NovelToon NovelToon
Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.

Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.

Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 026: Sebulan Hujan, Dunia Membisu

Pada hari ketiga puluh hujan, internet mati tanpa suara perpisahan.

Layar tidak lagi menampilkan galat, lingkaran pemuatan, atau tulisan pemeliharaan jaringan.

Hanya kosong.

Hendra berdiri di ruang kontrol bunker dengan secangkir kopi panas di tangan. Di depannya, enam layar menyala. Empat layar menunjukkan hujan. Satu layar menunjukkan peta nasional yang sudah tidak diperbarui sejak tiga hari lalu. Satu layar lagi menunjukkan panel sistem bunker.

Suhu dalam: 22°C.

Kelembapan dalam: stabil.

Daya utama: baterai mandiri.

Genset cadangan: siap.

Pompa drainase: aktif bergantian.

Pagar listrik perimeter: aktif.

Di luar, air jatuh seperti langit sedang dibuka paksa. Selama sebulan penuh, hujan tidak pernah benar-benar berhenti. Kadang mengecil menjadi tirai tipis. Kadang menghantam atap baja seperti ribuan batu. Tetapi tidak pernah berhenti.

Kota-kota yang dahulu ribut sekarang hilang dari layar.

Hari ketujuh, jaringan seluler mulai putus-putus.

Hari kesepuluh, listrik umum di banyak wilayah padam lebih lama daripada menyala.

Hari keenam belas, siaran berita nasional berpindah ke studio darurat.

Hari kedua puluh satu, studio itu berhenti menayangkan wajah manusia dan hanya memutar teks peringatan.

Hari kedua puluh tujuh, teks itu membeku di satu kalimat: Tetap tenang dan tunggu instruksi resmi.

Setelah itu tidak ada instruksi lagi.

Hendra menyeruput kopi. Rasanya pahit, hangat, dan sangat mahal di dunia yang mulai lupa bentuk kenyamanan.

Blacky berbaring di bawah meja kontrol. Tubuh kecilnya sudah tidak sekurus saat ditemukan di lereng belakang. Bulunya lebih bersih. Matanya lebih terang. Tetapi telinganya selalu bergerak setiap kali suara asing menyentuh pagar luar.

"Tenang," kata Hendra pelan.

Blacky tidak menggonggong. Ia hanya mengangkat kepala, lalu menatap layar paling kiri.

Hendra ikut melihat.

Kamera gerbang depan tertutup air. Gambar buram, tetapi sensor gerak di pagar luar menyala merah.

Satu titik panas bergerak pelan dari arah jalan lama.

Manusia.

Sendirian.

Hendra meletakkan cangkir. Jarinya menyentuh panel, memperbesar gambar termal. Sosok itu kurus, membungkuk, membawa karung plastik di punggung. Ia berjalan dengan lutut gemetar, beberapa kali jatuh ke lumpur, lalu bangun lagi.

Punggungnya kosong dari senjata panjang. Ia datang tanpa rombongan dan kendaraan.

Hanya seorang pria yang mungkin sudah kehabisan makanan, kehabisan air bersih, dan kehabisan tempat mengetuk pintu.

Hendra menatapnya tanpa bergerak.

Di kehidupan lalu, ia pernah menjadi orang seperti itu. Basah. Lapar. Menggigil. Berdiri di depan bangunan orang lain sambil berharap ada sedikit belas kasihan tersisa di dalam dunia.

Ia juga ingat apa yang terjadi setelah pintu dibuka.

Satu orang masuk. Lalu lima orang datang. Lalu dua puluh orang mendobrak. Lalu orang yang paling lemah mati lebih dulu, sementara orang yang paling keras membawa nama lapar sebagai izin merampas semuanya.

Di bunker ini ada makanan untuk bertahun-tahun.

Ada obat. Ada bahan bakar. Ada senjata. Ada ruang hangat. Ada satu kehidupan kedua yang ia bayar dengan darah, hinaan, dan seluruh masa lalu.

Pintu itu tidak boleh dibuka.

Pria di luar sampai di depan pagar pertama. Ia memukul besi dengan kedua tangan.

Suara benturan masuk melalui mikrofon, pecah oleh hujan.

"Tolong!" teriak pria itu.

Hendra menyalakan pengeras suara luar.

"Pagar itu dialiri listrik," katanya. Suaranya keluar dingin dari tiang speaker. "Mundur ke jalan. Cari bangunan tinggi di sebelah barat."

Pria itu mendongak. Air mengalir di wajahnya. Ia tampak tidak menemukan kamera, tetapi ia tahu ada orang di dalam.

"Buka! Aku cuma mau makan!"

"Mundur."

"Aku tidak kuat lagi!"

Hendra diam.

Blacky berdiri. Geraman kecil keluar dari tenggorokannya.

Pria itu mulai menangis. Atau mungkin hujan membuat wajah semua orang terlihat seperti menangis. Ia menempelkan dahi ke pagar, lalu memukul lagi, lebih keras.

"Kau punya lampu! Kau punya listrik! Aku lihat lampumu!"

Hendra mematikan lampu sorot depan.

Halaman luar langsung tenggelam dalam gelap abu-abu. Hanya kamera inframerah yang masih melihat tubuh pria itu.

Beberapa detik pria itu membeku. Lalu ia tertawa pendek, suara rusak dan putus asa.

"Kalau begitu aku masuk sendiri."

Hendra menekan tombol peringatan kedua.

