tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan. Air mata yang mengalir di pipi keduanya telah mewakili semua perasaan yang selama ini tersimpan. Faris baru menyadari bahwa ikatan keluarga memang tidak selalu lahir dari hubungan darah. Selama lebih dari dua puluh tahun, wanita yang sedang terbaring lemah di hadapannya telah merawatnya tanpa pernah membedakan sedikit pun. Baginya, itu jauh lebih berarti daripada siapa pun yang telah melahirkannya.
Beberapa menit kemudian, dokter kembali memasuki ruang perawatan bersama seorang perawat. Ia memeriksa monitor, tekanan darah, serta hasil pemeriksaan pascaoperasi sebelum akhirnya menoleh kepada Faris.
"Mas Faris."
"Iya, Dok."
"Kondisi ibu Anda masih belum stabil."
Jantung Faris kembali berdebar.
"Apa ada masalah lagi?"
"Untuk sementara tidak ada perdarahan baru. Operasinya berjalan sesuai harapan. Namun tubuh beliau sangat lemah sehingga masih membutuhkan pengawasan ketat."
Dokter berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Beliau harus dirawat inap."
"Berapa lama, Dok?"
"Kami belum bisa memastikan. Bisa beberapa minggu, bahkan mungkin lebih lama, tergantung perkembangan kondisinya."
Faris mengangguk pelan. "Saya mengerti."
Dokter menepuk bahunya pelan. "Yang terpenting sekarang adalah jangan sampai beliau kelelahan atau mengalami tekanan emosional yang berlebihan."
Setelah dokter keluar, Siti menatap putranya dengan senyum yang dipaksakan.
"Ris."
"Iya, Bu."
"Kamu jangan terus di sini."
Faris langsung menggeleng.
"Aku akan menemani Ibu."
"Tidak."
"Tapi..."
"Kamu masih punya banyak urusan."
Wanita itu menghela napas pelan. "Rumah kita bagaimana, kamu juga belum tahu. Teman-temanmu juga pasti mencarimu. Ayahmu dulu selalu mengajarkan kalau saat terjadi musibah, kita harus tetap berpikir jernih."
Faris terdiam. Siti benar. Sejak semalam, ia sama sekali belum mengetahui keadaan kampungnya. Ia juga belum memberi kabar kepada siapa pun bahwa dirinya masih hidup.
Bahkan Pak Bandi, Pak Adi, Vanessa, dan rekan-rekan proyek kemungkinan besar mengira ia ikut menjadi korban tsunami.
Siti menggenggam tangannya. "Ibu tidak apa-apa. Di sini ada dokter. Ada perawat. Kamu pergilah sebentar. Kalau sudah selesai, baru kembali menemui Ibu."
Faris akhirnya mengangguk pelan. "Baik, Bu. Tapi aku tidak akan lama."
Siti tersenyum tipis. "Ibu tahu."
Faris mencium punggung tangan wanita itu sebelum keluar dari ruang rawat.
Begitu pintu tertutup, ia langsung mengembuskan napas panjang. Perasaannya campur aduk.
Di satu sisi, dia lega karena ibunya berhasil melewati operasi. Di sisi lain, kenyataan bahwa penyakit itu tidak bisa disembuhkan sepenuhnya terus menghantui pikirannya.
Belum lagi rahasia mengenai asal-usul dirinya. Semua itu terasa terlalu berat untuk diproses dalam waktu bersamaan.
Ia berjalan menuju lobi rumah sakit yang dipenuhi televisi. Hampir semua saluran berita masih menayangkan liputan mengenai gempa dan tsunami.
Di layar terlihat rekaman udara terbaru. Helikopter media terbang rendah di atas kawasan pesisir yang porak-poranda.
Faris langsung mengenali jalan utama menuju kampungnya. Dadanya seketika sesak. Rumah-rumah yang dulu berdiri rapat kini hanya menyisakan puing-puing. Beberapa atap terlihat tersangkut di pepohonan. Mobil-mobil bertumpuk satu sama lain. Lumpur hitam menutupi hampir seluruh jalan.
Di beberapa titik, petugas gabungan masih mencari korban yang tertimbun reruntuhan.
Faris mengepalkan kedua tangannya. "Semoga semuanya selamat."
