Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.
Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.
Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?
Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 001: Bukan Duniaku
Kevin Halim akan dijual malam ini.
Kalimat itu masih menempel di kepala Meilin Tan ketika suara kipas tua yang berdecit membelah telinganya. Dia membuka mata dengan napas tercekat, lalu langsung terpaku menatap langit-langit rendah yang menguning, bukan plafon kamar kosnya di Surabaya.
Bau lembap menyergap hidungnya.
Ada ember plastik di sudut kamar, setengah penuh air hujan. Di dekat pintu, sandal karet perempuan tergeletak berantakan. Tirai jendela tipis bergerak pelan ditiup angin dari celah kusen yang tidak rapat, membawa masuk suara motor lewat dan teriakan penjual nasi uduk dari gang sempit.
Meilin duduk terlalu cepat. Kepalanya berdenyut.
"Aduh..."
Suara yang keluar dari mulutnya terdengar seperti miliknya, tapi juga tidak sepenuhnya. Lebih serak. Lebih lelah. Seolah tubuh ini sudah terlalu sering menangis dan memaki sampai tenggorokannya kering.
Dia menoleh ke samping.
Seorang pria duduk di lantai, bersandar pada dinding dekat meja lipat. Kemeja putihnya kusut, lengan digulung sampai siku, dan ada lingkaran gelap di bawah matanya. Di atas meja, laptop tua terbuka dengan layar penuh angka dan kode. Jari pria itu berhenti di keyboard ketika menyadari Meilin sudah bangun.
Matanya naik perlahan.
Dingin.
Bukan dingin karena tidak peduli, melainkan dingin seperti seseorang yang sudah terlalu sering ditolak sampai tidak ingin lagi berharap.
Jantung Meilin seperti jatuh ke perut.
Kevin Halim.
Nama itu muncul begitu saja di kepalanya, lengkap dengan semua informasi yang semalam dia baca di novel "Terjerat Pesona Kota". Tokoh utama pria. Jenius. Miskin di awal cerita. Kelak akan menjadi penguasa bisnis yang tidak tersentuh. Dan sebelum semua itu terjadi, hidupnya hampir hancur karena perempuan jahat yang tinggal serumah dengannya.
Perempuan itu bernama Meilin Tan.
Meilin menatap kedua tangannya. Kulitnya sama, kuku-kukunya pendek, ada bekas cat kuku merah muda yang terkelupas di ibu jari. Tapi cincin murah di jari tengahnya bukan miliknya. Gelang rantai tipis di pergelangan tangannya juga bukan miliknya.
Ponsel di samping bantal bergetar.
Kevin meliriknya sebentar, lalu kembali menatap layar laptop seolah benda itu tidak ada hubungannya dengan dia.
Meilin mengambil ponsel itu dengan tangan gemetar. Layarnya retak di bagian ujung. Notifikasi WhatsApp muncul dari nomor bernama Benny.
Benny: Jadi malam ini fix, kan?
Benny: Jangan tiba-tiba berubah pikiran, Mei. Duitnya lumayan. Dia juga nggak bakal tahu.
Tenggorokan Meilin langsung kering.
Dia membuka chat itu. Puluhan pesan sebelumnya membuat darahnya terasa surut. Foto lokasi sebuah klub malam di Jakarta Barat. Voice note yang belum dibuka. Kalimat-kalimat manis yang menjijikkan.
Benny: Kamu capek kan hidup sama cowok miskin begitu?
Benny: Serahin dia ke orangku. Setelah itu kita bebas.
Meilin hampir menjatuhkan ponsel.
Jadi ini bukan mimpi.
Dia benar-benar masuk ke dalam novel itu. Bukan sebagai pembaca. Bukan sebagai tokoh utama wanita yang akan diselamatkan. Dia masuk sebagai perempuan yang ditulis untuk menghancurkan Kevin.
"Kenapa lihat aku begitu?"
Suara Kevin membuat Meilin tersentak.
Pria itu masih duduk di tempatnya. Bahunya tegak, tapi wajahnya pucat. Ada bekas luka tipis di dekat telinganya, sebagian tertutup rambut hitam yang sedikit terlalu panjang. Matanya memandang Meilin tanpa kelembutan sedikit pun.
"Kamu mau marah lagi karena aku belum transfer uang?" tanyanya datar.
