NovelToon NovelToon
Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9: Berkas Kosong

Perjalanan menuju Polsek Danau Utara berlangsung tanpa percakapan.

Jarot dibawa dalam kendaraan terpisah. Bima duduk di belakang mobil patroli bersama satu anggota polisi, sementara Anindya mengikuti menggunakan kendaraan daring. Tidak ada borgol di tangan Bima, tetapi dua pasang mata mengawasi setiap geraknya.

Begitu tiba, perkara malam itu dipisahkan ke dua ruang. Jarot diperiksa mengenai laporan palsu dan kalung emas. Bima dibawa ke ruang pemeriksaan yang sama seperti malam sebelumnya, kali ini dengan status orang yang dimintai keterangan atas dugaan melawan petugas.

Iptu Kirana masuk beberapa menit kemudian. Pergelangan tangan kanannya dibalut penyangga elastis dan ditempeli kompres dingin.

Bima melihat balutan itu. "Maaf soal tangan Bu Iptu."

"Anda bisa meminta maaf dalam berita acara."

"Kalau ditulis, kedengarannya kurang tulus."

Kirana menarik kursi dan duduk di seberangnya. "Pak Bima, tiga anggota saya mencoba menghentikan Anda saat memegang pelapor. Anda menjatuhkan mereka, melucuti senjata saya, dan membongkar pistol dinas dalam beberapa detik. Jangan ubah ini menjadi bahan bercanda."

Humor di wajah Bima menghilang.

"Saya tidak berniat mencederai petugas. Tidak ada pukulan lanjutan, laras tidak pernah diarahkan kepada siapa pun, dan senjata langsung saya amankan di atas meja. Semua terekam."

"Itu meringankan. Bukan menghapus tindakan Anda."

"Saya paham."

Kirana mulai merekam keterangan. Ia menanyakan urutan kejadian, teknik yang digunakan, alasan Bima menahan Jarot, serta keputusan menguasai pistol. Pertanyaan yang sama diulang dengan susunan berbeda. Jawaban Bima tetap konsisten.

Setelah hampir empat puluh menit, Kirana menghentikan rekaman dan keluar membawa salinan KTP Bima.

Di ruang operator, seorang anggota polisi sedang membuka beberapa basis data yang dapat diakses sesuai pemeriksaan. Data kependudukan Bima ada dan sah. Yang aneh justru jejak hidup di belakangnya.

"Bu Iptu," ujar operator, "subjek berusia dua puluh enam. Ada catatan keberangkatan keluar Indonesia ketika usianya empat belas tahun. Setelah itu hampir tidak ada jejak domestik: sekolah lanjutan, pekerjaan formal, kepesertaan kerja, alamat tetap, semuanya kosong."

"Catatan masuk kembali?"

"Sekitar satu setengah bulan lalu. Dokumen perjalanan valid. Setelah kembali, alamat sementara berpindah ke Surabaya dan ia mengambil pekerjaan satpam. Tidak ada catatan pidana nasional."

Kirana menatap layar. "Dua belas tahun di luar negeri, lalu kembali dan menjadi satpam."

"Kemampuan membongkar pistolnya juga bukan hasil latihan satpam, Bu."

Itulah masalahnya.

Kirana telah berlatih bela diri kepolisian dan penanganan senjata bertahun-tahun. Ia tahu perbedaan antara orang yang pernah berkelahi di jalan dan orang yang dibentuk untuk bertahan hidup dalam konflik bersenjata. Bima tidak panik saat melihat laras. Ia membaca posisi jari, sudut tembak, dan ruang di belakang target.

Orang seperti itu bisa menjadi korban keadaan.

Atau ancaman yang belum terdeteksi.

Di lorong, Anindya menunggu di bangku plastik. Ketika Kirana lewat, ia berdiri.

"Bu Iptu, boleh bicara sebentar?"

Kirana berhenti. "Silakan."

"Saya tahu Bima salah karena melawan petugas. Saya nggak meminta Ibu menghapusnya." Anindya meremas tali tasnya. "Tapi tolong lihat juga apa yang terjadi sebelumnya. Semalam dua pria bersenjata masuk ke unit saya. Bima datang sendirian, menyelamatkan saya, lalu menjaga TKP sampai polisi tiba. Dia bahkan meminta izin sebelum melepas ikatan saya."

"Kebaikan dalam satu kejadian tidak menjawab riwayat hidup dua belas tahun yang kosong."

"Benar. Tapi kalau dia memang penjahat yang Ibu khawatirkan, dia punya banyak kesempatan untuk kabur malam ini. Dia justru setuju ikut ke sini."

