Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?
layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.
Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....
Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Ngeles aja. Bilang aja nggak mau, Abang nggak papa lho... Ngak bakal marah juga misal kamu nggak mau."
"Iya, pas Abang telpon kemarin aku tuh udah ngantuk banget Bang. Jadinya nggak seberapa loading."
" Ya udah, nggak papa. Bisa temenin Abang nggak ke kondangan teman nanti sore?"
"Hem, Abang kondangan sendiri aja ya. Nggak enak sama temen-temen Abang."
"Nggak papa, besok kan juga bakal ketemu juga sama mereka pas touring."
"Ya udah deh,"jawabku.
" Kok kayak terpaksa gitu,?"
"Nggak Bang, nggak terpaksa kok. Ada dress code nya nggak?"
"Nggak ada, pakai senyaman kamu aja. Nanti Abang jemput jam tiga sore ya. Kamu sharelock."
"Iya,, Bang."
"Ya udah, ntar pulangnya hati-hati, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Jarum jam terus berputar hingga akhirnya waktu pulang telah tiba. Aku pulang dengan mengendarai motor matic kesayangan yang kumiliki dengan penuh perjuangan. Setelah beberapa menit lamanya membelah jalanan yang lumayan ramai dan sedikit macet karena adanya proyek galian di pinggir jalan, akhirnya aku sampai juga di rumah.
"Assalamu'alaikum," ucapku setelah membuka pintu rumah.
"Waalakumsalam," jawab Ibu yang hari ini libur kerja, setelah mencium tangan Ibu aku duduk di kursi di samping Ibu.
"Tumben rumah sepi, Buk?" tanyaku.
"Putri nginep ke rumah neneknya, ada acara kirim doa buat Budhenya di sana. Nanti sore Ibu juga ke sana, tapi nunggu Bapak pulang. Mbak mau ikut?"
"Nitip salam aja, Mbak terlanjur janji nemenin Bang Rengga kondangan, Bu," jawabku.
"Rengga? Siapa Mbak? Ibu baru dengar namanya."
"Itu, supervisor PT Bintang buat area Malang, Bu."
"Ooo..... Ganteng nggak?" tanya Ibu.
"Ganteng lah, cowok! Kalau cewek namanya cantik, Bu." jawabku lalu terkekeh.
"Ntar kenalin sama Ibu ya. Kalian berangkat jam berapa?"
"Nggak tahu, tapi nanti Bang Rengga jemput ke sini kok."
"Idih.... Panggilnya udah abang aja. Tumben-tumbenan lho kamu, Mbak. Mau panggil Abang sama bukan keluarga. Biasanya panggil Bapak semua kan?"
"Terpaksa, Bu. Daripada dia resek gangguin terus."
"Yunus, apa kabar? Lama nggak kelihatan, dia sehat kan?"
"Sehat lah, orang calon istrinya udah datang dari Hongkong."
"Serius Mbak, jangan bercanda. Ibu kira kalian ada hubungan apa gitu yang lebih dari teman."
"Nggak, Bu. Dari kemarin Mbak kan udah bilang to, kalau cuma teman. Nggak lebih."
"Teman Tapi Mesra.... Kata si Azka."
"Ibu, segala si Azka dipercaya. Dia tuh terlalu terobsesi, pingin Mbaknya yang cuantik ini segera nyebar undangan nikahan, tapi apa daya Mbak, Allah masih ngasih jatah jadi tamu undangan aja." jawabku lalu tertawa.
Ibu hanya geleng-geleng kepala.
"Mbak, pakdhe mu minta nomer ponsel kamu, boleh nggak Ibu kasik?"
"Nggak sekalian nomer rekening, Bu?" jawabku sambil tersenyum. "Damel nopo, Bu?" ( buat apa, bu?)
"Halah, kayak nggak tahu pakdhe mu aja. Lagi buka biro jodoh buat kamu, Mbak."
"Heeem.... Kenapa sih dibikin heboh, nanti kalau sudah ketemu jodohnya kan langsung nikah. Jaman udah maju kayak gini masih aja percaya mitos. Besi aja udah bisa terbang, jodoh juga pasti bakal datang entah dari arah mana, lewat mana. Udahlah, Bu. Mbak mau makan dulu. Lapar. Hehehe.... " ucapku lalu beranjak bangun dari duduk dan melangkah ke arah dapur mengambil makanan. Baru setelah makan, mandi dan siap-siap kondangan.
Beberapa menit kemudian, aku telah selesai makan dan mandi. Tinggal bersiap saja ketika terdengar getaran ponsel yang kuletakkan di atas meja dekat tempat tidur. Rupanya pesan masuk dari Bang Rengga.
[Abang mau berangkat jemput nih, share lock ya.... ]
Segera saja aku bersiap setelah mengirim share lock ke nomor ponsel Bang Rengga. Bingung juga mau pakai apa. Setengah tidak yakin, aku mengambil setelan tunik warna mocca.
Bismillah, entah kenapa keinginan untuk mulai berhijab semakin kuat. Ku coba kenakan setelan yang tadi telah kupilih. Beberapa kali aku berputar di depan cermin sekedar memastikan penampilanku. Karena merasa kurang yakin, akupun mencari Ibu untuk menjadi juri penilai.
Ku hampiri Ibu yang ada di dapur, Ibuku sebuah mengemas bolu yang akan dibawa ke rumah neneknya Putri.
"Bu, cocok nggak kalah Mbak pakai baju modelan kayak gini?"
"Masya Allah, cantiknya anak Ibu. Mau di pakai buat acara ini aja apa mau terus belajar berhijab Mbak?"
