Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.
Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.
Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.
Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.
Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.
Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:
Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.
Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Aura yang mengerikan
Malam menyelimuti Kota Qinghe.
Sebagian besar penduduk telah memadamkan lampu dan beristirahat. Jalan-jalan utama yang biasanya ramai kini tampak lengang. Hanya sesekali terlihat patroli penjaga kota berjalan menyusuri tembok pertahanan.
Tidak semua orang bisa memejamkan mata malam itu.
Di ruang kerjanya, Tetua Guo Rong masih membaca laporan demi laporan yang dikirim dari berbagai tempat.
Di atas mejanya terdapat lebih dari sepuluh gulungan bambu.
Seluruhnya berisi laporan yang sama.
Binatang Iblis meninggalkan wilayahnya.
Tetua Guo meletakkan gulungan terakhir, lalu mengusap pelipisnya.
"Ini bukan kebetulan..."
Ia berjalan menuju jendela.
Tatapannya menembus kegelapan menuju siluet Pegunungan Seribu Bintang.
Selama puluhan tahun menjadi alkemis, ia telah menyaksikan berbagai peristiwa.
Perubahan musim.
Wabah tanaman spiritual.
Perselisihan antarkeluarga.
Bahkan Gelombang Binatang kecil pun pernah terjadi.
Tetapi...
Belum pernah ia melihat seluruh pegunungan berubah hanya dalam waktu beberapa hari.
Di luar ruangan terdengar langkah kaki tergesa-gesa.
Tok...
Tok...
Tok...
"Masuk."
Pintu terbuka.
Liang Chen membungkukkan badan.
"Guru."
"Apa ada kabar baru?"
Liang Chen mengangguk.
"Beberapa kultivator lepas yang kembali sore tadi telah sadar."
"Mereka semua memberikan kesaksian yang sama."
Tetua Guo menatap muridnya.
"Mereka juga melihat cahaya keemasan?"
"Ya.selain itu..."
Liang Chen menarik napas.
"Mereka mengatakan Binatang Iblis di wilayah luar mulai saling berkumpul."
"Serigala Taring Besi."
"Beruang Kulit Baja."
"Macan Bayangan Bulan."
"Bahkan Elang Angin."
"Mereka tidak saling menyerang."
"Mereka terus bergerak menuju wilayah dalam."
Tetua Guo perlahan menutup matanya.
Keadaan berkembang lebih cepat daripada perkiraannya.
Kalau Binatang Iblis Tingkat 1 dan Tingkat 2 mulai meninggalkan wilayah masing-masing...
Berarti perubahan yang terjadi di Pegunungan Seribu Bintang semakin kuat.
Sementara itu...
Di wilayah luar Pegunungan Seribu Bintang.
Kabut tipis menyelimuti hutan.
Puluhan pasang mata merah menyala di antara pepohonan.
Seekor Serigala Taring Besi Tingkat 1 Tahap Puncak berdiri di atas batu besar.
Tubuhnya dipenuhi luka.
Bulu di bagian lehernya berdiri tegak.
Di sekelilingnya berkumpul lebih dari tiga puluh Serigala Taring Besi.
Biasanya...
Kawanan sebesar ini akan segera berburu.
Namun malam itu...
Tidak seekor pun bergerak.
Mereka hanya memandang ke arah utara.
Ke arah puncak Pegunungan Seribu Bintang.
Beberapa saat kemudian...
Seekor Beruang Kulit Baja Tingkat 2 Tahap Awal keluar dari balik pepohonan.
Tubuhnya yang besar membuat tanah bergetar setiap kali melangkah.
Anehnya...
Kawanan Serigala Taring Besi tidak menyerangnya.
Begitu pula sebaliknya.
Beruang itu hanya berhenti sesaat.
Mengangkat kepalanya.
Lalu kembali berjalan menuju arah yang sama.
Tidak lama kemudian...
Dua ekor Macan Bayangan Bulan Tingkat 2 melintas tanpa mengeluarkan suara.
Disusul belasan Elang Angin Tingkat 1 yang terbang rendah di atas pepohonan.
Pemandangan seperti itu...
Tidak pernah terjadi sebelumnya.
Seolah-olah ada kekuatan tak kasatmata yang memanggil seluruh Binatang Iblis.
Jauh di belakang kawanan itu.
Seorang lelaki tua berjubah lusuh berdiri di atas dahan pohon.
Aura yang dipancarkannya begitu samar hingga bahkan Binatang Iblis di bawahnya tidak menyadari keberadaannya.
Tatapannya tajam memperhatikan setiap gerakan kawanan tersebut.
"Menarik..."
Ia bergumam pelan.
