NovelToon NovelToon
Arley & Ana

Arley & Ana

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:292.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Yulia

Pertemuan yang tak di sengaja dalam sebuah pesawat. Hingga menimbulkan ketertarikan dan akhirnya menghadirkan benih cinta di hati seorang pria tampan
Arley Mahardika Altezza pada seorang
gadis cantik Attilah Nasya Ardilla (Ana).
Sementara sang Presdir mempunyai kekasih yang telah dijodohkan dengannya karena balas budi.

Kisah cinta mereka semakin rumit setelah di ketahui ternyata mereka adalah kakak dan adik, sementara mereka telah melakukan hubungan terlarang.

Bagaimana kisah cinta Presdir tampan bersama adiknya ini selanjutnya?
Mampir dan Ikuti yaah...🙏

Dukung author...🙏
dengan memberi like, rate, hadiah, vote, komentar biar author tambah semangat untuk up terus 😊

Karya ini di terbitkan atas izin NovelToon Ana Yulia. Isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Abraham mendekati Ana.

"Aku melihatnya saat dia datang dan berdiri di di hadapan kita. Aku mengira dia hanyalah sala satu tamu undangan ku. Tapi tak taunya dia adalah putriku." kata Abraham tersenyum menatap Ana. Dia memeluk Ana, membelai rambut Ana lembut

Ana kaget dengan perlakuan ini. Dia seperti merasa di sayang oleh ayahnya sendiri.

Abraham melepas pelukannya. Kedua tangannya bergerak keatas memegang wajah Ana. Dia menatapi setiap bagian bagian wajah cantik Ana dengan cermat.

"Kau sangat cantik putriku. Aku tidak menyangka Ayahmu memiliki putri secantik ini. Kau sangat anggun mempesona."

Ana kaget mendengarnya. Pria ini menyebut ayahnya. Apa dia mengenal ayah? batinnya.

"Tapi kenapa wajahmu terlihat pucat? Apa kau sakit?" tanya Abraham melihat dengan cermat wajah Ana.

Ana langsung mengulas senyum.

"Tidak paman, aku baik baik saja. Aku hanya sedang tidak sehat." katanya segera.

"Paman? Hahaha." Abraham tertawa kecil.

"Aku suami mamamu Nak, jadi kau adalah anakku. Dan kau harus memanggil aku papa, bukan paman. Kita adalah satu keluarga sekarang." kata Abraham.

Ana hendak bicara, tapi Nandita memelototinya.

Ana kembali menatap Abraham sambil tersenyum.

"Baiklah__papa." katanya pelan.

Padahal hatinya sangat menolak dan jijik menyebut kata itu pada Abraham. Baginya hanya almarhum ayahnya yang merupakan satu satunya papanya meski sudah tak ada lagi di dunia ini. Bukan suami suami lain mamanya, termasuk Abraham.

Abraham tersenyum sambil menepuk lengan Ana pelan.

"Bagus.... Kau harus membiasakan diri untuk memanggil ku papa. Sekarang papa akan perkenalkan kamu pada mereka yang ada di sini." menunjuk sambil menyebut nama keluarganya satu persatu.

"Sekarang kalian sudah berkenalan satu sama lainnya. Ana adalah putriku. Kalian harus menghargai dan menghormatinya sebagai anakku, saudara, kerabat, dan keluarga kalian." kata. Abraham pada kerabat dan keluarganya.

Ana segera menyalami mereka satu persatu sesuai isyarat Nandita. Mereka itu adalah saudara, sepupu, ipar dan keponakan keponakan Abraham.

Ana memperhatikan tatapan tatapan mereka pada dirinya yang berbeda beda. Ada yang suka dan tersenyum padanya, ada juga yang tidak senang terlihat dari raut wajah mereka yang tersenyum palsu. Ana tidak perduli dengan pandangan dan penilaian mereka pada dirinya. Baginya yang penting sudah hadir di tempat ini memperkenalkan diri lalu pulang secepatnya.