Lampu kecil merah di tiang pagar berkedip. Sirene pendek berbunyi tiga kali.

Pagar listrik perimeter bukan hiasan. Bonar dulu memasangnya dengan laporan teknis yang rapi, mengira itu hanya permintaan orang kaya paranoid. Setelah Bonar mati, Hendra menghubungkan sistem itu ke baterai mandiri bunker, menambah pengaman lonjakan, dan memisahkan jalurnya dari listrik umum.

Selama jaringan nasional mati, pagar itu tetap hidup.

Pria di luar tidak peduli.

Ia melempar karung melewati pagar pertama. Karung itu jatuh di tanah basah dengan bunyi berat. Lalu ia memanjat.

Tangan kirinya menggenggam besi.

Kakinya mencari pijakan.

Hendra melihat jari-jari itu menyentuh kawat atas.

Cahaya putih menyambar sangat singkat.

Tubuh pria itu mengejang.

Tidak ada teriakan panjang. Hanya suara napas yang patah, lalu tubuh jatuh dari pagar ke lumpur dengan punggung menghantam tanah.

Blacky menggonggong sekali, keras.

Hendra tidak berkedip.

Sensor pagar berkedip merah. Panel sistem mencatat lonjakan, lalu stabil kembali.

Pagar listrik perimeter: aktif.

Ancaman fisik: netral.

Di luar, pria itu tidak bergerak.

Hendra menunggu tiga menit. Lima menit. Sepuluh menit. Kamera termal memperlihatkan panas tubuh yang perlahan turun, tercuci hujan yang tidak punya belas kasihan.

Ia bisa keluar.

Ia bisa menarik tubuh itu dari lumpur.

Ia bisa memeriksa apakah masih ada napas.

Tetapi di luar pagar ada jalan lama yang tidak terlihat. Di balik hujan ada kemungkinan mata lain. Satu tubuh di tanah bisa menjadi umpan. Satu pintu servis yang terbuka bisa menjadi awal dari semua kegagalan.

Hendra mematikan pengeras suara.

"Duduk," katanya kepada Blacky.

Blacky tidak langsung duduk. Ia menatap layar, lalu menatap Hendra, seolah menunggu perintah yang lebih manusiawi.

Hendra menunduk dan mengusap kepala kecil itu.

"Kita hidup dulu."

Baru setelah itu Blacky pelan-pelan duduk, tetapi matanya tetap mengarah ke layar.

Hendra menyalakan mode arsip. Rekaman kejadian disimpan ke penyimpanan lokal. Ia menandai waktu, lokasi, status pagar, dan kalimat peringatan yang sudah dikeluarkan.

Bukan untuk polisi.

Polisi mungkin sudah tidak bisa mencapai gerbang mana pun.

Ia menyimpan semuanya untuk dirinya sendiri, agar kelak jika hatinya bertanya apakah ia membunuh orang tanpa alasan, jawabannya tetap jelas.

Ia sudah memperingatkan.

Orang itu tetap memanjat.

Di dunia lama, itu mungkin masih menjadi perkara hukum.

Di dunia sekarang, itu menjadi catatan pagar.

Hendra kembali ke meja kontrol. Kopinya sudah dingin. Ia menuangnya ke wastafel kecil, lalu membuka panel radio wideband.

Sejak tiga hari lalu, radio menjadi satu-satunya suara dunia.

Kadang ada permintaan tolong dari atap sekolah.

Kadang ada koordinat rumah sakit yang kehabisan solar.

Kadang ada suara orang membaca doa, lalu hilang di tengah kalimat.

Lebih sering, hanya derau.

Hendra memutar kenop frekuensi perlahan. Jarum digital melompat dari kanal darurat Bandung ke kanal relawan Jawa Tengah, lalu ke saluran maritim yang suaranya tenggelam.

"...angin dari laut selatan..."

Hendra berhenti.

Suara itu sangat lemah, tetapi nadanya berbeda. Seorang operator masih mencoba membaca data.

"...tekanan turun tidak wajar... ulangi, tekanan turun tidak wajar..."

Derau memotong.

Hendra menaikkan gain antena.

Blacky mendekat ke kakinya.

"...seluruh pos tinggi diminta bersiap. Badai besar bergerak ke arah Jawa Barat. Suhu permukaan turun cepat. Ini bukan pola hujan biasa. Semua unit yang masih menerima, ulangi, semua unit..."

Suara itu retak.

Lalu muncul kalimat terakhir, pelan, seolah orang di seberang juga tidak percaya pada kata-katanya sendiri.

"Angin membawa dingin dari laut."

Radio mati dalam derau panjang.

Hendra menatap angka suhu luar di layar.

18°C.

Terlalu cepat.

Terlalu rendah.

Selama sebulan, air sudah menenggelamkan kota, memutus listrik, mematikan internet, dan membuat manusia saling mengetuk sampai tidak ada pintu tersisa.

Sekarang hujan mulai membawa sesuatu yang lebih kejam daripada air.

Hendra berdiri, menarik jaket termal dari sandaran kursi, lalu menatap Blacky.

"Mulai malam ini, jangan jauh dari ruang hangat."

Di luar pagar, tubuh pria itu masih terbaring dalam hujan.

Di atas bunker, angin pertama yang dingin menyapu kamera, dan layar depan berubah putih selama satu detik.

Satu detik saja.

Cukup untuk membuat Hendra tahu bahwa dunia sedang mengganti cara membunuhnya.

1
Alia Chans
Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!