NovelToon NovelToon
Dari Benci Menjadi Bucin

Dari Benci Menjadi Bucin

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29. Keadaan yang Membuat Dekat Lagi

Kata-kata yang sempat tertahan belum sempat terucap, namun keadaan seakan punya cara sendiri untuk menyatukan mereka kembali. Saat sore yang penuh keraguan itu berlalu, datanglah hujan lebat yang tak kunjung reda, disertai kabar bahwa jalan utama menuju rumah mereka mengalami banjir dan tak dapat dilewati. Kendaraan yang biasanya lewat berkali-kali kini tak satu pun melintas, membiarkan Kenzo dan Anisa tertinggal di halte sekolah yang sepi, terpisah dari puluhan siswa lain yang telah dijemput lebih awal.

Langit gelap pekat, air hujan turun begitu deras hingga menciptakan tirai putih tebal yang menghalau pandangan. Angin berhembus dingin, membawa suhu yang turun drastis. Di bangku kayu yang sempit itu, awalnya mereka duduk berjauhan, masing-masing memeluk diri sendiri dan menatap ke arah luar tanpa bersuara. Sisa-sisa rasa canggung dan keraguan sore tadi masih terasa menggantung di udara. Namun semakin lama duduk dalam dingin dan hening itu, semakin terasa betapa tidak nyamannya berjauhan saat keadaan sedang demikian sulit.

Anisa mulai menggigil pelan, kedua tangannya saling menggosokkan lengan yang terbuka, napasnya tampak berembun samar di udara. Tanpa selimut, tanpa pelindung yang cukup, udara dingin perlahan menusuk hingga ke tulang. Kenzo menyadarinya dari sudut matanya. Ia mengepalkan tangan pelan di atas lutut, menahan keinginan yang begitu kuat untuk mendekat dan menaungi gadis itu. Namun melihat Anisa yang semakin menggigil dan wajahnya yang perlahan memucat, keraguannya akhirnya runtuh seketika. Rasa peduli di dadanya jauh lebih besar daripada rasa gengsi dan takut yang selama ini menahannya.

Perlahan Kenzo menggeser posisinya mendekat. Tubuhnya kini berdiri di samping Anisa, cukup dekat hingga bahu mereka nyaris bersentuhan. Dengan gerakan yang lembut namun tegas, ia meletakkan tasnya di depan agar angin tak langsung menerpa Anisa, lalu tanpa banyak bicara ia mencondongkan tubuhnya sedikit menutupi sisi Anisa dari tiupan angin dan percikan air hujan.

Anisa terkejut seketika, menoleh perlahan menatap Kenzo yang berdiri tegak di sisinya dengan wajah yang tenang namun matanya memancarkan perhatian yang tulus.

"Kau..." suara Anisa terdengar bergetar karena dingin maupun karena hal lain yang jauh lebih hangat di dadanya. "Tak perlu... aku masih kuat menahannya."

Kenzo menatapnya pelan, lalu dengan lembut menarik ujung jaketnya sedikit lebih lebar agar menutupi sebagian bahu Anisa. "Diamlah. Lebih baik aku yang menahan dingin sebentar, daripada melihatmu jatuh sakit. Aku tidak akan membiarkanmu kedinginan sendirian."

Kalimat sederhana itu seketika meluruhkan jarak yang sengaja mereka bangun selama ini. Anisa tak lagi menolak. Ia justru perlahan membiarkan bahunya menyentuh lengan Kenzo, merasakan kehangatan yang mengalir perlahan dari sana ke sekujur tubuhnya. Dan ternyata... begitu mereka berdekatan, rasa dingin yang menyengat tadi perlahan terasa jauh berkurang. Bukan semata-mata karena perlindungan dari tubuh Kenzo, melainkan karena ada sesuatu yang jauh lebih hangat mengalir di antara mereka — kehadiran satu sama lain yang tulus tanpa pamrih.

Hening kembali menyelimuti mereka, namun kali ini bukan hening yang berat atau penuh keraguan. Justru sebaliknya — hening yang damai dan menenangkan. Di tengah suara hujan yang menderu deras dan angin yang bertiup kencang di luar sana, ruang sempit di bawah perlindungan itu justru terasa begitu aman dan nyaman. Anisa menatap ke arah luar, namun pikirannya sepenuhnya tertuju pada sosok di sampingnya. Ia menyadari satu hal: setiap kali keadaan menjadi sulit dan berat, naluri hati mereka seakan selalu membawa kembali ke sisi satu sama lain. Bahwa sekeras apa pun mereka berusaha menjaga jarak, keadaan pada akhirnya selalu menyatukan mereka kembali. Karena hati tak pernah benar-benar berjauhan sekalipun tubuh dipaksa terpisah jauh.

Kenzo pun menyadari hal yang sama. Ia berdiri tegak menahan dingin, namun hatinya justru terasa semakin hangat setiap kali merasakan bahu Anisa yang menyentuh lengannya. Ia menoleh perlahan, dan mendapati Anisa sedang menatapnya balik dengan sorot mata yang lembut dan penuh pengertian. Tak ada lagi keinginan untuk berpaling. Tak ada lagi keraguan untuk menjauh. Karena ternyata... di saat dunia di luar sedang bergemuruh penuh badai, kehadiran orang yang dicintailah yang menjadi tempat berlindung paling nyaman.

"Mungkin..." suara Kenzo terdengar rendah namun jelas terdengar di telinga Anisa, "memang begitulah takdirnya. Setiap kali kita mencoba saling menjauh... keadaan selalu punya cara untuk membawa kita kembali berdiri berdampingan."

Anisa tersenyum tipis, mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya. "Mungkin iya. Karena ternyata... saat kita bersama, hal-hal yang sulit pun terasa menjadi lebih ringan. Dan saat kita berjauhan... hal-hal yang mudah pun terasa berat."

Kenzo menatapnya lekat-lekat, lalu perlahan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang tulus dan lega. "Maka janganlah lagi diciptakan jarak yang tidak perlu. Biarlah apa pun yang terjadi... kita hadapi bersama. Karena ternyata... kita jauh lebih kuat saat berdiri berdampingan, daripada saat berdiri sendiri-sendiri."

Anisa tak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menunduk pelan, lalu perlahan mendekatkan dirinya sedikit lebih dekat ke arah Kenzo, membiarkan kehangatan itu menyelimuti mereka berdua sepenuhnya. Di tengah badai hujan yang belum reda itu, mereka akhirnya menyadari satu hal: keadaan mungkin tak selalu bersahabat, jalan mungkin tak selalu mulus, namun selama mereka saling mendekat dan berdiri bersama... tak ada badai apa pun yang mampu menggoyahkan hati mereka. Dan keadaan sore itu pun akhirnya menjadi pengingat jujur — bahwa hati yang telah saling menemukan, pada akhirnya akan selalu menemukan jalan untuk kembali berdiri berdampingan, tak peduli seberapa jauh atau seberapa lama mereka sempat mencoba menjauh.

 BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!