Meilin membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.
Dalam novel, Meilin asli terus-menerus merendahkan Kevin. Menyebutnya beban. Menghabiskan uang terakhir mereka untuk barang-barang tidak penting. Bahkan beberapa hari terakhir dia sengaja menghubungi Benny karena ingin menjual Kevin ke tempat hiburan malam sebagai "pembayaran utang".
Dan Kevin tahu perempuan di depannya membencinya.
Dia hanya belum tahu bahwa malam ini hidupnya seharusnya diseret lebih jauh ke neraka.
"Aku..." Meilin menggenggam ponsel erat-erat. "Aku tidak mau marah."
Alis Kevin bergerak sedikit.
Kecurigaan di matanya muncul lebih cepat daripada rasa percaya.
"Tidak mau marah?" ulangnya pelan.
Meilin menelan ludah. Dia ingin menjelaskan semuanya. Bahwa dia bukan Meilin yang kemarin. Bahwa dia berasal dari Surabaya, baru saja membaca hidup Kevin dari layar laptop, dan tahu laki-laki ini akan menjadi seseorang yang sangat hebat.
Tapi siapa yang akan percaya?
Kalau dia mengatakan semua itu sekarang, Kevin mungkin akan mengira dia sedang membuat drama baru.
Ponsel kembali bergetar.
Benny: Jangan lama. Orangku jemput jam sembilan.
Meilin menatap jam kecil di sudut layar.
19.43.
Kurang dari satu setengah jam.
Napas yang keluar dari dadanya terasa patah. Dia segera menekan layar, membuka profil Benny, lalu memblokir nomor itu tanpa berpikir panjang. Setelah itu dia menghapus chatnya, tapi jari-jarinya berhenti di voice note terakhir.
Jangan dihapus.
Kalau semua ini benar, bukti itu mungkin suatu saat dibutuhkan.
Dia mengarsipkan chat itu, lalu meletakkan ponsel di atas kasur dengan layar menghadap bawah.
Kevin memperhatikannya.
"Siapa?" tanyanya.
"Tidak penting."
"Biasanya kalau tidak penting, kamu tidak tersenyum sampai lupa ada orang lain di ruangan ini."
Kalimat itu tidak keras, tapi menampar lebih sakit daripada bentakan.
Meilin menunduk. Malu yang bukan sepenuhnya miliknya merayap dari dada sampai ke wajah. Dia tidak melakukan semua itu, tapi tubuh ini, nama ini, dan wajah ini sudah terlanjur menyakiti Kevin.
"Maaf," ucapnya.
Ruangan itu mendadak hening.
Kipas tua di langit-langit berbunyi semakin jelas.
Kevin menatapnya lama sekali, seakan kata maaf adalah bahasa asing yang baru pertama kali dia dengar dari mulut Meilin.
"Kamu demam?" tanyanya akhirnya.
Meilin hampir tertawa, tapi yang keluar hanya napas gemetar.
"Tidak."
"Atau kamu butuh sesuatu dariku?"
Dia berkata begitu dengan tenang. Terlalu tenang. Seperti seseorang yang sudah hafal bahwa setiap kelembutan dari Meilin pasti memiliki harga.
Dada Meilin terasa diremas.
Dia turun dari kasur. Lantai keramik terasa dingin di telapak kakinya. Kamar itu sempit, mungkin tidak lebih dari tiga kali empat meter. Satu kasur tipis. Satu meja lipat. Kompor portable di dekat wastafel kecil. Dua piring kotor. Bungkus mi instan kosong. Di rak plastik, hanya ada setengah botol kecap, sebungkus garam, dan dua butir telur.
Ini bukan sekadar miskin.
Ini hidup yang dipertahankan dari sisa-sisa.
Meilin berjalan ke meja dan melihat dompet lusuh terbuka di dekat laptop Kevin. Isinya hanya beberapa lembar uang sepuluh ribuan dan kartu e-KTP. Nama yang tercetak di kartu itu membuat dadanya kembali sesak.
Kevin Halim.
Laki-laki yang kelak akan membuat seluruh keluarga Halim berlutut, malam ini bahkan tidak punya cukup uang untuk makan layak.
Kevin langsung mengambil dompet itu dan menutupnya.
"Jangan sentuh barangku."