Sama seperti Abraham, mereka juga tidak menyangka Nandita mempunyai anak gadis secantik ini.

Seorang wanita cantik muncul di hadapan mereka bersama seorang pria.

Wanita itu memeluk Abraham dan mengucap selamat.

"Ana, kenalkan, ini putri sulung papa. Namanya Armita. Dia juga akan menjadi Kakakmu mulai sekarang. Dan yang di sebelahnya adalah Dimas, suaminya." kata Abraham pada Ana.

Ana menatap Armita dan Dimas bergantian sambil tersenyum.

Armita dan Dimas juga menatap kepadanya. Mengamati sesaat wajah adik tirinya ini, lalu tersenyum.

"Hay kak Armita, kak Dimas. Aku Ana." kata Ana menyapa seraya menyodorkan tangan kanannya.

Armita langsung menyambutnya, lalu Dimas.

"Armi, kau bisa memanggilku dengan nama itu. Semoga kita bisa menjadi saudara yang baik ke depannya." kata Armita.

Ana mengangguk tersenyum.

"Hay Armi sayang...kau sudah datang ya rupanya?" kata Nandita yang baru saja menyalami beberapa tamu dan tidak menyadari kedatangan Armi. Dia mengecup pipi Armi, kemudian langsung memeluk Armi dengan sayang. Keduanya saling berpelukan layaknya ibu dan anak.

Ana tersenyum getir melihat kedekatan mereka. Dia merasa iri dengan perlakuan Nandita yang begitu menyayangi kakak tirinya ini. Perlakuan yang tidak pernah dia rasakan olehnya dan tidak pernah Nandita berikan padanya. Sungguh sangat sakit hati Ana dan cemburu melihatnya.

Abraham yang ada di sebelah Ana merangkul pundak gadis itu. Seolah mengerti apa yang Ana rasakan saat ini. Ana terkejut. Abraham tersenyum padanya.

Nandita juga menyalami Dimas yang fokus menatap wajah cantik Ana tanpa bergeming.

"Aku tidak menyangka tante Dita memiliki putri secantik ini. Kau benar-benar sangat cantik Ana." puji Dimas dengan tatapan takjub terpukau.

"Mulai saat ini aku kakak iparmu. Kita kakak beradik. Kau jangan sungkan jika perlu sesuatu dari kami berdua." kata Dimas kembali.

Ana hanya menanggapi dengan senyuman. Entah kata kata itu benar tulus atau tidak.

"Oh ya Ana, kau pasti sudah berkenalan dengan Armi. Dia Putri sulung papa Abra. Dia seorang CEO di perusahaan kosmetik miliknya. Dan Dimas adalah wakil direktur di perusahaan papa Abra." kata Nandita ke pada Ana.

Lagi lagi Ana hanya menanggapi dengan senyuman akan sanjungan mamanya pada kakak tiri dan kakak iparnya ini. Seolah-olah memamerkan kepada dirinya mereka orang orang sangat hebat, tidak seperti dirinya wanita biasa, hanya seorang karyawan rendah.

"Ana, duduklah dulu. Cicipi makanannya. Duduklah dekat papa." kata Abraham.

Ana mengikuti langkah Abraham. Lalu duduk di dekatnya, meski dia tidak ingin. Tapi Ada sesuatu yang berbeda dirasakan olehnya terhadap Abraham. Sikap dan perlakuan baik Abraham kepadanya. Seperti seorang ayah pada anaknya. Membuatnya betah berada di dekat pria ini.

Dimas dan Armi pamit untuk bergabung bersama teman teman mereka.

Ana memperhatikan sekelilingnya, mencari seseorang siapa tahu ada di tempat ini.

Sedangkan Nandita dan Nandito was was melihat kedekatan Ana dan Abraham. Mereka khawatir Ana menceritakan kepada Abraham tentang kelakuan mereka yang sebenarnya terhadap dirinya dan Murni. Nandita menatap tajam kepadanya sebagai isyarat untuk tutup mulut.

