Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernyataan
Tiga hari setelah insiden, Universitas Nusantara tidak lagi berada dalam kondisi darurat, namun suasananya masih terasa sangat berbeda. Garis polisi telah dicabut, namun aroma perubahan masih tertinggal di setiap sudut koridor. Hari ini adalah hari yang paling dinanti oleh ribuan mahasiswa: konferensi pers resmi dari Ketua BEM yang sempat dianggap menghilang, Kaelith Atharrazka.
Pagi itu, auditorium utama kampus telah penuh sesak sejak pukul tujuh. Mahasiswa dari berbagai fakultas berkumpul, memadati setiap inci ruangan. Beberapa awak media nasional juga hadir, menanti di area yang telah disediakan. Di balik panggung, Kaelith berdiri di depan cermin, merapikan kemeja putihnya. Wajahnya masih menyisakan beberapa bekas luka memar, namun ia tidak berniat menutupinya. Luka itu adalah saksi bisu dari apa yang telah ia lalui.
Naura berdiri di belakangnya, memegang secarik kertas berisi poin-poin pidato yang mereka susun bersama semalam. Ia meletakkan tangannya di bahu Kaelith, merasakan ketegangan yang masih tersisa pada otot-otot pria itu.
"Siap?" tanya Naura lembut.
Kaelith berbalik, menatap Naura, lalu menarik napas panjang. "Gue nggak pernah segugup ini, bahkan saat gue harus menyusup ke gedung Hartono. Tapi kalau ini untuk mereka yang sudah menunggu gue... gue siap."
Ia melangkah ke tengah panggung. Begitu ia muncul, riuh rendah suara mahasiswa berubah menjadi keheningan yang total. Ribuan pasang mata menatapnya—ada rasa penasaran, rasa hormat, dan rasa terima kasih yang mendalam. Kaelith mendekat ke mikrofon, mengatur posisinya, dan menatap ke arah kerumunan.
"Selamat pagi, teman-teman mahasiswa," suaranya mengalun tenang, memenuhi setiap sudut auditorium. "Saya berdiri di sini bukan sebagai buronan, bukan pula sebagai putra dari seseorang yang namanya kini tercoreng dalam skandal. Saya berdiri di sini sebagai Kaelith, ketua yang kalian pilih, yang sempat kehilangan arah namun akhirnya menemukan jalan pulang melalui kalian."
Ia berhenti sejenak, memberikan jeda agar kata-katanya meresap.
"Dalam dua minggu terakhir, kita semua telah menyaksikan bagaimana sebuah sistem yang dianggap kokoh bisa runtuh hanya karena keberanian untuk berkata jujur. Kita telah melihat bahwa uang dan jabatan tidak selalu bisa membungkam kebenaran. Namun, saya juga melihat sesuatu yang lebih penting dari sekadar jatuhnya para koruptor: saya melihat kalian. Saya melihat solidaritas mahasiswa yang tidak bisa dipecah belah oleh narasi palsu atau intimidasi."
Kaelith menatap ke arah Keisha dan jajaran pengurus BEM di barisan depan. "Saya minta maaf kepada kalian semua. Saya minta maaf karena sempat membuat kalian takut, karena membiarkan organisasi ini terombang-ambing tanpa nahkoda saat badai sedang hebat-hebatnya. Surat pengunduran diri yang beredar beberapa hari lalu adalah palsu, sebuah produk dari ketakutan pihak-pihak yang tidak ingin kebenaran ini terungkap. Dan hari ini, di hadapan kalian semua, saya menegaskan: saya tidak akan pernah mundur dari tanggung jawab ini sebelum kita memastikan kampus kita benar-benar bersih."
Riuh tepuk tangan pecah seketika. Kaelith mengangkat tangannya, meminta mereka untuk tenang kembali.
"Perjuangan kita tidak berhenti pada penangkapan Hartono Adiwangsa atau Pramudita. Itu baru permulaan. Reformasi yang kita tuntut harus dilakukan secara menyeluruh. Kita menuntut transparansi anggaran, kita menuntut perubahan sistem rekrutmen dewan yayasan, dan yang terpenting, kita menuntut agar kampus ini kembali menjadi tempat bagi kebebasan berpikir, bukan tempat bagi ambisi pribadi segelintir orang."
Kaelith kemudian melirik ke arah Naura yang berdiri di balik tirai panggung. Matanya melembut, sebuah senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
"Banyak yang bertanya, apa yang membuat saya bertahan? Apa yang membuat saya tidak menyerah meski nyawa menjadi taruhan? Saya tidak akan menjawab dengan retorika besar tentang negara atau bangsa. Saya bertahan karena ada satu orang yang mengajarkan saya bahwa kebenaran bukan untuk dimiliki, melainkan untuk diperjuangkan bersama. Seseorang yang tetap berdiri di samping saya, bahkan ketika semua orang meninggalkan saya karena takut. Dan hari ini, saya ingin memastikan bahwa perjuangan kita ke depan akan tetap berlandaskan pada integritas dan kasih sayang itu."
Suasana auditorium menjadi sangat emosional. Beberapa mahasiswa tampak mengusap air mata. Kaelith menutup pidatonya dengan sebuah ajakan yang tegas namun penuh harapan.
