Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.
Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.
Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.
"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Malam itu, hujan rintik-rintik membasahi halaman rumah.
Pintu utama terbuka perlahan.
Evan melangkah masuk dengan wajah yang tampak jauh lebih lelah dari biasanya. Jas yang dikenakannya masih rapi, tetapi sorot matanya menyiratkan beban pikiran yang begitu berat.
Sejak pagi hingga malam, berbagai masalah perusahaan datang silih berganti. Ia bahkan belum sempat menikmati makan malam.
"Lelah sekali..." Gumamnya pelan sambil memijat pelipis.
Saat itulah terdengar suara langkah kaki dari arah ruang keluarga. Laras muncul sambil mendorong box bayi. Aurora yang baru saja bangun tampak menggerak-gerakkan tangan mungilnya ketika melihat Evan.
"Malam, Tuan." Laras menyapanya dengan senyum hangat.
"Selamat datang."
Evan mengangkat wajahnya. Entah mengapa, setiap kali melihat senyum Laras, rasa penat di kepalanya sedikit berkurang.
"Malam, Aurora belum tidur?"
"Baru bangun sebentar. Lagi minta digendong tadi." Laras menatap wajah Evan beberapa saat.
"Tuan kelihatan sangat lelah."
Evan tersenyum tipis. "Kelihatan, ya?"
"Iya, wajah Tuan tidak seperti biasanya. Kalau boleh tahu ... di kantor ada masalah?"
Evan mengembuskan napas panjang. "Sedikit."
Laras mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lebih jauh.
"Kalau begitu, Tuan duduk dulu. Saya buatkan sesuatu."
Evan mengernyit. "Apa?"
"Lihat saja." Laras tersenyum kecil, lalu berjalan menuju dapur.
Tak sampai sepuluh menit kemudian, ia kembali membawa secangkir teh susu hangat. Aroma susunya langsung memenuhi ruang tamu.
Laras meletakkan cangkir itu di atas meja.
"Silakan diminum, masih hangat."
Evan menatap cangkir itu, lalu menatap Laras.
"Kamu membuat ini untukku?"
"Iya, kalau sedang banyak pikiran, minuman hangat biasanya bisa membuat badan lebih rileks. Saya tidak tahu apakah rasanya cocok atau tidak. Tapi semoga bisa sedikit mengurangi lelah Tuan."
Evan meraih cangkir itu. Setelah meniup pelan, ia menyesap sedikit. Beberapa detik kemudian, senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Enak."
Laras ikut tersenyum lega. "Syukurlah."
Aurora yang berada di dalam box tiba-tiba mengeluarkan suara kecil.
"Eee..."
Laras langsung menghampiri dan mengusap lembut pipi bayi itu. "Iya, Sayang..."
"Ibu ... eh ..." Laras spontan menghentikan ucapannya. Ia buru-buru tersenyum canggung.
"Maksud saya ... Mbak di sini."
Evan yang sedang menikmati teh susu tidak menyadari kekeliruan kecil itu. Tatapannya justru tertuju pada Laras yang dengan sabar menenangkan Aurora. Untuk beberapa saat, rumah itu terasa damai.
Hanya suara tawa kecil Aurora dan aroma teh susu hangat yang memenuhi ruangan. Tanpa disadari Evan mulai merasakan sesuatu yang telah lama hilang dari hidupnya. Kehangatan sebuah rumah.
Evan meletakkan cangkir teh susu yang hampir habis. Tatapannya tidak lepas dari Laras yang sedang mengayun perlahan box bayi Aurora.
Aurora tertidur dengan damai, sementara Laras mengusap selimut mungil itu agar tidak bergeser. Beberapa saat, ruangan dipenuhi keheningan.
"Laras..." Panggilan itu membuat wanita tersebut menoleh.
"Iya, Tuan?" Evan berdiri dari sofa, lalu melangkah mendekatinya.
Entah karena rasa lelah yang selama ini dipendam atau karena suasana rumah yang mendadak terasa hangat, ia memandang Laras dengan sorot mata yang berbeda.
"Kamu tahu..."
"Apa, Tuan?"
"Kamu cocok menjadi ibunya Aurora." Kalimat itu membuat jantung Laras berdegup keras.
Wanita yang sedang berdiri di hadapan Evan memang ibu kandung Aurora. Hanya saja, pria itu tidak pernah mengetahuinya. Sebelum Laras sempat menjawab, Evan perlahan meraih kedua tangannya.
"Laras ... sejak kamu datang. Rumah ini berubah. Aurora lebih bahagia. Aku juga ... lebih tenang."
Laras refleks ingin menarik tangannya. Bahkan, dalam hati ia ingin mendorong Evan sejauh mungkin. Namun, ia menahan diri. Wajahnya tetap menunjukkan ekspresi bingung dan canggung.
"Tuan ... jangan seperti ini. Saya hanya menjalankan pekerjaan."
"Tidak." Evan menggeleng pelan. "Kamu lebih dari itu."
Laras menundukkan wajah agar Evan tidak melihat sorot matanya.
Di balik ketenangan yang ia tunjukkan. Pikirannya justru berputar cepat.
'Sebentar lagi ... semua ini akan berakhir.'
Ia teringat pada teh susu yang beberapa menit lalu diminum Evan.
Sesuai rencananya, minuman itu telah ia campurkan dengan sesuatu yang ia yakini akan membuat Evan mengantuk dan kehilangan kewaspadaan. Ia tidak berniat mencelakainya, tetapi ingin menciptakan situasi yang akan membantunya menjalankan langkah terakhir dari rencana yang telah ia susun.
'Maaf, Evan. Ini bukan tentang cinta. Ini tentang semua yang sudah kamu rampas dariku.'
Perlahan, Laras melepaskan tangannya dari genggaman Evan.
"Tuan ... sudah malam. Lebih baik Tuan beristirahat."
Evan mengangguk pelan.Anehnya, kepalanya mulai terasa berat. Pandangannya sedikit berkunang.
"Aneh ... kenapa tiba-tiba..." Ia memegang pelipisnya. "Badan saya rasanya lemas."
Laras segera berpura-pura khawatir.
"Tuan tidak apa-apa? Mungkin Tuan terlalu lelah karena pekerjaan. Biar saya bantu ke kamar."
Evan tidak menolak. Dengan langkah yang mulai goyah, ia mengikuti Laras. Sementara itu, sorot mata Laras perlahan berubah menjadi penuh tekad.
'Ini langkah terakhir ... setelah malam ini. Permainan yang selama ini kamu ciptakan akan berbalik menghancurkanmu sendiri."
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Makin seru ajh nih,,