Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.
Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.
Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Bangkitnya Sistem Taman Kehidupan
Darah hangat yang merembes dari bibir Yang Chan terasa asin. Rasa sakit yang semula membakar hebat di dalam dadanya perlahan mulai mengendur, menyisakan denyut konstan yang menenangkan di seluruh nadinya.
Satu hentakan kuat mendadak terjadi di dalam ulu hatinya.
Brak!
Suara gemertak halus terdengar dari balik persendiannya yang kaku. Bersamaan dengan itu, uap tipis berwarna abu-abu dengan bau menusuk keluar dari pori-pori kulitnya. Lapisan kotoran kehitaman yang lengket mulai melapisi permukaan lengannya.
Ia berhasil.
Ranah Penempaan Tubuh tingkat pertama kini resmi tercapai di dalam dirinya.
Yang Chan membuka matanya dengan napas memburu. Ia menatap telapak tangannya yang gemetar, namun kali ini bukan karena lelah, melainkan karena aliran tenaga baru yang terasa sangat nyata mengalir di bawah kulitnya.
Bing Chan, sang ibu, langsung menutup hidungnya menggunakan celemek masak yang melilit pinggangnya. Langkah kakinya mundur dua langkah dengan sangat cepat.
"Chan er, kau bau sekali," komentar Bing Chan tanpa saringan sedikit pun. Sorot matanya yang tadi tegang kini berganti menjadi campuran antara lega dan geli. "Ibu kira ada bangkai tikus yang tiba-tiba jatuh dari langit."
Yang Wei tertawa renyah sambil berjalan mendekat, meskipun ia juga sesekali mengibas-ngibaskan telapak tangan di depan wajahnya. "Luar biasa. Anak kita benar-benar berhasil mendobrak gerbang pertama tubuhnya."
"Rasanya seperti baru saja direbus hidup-hidup, Ayah," keluh Yang Chan, menyeka keringat bercampur lendir hitam di dahinya yang terasa lengket sekali.
'Tapi setidaknya perjuangan ini tidak sia-sia,' batin Yang Chan, tersenyum lebar. Rasa lelahnya seolah terbayar lunas dalam satu kedipan mata saja.
Tepat ketika ia hendak bertumpu pada lututnya untuk berdiri, sebuah kilatan cahaya hijau tiba-tiba muncul di tengah pandangannya. Cahaya itu tidak menyilaukan mata, melainkan terasa sangat lembut dan tenang.
Sebuah baris teks semi-transparan terbentuk secara perlahan di udara kosong depan matanya.
[Sistem Taman Kehidupan berhasil diaktifkan.]
[Sinkronisasi jiwa dengan pengguna: Yang Chan.]
Yang Chan mengerjukan matanya berkali-kali, mengira itu hanya ilusi optik akibat kelelahan berlatih di bawah terik pagi yang dingin. Namun, kotak hijau bercahaya tersebut tetap diam di sana, melayang dengan sangat stabil di depan wajahnya.
Anehnya, ia tidak merasa panik sedikit pun dengan kemunculan benda asing itu. Sebuah pemahaman intuitif langsung mengalir deras ke dalam jiwanya, seolah-olah sistem ini memang sudah menjadi bagian dari dirinya sejak lahir.
"Sistem?" bisik Yang Chan sangat pelan, memastikan orang tuanya yang sedang berbincang kecil tidak mendengar gumaman aneh tersebut.
Ia memfokuskan pikirannya pada antarmuka hijau di depannya. Tidak ada suara robot yang bising, tidak ada pula hitung mundur yang menegangkan layaknya cerita legenda yang mengerikan.
Hanya ada teks hijau yang bersih dan sangat minimalis.
Sambil mengamati detail informasi yang terpampang, ia mencoba mencari menu misi atau tugas tertentu. Biasanya, dari rumor yang pernah ia dengar di kedai teh desa, kekuatan misterius selalu meminta bayaran yang tidak masuk akal.
Namun, nihil.
'Tunggu, tidak ada misi wajib?' batin Yang Chan heran. Ia mencoba menggeser antarmuka itu dengan pikirannya.
Tidak ada daftar misi mingguan. Tidak ada pula peringatan mengerikan tentang hukuman mati jika ia tidak berlatih tepat waktu.
Sistem ini murni hanya bertindak sebagai fasilitas pendukung yang pasif. Kekuatannya akan berevolusi seiring dengan peningkatan ranah kultivasi Yang Chan sendiri, tanpa menuntut apa pun sebagai gantinya.
'Baguslah,' pikir Yang Chan, senyumnya kini terkembang semakin tipis. 'Aku tidak perlu dipaksa menjadi pahlawan yang harus bertarung setiap hari.'
Ia hanya ingin hidup tenang, sehat, dan membantu keluarganya tetap aman dari gangguan klan-klan besar seperti Klan Li. Sistem yang damai ini sangat cocok dengan impian hidup santainya yang praktis.
Pandangannya kini tertuju pada satu-satunya ikon yang menyala terang di sudut kiri atas antarmuka hijau tersebut. Sebuah fitur pertama yang telah terbuka berkat keberhasilannya mencapai level satu Penempaan Tubuh.
[Fitur Terbuka: Mata Air Kehidupan]
[Status: Tak Terbatas]
Informasi mengenai fitur tersebut langsung tersaji dengan jelas di dalam kepalanya. Air ini bukan sekadar air sumur biasa, melainkan cairan yang mengandung vitalitas murni yang tidak akan pernah habis seberapa pun ia menggunakannya.
Yang Chan menelan ludah kasar. Tubuhnya yang saat ini masih terasa pegal dan dipenuhi kotoran fana seolah berteriak mendambakan kelegaan dari air tersebut.
Ia tahu betul bahwa tubuh fisiknya membutuhkan pemulihan cepat sebelum kotoran di kulitnya mengering dan menjadi gatal luar biasa. Rasa penasaran yang besar mulai menguasai dirinya.
"Chan er, kenapa kau malah duduk melamun di sana?" tanya Yang Wei, menepuk pundak putranya yang masih terduduk kaku di atas tanah gembur. "Cepat pergi ke sumur belakang dan bersihkan dirimu."
"Benar kata ayahmu, baumu sudah menyebar sampai ke dapur," teriak Bing Chan dari arah teras, tangannya menunjuk ke arah sumur. "Ibu tidak mau mencuci bajumu yang bau bangkai itu."
Yang Chan tersentak dari lamunannya yang panjang. Antarmuka hijau di depannya langsung menghilang seiring dengan hilangnya fokus pikirannya.
"Ah, iya, Ibu! Aku ke belakang sekarang!" jawab Yang Chan tergesa-gesa.
Ia segera bangkit berdiri dari tanah. Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan dari biasanya, meskipun sisa-sisa rasa sakit dari proses terobosan tadi masih sedikit membekas di otot pahanya yang tegang.
Sambil berjalan setengah berlari ke arah sumur belakang, pikirannya terus berputar pada air tak terbatas yang baru saja ia dapatkan di dalam sistem jiwanya. Ia sudah tidak sabar untuk mencobanya secara langsung.