"Kita akan membangun kampus ini kembali. Bukan sebagai menara gading yang eksklusif, tapi sebagai rumah bagi orang-orang yang berani bermimpi. Saya, Kaelith Atharrazka, akan mengabdikan sisa masa jabatan saya untuk mengawal reformasi ini sampai tuntas. Siapkah kalian berjuang bersama saya?"
"SIAP!" teriak ribuan mahasiswa secara serentak, suara mereka mengguncang dinding auditorium.
Setelah sesi konferensi pers berakhir, Kaelith turun dari panggung. Ia segera dihujani oleh pertanyaan-pertanyaan dari para wartawan, namun ia tetap tenang, menjawab semuanya dengan lugas dan jujur. Akhirnya, ia berhasil membebaskan diri dan segera menemui Naura di koridor samping.
"Gimana?" tanya Kaelith dengan napas yang lega. "Apa gue nggak terlalu berlebihan?"
Naura tersenyum lebar, ia merapikan kerah kemeja Kaelith dengan penuh kasih. "Itu pidato paling jujur yang pernah gue dengar. Lo bukan lagi ketua BEM yang sekadar menjalankan tugas, Kael. Lo adalah pemimpin yang mereka harapkan."
Tiba-tiba, Keisha datang berlari, diikuti oleh pengurus BEM lainnya. Mereka langsung memeluk Kaelith—sebuah adegan yang menunjukkan betapa kuatnya ikatan mereka kembali. Setelah tawa dan air mata kelegaan mereda, Keisha menatap Kaelith dan Naura dengan pandangan menggoda.
"Jadi, El, 'seseorang' yang kamu maksud di panggung tadi itu siapa, ya? Kayaknya mahasiswa penasaran banget deh," goda Keisha sambil melirik Naura.
Wajah Naura memerah padam, sementara Kaelith hanya tertawa lepas. "Nanti kalian juga tahu sendiri. Yang jelas, dia adalah orang yang paling berjasa dalam semua ini."
Mereka pun berjalan keluar dari gedung pusat kegiatan mahasiswa menuju taman kampus yang rindang. Di sana, di bawah sinar matahari yang mulai meninggi, mereka duduk berlima—Kaelith, Naura, Keisha, dan dua pengurus BEM lainnya—merencanakan langkah-langkah reformasi kampus yang akan mereka lakukan dalam beberapa bulan ke depan.
Namun, di tengah obrolan itu, Naura merasa ada sesuatu yang janggal. Ia melihat sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan gerbang kampus. Seseorang keluar dari mobil tersebut—bukan orang suruhan Hartono, melainkan sosok pria tua yang sangat dikenal Naura dari berita, seseorang yang seharusnya berada jauh dari jangkauan mereka.
Itu adalah salah satu menteri pendidikan yang selama ini dikenal sebagai sosok yang sangat bersih dan pro-reformasi. Ia berjalan menuju arah mereka, dikawal oleh beberapa staf.
"Naura, Kaelith," sapa pria itu dengan ramah saat mendekat. "Saya mengikuti perkembangan kalian sejak skandal yayasan itu mencuat. Pidato tadi sangat mengesankan."
Kaelith berdiri dengan sigap, meski kakinya masih sedikit sakit. "Selamat pagi, Pak. Sebuah kehormatan Anda bisa hadir di sini."
"Saya di sini bukan sebagai menteri, tapi sebagai pendengar," ujar sang menteri. "Data yang kalian buka telah membuka mata banyak pihak di kementerian. Kami sedang mempersiapkan tim khusus untuk melakukan audit di universitas-universitas swasta besar lainnya, dan kami ingin kalian menjadi konsultan independen untuk tim ini."
Naura dan Kaelith saling pandang. Mereka tidak menyangka bahwa perjuangan mereka di kampus ini justru akan membuka pintu bagi perlawanan yang lebih besar di tingkat nasional.
"Ini tanggung jawab yang sangat besar, Pak," ujar Naura dengan nada rendah. "Kami hanya mahasiswa."
"Dan mahasiswa adalah kekuatan terbesar untuk perubahan," sahut menteri tersebut sambil memberikan kartu nama. "Pikirkanlah. Kalian telah menunjukkan bahwa satu atau dua orang yang berani bisa mengubah arah sejarah. Saya menunggu kabar baik dari kalian."
Setelah menteri itu pergi, suasana menjadi sangat hening. Tanggung jawab yang baru saja diberikan kepada mereka jauh melampaui apa yang pernah mereka bayangkan.
Kaelith menatap Naura, lalu merangkul bahunya dengan posesif. "Gimana menurut lo?"
Naura menatap kartu nama di tangannya, lalu menatap masa depan yang terbentang di depannya. "Gue pikir, ini bukan lagi soal kampus, Kael. Ini soal memperbaiki pendidikan di negeri ini. Dan gue rasa, gue nggak bakal nulis berita lagi sendirian."
Kaelith tersenyum, genggaman tangannya pada Naura semakin erat. "Tentu tidak. Kita akan menulisnya bersama-sama. Sebagai tim."