NovelToon NovelToon
Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Kapten / Romantis
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15: Ajakan Makan Malam

Arkan benar-benar menunggu Laras selesai bertugas malam itu.

Mobilnya sudah terparkir di dekat pintu keluar ketika Laras melangkah keluar dari gedung JATSC. Ia masih mengenakan kemeja kerja dan membawa tas selempang, sementara Arkan berdiri di samping mobil dengan kedua tangan masuk ke saku celana.

"Kamu nggak bilang jadi menunggu," kata Laras setelah berhasil menahan senyum.

"Aku sudah tanya jam pulang."

"Itu bukan jawaban."

Arkan membuka pintu penumpang untuknya. "Masuk. Sudah lewat tengah malam."

Ia tidak menanyakan pesan Bagas yang sempat muncul di layar Laras. Sepanjang perjalanan pulang, pembicaraan mereka hanya berkisar pada kopi, jadwal terbang, dan apakah Laras masih sanggup makan mi rebus buatan Arkan sebelum tidur.

Karena itu, keesokan harinya Laras sama sekali tidak merasa perlu menjelaskan ketika ia memenuhi ajakan makan dari Bagas.

Bagas sudah memilih rumah makan sederhana tidak jauh dari kantor. Tempatnya tidak terlalu ramai, berpendingin udara terlalu dingin, dan meja-mejanya dipenuhi pegawai berseragam yang mengejar makan sebelum pergantian sif.

"Maaf, Mas Bagas. Tadi aku ketiduran setelah Subuh," kata Laras sambil duduk di kursi seberangnya.

"Kamu datang tepat waktu." Bagas mendorong buku menu ke arahnya. "Makan dulu. Baru bicara."

Kalimat itu terdengar seperti instruksi di ruang operasi. Laras menurut tanpa bertanya. Selama masa pelatihan, Bagas memang selalu seperti itu. Ia bisa menyuruh Laras mengulang simulasi tiga kali hanya karena satu angka diucapkan kurang tegas. Ia pernah berkata bahwa suara lembut tidak akan berguna jika pilot harus menebak maksudnya.

Pada bulan-bulan awal, Laras sempat mengira Bagas tidak menyukainya.

"Kalau kamu mau menangis karena ditegur, jangan di depan konsol," katanya dulu, dingin. "Lalu kembali dan buktikan kamu mampu. Posisi ini nggak peduli kamu perempuan atau bukan."

Ucapan itu menyakitkan. Namun, ketika penguji lain meragukan Laras karena suaranya dianggap terlalu muda, Bagas pula yang menyerahkan rekaman latihan terbaiknya dan meminta mereka menilai kemampuan, bukan kesan pertama.

Laras memesan soto betawi. Bagas memesan ayam bakar, lalu tanpa bertanya meminta pelayan memisahkan sambal Laras.

"Masih nggak kuat pedas kalau habis sif malam, kan?" tanyanya.

Laras tertawa kecil. "Mas Bagas masih ingat?"

"Data penting seharusnya diingat."

Bagas mengatakannya sambil membuka tablet, seolah soal sambal tadi hanya bagian dari daftar kerja. Di layar terlihat tabel jadwal pelatihan dan nama beberapa petugas baru.

"Bulan depan ada tiga personel yang masuk tahap on-the-job training," katanya. "Saya ingin mengusulkan kamu sebagai salah satu instruktur pendamping."

Senyum Laras memudar karena terkejut. "Aku?"

"Ada masalah?"

"Bukan begitu. Aku cuma belum pernah pegang trainee secara resmi."

"Makanya pendamping, bukan penanggung jawab utama." Bagas memutar tablet agar lebih mudah dibaca Laras. "Kamu bagus saat traffic padat. Kamu juga nggak panik ketika readback salah. Kekuranganmu cuma satu."

"Apa?"

"Kamu terlalu sering meragukan apakah kamu pantas duduk di posisi yang sudah kamu dapatkan."

Sendok di tangan Laras berhenti sebelum menyentuh mangkuk. Bagas menatapnya dengan ekspresi datar, tanpa senyum penghiburan atau nada yang dibuat lembut. Justru karena itu, kalimatnya terasa lebih jujur.

"Ini bukan pemberian," lanjutnya. "Kamu tetap harus ikut penilaian internal. Kalau hasilmu jelek, saya yang pertama mencoret namamu."

"Nah, ini baru Mas Bagas yang aku kenal."

"Jadi?"

Laras memandangi daftar itu sekali lagi. Ada rasa takut kecil, tetapi di baliknya tumbuh sesuatu yang lebih hangat. Selama ini ia terbiasa membuktikan bahwa dirinya tidak lebih buruk daripada siapa pun. Tawaran itu membuatnya sadar bahwa mungkin ia sudah cukup baik untuk membantu orang lain bertumbuh.

"Aku mau mencoba."

Bagas mengangguk. "Bagus. Saya kirim materi penilaiannya malam ini. Jangan balas setelah jam sebelas. Kamu perlu tidur."

"Mas Bagas mengundang makan cuma untuk memberi tugas tambahan?"

"Dan memastikan kamu makan setelah sif malam."

