Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.
Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.
Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.
Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.
"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."
Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.
Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23. KEKHAWATIRAN YANG MANIS
Bercak merah itu tampak begitu kecil, hanya sejumput noda di lengan gaun Liora. Namun jantungnya seketika terasa jatuh ke dasar dadanya.
Bukan darah milik Liora.
Liora menatap noda itu lebih lama dari seharusnya, seolah berharap warnanya berubah, memudar, atau menghilang begitu saja. Tapi merah itu tetap merah. Pekat. Nyata.
Dan entah mengapa, hatinya langsung tahu.
"Ini bukan darahku," gumam Liora lirih.
Gladis yang sejak tadi duduk tak jauh darinya, tengah merapikan rambut Rowan, menoleh. Tatapannya lembut, namun waspada. Ia berdiri dan mendekat, memerhatikan noda itu dengan alis sedikit mengernyit.
"Kau yakin bukan darahmu, Liora?"
Liora mengangguk pelan, jemarinya mengepal di sisi gaun. "Aku tidak terluka. Tadi juga tidak ada noda merah ini. Kalau ada Sasa pasti sudah panik duluan."
Gladis berkata, "Artinya itu darah Alaric."
Napas Liora tercekat. "Dia terluka."
Memikirkan Alaric terluka entah kenapa membuat Liora tidak nyaman.
Gladis terdiam sesaat. Lalu, seperti seorang kakak yang memahami lebih dari yang ia katakan, ia tersenyum tipis.
"Aku akan menemui Alaric dulu," kata Liora cepat, nyaris tanpa napas.
Gladis mengangguk. "Baiklah."
Rowan yang sejak tadi memerhatikan mereka dengan mata bulat tiba-tiba menunjuk Liora. "Lowan itut."
Liora tersenyum tipis, tapi Gladis segera menarik Rowan ke pelukannya.
"Rowan bersama Mama saja, Liora sedang ada urusan dengan Paman," ucap Gladis pada putranya
Pipi Rowan menggembung. "Paman nakal ambil Lilola dali Lowan telus."
Gladis tertawa kecil, mencium kening putranya. "Nanti Paman balikin. Sekarang diam dulu, ya."
"Hmph," respon Rowan.
Namun Liora sudah tidak mendengar percakapan itu lagi.
Wanita itu berlari kecil menyusuri koridor panjang kastel Ravens, gaunnya terangkat sedikit, langkahnya terburu-buru. Setiap detak jantungnya terasa berdentum di telinga. Gambaran Alaric yang terluka berkelebat di pikirannya tanpa henti.
Ia tahu suaminya.
Tahu betul bagaimana pria itu selalu meremehkan rasa sakit, selalu memilih diam, selalu menganggap dirinya cukup kuat untuk menanggung segalanya sendirian.
Dan itu membuat Liora marah.
Sekaligus takut.
Begitu sampai di depan kamar Alaric, Liora bahkan tidak mengetuk. Ia langsung mendorong pintu hingga terbuka.
"Al-"
Kata-kata Liora terhenti seketika saat melihat pemandangan tak biasa di depannya.
Alaric berdiri membelakangi pintu, tubuh bagian atasnya telanjang. Otot punggungnya tampak tegang, sementara Gideon berdiri di sampingnya, memegang kain bersih.
Keduanya serempak menoleh.
Mata Alaric membelalak.
"Liora?"
Sang Duke bergerak cepat menghampiri istrinya, seolah lupa bahwa tubuhnya sendiri belum selesai diurus.
"Ada apa?" tanya Alaric pada sang istri.
Namun Liora tidak menjawab.
Pandangan mata wanita itu menyapu tubuh Alaric dari kepala hingga kaki, tergesa, panik, penuh penilaian. Jemarinya bahkan hampir menyentuh bahu Alaric, lengannya, dadanya, seolah ingin memastikan tidak ada luka lain yang tersembunyi.
Dan di sanalah Liora melihatnya.
Di sisi perut Alaric, luka panjang, cukup dalam, meski sudah dibersihkan seadanya.
"Sudah kuduga, kau terluka," kata Liora khawatir.
Alaric mendengus ringan. "Bukan luka serius."
Liora menoleh tajam. Ia menunjuk luka itu dengan jari gemetar dan berseru, "Tidak serius katamu? Kau tidak lihat lukamu sebesar itu?!"
Alaric menahan diri untuk tidak tersenyum melihat tingkah sang istri.
Liora berbalik ke Gideon dengan wajah nyaris meledak memberikan perintah, "Gideon! Panggilkan Tabib Aldren ke sini. Bilang kalau Tuan-nya ini terluka parah!"
Gideon tersenyum geli, bukan mengejek, melainkan seperti seseorang yang baru saja menyaksikan pemandangan yang sudah lama ia tunggu.
"Baik, Nyonya." Ia membungkuk hormat, lalu berjalan keluar. Namun sebelum menutup pintu, ia melirik ke dalam sekali lagi, tersenyum kecil melihat kedekatan Tuan dan Nyonya-nya itu.
