Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.
Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."
Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.
Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.
Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.
Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.
Empat tahun kemudian, badai datang lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Keesokan sorenya, warna merah muda di kepala Erlyn berubah menjadi warna koper hitam yang menganga di lantai kamar Chisen.
Koper itu besar, lebih besar daripada koper yang dulu dipakai Erlyn dan Mama saat pindah dari Pulau Belitung ke Surabaya. Di dalamnya sudah ada dua sweater gelap, satu mantel tebal yang masih berbau toko, gulungan kaus kaki, dan map plastik berisi fotokopi dokumen. Di atas meja, Mama menaruh daftar barang dengan tulisan rapi. Paspor. Visa. Surat penerimaan. Asuransi. Obat flu. Vitamin. Charger cadangan.
Erlyn berdiri di ambang pintu, tiba-tiba tidak yakin apakah ia boleh masuk.
"Er, bantu Mama cek ini, ya," panggil Liang Jing dari depan lemari. "Koh Chisen ini kalau disuruh bawa barang, jawabannya selalu tidak perlu."
Chisen duduk di dekat meja belajar dengan wajah datar. "Memang tidak perlu sebanyak itu."
"Kamu mau sekolah di London, bukan pindah kamar sebelah," kata Mama.
"Justru karena London, semua bisa dibeli di sana."
Mama menoleh dengan tatapan lembut yang tidak bisa dibantah. "Tapi obat masuk angin dari rumah belum tentu ada di sana."
Erlyn menahan senyum. Ia masuk pelan-pelan dan mengambil daftar dari meja. Kertas itu terasa biasa, tetapi dadanya seperti terkena sudutnya. Semua yang tertulis di sana adalah bukti bahwa Chisen benar-benar akan pergi. Bukan pergi les, bukan pergi pameran beberapa hari, bukan pergi ke rumah teman. Pergi jauh, dengan koper besar, tiket pesawat, dan musim dingin yang tidak bisa dibayangkan oleh Erlyn yang seumur hidup lebih akrab dengan panas Belitung.
"Aku bagian apa, Ma?"
"Cek pakaian hangat. Yang sudah masuk, kasih tanda centang."
Erlyn berlutut di depan koper. Sweater pertama ia angkat. Bahannya tebal, halus, dan berat. Ia melipat ulang karena lipatan Chisen terlalu asal, lalu meletakkannya di sisi kanan. Saat telapak tangannya menyentuh lengan sweater itu, ia mencium bau sabun cuci rumah, sedikit wangi kayu dari lemari, dan sesuatu yang selama ini selalu ia hubungkan dengan Chisen, bau kertas, cat, dan udara loteng.
Ia cepat-cepat menunduk.
"Lipatanmu lebih jelek dari lipatan Mama," kata Chisen.
Erlyn berhenti. "Koh mau aku bantu atau komentar?"
"Dua-duanya boleh."
"Kalau begitu lipat sendiri."
Ia pura-pura hendak melempar sweater itu kembali ke sofa. Chisen mengulurkan tangan, tetapi tidak mengambil. Ujung jarinya hanya menahan kain itu sebelum jatuh. Sentuhan itu singkat, kena punggung tangan Erlyn setipis udara, namun cukup membuat ia ingat lagi bahwa beberapa hari lagi tangan itu tidak akan mudah ditemukan di ruang belajar, di dapur, atau di depan pintu loteng.
Mama tidak menyadari apa-apa. Ia sibuk memasukkan obat ke kantong kecil.
"Chisen, jangan lupa bawa sambal sachet. Tante sudah belikan."
Chisen menghela napas. "Ma, aku bukan anak kos baru di luar kota."
"Di mata orang tua, semua anak yang pergi jauh itu anak kos baru."
Yu Changli muncul di depan pintu sambil memegang ponsel. Kemejanya belum diganti dari kantor, wajahnya serius, tetapi matanya langsung melunak saat melihat kamar yang penuh barang.
"Pihak konsultan bilang dokumen visa asli jangan masuk bagasi. Chisen, simpan di tas kabin."
"Sudah, Papa."
"Alamat tempat tinggal sementara juga catat di dua tempat. Satu di ponsel, satu di kertas."
"Sudah."
"Nomor pihak kampus?"
"Sudah."
Erlyn menatap mereka bergantian. Chisen menjawab semuanya pendek, tetapi tidak membantah. Yu Changli memeriksa seperti pebisnis yang takut satu angka salah membuat kontrak gagal. Mama memeriksa seperti ibu yang takut satu kaus kaki kurang membuat anaknya kedinginan. Dan Erlyn, ia hanya bisa memberi tanda centang, seolah dengan memberi centang ia ikut punya hak kecil untuk menahan sesuatu agar tidak berantakan.
Ponsel Chisen tiba-tiba bergetar. Nama Ong Juwanto muncul di layar.
Chisen menolak panggilan itu.
Tidak sampai tiga detik, panggilan masuk lagi.
"Angkat saja," kata Yu Changli. "Mungkin penting."
"Tidak penting," jawab Chisen.
Namun panggilan ketiga datang bersama pesan singkat yang muncul di bagian atas layar.
Bro, kalau koper lu isi cat semua, baju lu pinjam patung museum?
Erlyn membaca sekilas dan tawa kecilnya lolos. Chisen menatapnya, lalu akhirnya mengangkat panggilan video. Wajah Juwanto langsung memenuhi layar, terlalu dekat dengan kamera.
"Akhirnya! Bro, tunjukkan koper. Gue harus memastikan lu tidak bawa kanvas lebih banyak daripada celana."