Jawaban itu terlalu cepat. Untuk sesaat, tatapan Bagas menetap pada wajah Laras. Lalu pelayan datang meletakkan dua piring, dan ia langsung menggeser mangkuk soto yang masih mengepulkan uap ke depan Laras.

Laras tidak menangkap apa pun selain perhatian seorang senior. Ia justru sibuk memotret tablet yang menampilkan jadwal penilaian.

"Boleh aku kirim ini ke Rosa? Dia kemarin bilang tertarik jadi pendamping juga."

"Boleh. Tapi belum ada keputusan resmi."

"Siap, Pak."

Mereka makan sambil membahas metode simulasi, batas tugas instruktur pendamping, dan cara menghentikan latihan bila trainee kehilangan kesadaran situasional. Tidak ada percakapan pribadi selain Bagas menanyakan apakah jadwal baru Laras akan terganggu setelah menikah.

"Nggak," jawab Laras. "Arkan juga kerja dengan jadwal yang berubah-ubah. Kami sudah sepakat saling kasih jadwal."

Bagas menunduk, merapikan posisi sendok yang sebenarnya sudah lurus. "Suamimu menjemput semalam?"

"Iya. Dia bahkan masak mi rebus jam satu pagi."

"Begitu."

Hanya satu kata. Laras tidak menyadari bahwa setelah itu Bagas lebih banyak berbicara tentang pekerjaan.

Saat mereka hampir selesai, Rosa masuk bersama dua rekan dari unit lain. Ia langsung melambaikan tangan begitu melihat Laras.

"Pantas chat-ku cuma dibaca. Lagi rapat rahasia, ternyata."

"Rapat sambil makan soto," balas Laras. "Sini. Aku kirim sesuatu."

Rosa mendekat, lalu Laras menunjukkan foto jadwal di ponselnya. Bagas menjelaskan singkat bahwa semuanya masih berupa usulan. Rosa bersiul pelan, mengucapkan selamat, kemudian meminta satu foto untuk dikirim ke grup kecil mereka.

Laras mengangkat mangkuknya sambil tersenyum. Bagas, yang tidak suka difoto, hanya duduk tegak di samping tablet. Rosa mengambil swafoto lebar yang menangkap mereka bertiga, termasuk dua rekannya di belakang.

"Kirim ke aku, ya," kata Laras.

"Beres."

Pada saat yang sama, ratusan kilometer dari sana, Arkan baru keluar dari ruang briefing sebuah hotel kru di Surabaya. Penerbangannya kembali ke Jakarta ditunda dua jam karena rotasi pesawat. Ia sedang membaca ulang perubahan jadwal ketika pesan Rosa masuk.

Arkan mengenal Rosa sejak ia beberapa kali datang menjemput Laras di kantor. Perempuan itu pernah meminta nomor Arkan untuk koordinasi kejutan ulang tahun Laras, lalu sesekali mengirim kabar tidak penting yang menurutnya lucu.

Rosa:

Kapten, istrimu naik pangkat jadi calon guru. Jangan protes kalau nanti galaknya ikut pulang.

Di bawahnya ada foto.

Arkan membuka gambar itu. Laras duduk di sebuah rumah makan dengan senyum cerah, mangkuk terangkat di depan dada. Di sebelahnya, Bagas menghadap kamera tanpa senyum. Jarak mereka wajar. Rosa dan dua orang lain jelas terlihat. Tidak ada satu pun hal yang patut dipersoalkan.

Namun, mata Arkan berhenti pada tablet di antara Laras dan Bagas, lalu pada semangkuk sambal yang diletakkan jauh dari Laras seolah seseorang di meja itu sudah tahu kebiasaannya.

Ia memperbesar foto.

Rosa:

Pak Bagas ngajak dia makan buat bahas program instruktur. Keren, kan?

Pak Bagas.

Nama yang kemarin muncul di layar Laras.

Arkan menutup gambar, kemudian membukanya lagi. Ia ingat kesepakatan mereka dengan sangat jelas. Pernikahan ini tidak boleh mengekang pekerjaan maupun pergaulan masing-masing. Laras tidak berutang laporan tentang dengan siapa ia makan siang. Terlebih lagi, pertemuan itu membahas pekerjaan dan terjadi di tempat terbuka.

Jadi, mengapa ia ingin tahu siapa yang memilih rumah makan itu?

Mengapa ia ingin tahu sudah berapa lama Bagas mengingat Laras tidak tahan sambal setelah sif malam?

"Kapten, mobil ke bandara berangkat satu jam lagi," kata Dio dari ujung koridor.

"Aku tahu."

Arkan membuka percakapannya dengan Laras.

Pesan terakhir mereka pagi tadi adalah foto mangkuk mi kosong dan kalimat singkat dari Laras: enak, walau telurnya terlalu matang.

Jarinya bergerak di atas layar.

Arkan:

Makan siang sama Pak Bagas?

Ia menatap pesan itu beberapa detik, lalu menghapusnya sebelum terkirim.

Sebagai gantinya, ia membuka jadwal penerbangan, menghitung ulang waktu tiba di Jakarta, perjalanan dari bandara, dan kemungkinan macet sore nanti.

Padahal ia bahkan belum tahu kapan Laras selesai makan.

Namun, jari Arkan sudah menekan foto itu lagi, sementara pikirannya sibuk menghitung pukul berapa ia bisa menjemput istrinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!