Saat ada seorang wanita muda mendekati suamimu, apa yang akan kamu lakukan?
Dengan dalih pekerjaan, Clara terus mendekati dan mengganggu Hans. Sikapnya yang agresif lama kelamaan membuat Erika, istri Hans, terganggu.
Atas nama pertemanan, Clara justru menuduh Erika sebagai istri pencemburu sekaligus posesif.
Disisi lain, Hans sedang berperang melawan dirinya sendiri untuk tak jatuh cinta pada Clara. Seorang wanita muda, cantik dan cerdas.
Siapakah pemenangnya? Erika yang sudah bersama Hans sejak belum punya apa - apa. Ataukah seorang wanita muda yang menarik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EYN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Sekali Lagi Cerita Absurd
Tangan Erika mengetuk - ngetuk meja kayu dihadapannya. Matanya menatap layar monitor dengan kening berkerut. Wajahnya begitu serius. Tapi bukan isi laporan yang membuat wajahnya suram. Melainkan, karena pikirannya yang sedang bercabang ke banyak hal.
Tidak. Bukan ke banyak hal. Sebenarnya, hanya ke satu manusia dengan banyak tingkah, yaitu Clara.
Flashback
"Permisi Bu, kak Kirana barusan memberitahu kalau ada yang mencari ibu di Mai Olshop." Suster Mimi memberitahu Erika yang sedang asyik bermain bersama Aaron diatas karpet ruang tengah.
"Siapa?"
"Kak Kirana bilang, yang datang itu teman ibu."
"Teman?" Erika bangkit dan menitipkan sikecil pada suster. Dirinya tak merasa ada janji dengan siapapun. Tapi, hari sudah menjelang siang, dan memang sudah waktunya dia untuk mengurus beberapa pekerjaan disana.
Setelah berpamitan dengan Aaron, Erika langsung menuju samping rumah.
"Erika..." seorang wanita seumuran Erika sudah menunggu diruangannya. Dia tersenyum ramah dan langsung memeluk Erika.
"Vania...., tahu darimana aku pindah kemari?" sapa Erika.
"Tau dong...cerita tentangmu terdengar sampai kemana - mana." Vania terkekeh.
"Sembarangan..." Erika ikut tertawa.
Lalu, dia mempersilahkan Vania duduk dan memberinya minuman, lengkap dengan makanan ringan.
"Kamu terkenal dikantorku, Rika. Serius deh."
Tuk!! Dengan gemas Erika melempar buntalan kertas kecil ke kepala teman baiknya itu. Dan disambut dengan tawa Vania.
Erika dan Vania memang teman baik saat mereka sekolah dulu. Hanya saja kesibukan, pekerjaan, menikah dan banyak hal lainnya, membuat mereka jarang bertemu belakangan ini. Bertemu sebentar saja, langsung membuat mereka hanyut dalam obrolan.
Ditengah obrolan, mendadak Vania menatap Erika dengan pandangan yang aneh. Sepertinya dia teringat akan sesuatu.
"Apaan?" Erika merasa jengah.
"By the way, sebenarnya aku kesini karena ada perlu sama kamu. Aku pengen ngomong sesuatu." Suara Vania berubah serius.
"Soal apa?"
"Soal kamu. Iya bener,....soal kamu." jawab Vania sambil mengangguk - anggukkan kepala. Wajahnya seperti sedang berpikir.
"Gini lho,...Apa kamu cemburu sama Clara?"
"What??"
Mata Erika sampai membelalak lebar. Benar - benar tak menyangka akan mendapat pertanyaan random dari Vania. Sampai - sampai Erika tak bisa menjawab saking kagetnya.
"Jadi bener? Kamu cemburu sama Clara?" Vania langsung menyimpulkan dari ekspresi Erika.
"Ngaco kamu!" potong Erika cepat - cepat, setelah berhasil menguasai diri.
Saat ini, dirinya benar - benar sensitif dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan Clara.
"Hehehe..." Vania menggaruk kepalanya, dan memasang wajah sungkan.
"Sebenarnya aku tak percaya dengan gossip yang aku dengar tentang kamu akhir - akhir ini..."
"Hah? Gossip apaan?" Erika tak mengerti arah pembicaraan Vania.
Pertanyaannya adalah gossip tentang apa dan dari mana? Dirinya bukan artis atau orang terkenal. Bukan pula selebgram yang bisa dijadikan bahan gossip.
Erika mengangkat alisnya, dan memandang tajam kearah Vania.
"Please, to the point. Aku gagal paham sama omongan kamu."
"Baiklah, baiklah...sorot matamu membunuhku, Nyonya Hans." Vania berseloroh, sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Berpura - pura meminta ampun.
"Berjanjilah kamu tak akan marah padaku. Ya? Ya?" rayu Vania.
