NovelToon NovelToon
PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:202.2k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.

Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.

Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.

Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.

Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21. SERANGAN

Beberapa hari telah berlalu sejak duel besar di arena latihan yang hampir merenggut nyawa Elara Ravens.

Namun, alih-alih meninggalkan ketegangan, kejadian itu justru membawa perubahan aneh dalam kehidupan Elara di Akademi Sihir Oberyn.

Perubahan yang paling mencolok adalah Leonhart.

Pria bertubuh besar itu kini hampir setiap hari muncul di arena latihan Divisi Vanguard.

Dan tujuannya selalu sama; mencari Elara.

"ELARAAA?!"

Suara berat yang sangat familiar menggema di arena latihan pada suatu sore.

Murid-murid yang sedang berlatih langsung menoleh.

Beberapa bahkan tertawa kecil.

"Dia datang lagi ...."

"Leonhart benar-benar ketagihan duel dengan Elara."

Di tengah arena.Elara yang sedang berlatih teknik dasar pedang bersama beberapa murid Vanguard lainnya menoleh. Ia langsung melihat Leonhart berjalan mendekat.

Pedang besar pria itu tergantung di punggungnya seperti biasa.

Namun kali ini wajah sang senior berambut merah itu sama sekali tidak menyeramkan.

Sebaliknya Leonhart tersenyum lebar.

"Ayo duel!" serunya seperti biasa setiap kali melihat Elara.

Elara mengangkat alis. "Kau tidak pernah bosan berduel, Senior?"

Leonhart menyilangkan tangan. "Kesatria tidak pernah bosan bertarung." Ia menunjuk Elara dengan semangat. "Terutama melawan kesatria yang keras kepala sepertimu!"

Elara tertawa kecil. Ia mengambil pedangnya.

"Baiklah," terima Elara penuh semangat.

Murid-murid di sekitar langsung bersorak kecil.

Duel mereka selalu menarik untuk ditonton karena itu juga bisa jadi evaluasi untuk diri mereka sendiri ketika praktik.

Leonhart menarik pedangnya. "Siap?"

Elara mengangguk. "Siap."

CLANG!

Pedang mereka langsung bertabrakan.

Leonhart menyerang dengan kekuatan besar. Namun kali ini serangannya tidak sebrutal sebelumnya. Sebaliknya ia terlihat seperti mengajari.

"Jangan hanya menangkis!" ujar Leonhart.

CLANG!

"Gunakan momentum seranganku!" tambahnya.

Elara mengikuti instruksi seniornya itu. Ia menangkis. Lalu memutar tubuh.

Menyerang balik.

Leonhart tersenyum puas. "Bagus!"

Pertarungan berlangsung cepat.

Pedang bertabrakan berkali-kali.

CLANG!

CLANG!

CLANG!

Namun kali ini Elara tidak terpental seperti dulu. Ia sudah belajar banyak. Terutama tentang bagaimana menggunakan energi sihir pada pedang.

"Sekarang!" Leonhart berseru. "Salurkan manamu ke bilah pedang!"

Elara menarik napas. Energi sihir mengalir dari tubuhnya. Menyelimuti pedangnya dengan cahaya tipis.

Gadis itu menebas.

BOOM!

Leonhart menangkisnya dengan pedang besar. Namun tubuhnya mundur satu langkah.

Ia tertawa keras. "Bagus sekali!"

Murid-murid di sekitar bersorak.

"Elara semakin kuat!"

"Benar, dia sekarang bisa mengimbangi Leon."

Leonhart menurunkan pedangnya dan berkata, "Untuk anak baru, perkembanganmu benar-benar tidak masuk akal."

Elara mengusap keringat di dahinya. "Karena guruku terlalu kejam."

Leonhart menunjuk dirinya sendiri. "Kesatria sejati ditempa dengan keras!"

Elara tertawa.

Hubungan mereka berubah drastis sejak duel pertama itu.

Leonhart yang dulu terlihat arogan sekarang justru seperti senior yang berisik tapi tulus..Ia sering datang ke arena hanya untuk melatih Elara.

Dan tanpa disadari kemampuan Elara berkembang sangat cepat.

Selain duel dengan Leonhart hari-hari Elara di akademi juga berjalan semakin menyenangkan.

Ia tidak lagi sendirian.

Ia memiliki sahabat.

Seseorang yang selalu menghabiskan waktu bersamanya meskipun mereka berada di divisi berbeda.

Evangeline.

Gadis dengan rambut cokelat panjang itu sedang duduk di bawah pohon besar di taman akademi.

Di depannya ada beberapa buku sihir terbuka.

Sementara Elara duduk di rumput di sebelahnya.

Mereka sedang makan siang.

"Jadi kau bilang," Evangeline menatap Elara serius. "saat duel dengan Leonhart, pedangmu bisa membelah sihirnya?"