Kirana memandang perempuan di depannya. Anindya masih menyimpan bekas takut dari perampokan, tetapi tetap datang untuk membela orang yang baru dikenalnya.

"Kami akan menilai berdasarkan bukti," kata Kirana. "Bukan prasangka Jarot, dan bukan pula rasa terima kasih Anda."

"Itu yang saya minta."

Kirana kembali ke ruang pemeriksaan.

Bima masih duduk pada posisi yang sama. Ia tidak mencoba mengintip berkas atau mencari jalan keluar. Hanya matanya yang bergerak saat Kirana masuk.

"Pak Bima," kata Kirana, "catatan resmi Anda hampir kosong sejak usia empat belas tahun. Anda keluar dari Indonesia dan baru kembali sekitar satu setengah bulan lalu. Di sela waktu itu, Anda belajar pertarungan jarak dekat, penguasaan sendi, dan penanganan senjata pada tingkat yang tidak biasa."

Ia meletakkan salinan data di meja.

"Anda sebenarnya siapa?"

Bima memandang angka tanggal keberangkatannya. Empat belas tahun. Terlalu muda untuk memahami dunia, cukup tua untuk tahu bahwa tidak ada siapa pun yang akan menunggunya pulang.

Ia bisa terus berbohong. Namun akses Kirana ke arsip kependudukan mungkin menjadi jalan yang selama ini tidak ia miliki.

"Saya bekerja sebagai tentara bayaran," katanya.

Kirana tidak bergerak. "Untuk siapa?"

"Pihak yang membayar kontrak di wilayah konflik. Pengawalan, evakuasi, perlindungan aset, kadang pertempuran."

"Nama perusahaan atau kelompok?"

"Bagian itu belum bisa saya berikan."

"Belum bisa, atau tidak mau?"

"Keduanya."

Kirana menyandarkan punggung. "Dua belas tahun?"

"Dua belas tahun."

"Lalu kenapa pulang?"

Untuk pertama kalinya, ketenangan Bima retak. Jarinya berhenti di atas meja.

"Satu setengah bulan lalu, sahabat saya tewas menyelamatkan nyawa saya. Namanya Surya. Dia berasal dari Surabaya."

Kirana menunggu.

"Sebelum meninggal, dia meminta saya mencari adik perempuannya. Alamat keluarga yang saya punya sudah digusur. Tetangga lama tersebar, nomor telepon tidak aktif. Saya mengambil pekerjaan yang tidak banyak bertanya sambil terus mencari."

"Siapa nama lengkap adiknya?"

"Saya hanya tahu nama panggilannya ketika kecil. Surya jarang bicara soal keluarga karena ada masalah lama. Itu sebabnya saya butuh bantuan."

"Dan Anda berharap polisi membuka data pribadi seseorang untuk mantan tentara bayaran yang menolak menyebut organisasinya?"

Bima menerima tajamnya pertanyaan itu.

"Saya berharap Bu Iptu memeriksa Surya lebih dulu. Kalau cerita saya bohong, tahan saya sesuai dasar yang ada. Kalau benar, bantu saya menyelesaikan janji. Informasi alamat tidak perlu diberikan langsung. Bu Iptu bisa menghubungi adiknya dan meminta persetujuan."

Permintaan itu menghilangkan keberatan terbesar: perlindungan data dan keselamatan orang yang dicari.

Kirana berdiri. "Nama lengkap sahabat Anda?"

"Surya Wijaya."

Ia membawa nama itu ke ruang operator. Beberapa variasi pencarian tidak menghasilkan apa-apa. Lalu operator memperluas rentang ke arsip lama yang belum sepenuhnya terdigitalisasi.

Satu hasil muncul.

Bukan catatan kerja.

Bukan data kependudukan biasa.

Sebuah penanda merah terhubung pada berkas perkara lama dan status pencarian orang atas nama Surya Wijaya.

Operator meminta nomor perkara dan alasan akses dicatat lebih dulu. Kirana memasukkan pemeriksaan identitas Bima sebagai dasar penelusuran, lalu mengesahkan permintaan dengan akun dinasnya. Jejak akses itu tersimpan otomatis; tidak ada ruang untuk pencarian pribadi diam-diam.

Kirana menatap tanggalnya, lalu wajahnya mengeras.

"Buka arsip itu," perintahnya. "Semua halaman."

1
GEMBONG SAKTI
hilangkan penyebutan saya, pakai aku malah lebih bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!