Tidak menyangka kalau mereka berdua yang dingin di altar justru bisa sampai sedekat ini sekarang.
Begitu pintu tertutup, Liora kembali menghadap Alaric.
"Kau selalu begini. Menganggap luka tidak penting, mengabaikan tubuhmu sendiri. Bagaimana jika lukanya beracun? Bagaimana jika terlambat diobati? Kau tahu bisa fatal," omelan Liora mengalir tanpa henti
Alaric hanya diam. Ia mendengarkan tanpa menyela.
Hatinya terasa hangat dengan cara yang aneh. Di tengah rasa perih di perutnya, di tengah kelelahan setelah perjalanan panjang dan pertempuran yang tidak ia ceritakan pada siapa pun ... Alaric merasa pulang.
Mungkin Liora tidak perlu tahu kalau aku sempat melawan cukup banyak monster kemarin, pikir Alaric.
"Kau mendengarkanku, 'kan?" Liora berhenti bicara, menatapnya curiga.
Alaric tidak menjawab.
Pria itu justru melangkah maju, mengangkat wajah Liora dengan lembut, lalu melahap bibir istrinya.
Ciuman itu tidak kasar. Tidak tergesa. Namun cukup untuk menghentikan seluruh kecemasan Liora.
Wanita itu terdiam, tubuhnya kaku sesaat, sebelum akhirnya menyerah dalam kehangatan yang familiar itu.
Ketika Alaric melepaskan ciumannya, ia terkekeh pelan.
Liora berdiri terpaku, wajahnya memerah habis-habisan.
"Bodoh," gumam Liora.
Alaric tersenyum lebih lebar. "Melihatmu mengkhawatirkanku seperti ini sungguh menggemaskan."
"Diamlah," Liora memukul perut Alaric refleks.
Alaric meringis. "Ah-"
Lalu pria itu tertawa kecil.
Alaric meraih Liora kembali, mencium bibirnya lebih lama kali ini. Ciuman yang membuat dunia seolah berhenti.
Ketika akhirnya ia melepaskannya, Alaric menatap Liora dalam-dalam.
"Jangan pernah tunjukkan wajah manismu ini pada pria mana pun. Karena aku mungkin tidak akan bisa menahan pedangku melayang ke mereka jika kau melakukannya," ujar Alaric serius.
"Posesif," Liora mendengus.
"Tentu saja. Kau milikku. Ingat," Alaric tersenyum miring.
Liora kembali dihujani ciuman, di pipi, kening, hidung. Wajahnya semakin merah.
"Jangan anggap enteng lukamu," kata Liora tegas.
Alaric menatap Liora dengan pandangan yang membuat napas Liora tercekat, tatapan seorang predator yang tengah menahan diri.
"Berhenti melihatku seperti itu. Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kau harus istirahat. Kau baru kembali dari perjalanan panjang," Liora memperingatkan.
Alaric merengut.
"Berhenti merengut seperti itu. Kau terlihat seperti Rowan sekarang," protes Liora yang tertawa geli.
"Rowan tidak bisa menciummu seperti ini," ucap Alaric yang kembali mencium Liora. Kali ini lebih dalam dan ... panas.
Liora menjauhkan wajahnya untuk melepas ciuman dan berkata, "Aku tahu tujuanmu memancingku. Ini masih siang. Jangan macam-macam."
"Cih, aku ditolak istriku sendiri," kata Alaric.
Namun sebelum Liora bisa membantah, terdengar suara dehaman canggung dari pintu.
Liora dan Alaric menoleh bersamaan.
Gideon dan Aldren berdiri di sana dengan wajah ... sangat salah tingkah dan merah karena tidak sengaja menyaksikan pemandangan intim suami istri di hadapan mereka.
"Gideon mengatakan kalau Yang Mulia Duke terluka," kata Aldren, mencoba terdengar profesional.
"Iya, tolong rawat dia. Jangan dengarkan kalau katanya lukanya tidak parah," Liora buru-buru menjawab, mundur selangkah.
Aldren tersenyum. "Baik, Nyonya Duchess."
"Aku akan kembali ke ruanganku," kata Liora cepat.
Namun sebelum ia sempat melangkah, Alaric menarik pergelangan tangan Liora dan berbisik, "Aku akan datang ke kamarmu malam ini."
Liora merona. Ia mengangguk pelan, lalu berjalan pergi.
Begitu pintu tertutup, Gideon dan Aldren saling pandang, tersenyum menggoda.
"Sepertinya es akhirnya cair juga," kata Gideon.
"Kurasa begitu. Musim semi sungguh telah datang di kediaman ini," sahut Aldren.
"Diam kalian," Alaric mendengus.
Namun senyum Alaric tidak bisa disembunyikan.
Sedangkan Gideon dan Aldren hanya tertawa kecil melihat tingkah Tuan-nya itu.
sy paling suka cerita ttg kerajaan,
Astaga, udah sibuk bikin banyak rencana. Udah coba realisasikan juga, masih Gatot 🤭
welcome to the word twins...
selamat untuk duke dan duches nya semoga semakin bahagia dan penuh cinta 😊 😍😍😍