Kisah seorang gadis miskin yang slalu terlihat ceria, tegar dan tak pernah goyah dalam menghadapi masalah hidupnya.
Namun siapa sangka, dibalik sifatnya itu, dia menyimpan semua kerapuhan dan kesedihan dalam dirinya.
Keadaan hidupnya yang slalu berada dalam kesulitan, menuntutnya menikah dengan seorang Pria yang tidak mencintainya sama sekali. Sehingga, dia harus merasakan perihnya luka dihati yang slalu di simpan rapi dalam senyuman indahnya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya🤔...
Apakah dia akan bertahan atau malah pergi dari maslah hidupnya??
Mari kita langsung aja caapcuuus kepoin ke isi Novel😊
Happy Reading!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelita Abadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 30
"Hey, minggir dari situ! kamu menghalangi pintunya. Jika kamu terus berdiri di situ, bisa encok nih, pinggang," gerutu Zico membuat Dea sadar dari rasa kagetnya dan beranjak dari dekat pintu mobil.
"Huhf hh ... ." Zico mendudukkan perempuan itu di kursi penumpang.
"Kamu jagain dia di belakang sini, dan Kucingnya tinggal aja! gak usah di bawa!" ucap Zico.
"Aku akan duduk di belakang sini dengan senang hati." Dea membuka cardigan panjangnya sambil berjalan mendekati kucing itu, "Tapi, tidak dengan meninggalkan kucing ini." Dea membalutkan cardigannya pada tubuh kucing.
Dea mengangkat tubuh kucing itu tanpa rasa jijik sedikitpun, berbeda dengan Zico yang melotot melihat perlakuan Dea.
"Whaaat? kamu mau membawa binatang sial itu ke dalam mobil, ku?" teriak Zico yang hanya di cuekin oleh Dea.
"Keluarkan binatang itu! Aku, tidak mau terjadi sesuatu yang sial lagi akibat binatang itu," hardik Zico melihat Dea sudah masuk kedalam mobil.
"Kenapa harus di keluarkan apalagi kita tinggal di sini? apa tidak ada rasa tanggung jawab dan rasa bersalah di hati mu?" tanya Dea.
"Pokoknya aku nggak mau ada binatang sial di hadapan, ku. Apalagi, jika harus memasuki mobil ku!" tegas Zico.
"Okey ... sepertinya kamu adalah orang yang tidak punya rasa manusiawi dan tanggung jawab sedikitpun." Dea keluar sambil menggendong kucing yang ada di pangkuannya.
"Terserah, kamu mau bilang apapun tentang aku yang pasti, aku tidak mau melihat binatang sial itu lagi." Zico masuk ke dalam mobil dengan rasa kesal kepada Dea.
"Hey ... kamu, mau kemana?" teriak Zico melihat Dea yang berjalan cepat masih dengan keadaan menggendong kucing di depan mobilnya.
"Wooi ...." Zico menjulurkan kepalanya dari jendela mobil, berharap Dea akan menyahutinya.
Dea tak menggubris panggilan Zico, dia terus berjalan lurus dengan langkah cepat tanpa menoleh sedikitpun ke arah Zico.
"Maafkan Zico, ya. Dia nggak sengaja menabrak mu. Aku akan memakamkan mu dengan baik." Dea terus berjalan cepat "Kenapa, kamu dan sahabatku ada disini?" Dea bertanya kepada kucing yang telah mati itu, seakan kucing itu bisa menjawab pertanyaannya.
Zico keheranan sekaligus emosi melihat Dea yang terus berjalan dan semakin menjauh dari hadapannya.
Tiiiit tit tiiit ....
Zico membunyikan klakson mobilnya di dekat Dea.
"Masuk!" Zico memberhentikan mobilnya tepat di hadapan Dea.
"Aku akan masuk jika, kucing ini juga ikut masuk!" tegas Dea.
"Maasuuuk!" Geram Zico keras.
"Aku akan ikut dengan mu jika, kucing ini juga boleh masuk dan kamu juga harus berjanji untuk menguburkannya dengan baik?" Pinta Dea.
"Silahkan bawa binatang itu.Tapi, aku tidak mau menguburkannya," Tolak Zico.
"Kamu, mau aku di penjara karena menabrak seorang gadis lalu dia meninggal akibat lalai membawanya kerumah sakit?" ucap Zico yang sudah muak dengan kelakuan Dea yang di rasanya seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"Aku bersyukur banget jika, kamu di penjara. Itu artinya, aku tidak akan berurusan dengan kamu lagi. Jadi, aku bisa hidup dengan tenang." Dea membuka pintu mobil dan kembali duduk di bangku penumpang tepat di belakang Zico.
"Dasar, istri durhaka. Nggak ada patuh-patuhnya sama suami," gerutu Zico.