"Sudah ribuan tahun, akhirnya terjadi lagi."
Lelaki tua itu perlahan mengangkat tangan.
Di ujung jarinya muncul seberkas cahaya.
Sesaat kemudian...
Cahaya itu berubah menjadi seekor burung kecil yang terbuat dari Qi murni.
Burung itu mengepakkan sayapnya sekali.
Lalu melesat ke langit dengan kecepatan luar biasa.
"Aku harus segera melaporkan ini kepada Sekte."
Setelah mengucapkan kalimat itu...
Sosok lelaki tua tersebut menghilang begitu saja.
Tidak meninggalkan jejak sedikit pun.
Pada waktu yang sama.
Bai Hu masih belum tidur.
Ia duduk bersila di dalam kamarnya.
Di hadapannya tergeletak lima batu roh yang diperolehnya dari Tetua Guo.
Tangannya memegang sebuah kitab dasar pengendalian Qi.
Namun, Pikirannya tidak berada di sana.
Ucapan Tetua Guo terus terngiang di telinganya.
"Kalau keadaan benar-benar memburuk, batu roh saja tidak akan cukup untuk menyelamatkan nyawa."
Bai Hu perlahan menggenggam salah satu batu roh.
Ia menyadari bahwa kekayaan dan kekuatan tidak bisa dipisahkan.
Kalau ingin mempertahankan semua yang dimilikinya...
Ia harus menjadi lebih kuat.
Bukan sekadar lebih kaya.
Tekad itu membuat tatapannya berubah lebih mantap.
Ia menarik napas panjang.
Kemudian mulai mengedarkan Qi sesuai petunjuk di dalam kitab.
Sementara Bai Hu berkultivasi...
Tak seorang pun mengetahui bahwa di balik pegunungan yang gelap...
Perubahan yang jauh lebih besar sedang berlangsung.
Fajar perlahan menyingsing.
Kabut tipis masih menyelimuti Pegunungan Seribu Bintang.
Namun pagi itu, suasana hutan sama sekali tidak seperti biasanya.
Tidak terdengar suara burung.
Tidak ada auman Binatang Iblis yang saling memperebutkan wilayah.
Kesunyian menyelimuti seluruh pegunungan.
Auuuuuu—!
Raungan panjang menggema dari kejauhan.
Tak lama kemudian, raungan lain ikut terdengar.
Dalam hitungan napas, raungan Binatang Iblis bersahutan dari berbagai penjuru pegunungan.
Di sebuah lembah yang dipenuhi bebatuan hitam, seekor Serigala Taring Besi Tingkat 1 Tahap Puncak berlari sekuat tenaga.
Di belakangnya, lebih dari lima puluh Serigala Taring Besi mengikuti tanpa ragu.
Mereka melewati wilayah yang biasanya dikuasai kawanan lain.
Namun tidak terjadi pertarungan.
Kawanan lain justru ikut bergabung.
Jumlah mereka terus bertambah.
Enam puluh.
Delapan puluh.
Seratus.
Di sisi lain lembah, seekor Beruang Kulit Baja Tingkat 2 Tahap Menengah keluar dari guanya.
Tubuh besarnya dipenuhi bekas luka lama.
Biasanya, beruang itu akan mengusir semua Binatang Iblis yang berani memasuki wilayahnya.
Namun hari itu...
Ia hanya mengangkat kepala.
Mengendus udara.
Lalu melangkah meninggalkan guanya.
Setiap langkahnya membuat tanah bergetar.
Tak jauh di belakangnya, dua ekor Macan Bayangan Bulan Tingkat 2 Tahap Awal ikut bergerak ke arah yang sama.
Pemandangan yang mustahil kini terjadi di depan mata.
Binatang Iblis yang selama puluhan tahun saling bermusuhan...
Berjalan berdampingan.
Jauh di atas langit.
Seekor Elang Sayap Emas Tingkat 3 Tahap Awal membentangkan sayapnya yang hampir mencapai belasan meter.
Tatapannya tajam mengawasi seluruh pegunungan.
Binatang Iblis sekuat itu seharusnya menjadi penguasa wilayah udara.
Namun saat ini...
Ia tidak sedang berburu.
Tatapannya hanya tertuju ke arah terdalam Pegunungan Seribu Bintang.
Sesaat kemudian.
Elang itu mengeluarkan pekikan nyaring.
Suara tersebut menggema hingga puluhan li.
Seolah sedang memberi tahu seluruh penghuni langit.
Sesuatu telah berubah.
Pada saat yang sama.
Di Istana Tuan Kota.