Ana mencicipi sedikit makanan yang lezat dan mewah di depannya, karena dia tidak berselera. Dia hanya meminum setengah gelas air putih.

Acara terus berlangsung, para tamu masih banyak yang berdatangan dan memberi ucapan kepada mereka.

Ana kembali memperhatikan ke segala penjuru ruangan, mencari keberadaan Arley di antara para tamu undangan. Tapi dia tidak melihat Arley. Mungkin Arley sedang berada di tempat lain sedang menghadiri acara pernikahan seperti yang di katakan di telepon.

Soal nama Altezza, mungkin hanya namanya saja yang sama dengan Abraham. Pikir Ana.

Ana merasa tenang dan lega.

"Bagaimana kabar nenekmu? Kata mamamu beliau sedang sakit dan sedang di rawat." tanya Abraham membuyarkan lamunannya.

"Nenek sudah mulai membaik. Nenek menitip salam pada mama dan juga papa. Nenek juga minta maaf karena tidak bisa datang. Tapi nenek mendoakan kebahagiaan kalian." kata Ana sedikit gugup.

"Sampaikan terima kasih papa pada nenekmu. Kapan kapan papa akan mengunjungi beliau."

Ana mengangguk tersenyum.

Abraham menatap Ana juga dengan senyuman."Gadis kecil yang malang. Tak terasa kau sudah tumbuh besar dan menjadi gadis yang sangat cantik dan baik. Kau mirip sekali seperti Ayahmu." batin Abraham. Melihat wajah tampan Irwan pada wajah Ana.

"Kata mamamu kau lebih suka tinggal bersama nenekmu dari pada dengannya." kata Abraham kembali.

Ana kembali tersenyum mendengar ucapannya. Nandita benar benar seorang pendusta dan pembohong besar. Justru Nandita yang mengusir mereka dari rumahnya.

"Dari kecil aku tinggal bersama nenek. Mama terlalu sibuk dengan pekerjaan sejak papaku meninggal. Mama gak terus menerus ada di rumah. Aku kesepian. Jadi aku lebih memilih tinggal bersama nenek supaya ada teman. Aku juga sangat senang tinggal bersama nenek. Aku lebih banyak mendapatkan kasih sayang dari beliau ketimbang mama yang sangat sibuk bekerja. Tapi aku mengerti dengan keadaan mama seperti itu. Meski sibuk, mama tetap perduli padaku dan nenek. Dia menyempatkan waktu bersama kami jika sedang tidak sibuk." katanya berbohong.

Ana tersenyum getir. Karena semua katanya katanya bertolak jauh dengan hubungan kehidupannya dengan Nandita yang sama sekali tidak perduli dengan mereka.

Ana berpaling kesamping. Menyembunyikan kesedihannya agar tidak terlihat oleh Abraham. Sungguh miris sekali hidupnya.

"Pa, ma, maaf sebelumnya. Bolehkah aku pamit pulang lebih dulu?" kata Ana pelan pelan. Dia sangat ingin istirahat dan berbaring. Tubuhnya terasa lemah dan kepalanya pusing.

"Tunggu sebentar Ana, acaranya belum selesai. Kau juga belum sejam berada di sini. Kita jarang berkumpul seperti ini, nikmatilah sebentar pestanya." kata Nandita tersenyum penuh ancaman padanya. Dia segera bangkit berdiri saat melihat seorang tamu penting datang ke meja Armi dan Dimas.

"Duduklah sebentar di sini kalau merasa tidak sehat. Pulang nanti papa akan menyuruh sopir untuk mengantar mu." kata Abraham.

"Papa tinggal dulu, ada tamu yang datang." kata Abraham kembali menunjuk dua pria rekan bisnisnya yang baru datang.

Ana mengangguk.

Abraham segera meninggalkannya.

Seorang wanita cantik dan seksi masuk dan mendekat ke meja Armi.

"Hay Savira___" sapa Armi begitu melihatnya.

"Halo Armi___" keduanya saling berpelukan dan cipika-cipiki.

"Maaf aku telat datang, aku baru selesai pemotretan." kata Savira.