Ia teringat Bu Nuri. Tetangga yang selalu membantu ibunya. Ia teringat anak-anak kecil yang sering bermain di gang depan rumah. Ia juga teringat pemilik warung dekat rumahnya. Satu per satu wajah mereka bermunculan dalam benaknya.
"Sistem."
[Ya, Host.]
"Ada data korban?"
[Data belum tersedia.]
Faris menatap layar televisi lagi. "Semoga mereka sempat menyelamatkan diri."
Ia benar-benar berharap begitu. Beberapa saat kemudian, pikirannya beralih kepada hal lain.
"Ponsel..."
Ia baru menyadari bahwa ponselnya ikut tertinggal di rumah ketika mereka melarikan diri. Kemungkinan besar sudah hanyut bersama tsunami.
Faris mengusap wajahnya. "Aku harus menghubungi Pak Bandi. Pak Adi juga."
Belum lagi proyek pembangunan jembatan. Tanpa kabar darinya, mungkin mereka mengira ia telah meninggal.
"Sistem."
[Ya, Host.]
"Apa tidak ada cara menghubungi mereka?"
[Ada.]
Faris langsung mengangkat kepala. "Hah?"
[Host dapat menghubungi seluruh kontak lama.]
Faris mengernyit. "Bagaimana caranya? Ponselku sudah hilang."
[Sistem telah menyimpan seluruh data perangkat Host.]
Faris berkedip beberapa kali. "Maksudmu..."
[Nomor kontak.]
[Foto.]
[Dokumen.]
[Catatan.]
[Seluruh data penting telah dicadangkan secara otomatis.]
Mata Faris membesar. "Kamu bisa melakukan itu?"
[Benar.]
Faris hampir melonjak kegirangan. "Berarti semua nomor teleponku masih ada?"
[Benar.]
"Nomor Pak Bandi?"
[Tersimpan.]
"Pak Adi?"
[Tersimpan.]
"Vanessa?"
[Tersimpan.]
Faris tersenyum lebar. "Bagus sekali! Tunggu..."
Senyumnya mendadak menghilang. "Kalau begitu... Kenapa baru sekarang kamu bilang?"
Sistem menjawab dengan nada datar.
[Host tidak pernah bertanya.]
Faris terdiam beberapa detik. Lalu wajahnya berubah kesal.
"Memangnya kamu tidak bisa memberi tahu dari awal?"
[Host tidak menanyakan status data ponsel.]
Faris memijat dahinya. "Aku mana sempat memikirkan itu! Semalam kita hampir mati!"
[Benar.]
"Terus kenapa tidak bilang?"
[Sistem hanya menjawab pertanyaan yang diajukan Host.]
Faris mendesah panjang. "Kadang aku heran. Kamu pintar. Tapi juga menyebalkan."
Beberapa detik kemudian, sistem kembali berbunyi.
[Host memerlukan perangkat baru.]
"Iya, aku tahu."
[Silakan membeli telepon genggam baru.]
"Setelah itu?"
[Sistem akan memulihkan seluruh data dalam waktu kurang dari satu menit.]
Faris langsung membayangkan wajah Pak Bandi yang mungkin sejak tadi berusaha menghubunginya tanpa henti.
Ia juga teringat Pak Adi yang begitu baik kepadanya. Mungkin mereka sedang mencari namanya di daftar korban. Mungkin pula mereka ikut membantu proses evakuasi.
Faris mengepalkan tangannya. "Aku harus tahu kabar mereka secepat mungkin.
[Keputusan dinilai tepat.]
Faris mengangguk pelan. "Kalau begitu, target pertama setelah ini adalah membeli ponsel baru. Tapi..."
Ia menghela napas sambil tersenyum tipis. "Kalau memang kamu sudah menyimpan semua data sejak awal... lain kali beri tahu aku lebih cepat."
Sistem terdiam beberapa saat. Lalu terdengar satu balasan singkat yang membuat sudut bibir Faris berkedut.
[Masukan Host diterima.]
[Versi pembaruan berikutnya akan mempertimbangkan fitur "memberi tahu lebih dulu".]
Faris tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak bencana itu terjadi.
"Dasar sistem aneh..."
Insyaa ALLAH berhasil.
Berharap ada yg bantu.