Luo Zhentian masih berdiri di depan peta Pegunungan Seribu Bintang.
Beberapa tanda merah telah digambar di berbagai titik.
Semuanya menunjukkan lokasi ditemukannya kawanan Binatang Iblis.
Semakin lama ia memperhatikan peta itu...
Semakin berat ekspresinya.
"Mereka semua bergerak..."
Tetua Guo mengangguk pelan.
"Dan tujuannya sama."
Feng Jianhong mengusap janggut putihnya.
"Kalau dugaanku benar, wilayah terdalam telah mengalami perubahan."
Seorang tetua Keluarga Liu bertanya.
"Apakah kita harus mengirim kultivator Inti Emas untuk menyelidikinya?"
Ruangan langsung hening.
Luo Zhentian tidak segera menjawab.
Beberapa saat kemudian ia menggeleng.
"Tidak, kita bahkan tidak mengetahui musuh yang sedang dihadapi ,mengirim orang hanya akan menambah korban."
Tak seorang pun membantah.
Mereka semua memahami keputusan itu.
Di Aula Alkimia.
Bai Hu baru saja menyelesaikan kultivasinya.
Walaupun hanya semalaman, ia merasa aliran Qi di dalam tubuhnya sedikit lebih lancar dibanding sebelumnya.
Ia mengembuskan napas perlahan.
"Lumayan."
Saat hendak keluar dari kamar, terdengar suara Liang Chen dari halaman.
"Bai Hu."
"Aku di sini, Kakak Liang."
Liang Chen menghampiri sambil membawa sebuah keranjang bambu.
Di dalamnya terdapat beberapa tanaman spiritual.
"Hari ini kau ikut denganku."
"Mau ke mana?"
"Kebun Spiritual."
Mata Bai Hu langsung berbinar.
Selama ini ia hanya mengetahui bahwa Aula Alkimia memiliki kebun sendiri.
Namun belum pernah melihatnya secara langsung.
Liang Chen tersenyum tipis.
"Guru berkata, mulai sekarang kau tidak hanya belajar mengenali tanaman."
"Kau juga harus belajar cara menanamnya."
Bai Hu segera mengangguk.
Baginya, Semakin memahami tanaman spiritual...
Semakin besar peluang menghasilkan batu roh di masa depan.
Namun ia tidak mengetahui...
Di saat dirinya berjalan menuju Kebun Spiritual...
Seluruh perhatian para kultivator kuat di Kota Qinghe justru tertuju ke arah Pegunungan Seribu Bintang.
Karena Aura yang sempat muncul kini perlahan mulai menyebar semakin luas.
Dan setiap Binatang Iblis yang menyerap aura tersebut...
Mengalami perubahan yang bahkan belum pernah tercatat dalam sejarah Kerajaan Ombak Surgawi.
Liang Chen berjalan di depan sambil membawa keranjang bambu.
Bai Hu mengikutinya dari belakang.
Mereka meninggalkan bangunan utama Aula Alkimia, melewati lorong batu yang memanjang ke arah belakang gunung kecil tempat aula berdiri.
Semakin jauh mereka berjalan, semakin pekat Qi Langit dan Bumi yang memenuhi udara.
Bai Hu menghirup napas panjang.
Matanya sedikit membesar.
"Qi di sini jauh lebih murni."
Liang Chen tersenyum.
"Itulah sebabnya Kebun Spiritual dibangun di sini."
"Tidak semua tempat cocok untuk menanam tanaman spiritual."
"Kalau kandungan Qi terlalu tipis, tanaman akan tumbuh lambat."
"Kalau terlalu padat, beberapa jenis tanaman justru akan layu."
Bai Hu mengangguk sambil mengingat setiap penjelasan itu.
Tak lama kemudian...
Sebuah lembah kecil terbentang di depan mereka.
Puluhan petak kebun tersusun rapi.
Di setiap petak tumbuh tanaman spiritual dengan warna dan bentuk yang berbeda.
Beberapa murid Aula Alkimia sedang mencabut rumput liar.
Sebagian lainnya menyiram tanaman menggunakan air yang memancarkan cahaya redup.
Bai Hu memperhatikan semuanya dengan penuh rasa ingin tahu.
"Itu air apa?"
Liang Chen menoleh.
"Itu Air Mata Air Roh."
"Air biasa tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman spiritual."
"Karena itu Aula Alkimia membangun saluran langsung dari Mata Air Roh di gunung belakang."
Bai Hu kembali mengangguk.
Membangun kebun seperti ini pasti membutuhkan biaya yang sangat besar.
Tidak heran Aula Alkimia menjadi salah satu organisasi terkaya di Kota Qinghe.