Savira kenal dengan Armi karena Armi memakai dirinya sebagai model untuk mempromosikan produk kosmetiknya. Dia juga kenal dengan Nandita karena Nandita sering memakainya menjadi model produk sepatunya.

Keberadaan dirinya membuat kamera beralih ke tempat mereka. Mengambil gambar artis dan model yang lagi naik daun ini dari berbagai sudut.

Nandita ikut menyapa dirinya. Keduanya saling cipika-cipiki. Savira memberi ucapan selamat kepadanya dan juga Abraham.

Lalu berbincang kembali dengan Armi. Mereka berdiri pada meja bundar kecil sambil menikmati minuman.

Nandita kembali bergabung bersama suaminya.

Beberapa artis yang hadir dalam acara tersebut ikut menyapa Savira.

Sedangkan Ana lebih memilih duduk karena merasa tubuhnya kurang vit.

Dia kaget melihat Savira dari tempat duduknya. Dia ingat wanita ini. Wanita yang bersama Arley di restoran malam itu. Wanita yang menelepon Arley saat di ruang kerja. Mengatakan sayang dan cinta.

Savira juga kaget melihat Ana secara tidak sengaja. Meski tidak kenal dekat dengan Ana, tapi dia tahu Ana adalah karyawan di perusahaan Arley kekasihnya. Savira tersenyum menyeringai melihatnya. Dia heran kenapa karyawan kekasihnya ini ada di tempat ini. Dia berbisik pada Armi menanyakan keberadaan Ana.

"Ar, gadis itu...." bisiknya menoleh sekilas pada Ana.

"Oh dia __kau belum kenal kan? Namanya Ana. Dia anak mama Nandita." jawab Armi.

"What? anak Tante Nandita?" kata Savira terkejut.

"Iya...apa kau mengenalnya?"

"Tidak juga sih, aku hanya pernah melihat dia di perusahaan Arley. Dia salah satu karyawan Arley."

"Oh ya? Wah gak nyangka ya?" giliran Armi terkejut.

"Kau tahu gadis yang telah memberikan kontribusi besar pada perusahaan adikmu itu?" tanya Savira.

"Soal proyek menara X?" tanya Armi.

"Iya....nah dialah gadis itu yang telah memberikan kontribusi besar pada Altezz Company, perusahaan adikmu. Dia karyawan Arley dari kantor cabang dua." kata Savira kembali menjelaskan.

Armi kembali kaget. Dia tidak begitu tahu karena mereka tinggal di Amerika. Mengelola perusahaan kosmetiknya di sana. Dan Dimas suaminya juga bekerja di perusahaan papanya yang berada di sana. Mereka baru dua hari di tanah air.

Armi tersenyum bangga pada Ana. Ternyata adik tirinya ini seorang yang cerdas dan jenius. Bagaimana jika Arley tahu Kalau karyawannya ini adalah adik tirinya?

Sementara Savira tersenyum senang setelah tahu siapa Ana. Yang ternyata adalah anak Nandita, dan sudah pasti kini menjadi adik tirinya Arley. Berarti hubungannya dengan Arley aman dan tidak ada masalah dan tak ada penghalang lagi. Karena sejujurnya dia curiga dengan sosok Ana yang merupakan wanita yang sukai Arley dan di sembunyikan darinya selama ini. Karena menurut informasi yang di dapat dari orang orangnya, hanya Ana wanita yang dekat dengan Arley selam sebulan ini. Mereka terlihat dekat dan kadang mesra. Hanya saja dia belum mendapatkan bukti sampai sejauh mana hubungan kedekatan mereka. Dia juga belum tahu wanita yang di temui Arley di hotel malam itu. Karena Arley terus mengelabuinya dengan berbagai cara menyembunyikan identitas gadis itu. Tapi dia sangat yakin Analah wanita yang di cintai Arley secara diam-diam. Dan untuk menjawab tentang sejauh mana hubungan di antara mereka berdua, semuanya akan terjawab malam ini. Dia memikirkan rencana licik.