Elara mengangguk. "Ya. Aku sendiri kaget saat itu."

Evangeline mengerutkan kening. "Itu tidak masuk akal." Ia membuka salah satu buku sihir tebal. "Tidak ada jenis sihir yang bisa membelah serangan sihir secara langsung seperti itu. Biasanya sihir akan meledak jika sama-sama bertemu."

Elara mengangkat bahu. "Ya tapi aku benar-benar melakukannya."

Evangeline menatapnya lama. Lalu berkata pelan. Sihirmu memang aneh. Setelah aku memeriksa aliran mana di tubuhmu waktu itu aku menemukan sesuatu."

Elara mengangkat alis. "Apa?"

Evangeline menarik napas. "Energi sihir yang kau gunakan bukan seperti mana biasa. Energi itu jauh lebih murni. Aku menemukan istilah yang mungkin cocok untuk sihirmu dari buku yang aku baca beberapa waktu lalu."

Elara mencondongkan tubuh. "Namanya?"

Evangeline berkata pelan. "Aether."

Elara berkedip. "Aether?"

Evangeline mengangguk. "Energi yang sangat jarang disebut dalam literatur sihir kuno."

Evangeline membuka buku lain. "Beberapa teori mengatakan Aether adalah bentuk energi sihir paling murni di dunia. Sihir pertama di dunia yang berasal dari energi diri manusia itu sendiri sedangkan sihir modern sekarang adalah sihir yang mengambil energi alam. Dan sihir kuno itu ada di dalam dirimu."

Elara menggaruk kepala. "Jadi ... aku aneh?"

Evangeline tertawa kecil. "Aku tidak bilang kau aneh, kau special, Elara. Tapi aku masih harus mencari tahu lebih banyak tentang ini. Ini akan menjadi salah satu penelitianku nanti."

Elara tersenyum. "Terima kasih. Kau selalu membantu."

Mereka kembali makan sambil bercanda.

Taman akademi terasa damai.

Angin bertiup lembut.

Suara murid-murid terdengar dari kejauhan.

Namun ...

Kedamaian itu tiba-tiba hancur.

BOOOOM!!!

Ledakan besar mengguncang akademi.

Tanah bergetar.

Burung-burung beterbangan dari pepohonan.

Elara dan Evangeline langsung berdiri. "Apa itu?!"

Evangeline menoleh ke arah sumber suara.

Asap hitam membumbung tinggi dari sisi barat akademi.

"Ledakan?" duga Evangeline.

Elara menggenggam pedangnya. "Ayo!"

Mereka berdua langsung berlari menuju sumber ledakan.

Namun saat mereka sampai ...

Langkah mereka langsung berhenti.

Wajah mereka berubah pucat.

Di depan sana, sebuah simbol sihir raksasa bersinar di tanah.

Lingkaran sihir yang sangat besar.

Dan dari lingkaran itu monster keluar satu per satu.

Ada yang kecil.

Ada yang sebesar kereta.

Ada yang bertanduk.

Ada yang bersayap.

Raungan monster menggema di udara.

Para murid yang berada di sekitar area ledakan berlari panik.

"TOLONG!"

"MONSTER!"

Beberapa bangunan akademi hancur akibat ledakan.

Murid-murid tergeletak di tanah.

Ada yang pingsan.

Ada yang terluka.

Evangeline menggigil. "Ini ... ini invasi monster. Kenapa bisa ada monster di akademi? Sihir perlindungan akademi seharusnya aktif."

Elara langsung meraih tangan temannya itu. "Kita harus pergi!" Ia menarik Evangeline. "Kita tidak bisa melawan semua ini!"

Keduanya mulai berlari.

Suara teriakan murid-murid terdengar di mana-mana.

Panik.

Histeris.

Namun di tengah kekacauan itu Elara mendengar sesuatu.

"Toloooong!"

Suara kecil.

Suara seorang murid.

Elara menoleh.

Di balik reruntuhan bangunan seorang murid junior tergeletak.

Kakinya tertimpa puing batu besar.

Dan di belakangnya beberapa monster kecil mulai mendekat.

Murid itu menangis ketakutan. "Toloooong! Tolong aku!"

Elara berhenti semua orang melewati murid junior itu tidak peduli betapa kerasnya murid itu meminta tolong.

Evangeline menarik tangan Elara. "Elara! Kita harus pergi!"

Namun Elara tidak bergerak. Ia menggertakkan giginya. Diam.

Elara menatap murid itu. Lalu menatap monster yang mendekat. Kemudian ia menarik napas panjang.

"Elara jangan!" Evangeline berseru.

Namun Elara menoleh padanya. "Eva, kau lari ke tempat aman sekarang. Aku akan menyusul!"