Mereka tidak hanya membeli tanaman spiritual.
Mereka juga mampu menghasilkan sendiri.
Liang Chen berhenti di depan sebuah petak kebun.
Di sana tumbuh puluhan batang Rumput Embun Roh.
Namun,Bai Hu langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda.
Daun-daunnya tampak sedikit lebih gelap dibanding beberapa hari lalu.
Ia berjongkok.
Lalu menyentuh salah satu daun menggunakan ujung jarinya.
"Warnanya berubah."
Liang Chen mengangguk.
"Itulah yang ingin kutunjukkan kepadamu."
"Perubahan ini baru terjadi sejak dua hari terakhir."
"Guru menduga ada hubungannya dengan perubahan Qi Langit dan Bumi."
Bai Hu memperhatikan lebih teliti.
Ia mematahkan sepotong kecil ujung daun.
Kemudian mencium aromanya.
Masih sama.
Namun kandungan Qi di dalamnya terasa sedikit lebih kuat.
Ia mengangkat kepala.
"Kalau terus seperti ini.bukankah kualitas tanaman justru meningkat?"
Liang Chen tersenyum tipis.
"Belum tentu."
"Tanaman spiritual membutuhkan keseimbangan."
"Kalau perubahan Qi berlangsung terlalu cepat..."
"mereka bisa mati."
Kalimat itu membuat Bai Hu kembali memandang kebun di depannya.
Baru sekarang ia memahami.
Dunia kultivasi tidak sesederhana menyerap Qi sebanyak mungkin.
Semua memiliki batas.
Tiba-tiba...
Seorang murid berlari dari kejauhan.
"Kakak Senior Liang!"
Liang Chen segera menoleh.
"Ada apa?"
Murid itu berhenti beberapa langkah di depan mereka.
Napasnya masih terengah-engah.
"Guru meminta Kakak Senior segera kembali."
"Apa terjadi sesuatu?"
Murid itu mengangguk.
"Baru saja datang utusan dari Paviliun Harta Karun."
"Mereka membawa berita dari kota-kota lain."
Ekspresi Liang Chen langsung berubah.
"Tunggu di sini."
Ia menoleh kepada Bai Hu.
"Jangan ke mana-mana."
"Aku akan segera kembali."
Bai Hu mengangguk.
Setelah Liang Chen pergi, ia kembali memperhatikan tanaman spiritual di hadapannya.
Namun pikirannya sudah melayang ke arah lain.
Kalau bahkan Paviliun Harta Karun mulai mengirim utusan...
Berarti perubahan di Pegunungan Seribu Bintang bukan hanya menarik perhatian Kota Qinghe.
Kemungkinan...
Kota-kota lain juga mulai mengetahuinya.
Sementara itu...
Di aula utama Aula Alkimia.
Tetua Guo menerima sebuah gulungan bambu berwarna hitam.
Segel lilin di atasnya bergambar sebuah paviliun emas.
Itu adalah lambang Paviliun Harta Karun.
Tetua Guo membuka gulungan tersebut perlahan.
Semakin lama membaca...
Ekspresinya semakin serius.
Liang Chen yang baru tiba segera bertanya,
"Guru..."
"Ada apa?"
Tetua Guo menyerahkan gulungan itu.
Liang Chen membaca beberapa baris.
Matanya langsung membelalak.
"Empat kota ,mengalami hal yang sama?"
Tetua Guo mengangguk pelan.
"Perubahan ini ternyata bukan hanya terjadi di Kota Qinghe."
"Di wilayah utara Kerajaan Ombak Surgawi..."
".beberapa pegunungan lain juga mulai menunjukkan gejala yang hampir sama."
Ruangan kembali sunyi.
Tetua Guo perlahan menggulung kembali surat itu.
Dalam benaknya muncul satu dugaan yang membuatnya tidak tenang.
Kalau perubahan ini tidak hanya terjadi di Pegunungan Seribu Bintang...
Apakah benar penyebabnya berasal dari satu Binatang Iblis?
Atau...
Ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi di seluruh Kerajaan Ombak Surgawi?
Tatapannya kembali mengarah ke utara.
Ia berharap dugaannya salah.
Tetua Guo menggulung kembali surat yang berada di tangannya.
Ia terdiam cukup lama.
Liang Chen berdiri di samping tanpa berani mengganggu.
Beberapa saat kemudian, Tetua Guo berkata pelan,
"Untuk sementara, berita ini tidak boleh disebarkan."
Liang Chen sedikit terkejut.
"Kalau berita menyebar sekarang, para kultivator lepas justru akan semakin banyak memasuki Pegunungan Seribu Bintang, mereka akan mengira ada harta karun yang muncul."
