Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Kesenjangan Mutlak
KRAAAK!
Tanah batu di bawah kaki Ksatria Iblis itu hancur berantakan saat kuda kerangka yang ditungganginya melesat maju. Hawa panas yang luar biasa menguar dari tapak kaki kuda tersebut, melelehkan bebatuan yang diinjaknya. Ujung tombak bergerigi milik sang ksatria diarahkan lurus ke jantung Do-Yoon, memancarkan kilatan listrik merah yang siap menghanguskan apa pun yang disentuhnya.
Di mata Yoo Ji-Ah yang menyaksikan dari kejauhan, serangan itu terlihat seperti kilat yang mustahil dihindari. Jantungnya berdegup kencang, menahan napas.
Namun, di mata Han Do-Yoon, waktu seolah berjalan melambat.
Melalui Mata Kehampaan, dunia telah kehilangan warnanya. Do-Yoon bisa melihat dengan jelas aliran energi sihir listrik merah yang berkumpul di ujung tombak, serta garis lintasan serangan yang akan dilalui oleh Ksatria Iblis tersebut.
"Terlalu banyak gerakan sia-sia," bisik Do-Yoon dingin.
Tepat saat ujung tombak itu hanya berjarak beberapa jengkal dari dadanya, Do-Yoon memutar tubuhnya ke samping dengan sudut yang sangat tajam. Listrik merah menyambar udara kosong, hanya meninggalkan bau ozon yang menyengat dan sedikit menghanguskan ujung kemejanya.
Sebelum Ksatria Iblis itu bisa menarik kembali senjatanya, Do-Yoon sudah mengambil langkah memutar. Kedua tangannya mencengkeram gagang kapak raksasanya dengan erat. Ia tidak mengincar sang penunggang, melainkan kuda kerangka di bawahnya.
WUSSH! BAM!
Kapak yang sangat berat itu menghantam leher kuda kerangka dengan tenaga yang mengerikan. Terdengar bunyi retakan keras yang memekakkan telinga. Tulang belakang kuda itu hancur berkeping-keping, membuat kepala kuda tersebut terlepas dan tubuhnya langsung runtuh ke tanah.
Kehilangan tunggangannya secara tiba-tiba membuat Ksatria Iblis itu terlempar ke depan. Namun, karena ini adalah monster Tingkat D, makhluk itu dengan cepat memulihkan keseimbangannya. Ia berguling di atas tanah berdebu dan langsung bangkit berdiri, meraung marah.
GRAAAARR!
Tanpa memberi jeda, Ksatria Iblis itu memutar tombaknya dan menebaskannya secara mendatar ke arah leher Do-Yoon.
Do-Yoon mengangkat gagang kayunya untuk menangkis.
TRANG! KRAK!
Bentrokan antara senjata ajaib beraliran listrik dengan gagang kapak kayu biasa menghasilkan ledakan kecil. Gagang kapak rampasan Do-Yoon tidak mampu menahan tekanan sihir yang terlalu besar. Kayu tebal itu patah menjadi dua, dan bilah besi kapaknya terlempar jauh ke udara.
Melihat lawannya kehilangan senjata utama, Ksatria Iblis itu menyeringai di balik helm besinya. Ia menarik tombaknya dan bersiap untuk melakukan tusukan mematikan kedua.
"Kau pikir aku butuh senjata tumpul ini untuk membunuh rongsokan sepertimu?" cibir Do-Yoon.
Saat Ksatria Iblis itu menusukkan tombaknya, Do-Yoon tidak lagi menghindar. Ia menyalurkan seluruh Energi Sihir hitam pekat miliknya ke tangan kanan. Kegelapan mutlak membungkus kepalan tangannya, menyerupai sarung tangan bayangan yang menyerap semua cahaya di sekitarnya.
PRANG!
Bukannya menembus daging, ujung tombak bergerigi itu justru dihentikan paksa oleh tangan kosong Do-Yoon. Benturan antara listrik merah dan energi kehampaan hitam menciptakan gelombang kejut yang menyapu debu dan bebatuan di sekitar mereka.