"Helloow ... siapa yang anda maksud? ingat baik-baik, saya bukanlah istri anda. Jika tidak ada orang tua kita. Maka, saya bukanlah I-S-T-R-I, istri anda!" Dea mengeja satu per satu huruf yang menjadi kata istri tersebut.
Jantung Zico seakan sedang di hantam dengan sangat keras mendengar ucapan pedas yang keluar dari mulut Dea. Entah kenapa, hatinya terasa sakit dan membuat emosinya naik tujuh tingkat.
"Laki-laki kok lupa dengan omongannya sendiri," cibir Dea.
"DIAM!" Zico memukul stir mobilnya emosi.
"Ini orang slalu marah dan marah, nggak pernah ada manis manis nya," batin Dea.
"Jika , bukan karena hutang yang sudah menggunung itu, tak akan pernah sudi aku menerima pernikahan ini," Dea menyandarkan kepalanya kebelakang, seketika dia ingat ada orang di sampingnya yang belim sadarkan diri sampai sekarang.
"Alhamdulillah nadinya masih aktif" Dea memengang tangan perempuan itu sambil memeriksa nadinya.
"Jangan ngebut lagi! ntar nabrak lagi, gimana?" ucap Dea yang tak di pedulikan Zico.
Zico terus mengemudikan mobil sport keluaran terbarunya dengan kecepatan tinggi tanpa memperdulikan Dea lagi.
"Ini telinga masih berfungsi gak, sih." Dea mencubit telinga Zico sedikit menarik ke belakang.
"Kamu mau minta di hukum!" gertak Zico yang masih sakit hati akibat ucapan Dea tadi.
Zico menepikan mobilnya dan memberhentikannya.
"Kenapa berhenti? kita harus cepat bawa korban yang kamu tabrak ini, dia belum sadar juga," ucap Dea yang panik mendengar akan di hukum, dalam bayangan memorinya terlintas, hukuman yang akan Zico berikan padanya.
"Apa dia akan berbuat kasar lagi kepadaku? apa dia akan memukuli ku karena telah berani menarik telinganya?" Dea gemetaran membayangkan hukuman dari Zico.
"Aku akan menghukum mu!" Zico masuk ke dalam mobil dan langsung mengungkung Dea.
"Kamu mau apa?" Dea berusaha menyembunyikan rasa takutnya.
Zico meng gigit kecil telinga Dea, membuat bulu-bulu roma Dea berdiri.
"Hh ... hen- hentikan!" ucap Dea yang merasa sekujur tubuhnya meremang tiba-tiba.
Zico tak memperdulikan ucapan Dea. Dia terus mengungkung Dea, kini bibir Zico beralih meng gigit le her Dea membuat tubuh Dea semakin meremang.
"Kamu itu, manusia atau vampire?" Dea mencoba mengelak, dia menarik tubuhnya. Namun, itu tak berhasil karena kungkungan Zico begitu kuat.
Zico terus menggi git le her Dea hingga meninggalkan beberapa bekas kemerahan disana. Kini Zico beralih ke bi bir ranum milik Dea, Dia menyesap penuh keinginan, Detak jantung mereka berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Tubuh dea semakin meremang dan seperti sedang di sengat arus yang tiada dia mengerti.
"Mm ... mm." Dea berusaha melepaskan pangutan Zico namun Zico sepertinya masih ingin bermain-main.
"Mm ... mmbm" Dea membuka sedikit mulutnya, merasa mendapati peluang, Li dah Zico langsung menerobos masuk.
"Aaawh." Zico melepaskan pangutannya karena Dea menggi git li_dah nya.
"Setelah sampai apartemen akan ku pastikan kamu tidak akan punya gigi lagi," sungut Zico keluar dari mobil dan beranjak ke kursi pengemudi.
"Itu akibatnya karena main sosor sembarangan," ucap Dea.
Zico kembali mengemudikan mobilnya dengam mood yang lebih baik dari sebelumnya. Selama di perjalanan menuju rumah sakit terdekat, mereka hanya diam dengan perasaan dan pemikiran masing-masing.
"Kenapa si beruang kutub kalau lagi emosi selalu main nyosor aja?" batin Dea.
"Apa itu sudah kebiasaannya pada semua orang?" tiba-tiba rasa sedih menyelimuti hati Dea, membayangkan kebiasaan Zico yang suka main sosor sosoran.
Diam-diam Zico memperhatikan Dea dari kaca depan.
"Kenapa wajah garangnya jadi murung begitu? Apakah karena aku menyakitinya?" batin Zico.
"Masa iya, perempuan garang seperti dia juga merasakan sakit?" Zico menarik ujung bibirnya sinis.
mudah mudahan doen berhasil yah main tembak tembakan sama Dea.
mampir yuk di novelku
Love In Underground
jng lupa mampir lagi kelapak ku say🤗