Savira kembali tersenyum sinis pada Ana.

"Kau tidak datang bersama Arley? Aku kira kalian akan datang bersama." kata Armi memecah lamunannya.

Savira buru buru melihat pada Armi.

"Adikmu itu benar benar menyebalkan Ar, aku sudah menghubunginya berulangkali, tapi dia masih sibuk melayani klien bisnisnya dari Singapura. Dia menyuruhku untuk datang lebih dulu." kata Savira kesal.

Armi tertawa kecil."Kau sendiri tahu kan betapa sibuknya seorang Arley Mahardika. Dia lebih mementingkan pekerjaan di atas segalanya."

"Dan itu membuat diriku terabaikan ! Oh ya Ar, apa Arley sudah tahu kalau Ana adalah anak tante Nandita?"

"Dia bahkan tidak tahu kalau mama Nandita adalah istri papa. Dia tidak perduli dengan kehidupan papa, aku dan juga Arka. Makanya papa menyuruh kami semua datang ke acara ini untuk berkumpul. Biar keluarga dari pihak papa dan mama Nandita bisa saling mengenal satu sama lain. Aku yakin Arley dan Arka belum tahu tentang Ana yang merupakan adik tiri mereka. Karena mereka berdua belum datang." kata Armi

"Arka juga ada di sini?"

"Iya, dia baru tiba tadi sore. Itu pun kalau bukan paksaan dan ancaman papa, dia pasti gak akan datang ke Indonesia." kata Armi tentang adik bungsunya itu, manusia super cuek melebihi Arley.

"Ar, dansa yuk, temani aku." ajak Dimas yang mendekat pada mereka.

"Sayang, apa kau tidak lihat aku sedang bicara dengan Vira? tunggu bentar ya?" kata Armi menepuk lengannya.

"Sebaiknya kau temani dulu Ana, kasihan dia sedang duduk sendiri." katanya kembali menoleh pada Ana.

"Kau benar sayang, lebih baik aku ajak dia berdansa dari pada bete duduk melamun sendirian gak ada temannya." Dimas segera mendekati Ana yang lebih memilih duduk karena tidak ada orang yang di kenalnya di sini untuk di ajak bicara. Juga karena dia malas bergerak melakukan ini dan itu. Hanya

sekali kali dia melihat pada Savira dan Armi.

"Hay An, gak bosan duduk sendirian terus? dansa Yuk..." kata Dimas begitu duduk di sampingnya.

"Aku lagi gak enak badan kak__" kata Ana.

"Yaa sudah,kalau begitu kita ngobrol saja. Cerita kan tentang dirimu, kehidupan mu, pacarmu. Kau pasti sudah punya pacar kan? Gak mungkin lho gadis secantik ini gak ada yang punya" kata Dimas tersenyum menggoda.

Ana tertawa lebar. Beberapa saat mereka terlibat obrolan hangat. Dimas ternyata pria yang asik, membuat Ana cepat akrab dengannya.

"Lihat tuh Vir, Arley datang__" kata Armi memajukan dagunya ke arah pintu masuk ballroom. Savira segera berbalik. Melihat ke belakangnya. Terlihat Arley sedang berjalan melangkah memasuki ballroom di temani Heru. Dia menyalami para tamu yang menyapanya.

Savira tersenyum senang. Dia melirik sekilas pada Ana yang sedang ngobrol serius dengan Dimas.

"Sebentar lagi aku akan mengetahui sejauh mana hubungan di antara kalian." batinnya tersenyum licik. Savira melangkah cepat menuju pada Arley yang tampak disorot oleh kamera.

"Sayang, akhirnya kau datang juga. Aku sudah dari tadi menunggumu." kata Savira sangat manis seraya bergelayut manja di lengan Arley. Dia memeluk tubuh kekasihnya itu sesaat.

"Sepertinya sang Presdir Altezz Company sudah datang." kata Dimas yang melihat kedatangan Arley. Ana kaget mendengar ucapannya. Altezz Company adalah nama perusahaan tempatnya bekerja.

