Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.
Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.
"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.
Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Mendengar namanya dipanggil, Tara yang sejak tadi sedang mencatat isi rapat perlahan mengangkat kepala. Tatapannya bertemu dengan tatapan Kenzo. Tara langsung mengernyit bingung.
"Ya, Tuan?"
Bukan hanya Kenzo yang memandangnya. Kini, seluruh isi ruang rapat ikut menoleh ke arahnya. Puluhan pasang mata membuat Tara semakin tidak nyaman.
Kenzo tetap memasang wajah datar, "ada yang sedang kamu lakukan?"
Tara semakin bingung, "maksud Anda, Tuan?"
"Kamu tahu saya sedang berbicara di depan." Kenzo menyilangkan kedua tangannya.
"Tidak bisakah kamu fokus kepada saya terlebih dahulu?"
Ucapan itu membuat beberapa orang menahan napas. Tak ada yang menyangka sang CEO akan menegur pengacara baru di tengah rapat.
Sementara Tara hanya berkedip pelan.
'Hah?! Ya ampun...' batinnya.
'Haus perhatian banget sih bos ini. Aku lagi nyatet hasil rapat, bukan main game.'
Namun, tentu saja ia tidak mengucapkannya. Dengan wajah profesional, Tara hanya mengangguk singkat.
"Maaf, Tuan."
Kenzo tidak menanggapi lagi. Kenzo kembali mengalihkan perhatian kepada seluruh peserta rapat.
"Kembali ke topik."
Suasana kembali serius.
"Divisi Humas."
Kepala Divisi Humas langsung berdiri.
"Ya, Tuan."
"Siapkan konferensi pers hari ini."
"Baik, Tuan."
"Di hadapan media, saya akan mengumumkan bahwa saya telah menikah."
Beberapa peserta rapat kembali terkejut, meski kali ini mereka berusaha menahan ekspresi. Kenzo melanjutkan dengan tenang.
"Dan saya juga akan memperkenalkan anak-anak saya." Kenzo berhenti sejenak.
"Anak kembar saya." Lanjutnya mantap tanpa ada keraguan. Kalimat itu benar-benar membuat ruang rapat kembali gempar.
"Anak kembar?"
"Tunggu, jadi bukan satu?"
"Berarti Tuan Kenzo punya dua anak?"
Bisikan pelan mulai terdengar dari berbagai sudut meja.
"Selama ini kita tahunya Tuan Kenzo masih lajang."
"Iya, jangankan istri, pacar saja tidak pernah terdengar. Bahkan, beliau digosipin..."
"Tahu-tahu sudah menikah sekarang malah punya anak kembar. Kalau media sampai tahu, ini pasti jadi berita paling heboh tahun ini."
Digo hanya mengembuskan napas pelan sambil menahan senyum. Reaksi seperti ini sudah ia duga sejak awal.
Sementara, Kenzo tetap berdiri dengan wajah tenang, seolah berita tentang istri dan kedua anaknya hanyalah salah satu agenda rapat biasa.
Di sisi lain, Tara memijat pelipisnya pelan.
'Semoga saja konferensi pers nanti berjalan lancar...' batinnya.
"Kalau tidak ada pertanyaan lagi..." Kenzo menutup map di hadapannya.
"Rapat kita tutup."
Semua peserta rapat serempak berdiri.
"Terima kasih, Tuan."
Suara kursi yang bergeser memenuhi ruangan. Para direksi mulai membawa berkas masing-masing, manajer saling berdiskusi pelan mengenai tindak lanjut rapat, sementara tim humas sudah sibuk menyusun daftar media yang akan diundang ke konferensi pers.
Bisikan-bisikan kembali terdengar.
"Masih nggak nyangka, ternyata Tuan Kenzo udah punya anak."
"Bukan cuma satu, tapi anak kembar. Pantas saja kehidupan pribadinya benar-benar tertutup."
"Konferensi pers nanti pasti bikin heboh."
Satu per satu peserta rapat berjalan keluar.
Digo yang hendak mengikuti rombongan direksi tiba-tiba berhenti ketika mendengar suara Kenzo.
"Digo.l,"
"Ya, Tuan?"
"Tunggu di luar."
"Baik." Digo mengangguk, lalu melangkah keluar sambil menutup pintu ruang rapat.
Saat Tara ikut merapikan mapnya dan hendak meninggalkan ruangan, suara dingin Kenzo kembali terdengar.
"Nona Tara Devika Halim."
Langkah Tara langsung terhenti, jantungnya berdegup kencang, namanya dipanggil lengkap oleh pria itu.
"Ya, Tuan?"
"Kamu tetap di sini."
Tara sontak membelalak, "hah? Kenapa?"
Refleks ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada orang lain yang bernama Tara di ruangan itu. Beberapa direksi yang belum sempat keluar saling melirik dengan rasa penasaran.
"Kenapa Pengacara Tara disuruh tinggal?"
"Nggak tahu, mungkin ada berkas yang harus dibahas. Atau nggak ada tugas khusus."
Tara hanya bisa tersenyum kaku kepada mereka.
"Iya, silakan duluan."
Setelah seluruh peserta rapat keluar, pintu perlahan tertutup. Kini, hanya tersisa dua orang di dalam ruang rapat yang luas itu. Kenzo tetap berdiri di depan meja utama. Sedangkan, Tara masih memeluk mapnya erat-erat.
'Ya Tuhan...' batinnya panik.
'Jangan-jangan dia mau marahin aku gara-gara tadi nggak lihat dia pas lagi ngomong? Atau ... dia sadar aku sempat ngomel dalam hati?'
Tara langsung menggeleng pelan.
"Nggak mungkin! Mana mungkin bos itu bisa baca pikiran orang, dia bukan cenayang."
Ia mengangkat wajahnya perlahan.
"Emm, Tuan ... ada yang ingin Anda bicarakan dengan saya?"
diumumkan begitu aja
anugerah apa bencana yaaa?😱🤣🤣🤣
Kenzo nih tipe orang yg GK suka basa basi muter muter,, cus pokoknya lgsg beres ya kan 🤭
Setuju,,... pengumuman pernikahanmu harus segera d sebar luaskan ....,, biar ga ad yg berani godain mommy Tara 😅