Tangannya cepat. Suaranya tetap rendah.
Meilin menarik tangannya.
"Maaf. Aku cuma..."
"Cuma apa?"
Dia tidak menjawab.
Karena dia sendiri tidak tahu harus berkata apa. Dalam kepalanya, potongan-potongan novel saling bertabrakan. Kevin yang diseret ke klub. Kevin yang dibius. Kevin yang bangkit bertahun-tahun kemudian dengan mata tanpa cahaya. Kevin yang membalas semua orang, termasuk Meilin Tan, tanpa sisa belas kasihan.
Tapi pria di depan matanya sekarang hanya seorang laki-laki dua puluhan yang terlalu kurus, terlalu lelah, dan masih memaksa duduk di lantai untuk menyelesaikan pekerjaan.
Meilin menggigit bibir.
"Kamu sudah makan?"
Kevin diam.
Pertanyaan itu tampaknya lebih mencurigakan daripada makian.
"Kalau mau menyindir, langsung saja," ucapnya.
"Aku tidak menyindir."
"Meilin."
Itu pertama kalinya dia menyebut nama itu sejak Meilin bangun. Bukan dengan sayang. Bukan dengan akrab. Hanya sebuah peringatan.
Meilin menatapnya. "Aku benar-benar tanya. Kamu sudah makan?"
Kevin menutup laptopnya pelan.
Gerakan itu membuat Meilin menegang. Untuk sesaat dia pikir Kevin akan pergi atau memarahinya. Tapi pria itu hanya berdiri, mengambil jaket hitam dari sandaran kursi plastik, lalu memasukkan dompet ke saku.
"Aku keluar sebentar."
"Sekarang?" Meilin refleks maju setengah langkah.
Kevin berhenti di depan pintu.
"Kenapa? Kamu mau melarang?"
Jam di ponsel masih menunjukkan 19.49. Kalau Kevin keluar sekarang, Benny atau orang-orangnya mungkin bisa menemukannya. Novel tidak menjelaskan semua detail, tapi Meilin ingat kalimat itu dengan jelas: malam ketika Kevin meninggalkan kos karena bertengkar dengan Meilin, Benny menjemputnya dengan alasan pekerjaan cepat, lalu semuanya berubah.
Jangan biarkan dia keluar.
Meilin mengepalkan tangan.
"Jangan pergi."
Kevin menoleh. Wajahnya tidak berubah, tapi matanya mengeras.
"Aku perlu cari makan."
"Aku bisa masak."
Pandangan Kevin turun ke rak plastik yang hampir kosong, lalu kembali ke wajahnya. Ada sesuatu seperti ejekan tipis di sana, tapi terlalu letih untuk menjadi tajam.
"Dengan apa?"
Meilin ikut melihat rak itu. Dua telur, garam, kecap. Nasi di rice cooker mungkin sudah kering. Sangat menyedihkan. Tapi lebih baik daripada membiarkan Kevin keluar malam ini.
"Telur," jawabnya.
"Kamu benci telur."
Meilin terdiam.
Meilin asli mungkin benci telur. Dia tidak tahu. Ada terlalu banyak ranjau dalam hidup perempuan ini, dan setiap kata Kevin membuatnya sadar betapa buruk hubungan mereka sebelumnya.
Ponsel di kasur kembali menyala. Meski tidak ada suara, layar retak itu memantulkan notifikasi dari nomor tidak dikenal.
Nomor tidak dikenal: Jam sembilan. Jangan lupa bawa dia keluar dari kos.
Kevin juga melihat cahaya itu.
Meilin bergerak cepat, mengambil ponsel, lalu mematikan layarnya. Tapi terlambat. Tatapan Kevin sudah berubah.
"Bawa siapa keluar dari kos?" tanyanya.
Darah Meilin berdesir keras di telinganya.
Dia menatap pintu di belakang Kevin, lalu menatap laki-laki yang seharusnya dia hancurkan.
Dalam novel, Meilin Tan memilih uang.
Tapi Meilin yang berdiri di sini bukan perempuan itu.
"Kamu," jawabnya pelan.
Kevin tidak bergerak.
Meilin menarik napas, lalu menggenggam ponsel itu sampai ujung jarinya memutih.
"Ada orang yang mau menjebak kamu malam ini."