Liang Chen langsung mengerti.
Sudah menjadi kebiasaan di dunia kultivasi.
Semakin besar bahaya...
Semakin banyak orang yang tergoda mencari peluang.
Tetua Guo melanjutkan,
"Perintahkan seluruh murid Aula Alkimia."
"Siapkan semua Pil Penyembuh."
"Mulai besok, tidak ada lagi murid yang diizinkan keluar kota sendirian."
"Baik, Guru."
Liang Chen segera membungkukkan badan sebelum meninggalkan ruangan.
Tetua Guo kembali memandang ke arah utara.
Hatinya masih belum tenang.
Sementara itu...
Di Kebun Spiritual.
Bai Hu membantu seorang murid senior memindahkan beberapa pot tanaman spiritual ke dalam rumah kaca sederhana yang dibangun menggunakan Formasi Pengumpul Qi.
"Pelan,jangan sampai akarnya rusak."
Bai Hu mengangguk.
Walaupun tubuhnya masih kecil, ia mengangkat pot itu menggunakan kedua tangan dengan hati-hati.
Setelah selesai, ia menyeka keringat di dahinya.
Seorang murid senior tersenyum.
"Kau belajar cepat."
Bai Hu tertawa kecil.
"hehehe kalo sampai mati aku bisa kehilangan uang "
Murid itu tertawa.
"Dasar anak mata duitan."
Bai Hu tidak membantah.
Baginya menjaga tanaman spiritual sama artinya menjaga kekayaan.
Saat mereka sedang berbincang...
Seekor burung berwarna abu-abu tiba-tiba mendarat di pagar kebun.
Burung itu tampak biasa saja.
Namun sesaat kemudian...
Burung kedua datang.
Lalu burung ketiga.
Dalam waktu singkat, puluhan burung memenuhi pagar kayu.
Semua menghadap ke arah yang sama.
Utara.
Bai Hu mengernyit.
"Aneh."
Murid senior ikut memperhatikan.
"kenapa burung-burung berkumpul seperti ini."
Belum sempat mereka mendekat.
Seluruh burung tiba-tiba terbang bersamaan.
membentuk kawanan besar.
Terbang menjauhi Pegunungan Seribu Bintang.
Bai Hu terus mengikuti kawanan itu dengan pandangannya hingga menghilang di balik awan.
Saat itu jauh di dalam Pegunungan Seribu Bintang.
Matahari tidak mampu menembus rapatnya pepohonan kuno.
Di antara akar-akar raksasa...
Seekor Serigala Taring Besi Tingkat 2 Tahap Puncak berjalan perlahan.
Tubuhnya penuh luka.
Napasnya berat.
Di belakangnya, lebih dari seratus Binatang Iblis mengikuti tanpa suara.
Ada Serigala Taring Besi.
Beruang Kulit Baja.
Macan Bayangan Bulan.
Elang Angin yang bertengger di cabang-cabang pohon.
Tidak ada pertarungan ,tidak ada raungan.
Semuanya berjalan menuju satu arah.
Semakin jauh mereka masuk ke wilayah terdalam...
Semakin pekat Qi Langit dan Bumi.
Tiba-tiba...
Serigala Taring Besi itu berhenti.
Ia mengangkat kepalanya.
Sepasang matanya menatap sebuah tebing batu hitam yang menjulang tinggi.
Di permukaan tebing itu...
Terdapat sebuah celah sempit.
Dari balik celah tersebut...
Keluar untaian kabut keemasan yang sangat tipis.
Kabut itu perlahan menyatu dengan udara.
Begitu menyentuh tubuh para Binatang Iblis...
Mata mereka berubah semakin merah.
Aura mereka meningkat sedikit demi sedikit.
Namun...
Tidak satu pun berani melangkah melewati tebing itu.
Seolah-olah...
Di balik celah tersebut terdapat sesuatu yang membuat naluri mereka dipenuhi rasa hormat sekaligus ketakutan.
Hutan kembali sunyi.
Hanya suara embusan angin yang perlahan melewati pepohonan tua.
Dan jauh di balik tebing hitam itu...
Terdengar suara detak yang sangat pelan.
Dum...
Dum...
Dum...
setiap detak membuat Qi Langit dan Bumi di sekitarnya bergetar halus.
Tidak ada manusia yang mendengarnya.
Tetapi seluruh Binatang Iblis yang berada di wilayah terdalam perlahan menundukkan kepala.
Seolah sedang memberi penghormatan kepada seorang penguasa yang akan segera bangkit.
Bersambung...
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut