NovelToon NovelToon
SIMPUL KIRANA : TAKDIR ENAM NEGERI

SIMPUL KIRANA : TAKDIR ENAM NEGERI

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Sistem / Penyelamat
Popularitas:431
Nilai: 5
Nama Author: Noona Y

Bhaskara hanyalah pemuda biasa ... hingga sebuah kecelakaan merenggut hidupnya.
Saat membuka mata, ia telah berada di Jagaddhita—dunia yang perlahan ditelan kegelapan. Sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

《Misi Utama》
-Pulihkan Prisma Kirana.
-Satukan Enam Negeri.
-Selamatkan Jagaddhita.

Untuk menyelesaikan misi itu, Bhaskara harus mencari lima putri pewaris elemen—Anala, Nirmala, Sekar, Samira, dan Vajra.

Namun, menyatukan mereka tidak cukup. Ia harus membentuk Simpul Kirana, ikatan suci yang dapat membangkitkan kembali cahaya dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 : RITUAL PENYATUAN ELEMEN

Tidak ada papan layar melayang, tidak ada teks emas, tidak ada panduan step-by-step dari Lontar Emas yang biasanya suka muncul sesukanya. Sistem benar-benar mati total, meninggalkan Bhaskara terlantar sendirian di alam realitas tanpa guidebook!

"S-Sistem?! Layar?! Keluar dong! Tolong panduannya! Mesti gimana ini?!" jerit Bhaskara di dalam benaknya. Ia melirik sudut matanya berulang kali, tapi udara hampa di kamar peraduan tetap kosong melompong.

Pikirannya panik, sebagai pria yang seumur hidupnya di Jakarta cuma fokus mencari nafkah untuk bertahan hidup, situasi ini seratus persen di luar jangkauan dan pengalamannya. Ia benar-benar buta, polos, dan tidak tahu harus memulai dari mana!

"Ayo putar otak, Danu! Putar otak! Laki-laki harus gimana dalam posisi begini?!"

Dalam kepanikan yang memuncak dan kepasrahan tingkat tinggi, refleks Bhaskara mengambil jalan pintas paling absurd yang terpikirkan oleh otaknya.

BRUK!

Dengan gerakan kaku bagaikan pohon jati bertumbangan dihantam angin bertiup, Bhaskara langsung merebahkan tubuhnya terlentang lurus di atas ranjang.

Kedua tangannya menempel rapat di samping paha, kakinya lurus sejajar, dan matanya menatap lurus-lurus ke langit-langit kanopi kamar bagaikan patung batu atau balok kayu jati yang baru diangkut dari truk proyek.

Anala, yang tadinya hampir mendaratkan bibirnya, tersentak kaget. Ia kehilangan keseimbangan dan nyaris merosot sebelum akhirnya duduk berlutut di samping tubuh Bhaskara yang membeku kaku.

Anala memiringkan kepalanya, menatap suaminya yang berbaring telentang tanpa bergeming sedikit pun, bahkan napasnya ditahan sampai dadanya membatu.

"Bhaskara...?" panggil Anala pelan, suaranya dipenuhi rasa heran.

Tidak ada jawaban. Bhaskara tetap membeku bagaikan kayu jati kering.

Anala mengulurkan jemari halusnya, menepuk-nepuk pelan pipi Bhaskara yang terasa panas seperti besi tempaan.

"Kau... apa yang sedang kau lakukan?" tanya Anala bingung, menunduk menatap lurus wajah Bhaskara. "Kenapa tubuhmu mendadak kaku seperti bentakan batu di gerbang istana?"

Bhaskara akhirnya melirikkan matanya kaku ke arah Anala tanpa berani menggerakkan kepalanya. Jakunnya naik-turun menelan ludah dengan sangat bersuara.

"I-itu... Anala..." cicit Bhaskara dengan suara bergetar dan wajah yang merah padam sampai ke ujung leher. "A-aku... aku sedang bersiap-siap..."

"Bersiap? Untuk apa?" Anala memiringkan kepalanya lagi, menatap posisi tidur telentang Bhaskara yang teramat tidak wajar untuk malam pengantin. "Bersiap dengan berbaring lurus seperti prajurit yang sedang disemayamkan?"

"Y-ya... maksudku, aku tidak tahu harus melakukan apa, mungkin posisinya begini dulu!" aku Bhaskara jujur dengan keputusasaan yang kocak, menutup matanya rapat-rapat karena malu setengah mati

Mendengar pengakuan jujur dan melihat tingkah konyol suaminya, kebingungan di wajah Anala seketika mencair. Ratu Agnivara itu menahan napas sejenak, sebelum akhirnya tawa renyah yang teramat manis dan menggemaskan meledak dari bibirnya!

Dengan gerakan yang teramat anggun, Anala mengulurkan kedua tangan halusnya. Jemarinya yang hangat menggenggam erat jemari Bhaskara yang kaku.

"Kau tidak perlu bingung, Suamiku," bisik Anala lembut. Suaranya bergetar, sarat kasih dan ketulusan. "Penyatuan elemen bukanlah tentang siapa yang memimpin, melainkan tentang dua jiwa yang saling melengkapi dan saling memberikan diri."

Anala perlahan menarik kedua tangan Bhaskara. Ia menarik lembut, dan menuntun Bhaskara untuk bangkit dari posisi kaku telentangnya.

Bhaskara menurut tanpa perlawanan, membiarkan dirinya ditarik hingga kini mereka berdua duduk berhadapan, bersila di atas empuknya ranjang peraduan.

Anala menatap lurus ke dalam mata Bhaskara. Senyum manisnya yang tulus mengikis habis sisa-sisa canggung di dada sang suami.

