Bunga Lestari bukan siapa-siapa.
Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.
Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.
Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.
"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.
Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?
🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 033
Sepupu dari Wicaksana
Kadang dimulai dari bakwan panas, angkot penuh, dan izin kecil untuk merasakan hidup lagi.
Seminggu kemudian, hidup kembali memasukkan Bunga ke ruangan yang tidak berbau bakwan.
Party kecil itu diadakan di showroom apartemen mewah yang disulap menjadi ruang pamer barang preloved dan koleksi pribadi. Tidak terlalu besar, tetapi cukup ramai untuk membuat orang merasa eksklusif. Ada rak tas, meja aksesori, cermin tinggi, gelas mocktail, dan obrolan yang terus mengambang di antara harga barang dan harga reputasi.
Bunga datang bukan sebagai tamu cantik yang mencari perhatian.
Ia datang membawa daftar titipan.
Tiga klien baru dari grup Melati menitipkan permintaan: satu clutch warna netral, satu scarf sutra, dan satu dompet kecil yang kondisinya harus "seperti baru tapi harga jangan seperti baru". Bunga menulis semuanya di notes, lengkap dengan batas harga dan komisi.
"Kamu terlihat seperti petugas audit di pesta," kata Rangga.
"Kamu bilang itu pujian?"
"Dari saya, iya."
"Kalau begitu, terima kasih setengah."
Rangga hari itu lebih tenang. Setelah pasar dan angkot, suaranya tidak setajam biasanya. Masih rapi, masih menyebalkan, tetapi tidak seberat dulu.
Bunga sedang memeriksa bagian dalam sebuah clutch ketika seorang perempuan muda di sebelahnya tertawa.
"Kamu juga cium barang sebelum beli?"
Bunga menoleh.
Perempuan itu sedikit lebih tua darinya atau mungkin seumur, sulit ditebak karena perawatan wajah mahal selalu membuat umur orang kaya licin. Rambutnya pendek sebahu, matanya cerah, dan senyumnya tidak setajam Ratih. Ia memakai dress sederhana yang justru terlihat lebih mahal karena tidak berusaha berteriak.
Bunga menurunkan clutch. "Kalau bau lemari lembap, nanti pembeli komplain."
"Masuk akal." Perempuan itu mengambil dompet kecil dari meja. "Aku biasanya cuma lihat jahitan dan sudut."
"Jahitan bisa bagus, tapi bau susah bohong."
Rangga tiba-tiba diam.
Bunga merasakannya seperti seseorang di dalam kepala menahan napas.
"Kenapa?" tanyanya tanpa suara.
Perempuan itu mengulurkan tangan. "Aku Candra Wicaksana."
Nama itu membuat jari Bunga hampir menjatuhkan clutch.
Rangga berkata sangat pelan, "Candra."
Bunga menahan wajahnya tetap normal. "Bunga Lestari."
"Aku tahu." Candra tersenyum, bukan dengan cara orang yang sedang menyerang. "Akhir-akhir ini namamu lumayan sering lewat."
"Semoga lewatnya tidak sambil jatuh."
Candra tertawa. "Tidak. Lebih seperti orang sedang bertanya, ini siapa, kok berani sekali."
Bunga memasukkan clutch kembali ke dust bag. "Orang Jakarta gampang kaget."
"Orang Wicaksana juga," kata Candra ringan.
Rangga di kepala Bunga terasa makin sunyi.
Candra tidak langsung menyerang. Ia justru membantu Bunga memegang dompet yang ingin difoto, memiringkannya ke arah lampu agar goresan kecil terlihat jelas. Gesturnya terbiasa, cekatan, dan anehnya tidak merendahkan.
"Kamu jualan juga?" tanya Bunga.
"Tidak. Aku cuma suka barang yang punya cerita sebelum jadi milikku." Candra memandang Bunga sekilas. "Kamu?"
"Aku suka komisi."
Candra tertawa lagi, lebih lepas. "Jujur sekali."
"Kalau aku bilang suka sejarah fashion, nanti Tuhan kirim petir kecil."
"Aku mulai mengerti kenapa orang membicarakanmu."
Bunga seharusnya waspada. Nama Wicaksana bukan nama yang bisa ia hadapi sambil santai. Apalagi setelah Rangga memakai nama itu untuk menutup mulut Ratih. Namun Candra tidak membawa udara rumah sakit, tidak membawa suara Prabu, tidak membawa ancaman legal team. Ia membawa rasa ingin tahu yang hangat.
Itu justru membuat Bunga bingung.
"Kamu keluarga Wicaksana?" tanya Bunga, meski jawabannya sudah jelas.
Candra mengangkat alis. "Nama belakangku lumayan jelas, kan?"