Evangeline membelalak. "Tidak!"

Elara tersenyum kecil. "Aku akan menyusul aku janji!" Ia melepaskan tangan Evangeline.

Lalu Elara berlari menuju bahaya.

Dalam hati Elara mengutuk dirinya sendiri.

Kenapa aku selalu melakukan ini, aku benar-benar gila! batin Elara.

Namun tubuh Elara tidak berhenti. Ia berlari ke arah murid junior itu.

"Tenang!" Elara berlutut di samping murid itu. "Aku akan membantumu!"

"Senior?" murid itu menatap Elara dengan mata basah.

Elara mencoba mengangkat puing batu besar itu. Namun batu itu sangat berat.

Monster di belakang mereka semakin dekat.

Raungan mereka mengerikan.

Murid itu menangis. "Senior, kita akan mati."

Elara menggertakkan giginya. "Tidak! Kita tidak akan mati!"

Elara mencoba lagi. Menggunakan seluruh kekuatannya.

Namun bayangan besar muncul di belakang mereka.

Seekor monster berdiri tepat di belakang Elara.

Tubuhnya tinggi.

Cakarnya tajam.

Monster itu meraung. Siap menyerang.

Elara perlahan menoleh. Matanya membesar.

Akan tetapi monster itu sudah mengangkat cakarnya. Dan menyerang mereka berdua.

1
Ir
jujur deh paling benci sama musuh kalo udah terdesak terus main nya curang 😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐋𝐚𝐥𝐚 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐠𝐫𝐢𝐧 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 🥺🥺😭😭
Made Putu Sridana
💪💪💪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐬𝐚𝐦𝐩𝐞 𝐤𝐩𝐧 𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐢𝐧𝐨𝐬𝐚𝐮𝐫𝐮𝐬 𝐠𝐤 𝐦𝐚𝐭𝐢𝟐 🥺🥺
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐢𝐲𝐚 𝐔𝐝𝐢𝐧 𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐢𝐧𝐨𝐬𝐚𝐮𝐫𝐮𝐬😭😭
total 2 replies
Mulyani Asti
kan pasti sihir ilusi deh soal nya ada Liora sama Evan kan mereka belum Dateng ke oberyn ya
Archiemorarty: Betul 🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
kerennn banget thorr😍
Archiemorarty: Terima kasih kembali karena kakaknya udah baca ceritanya 🥰
total 1 replies
mimief
hissss...udah nahan nafas
kirain beneran 😭😭😭
Archiemorarty: Hahahaha....
total 1 replies
mimief
Waduuh... waduuuh
mau ngumpet dimana ini
langit udah gelap semua😭

jangan yaaa..,jangan ngimpinya elera jadi kenyataan 🥹🥹
Archiemorarty: Ehhh... gimna ya 🤭
total 1 replies
mimief
expalirimusss
tambahin Thor
apa

Avra kadabra🤣🤣
Archiemorarty: Seketika mantra kutukan keluar 🙄
total 3 replies
j4v4n3s w0m3n
lanjut kaka lagi seru serunya jgn di potong🤭
mimief
CK...lama lama othorr kita sekep aja yuuk di ujung🫣🫣🤣
Archiemorarty: Kok gitu weehhh...
total 1 replies
mimief
heiii... permisi
kalau mau belagu juga mesti punya modal pak🫣🤣🤣
Archiemorarty: Bener, Edgar mah bisa belagu karena emang dah pengalamannya banyak abah satu itu 🤣
total 1 replies
j4v4n3s w0m3n
waduhhh siapa atu yg bisa mengalahkan musuh yg kuat itu apakah elara ??????
ade anggraini
menikmati tiap alur nya
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
ade anggraini
Titania yg selalu membimbing elara tiap kali terjebak ilusi
Archiemorarty: Hebat kali kakaknya sadar ....
total 1 replies
Miss Typo
penasaran sama lanjutannya,,, Elara selalu terjebak dgn sihir ilusi.
tetap kuat Elara kamu pasti bisa 💪
Miss Typo: harus lebih hati-hati dan waspada, eh kayak perang aja hehe
Elara harus lebih banyak belajar dan berlatih 💪
total 2 replies
Vina Fy
ihhh hebatnya diriku,,di tengah cerita aku udah nebak kalo ini ilusi loh thor 🤭🤭
Archiemorarty: Goog job kakak
total 1 replies
Miss Typo
Elara kah yg bisa mengalahkan Astrelia nantinya????
mimief: othor peliit🫣
total 3 replies
Miss Typo
akhirnya ayang Edgar muncul juga 😍

dah selesaikah makan seblaknya dgn othor???😁
Miss Typo: kagak ngajak² mkn seblak berdua aja 🥺
akhirnya tadi aku beli seblak sendiri 🥹
total 2 replies
Vina Fy
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!