"Aku sudah terlanjur marah karena kamu lamaaaa..." Erika melipat tangannya didepan dada.
""Kamu cemburu sama dia. Benar atau tidak?"
"Astaga! Kenapa pertanyaan itu lagi." geram Erika dalam hati sekaligus heran. Lagipula, sejak kapan Vania tahu ada makhluk bernama Clara. Sepertinya, Erika belum pernah menyebut nama itu di depan teman baiknya ini.
"Heiii... ditanya kok malah bengong. Bener ga kamu cemburu sama Clara?", Vania menggoyang - goyangkan tangannya didepan wajah Erika.
"Well! Jawabannya adalah TIDAK!! Sekarang, pertanyaannya adalah kenapa kamu nanya serandom itu?", sahut Erika sambil memberi tekanan pada kata TIDAK.
"iiish... bikin penasaran aja kamu tuh..." Vania bersungut - sungut.
Erika menggerakkan bola matanya dengan sebal, karena seharusnya dia yang penasaran. Bukan Vania.
"Trus kenapa kamu nanya soal itu - itu terus? Kenapa? Kenapa? Kenapaaaaaa?", Erika meluapkan kekesalannya.
Mungkin kalau ada pistol ditangannya, Erika pasti sudah menodongkannya di kepala Vania sambil berkata cerita atau mati. Rasanya tak sabar mendengar Vania yang terus berputar - putar.
"Haha... sorry, sorry... gini lho, Rika. Atasanku punya anak, namanya Clara Adelia. Ternyata anaknya itu kerja di kantor suamimu. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Kabarnya sih karena istri boss-nya tak suka sama dia, jadi dia diberhentikan sepihak. Eeeemmm...lebih tepatnya cem...bu...ru..." Vania meringis karena merasa tak enak pada Erika.
"Trus?"
"Ya... Atasanku sedih. Katanya anaknya itu pintar, dan baik. Pokoknya kebanggaannya dia gitu deh..."
"Kamu disuruh menyampaikan ini ke aku?"
"Hehe...iya...., eeh... bukan, bukan. Maksudku bukan begitu..." Vania jadi serba salah.
"Atasanku itu tahu, kalau aku pernah kerja dikantor kak Johan. Makanya dia nanya, aku kenal dengan Hans Sanjaya atau tidak." lanjut Vania kemudian.
"Trus? Kamu jawab apa?"
"Ya, aku jawab kalau kamu itu teman baikku." Vania tersenyum bangga sambil memandang Erika.
"Trus apa hubungannya sama pertanyaanmu soal cemburu tadi?"
"Nah! Itulaaah..., katanya kamu tuh suka melarang trus mengatur -atur suamimu." cerita Vania makin berapi - api.
"Contohnya?"
"Banyak. Misalnya nih, kamu melarang Hans untuk ikut acara outbond karena ada Clara. Trus Hans menolak acara visit kalau hanya berdua dengan Clara. O'ya bahkan Hans tak pernah mau ikut acara makan malam bersama kalau kamu tidak ikut."
"Ck!" Erika berdecak kesal.
"Intinya sih cuma satu, yaitu Hans menolak setiap ajakan Clara dengan alasan tak ingin kamu marah."
"Hmm... soal larangan melarang, itu sama sekali tak benar. Aku tak pernah melarang kak Hans apapun. Mungkin dari dia sendiri yang sudah tau batasannya." kata Erika pelan, seolah - olah berkata pada dirinya sendiri.
"Dan soal cemburu? Ini sudah kesekian kalinya, Clara menuduhku cemburu. Hebat sekali Clara, seperti orang tak punya dosa saja. Enak aja judge ini itu ke orang lain." tambah Erika kesal.
"Jadi semuanya tidak benar kan?" Vania menyimpulkan.
"Totally, wrong! Kamu kan sudah lama mengenalku. Seharusnya kamu tau, bagaimana aku."
Kenapa Clara selalu menuduhnya cemburu? Kenapa Kak Hans tak pernah bercerita kalau si Clara mengajaknya ke berbagai macam kegiatan? Dan banyak kenapa - kenapa lain yang muncul dibenak Erika.
Memang menjengkelkan ketika mendengar cerita tentang diri kita sendiri dari orang lain.
Kalau kita posisi kan sebagai Hans yah pastilah tergoda juga, karena seorang Clara yg tak tahu malu
Dan Erika pun ada jugalah kesalahannya dalam hal ini
Setiap rumah tangga tidak ada yg sempurna, tapi yg terpenting bagaimana kita menyikapi setiap problem yg ada
Semangat kk💪😄💪😄🤗
Kalau laki-laki sudah mendua buat apa mengemis cintanya
Tapi suami yg marah dengar jawaban seperti ini, karena menurutnya aku nggak cinta sama Dia😄😄😄