Mata Ksatria Iblis membelalak tak percaya. Monster itu mencoba menarik tombaknya kembali, namun cengkeraman Do-Yoon sekeras baja mati. Makhluk itu terjebak.
"Waktu bermain habis," ucap Do-Yoon datar.
Memanfaatkan keterkejutan lawannya, Do-Yoon menarik tombak itu kuat-kuat ke arahnya, membuat tubuh Ksatria Iblis terhuyung maju, kehilangan keseimbangan. Di saat yang sama, Do-Yoon melesat masuk ke dalam jarak pertarungan jarak dekat, lutut kanannya menghantam keras ke arah perut monster yang terbalut baju zirah tersebut.
BAM!
Baju zirah hitam itu penyok ke dalam. Ksatria Iblis terbatuk, memuntahkan darah hitam dari balik helm besinya. Pegangannya pada tombak terlepas.
Do-Yoon memutar tubuh Ksatria Iblis yang sedang menunduk kesakitan itu, lalu menendang bagian belakang lututnya hingga monster itu berlutut tak berdaya. Tanpa ampun, Do-Yoon meraih helm besi sang monster dari belakang, mengalirkan seluruh energi bayangannya untuk meningkatkan kekuatan fisiknya hingga batas maksimal, lalu memutar leher makhluk itu dengan paksa.
KRETAK!
Suara tulang patah terdengar sangat nyaring, mengalahkan derik suara lahar di kejauhan. Tubuh Ksatria Iblis itu mengejang hebat sesaat, lalu ambruk mencium tanah, tidak bergerak lagi.
Hening seketika menyelimuti medan pertempuran.
Do-Yoon membuang napas perlahan, menepuk debu dari tangannya seolah ia baru saja membersihkan kotoran yang tidak penting.
[Anda telah mengalahkan Pemimpin Pasukan Garis Depan: Ksatria Iblis (Tingkat D).]
[Pencapaian Hebat! Anda membunuh monster Tingkat D dengan tangan kosong pada Tahap Percobaan.]
[Anda mendapatkan 1.500 Poin Pengalaman.]
[Tingkat Anda telah naik!]
[Tingkat Anda telah naik!]
[Tingkat Anda telah naik!]
Rasa hangat yang meluap-luap membasuh tubuh Do-Yoon saat tingkatnya melonjak drastis menuju Tingkat 7. Peningkatan atributnya kini sudah setara dengan Pemburu kelas atas di masa depan.
Ia kemudian menatap bayangan pekat yang menggenang di bawah mayat Ksatria Iblis.
"Gunakan keahlian: Penyerapan Bayangan," perintah Do-Yoon.
Bayangan monster itu menggeliat naik, merambat memasuki ujung sepatu Do-Yoon bagaikan lintah yang kelaparan.
[Penyerapan Bayangan berhasil.]
[Energi Sihir Anda pulih sepenuhnya.]
[Keberuntungan Anda bekerja! Anda berhasil mencuri keahlian aktif dari target: 'Langkah Petir Hitam' (Tingkat Rendah).]
[Langkah Petir Hitam: Mengkonsumsi Energi Sihir untuk meningkatkan kecepatan gerakan secara instan sebesar 50% selama 3 detik. Meninggalkan jejak listrik yang melukai musuh di sekitar.]
Senyum tipis dan mematikan mengembang di wajah Do-Yoon. Keahlian pergerakan adalah aset paling berharga yang bisa didapatkan oleh seorang Pemburu pemula. Dan ia mendapatkannya dengan sangat mudah.
Sementara itu, rentetan pemberitahuan dari langit mulai bermunculan dengan kecepatan tinggi.
[Rasi Bintang 'Dewa Tombak Api' terdiam membisu melihat kekalahan jagoannya.]