Di belakang Juwanto, Lie Chuan muncul sambil makan buah. "Bawa adaptor colokan. London bukan Surabaya."
"Sudah," kata Chisen.
"Uang kecil pound?" tanya Chuan.
"Sudah."
"Foto buat visa cadangan?"
"Sudah."
Juwanto menyipit. "Sambal?"
Chisen diam.
Erlyn mengangkat kantong kecil berisi beberapa sachet sambal dari tangan Mama dan menampilkannya ke layar.
Juwanto tertawa keras. "Nah, itu baru keluarga. Erlyn, pastikan dia bawa. Orang ini kalau kelaparan wajahnya makin tidak manusiawi."
"Wajahmu yang paling tidak manusiawi," kata Chisen.
Mama menepuk pelan bahu Chisen. "Jangan kasar."
"Itu belum kasar, Tante," sahut Juwanto dengan ceria. "Kalau Chisen sudah kangen rumah, suruh dia buka sambal itu. Kalau belum mempan, telepon kami. Kami kirim suara berisik."
Chisen memutus panggilan tanpa merasa bersalah.
Erlyn masih tertawa kecil. Kamar yang tadi terasa sesak oleh daftar perpisahan mendadak bernapas sedikit. Ternyata bukan hanya ia yang sedang belajar melepas Chisen dengan cara canggung. Juwanto membuat lelucon. Chuan membuat daftar praktis. Mama memasukkan sambal. Yu Changli memastikan dokumen. Semua orang punya cara masing-masing agar kata pergi tidak terdengar terlalu tajam.
Sore turun pelan di jendela kamar. Cahaya di lantai memanjang sampai menyentuh koper. Erlyn memberi centang terakhir pada daftar pakaian hangat, lalu melihat rak buku Chisen. Beberapa buku sudah diambil. Ada ruang kosong seukuran dua telapak tangan di antara buku seni dan kamus tebal berwarna biru tua.
"Koh bawa semua buku gambar?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Berat."
"Tapi itu penting buat Koh."
Chisen berdiri, mengambil beberapa sketchbook dari meja, lalu memasukkan hanya dua ke dalam tas kabin. Sisanya ia rapikan di rak. "Yang penting tidak selalu harus dibawa."
Kalimat itu membuat tangan Erlyn berhenti di atas daftar.
Ia ingin bertanya, kalau begitu rumah ini penting atau tidak. Mama penting atau tidak. Om penting atau tidak. Ia sendiri, yang setiap malam duduk di ruang belajar dan pura-pura mengeluh karena soal fisika, termasuk sesuatu yang harus dibawa, ditinggal, atau cukup diingat?
Tetapi pertanyaan itu terlalu aneh untuk seorang adik tiri.
Jadi ia hanya mengambil satu sachet pengharum lemari kecil dari kantong belanja Mama. Wanginya melati, tipis dan bersih. Ia menyelipkannya ke kantong samping koper saat Chisen sedang membalik halaman daftar.
"Aku lihat," kata Chisen.
Erlyn menarik tangan seolah tertangkap mencuri. "Cuma pengharum."
"Koperku nanti bau taman."
"Biar Koh tidak lupa halaman rumah."
Chisen menatap kantong kecil itu. Erlyn sudah siap ia keluarkan dan kembalikan ke Mama. Namun Chisen hanya menarik ritsleting kantong samping, memastikan sachet itu tidak mudah jatuh, lalu menutupnya lagi.
"Jangan terlalu wangi," katanya.
"Itu artinya boleh?"
"Sudah terlanjur."
Erlyn menunduk untuk menyembunyikan senyum. Aneh sekali, satu sachet kecil bisa membuatnya merasa seolah ia berhasil menitipkan bagian rumah ke tempat sejauh London.
Setelah Mama dan Yu Changli turun untuk makan malam, Erlyn masih tinggal sebentar membantu merapikan plastik bekas belanja. Kamar Chisen mendadak terlihat berbeda. Bukan berantakan, justru terlalu rapi. Meja yang biasanya penuh kertas kini lebih lapang. Kursi dekat jendela kosong. Di tempat mantel tadi tergantung, hanya tersisa gantungan kayu yang bergerak pelan ketika terkena angin AC.
Chisen mengambil kamus Inggris tebal dari rak.
"Ini masih kamu pakai?" tanyanya.
Erlyn melihat sampul biru tua itu. "Kamus itu? Berat sekali. Aku biasanya cari di ponsel."
"Ponsel membuatmu malas mengingat."
"Kamus membuat tanganku pegal."
"Bagus. Sekalian latihan."
"Koh mau bawa?"
Chisen tidak langsung menjawab. Ia membuka halaman pertama, melihat bagian dalam sampul yang kosong. Kemudian ia menutupnya lagi dan meletakkan kamus itu di sudut meja, terpisah dari tumpukan barang yang masuk koper.
"Tidak. Ini tinggal di sini."
"Kenapa?"
"Karena kamu yang lebih perlu."
Erlyn ingin membantah, tetapi suaranya hilang. Koper itu terbuka di lantai, penuh dengan barang yang akan ikut pergi bersama Chisen. Sementara kamus tebal itu ditinggalkan di meja, seperti sesuatu yang sengaja dipisahkan dari kepergian.
Di bawah cahaya lampu kamar, Erlyn tiba-tiba mengerti bahwa tidak semua perpisahan berbentuk orang yang berjalan menjauh.
Kadang perpisahan berbentuk benda yang tidak ikut dibawa.