Dan Presdirnya? Ana segera mengikuti pandangan Dimas. Dia ikut berdiri. Ana terkejut melihat Arley yang sedang di peluk Savira. Matanya membulat sempurna.

Savira mengecup kedua pipi Arley, lalu bergelayut manja di lengannya. Dan Arley hanya diam tak menolak. Keduanya kembali melangkah Sambil menyalami para tamu undangan.

Dada Ana terasa sesak melihatnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Tubuhnya yang lemah semakin lemas. Air matanya langsung jatuh melihat kemesraan nyata di depannya. Melihat Arley tampak mesra dengan Savira. Di soroti puluhan kamera. Keduanya terlihat sangat mesra, tersenyum bahagia saling berpegangan tangan.

Hatinya menatap pilu pada keduanya.

"Mereka benar-benar pasangan yang romantis." kata Dimas kembali.

"Mereka sangat cocok. Sang pria seorang CEO tampan dan wanitanya juga cantik seorang artis dan model. Keduanya benar-benar serasi kan Ana?" kata Dimas kembali.

Dia menoleh pada Ana yang tampak sedih dan bingung.

"Pria itu adalah anak kedua papa Abraham. Namanya Arley Mahardika Altezza, kakak tiri kedua mu. Dan wanita yang di sebelahnya adalah Savira tunangannya. Sebentar lagi mereka akan menikah!"

Hati Ana tersentak seketika mendengar perkataan Dimas. Dunia seakan runtuh dan jatuh di kepalanya.

"Kakak tiri? tunangan Savira?" gumamnya seakan tak percaya. Air mata yang sudah membanjir di kedua pipinya.

Hatinya begitu sakit seakan di hantam benda keras, hancur berkeping keping. Ana langsung terduduk kembali karena kedua kakinya tidak mampu lagi menopang tubuhnya. Tubuhnya semakin lemas. Kedua kami gemetar. Air matanya terus mengalir. Dia membelakangi Dimas untuk menyembunyikan kesedihan. Sekuat mungkin dia menekan suara tangisnya agar tidak pecah keluar."Ya tuhan, ujian hidup apa lagi yang kau berikan padaku? Arley kakak tiri ku? dan dia sudah bertunangan dengan wanita lain? Kenapa kau perlihatkan semua ini kepadaku?" batinnya dengan air mata semakin deras mengalir.

Bersambung.

Dukung author ya, tinggal kan jejak 😊

1
Lilis Sumarni Lisvhancho
kok jadi ilfill dengan ana..
Zugix Huawei
gantung ceritanya,hidup segan mati tak mau
Nani Rosmiati
cerita nya bagus...tpi ending nya deuhh...apa cuma aku az yg baca langsung bab terakhir 60😂 krna ending nya gtu..jadi gk mood
Samudra Rohul
padahal cerita nya menarik tpi koq tamat tba² ya. gmna nasib mereka kalo memang benar ana adik kandung nya . penasaran thour lanjut km knpa
Amilia Indriyanti
goblog
LOVE YOURSELF
sukaaaaaa
Amilia Indriyanti
goblog ai arley. ginjele di CT scan kan ngetoro
Amilia Indriyanti
kemayu
Amilia Indriyanti
bener. kemayu
noers
waduh gk tak woco es endinge aneh....
Kartikagusty 22
author nya seneng tapi readernya kecewa dengan endingnya
plisss buat season 2 nya
🌻Ruby Kejora
Sukses bwt kk
Aris Pujiono
mampir lagi kak ana
Aris Pujiono
semangat up
Aris Pujiono
lebih baik menikah ana
Aris Pujiono
ayo lanjut...
Tau Lo Hulandalo
ceritanya bagus tapi endingnya gak memuaskan. Kecewa aku Arley dan ana kakak adik kandung, bgmn dengan kehamilan ana?
Ningsih Abdullah
aku suka ceritanya, gak nyangka ana dan arley kk adik kandung
Aris Pujiono
mantap
Aris Pujiono
ayo semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!