"Pejamkan matamu..." bisik Anala sangat pelan. "Rasakan jalurnya... dan biarkan jiwamu menyapa jiwaku."

Bhaskara menarik napas panjang. Ia perlahan memejamkan matanya, mengalirkan seluruh kepasrahannya. Anala ikut memejamkan mata.

Kedua tangan mereka saling bertautan erat—jemari saling mengunci, menempelkan Sigil Api yang terukir di telapak tangan mereka. Bersamaan dengan itu, Anala memajukan wajahnya secara perlahan.

Saat ujung bibir Anala yang halus baru saja menyentuh bibir Bhaskara—

DEG!

Mata Bhaskara seketika membelalak lebar! Sensasi sentuhan itu menyengat seluruh sistem sarafnya bagaikan tersengat aliran listrik tegangan tinggi. Tubuhnya kembali menegak kaku secara refleks, kepalanya terdorong sedikit ke belakang.

"C-CIUMAN PERTAMAKU?!"jerit Bhaskara histeris di dalam benaknya. "Demi apa?! Tiga puluh tahun hidup di pinggiran Jakarta, jangankan ciuman, pegangan tangan sama cewek aja bisa dihitung pakai jari! Ini... ciuman pertamaku mau diambil di dunia ini!"

Meskipun jantungnya berdegup seperti mesin stempel proyek yang rusak, Bhaskara buru-buru berdehem keras, berusaha setengah mati menegakkan dagunya dan memasang raut wajah seserius mungkin demi menjaga gengsi prianya di hadapan sang istri.

"Ehem!" Bhaskara menatap Anala dengan pandangan yang diatur seolah-olah ia sedang memegang kendali. "Ma-maaf, di... di tempat asalku, hal seperti ini... bibir menyentuh bibir itu adalah hal yang sangat intim. Dan tidak bisa dilakukan sembarangan sebelum ada ikatan batin yang sangat dalam. Ke-kenapa... kenapa ritual penyatuan elemen harus dimulai dari bibir?"

Anala menghentikan gerakannya. Ia tidak marah, melainkan menatap Bhaskara dengan binar mata yang berkilat lembut dan penuh pemahaman. Senyum tipis terukir di bibirnya saat melihat kepolosan suaminya yang berusaha keras berakting tangguh.

"Di duniamu mungkin itu hanya bentuk keintiman," bisik Anala pelan, jemari halusnya mengusap lembut rahang Bhaskara yang kaku. "Tapi di Jagaddhita, bibir adalah tempat mengalirnya Napas Cahaya dan Inti Elemen termurni."

Anala merapatkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Bhaskara.

"Inti Api Agni di dalam tubuhku berpusat di dada dan keluar melalui helaan napas. Begitu pula dengan Elemen Cahaya Kirana milikmu," jelas Anala dengan suara yang begitu tenang dan sakral.

"Lisan adalah gerbang utama jalur meridian jiwa. Tanpa sentuhan bibir, pendar energi di dalam tubuh kita tidak akan pernah bisa saling menyapa dan melebur secara utuh. Ini bukan sekadar sentuhan fisik, Bhaskara... ini adalah jembatan pertama agar jiwaku dan jiwamu bisa saling bertukar kehangatan tanpa saling menghancurkan."

Bhaskara tertegun mendengarnya. Penjelasan Anala yang begitu masuk akal seketika meruntuhkan sisa-sisa gengsi dan keraguannya.

Anala mengulurkan kedua tangannya lagi, menggenggam jemari Bhaskara dan menautkan telapak tangan mereka rapat-rapat.

"Percayalah padaku, suamiku..." bisik Anala seraya perlahan memejamkan mata. "Serahkan Napas Cahayamu padaku."

Bhaskara menarik napas panjang, meresapi setiap kata dari Anala. Ia ikut memejamkan mata, membiarkan seluruh pertahanan dirinya luruh.

Kali ini, ketika Anala mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya di atas bibir Bhaskara secara perlahan, Bhaskara tidak lagi terkejut.

Srrr...

Sentuhan yang lembut dan hangat itu seketika memicu keajaiban.

Begitu bibir mereka bersatu, Napas Cahaya dari dalam dada Bhaskara dan Inti Api dari dalam tubuh Anala saling bersentuhan di gerbang jiwa mereka.

Api merah membara merekah anggun, berputar mengelilingi tubuh Anala bagaikan selendang pendar yang hangat. Di saat yang sama, cahaya putih-keemasan meledak murni membungkus tubuh Bhaskara.

Kedua elemen purba itu membumbung ke atas, saling mendekat dan melebur rapat hingga membentuk sebuah lingkaran cahaya pelangi tipis yang mengambang anggun di atas kepala mereka, menaungi peraduan mereka dalam keheningan yang amat tenang dan sakral.

...****************...

1
Europa.
seperti biasa, novel baru, nunggu insect
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: 😭😭😭😭😭😭😭
total 1 replies
Phrolova
naiknya cepet banget
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: pacing cepatt 🤣🤣
total 1 replies
Yui
masterpiece /Angry//Angry/ aku nunggu insectnya/Drool//Drool//Drool/
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: gak ada insect /Curse//Hammer/
total 1 replies
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Han Boshalvaya
Waw, othor romance nulis fantasi! patut dilihat /Doge//Good/
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: /Awkward/ waduhhh
total 1 replies
Ironside
Wah /Hunger/
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: /Panic/
total 1 replies
Teteh Lia
nama tokoh na dari bahasa Sanskerta semua 👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: Isekai tema Nusantara 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!