[Rasi Bintang 'Raja Serigala Pemakan Bangkai' melolong kegirangan melihat kebrutalan Anda! Ia memberikan sumbangan 500 Koin Bintang.]
[Rasi Bintang 'Penimbang Keadilan Bersayap' menatap anomali energi sihir Anda dengan kecurigaan yang mendalam.]
[Rasi Bintang 'Dewa Perang Tanpa Nama' tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Rasi Bintang 'Dewa Tombak Api'.]
Do-Yoon melirik ke arah langit buatan yang berwarna merah pekat, menatap langsung ke titik di mana ia tahu dewa picik itu sedang mengawasinya. Ia mengangkat tangannya dan memberikan isyarat menggorok lehernya sendiri, sebuah provokasi terbuka.
"Kirimkan anjing yang lebih besar. Ini terlalu membosankan," tantang Do-Yoon dengan suara yang dipenuhi ejekan.
[Rasi Bintang 'Dewa Tombak Api' murka! Ia bersumpah akan menghancurkan jiwa Anda berkeping-keping!]
Mengabaikan amarah entitas dari dimensi lain tersebut, Do-Yoon membungkuk dan memungut tombak bergerigi yang ditinggalkan oleh Ksatria Iblis. Senjata itu memiliki bobot yang sempurna dan masih mengalirkan sisa-sisa energi listrik. Jauh lebih baik daripada kapak rongsokan yang baru saja ia hancurkan.
Ia berbalik, melangkah santai ke arah Ji-Ah dan adiknya.
Gadis berambut sebahu itu sedang terengah-engah, pedang parangnya berlumuran darah hitam. Di sekelilingnya, tergeletak puluhan mayat Iblis Kerdil yang terbelah dua. Ji-Ah benar-benar mematuhi perintah Do-Yoon, tidak satu pun dari makhluk itu yang dibiarkan menyentuh adiknya.
Melihat Do-Yoon mendekat dengan tombak petir menyala di tangannya dan tanpa luka gores sedikit pun, rasa kagum dan takut bercampur aduk di dalam hati Ji-Ah. Pria ini bukanlah sekadar mahasiswa biasa yang kebetulan kuat. Ia adalah pembunuh sejati.
"Bagus," puji Do-Yoon singkat saat ia berhenti di depan Ji-Ah. Matanya menilai mayat-mayat di sekeliling gadis itu. "Kau tidak menahan diri. Itu akan memperpanjang umurmu."
Ji-Ah mengusap keringat di dahinya, napasnya masih terputus-putus. "A-apa itu tadi? Kenapa kau sangat kuat? Aku tidak bisa membaca satupun gerakanmu saat kau melawannya."
"Karena kau masih terlalu lemah," jawab Do-Yoon tanpa basa-basi. "Tapi tidak perlu khawatir. Kau berada di tempat pelatihan terbaik saat ini."
Do-Yoon menoleh ke arah gunung berapi aktif di ujung cakrawala labirin ini, di mana sebuah istana hitam yang terbuat dari batu obsidian berdiri kokoh. Energi sihir yang sangat gelap dan tebal menguar dari istana tersebut, menandakan kehadiran Penguasa Labirin yang sesungguhnya.
"Istirahatlah lima menit. Isi kembali tenagamu," perintah Do-Yoon seraya menancapkan pangkal tombaknya ke tanah. "Setelah ini, kita akan masuk ke dalam sarang utama. Aku akan memberimu setengah dari Iblis Kerdil yang ada di istana itu agar kau bisa naik tingkat."
"K-kita akan ke sana?!" Ji-Ah menelan ludah melihat istana menyeramkan di kejauhan.
"Kau ingat apa yang kukatakan?" Do-Yoon menatap tajam, suaranya sedingin es. "Satu-satunya jalan keluar dari Gerbang Merah adalah dengan memenggal kepala penguasa tempat ini. Dan aku sangat membenci dewa yang mengirim kita kemari.
jangan lupa hadir juga 😉