"InsyaAllah pengennya mulai belajar berhijab, Bu. Pengen belajar lebih baik lagi."
"Alhamdulillah, Ibu senang banget Mbak. Semoga istiqomah ya, Mbak."
"Aamiin, ya udah. Mbak mau lanjut siap-siap dulu ya, Bu."
Aku kembali masuk kamar setelah Ibu mengangguk, mengiyakan.
Terdengar, pintu rumah diketuk.
Tok...
Tok....
Tok....
Sepertinya Bang Rengga yang datang, karena aku mendengar suara Ibu yang sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Dan tidak lama kemudian terdengar suara Ibu yang memanggilku dari depan pintu kamar.
"Mbak, itu si Abang udah datang lhoo.... Cepetan keluar, kasihan nunggu lama."
Aku segera membuka pintu, setelah mengambil tas.
"Njeh, Bu. Sudah siap kok... "
Ibu hanya mengangguk. Gegas aku berjalan ke arah ruang tamu.
"Bang,... " sapaku lirih saat melihat lelaki itu duduk di kursi sambil memainkan benda pipih di tangannya.
Seketika Bang Rengga mengangkat kepalanya dan terdiam sambil menatap tajam padaku. Hal itu membuat aku jadi salah tingkah. Apalagi saat aku duduk di sampingnya, lelaki itu semakin menatap intens padaku.
"Bang,... Kenapa? Jelek ya aku pakai baju kayak gini?" tanyaku.
"Hah..... Nggak.... Cantik..... Cantik banget malah... " jawab lelaki itu.
"Beneran?"
"Abang sampai terpesona, Dek! Yuk.... Buruan!" ucapnya.
"Bentar aku ambil jaket dulu. Mau langsung berangkat?" tanyaku.
"Iya, berangkat ke KUA.... " jawabnya sambil tersenyum menggoda.
"Diiiiiihhhh..... Mainnya udah ke KUA aja."
"Emang nggak mau? Mau ya... Mau kan... Mau dong....?"
Aku memilih tidak menanggapi ucapan Bang Rengga. Hanya menggelengkan kepala saja menanggapi tingkahnya yang absurd.
"Nggak papa kan, kalau naik motor?"
"Emang kenapa, Bang? Kalau naik motor? Dah ah, aku ambil jaket dulu. Lupa tadi nggak aku bawa sekalian."
"Eh, nggak usah.... Maaf ya, tadi Abang beliin kamu jaket, biar anget besok pas touring." ucapnya sambil mengulurkan sebuah paper bag.
Setelah aku terima paper bag tersebut, segera ku keluarkan isinya. Ternyata warna dan bentuk jaket jaketnya sama dengan yang saat ini di pakai oleh Bang Rengga.
Kembali aku menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Abang nih pandai ambil kesempatan dalam kesempitan, bilang aja pengan couplean."
"Emang iya, tahu nggak... Baju kita warnanya juga sama lhooo... Padahal nggak janjian." ucapnya sambil menurunkan resleting jaket yang saat ini ia kenakan.
Aku sampai terperangah saat melihat kemeja yang dia kenakan bernuansa warna yang sama dengan tunik yang saat ini aku pakai.
"Tanda-tanda niiih.... " ucapnya
"Tanda-tanda apa, Bang?"
"Tanda hilal jodoh Abang udah nampak."
"Bukan, itu mah tanda-tanda Abang udah mulai agak gila." jawabku terkekeh.
"Iya, tergila-gila sama kamu." ucapnya makin nyeleneh.
"Jadi kondangan nggak sih?"
"Iya, jadi. Yuk, berangkat!" ucapnya sambil berdiri lalu mengulurkan tangan padaku.
Dengan ragu, aku menyambut uluran tangannya. Lalu berdiri.
"Aku panggil Ibu dulu ya, sekalian pamit."
"Iya. Abang tunggu di depan aja ya. Sambil pakai sepatu."
Aku mengangguk setelah itu melangkah masuk ke dalam mencari Ibu. Tak lama, aku pun kembali bersama Ibu. Bang Rengga sekali lagi ijin pada Ibu mengajak aku pergi ke kondangan temannya.
"Iya, jangan pulang malam-malam ya. Hati-hati di jalan."
"Iya, Bu. Saya pamit dulu. Assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam," jawab Ibu.
*****
Saat ini aku dan Bang Rengga sudah sampai di rumah temannya yang menikah. Setelah melepas jaket dan helm, kami melangkah masuk. Namun sebelum nya, lelaki itu mengulurkan tangan kemudian menggandeng tanganku.
"Biar nggak hilang," ujarnya saat aku menatap pada genggaman tangan kami.
"Modus banget ya..."
"Nggak papa modusin calon istri."
"Emang aku udah bilang iya?" tanyaku.
"Optimis aja. Yuk, masuk." ajaknya lalu melangkah masuk ke tempat acara.
Disana ternyata sudah banyak teman-teman nya yang datang. Mereka berkumpul di satu meja yang sengaja dipanjangkan. Dia berkeliling berjabat tangan dengan teman-temannya sambil memperkenalkan aku. Setelah itu Bang Rengga menarik satu kursi untukku.
"Silahkan duduk cantik." ucapnya sambil tersenyum.
"Terima kasih, bang."
Lelaki itu mengangguk kemudian duduk di kursi yang ada di sebelahku. Kemudian dia lanjut ngobrol dengan salah seorang teman yang duduk di sebelah kanannya, tapi dia tetap menggenggam erat tanganku.