"Maksudku, keluarga dekat?"
"Sepupu." Candra berhenti sebentar. "Mas Rangga sepupuku."
Di kepala Bunga, nama itu seperti disentuh dari luar.
Rangga tidak berkata apa-apa.
Bunga tahu diamnya kali ini bukan batas. Ini luka.
"Aku turut prihatin," kata Bunga hati-hati.
Candra menatapnya lebih lama. "Untuk apa?"
"Mas Rangga. Kondisinya."
Senyum Candra berubah kecil. "Kamu tahu?"
Rangga berkata, "Hati-hati."
Bunga mengangguk pelan. "Berita sempat beredar setelah gala. Di lingkaran ini, hal-hal seperti itu sulit tidak terdengar."
"Benar." Candra menunduk melihat dompet di tangannya. "Tapi biasanya orang menyebutnya seperti gosip bisnis. Kamu mengatakannya seperti orang sungguhan."
Bunga tidak siap dengan kalimat itu.
Ia melihat wajah Candra, lalu merasakan sesuatu dari Rangga yang bukan suara. Rasa sayang, rasa bersalah, dan rindu yang ditahan begitu lama sampai bentuknya hampir mirip marah.
"Dia orang sungguhan," kata Bunga pelan.
Candra memandangnya lagi.
Rangga berbisik, "Bunga."
"Aku tahu," jawab Bunga dalam hati. "Aku tidak akan bilang lebih."
Candra meletakkan dompet. "Aneh."
"Apa?"
"Aku baru kenal kamu, tapi cara kamu ngomong..." Ia mengernyit, mencari kata. "Seperti pernah kudengar di meja makan keluarga. Bukan suaramu. Ritmenya."
Jantung Bunga menendang rusuk.
Rangga berkata cepat, "Alihkan."
Bunga mengambil dompet dan memeriksa resletingnya. "Mungkin semua orang yang sering menghadapi orang menyebalkan akhirnya punya ritme yang sama."
"Bisa jadi." Candra tersenyum, tetapi matanya masih menyelidik lembut. "Mas Rangga juga suka bicara begitu."
"Berarti Mas Rangga pintar."
"Dia menyebalkan."
"Dua hal itu sering sepaket."
Candra tertawa, dan kali ini ada air tipis di matanya sebelum ia cepat-cepat memalingkan wajah. Bunga pura-pura tidak melihat. Itu pelajaran dari hidup susah: tidak semua air mata perlu diteriaki.
Seorang tamu memanggil Candra dari sisi lain ruangan. Candra mengangkat tangan sebentar, lalu kembali pada Bunga.
"Kamu akan sering datang ke acara seperti ini?"
"Kalau ada barang bagus dan komisi jelas."
"Praktis."
"Miskin itu pelatihan praktis paling mahal."
Candra menatapnya sejenak, lalu mengeluarkan ponsel. "Simpan nomorku. Kalau kamu butuh akses ke acara preloved yang lebih rapi, aku bisa kasih tahu. Bukan karena nama Wicaksana, tapi karena aku suka cara kamu memeriksa barang."
Bunga ragu.
Rangga tidak langsung memberi saran. Setelah beberapa detik, ia bertanya, "Boleh saya berpendapat?"
"Boleh."
"Candra bisa dipercaya dalam batas tertentu. Tapi jangan libatkan dia dalam rahasia."
Bunga menerima nomor itu.
"Terima kasih," katanya pada Candra. "Aku tidak menolak jalan masuk yang legal."
"Bagus. Aku juga tidak suka orang yang pura-pura tidak butuh bantuan."
Mereka berpisah ketika Candra dipanggil lagi. Bunga menyelesaikan foto barang, mengirim laporan ke klien, dan mencatat dua pilihan scarf yang mungkin bisa dijual ulang. Semua berjalan normal, tetapi sesuatu di udara sudah berubah.
Saat Bunga keluar dari showroom, malam Jakarta menempel lembap di kulit.
Rangga akhirnya bicara.
"Dulu Candra sering mencuri dessert dari piring saya saat makan keluarga."
Bunga berhenti di dekat lift. "Itu informasi penting?"
"Tidak." Suaranya pelan. "Tapi saya takut lupa hal-hal kecil seperti itu."
Bunga menggenggam tote bag lebih erat.
"Kalau kamu lupa," katanya, "ceritakan ke aku sebelum hilang. Biar aku simpan."
Rangga diam cukup lama.
Di depan lift yang mengilap, dengan clutch titipan di tangan dan nomor Candra Wicaksana di ponsel, Bunga menyadari satu hal baru.
Ia tidak hanya membawa rahasia Rangga.
Sedikit demi sedikit, ia mulai membawa orang-orang yang merindukannya.