Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.
Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.
Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.
"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"
Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."
Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21. JADI BAHAN TARUHAN
Notifikasi di layar ponsel Elgar langsung bermunculan satu per satu. Senyum tipis kembali terukir di sudut bibirnya saat membaca balasan dari grup Golden Faces.
Rinoz: Wah, akhirnya berhasil juga lo menggaet anak konglomerat itu. Sip, hadiah udah gue siapin. Tapi jangan cuma audio doang, Gar. Nanti kirim videonya sekalian.
Tak lama kemudian, pesan lain masuk.
Hans: Deal. Hadiahnya taruhannya aman. Tapi aturan grup tetap aturan grup. Bukti paling lengkap ya video.
Disusul balasan berikutnya.
Glen: Hahaha ... aktor emang beda kelas. Gue tunggu videonya. Kalau videonya masuk, hadiahnya langsung cair.
Elgar membaca ketiga pesan itu tanpa ekspresi berarti. Sudut bibirnya hanya terangkat tipis. Jemarinya lalu mengetik balasan singkat. "Tenang aja. Gue nggak pernah gagal. Nanti videonya gue kirim."
Tak lama, ikon centang biru bermunculan menandakan pesannya telah dibaca oleh mereka.
Elgar mematikan layar ponselnya, lalu menyandarkan tubuh ke kursi. Wajah ramah, perhatian, dan penuh kelembutan yang selama ini ia tunjukkan kepada Rebeca kini lenyap tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah tatapan dingin dan senyum tipis yang sulit diartikan.
Rebeca sedang mengendarai mobilnya menuju rumah. Keadaan kabin mobil itu dipenuhi dengan kebahagiaan.
"Aaaaaa!" Rebeca menjerit kecil sambil tertawa sendiri. Untung jalan yang dilewatinya tidak terlalu ramai. "Oh God ... aku punya pacar aktor terkenal!" serunya dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajah.
Sesekali ia menggigit bibir bawahnya sendiri, lalu menggeleng-gelengkan kepala, seolah masih sulit mempercayai apa yang baru saja terjadi. "Aku masih nggak percaya bisa jadian sama idolaku." Tatapannya sekilas jatuh pada gelang couple yang melingkar di pergelangan tangannya. Senyum di wajahnya kembali melebar. "Ya ampun ... aku beruntung banget bisa pacaran sama dia. Udah ganteng, baik, perhatian lagi. Pokoknya sempurna," gumamnya sambil terkekeh sendiri.
Beberapa kali ia hampir meraih ponselnya yang terhubung dengan dashboard mobil. Ada satu nama yang terus terlintas di kepalanya. "Aduh ... aku pengen banget cerita sama Mili." Jarinya bahkan sempat menyentuh tombol panggil, tetapi berhenti sebelum panggilan dilakukan. Senyumnya perlahan berubah menjadi senyum tipis. "Ih ... nggak bisa." Ia teringat ucapan Elgar sebelum mereka berpisah.
"Untuk sementara, hubungan kita cukup kita berdua yang tahu dulu, ya."
Rebeca mengembuskan napas pelan. "Nggak boleh kasih tahu siapa pun. Aku udah janji sama Kak Elgar." Dengan berat hati, ia membatalkan niatnya menghubungi Mili. "Nanti aja kalau waktunya sudah tepat dan Kak Elgar udah ngebolehin. Aku janji bakal cerita semuanya."
Meski harus memendam kabar bahagia itu seorang diri, hati Rebeca tetap terasa ringan. Sesekali ia kembali melirik gelang di pergelangan tangannya, lalu tersenyum sendiri. "Mulai hari ini ... aku punya seseorang yang ingin memperjuangkanku dan duniaku mulai berwarna. Nggak fokus ke kuliah aja." Senyum bahagianya kembali mengembang.
***
"Sinta ... kamu kan udah minum obat. Sekarang kamu tidur ya. Kakak mau pulang dulu. Nanti sore Kakak ke sini lagi dan Kakak bakal menginap di sini."
"Horeee!" Sinta bersorak. "Iya, Kak. Aku mau tidur. Nanti malam Kakak tidur di ranjang aku aja ya. Jangan di sofa seperti biasa."
"Iya, Dek. Siap." Cika mengecup kening Sinta. "Kakak pulang sekarang ya?"
"Iya, Kak."
Bersamaan dengan ucapan itu, seorang perawat masuk untuk menemani Sinta.
"Sus, titip adik saya ya?"
"Siap, Mbak Cika."
Cika melambaikan tangan dan Sinta membalasnya. "Hati-hati Kakak."
"Iya, Sinta." Cika keluar dari ruang rawat dan berjalan pelan menyusuri koridor rumah sakit. Hingga akhirnya ia melangkah keluar dari area rumah sakit. Setelah memastikan tas selempangnya tersampir rapi di bahu, ia berdiri di tepi jalan, berniat menghentikan ojek yang melintas.
Beberapa kendaraan berlalu-lalang di depannya. Cika mengangkat tangan, tetapi belum ada satu pun yang berhenti. Saat itulah sebuah mobil mewah berwarna hitam melambat, lalu berhenti tepat di hadapannya. Cika mengernyit bingung. Perlahan, kaca jendela turun. "Pak Robinson?" gumamnya kaget.
Di dalam mobil, Robinson tersenyum tipis. Wajah pria itu tampak tenang dengan setelan kemeja yang masih rapi.
Cika masih terlihat canggung. "Bapak ... kok bisa di sini?"
"Saya sengaja datang ke sini karena mau menemui kamu," jawab Robinson.
"Memangnya ada perlu apa ya, Pak?" tanya Cika pelan.
"Masuklah. Kita bicara di dalam mobil sambil jalan."
"B-Baiklah, Pak." Cika memutari depan mobil dan membuka pintu sebelah kiri. Ia pun masuk dengan hati-hati.
Beberapa detik kemudian, kendaraan itu melaju perlahan meninggalkan area rumah sakit.
Suasana di dalam mobil sempat hening. Cika duduk dengan kedua tangan saling menggenggam di atas pangkuannya. "Apa yang ingin Pak Robin bicarakan ya?" batinnya.
Keheningan di dalam kabin akhirnya dipecahkan oleh Robinson. "Cika."
"Iya, Pak?"
"Barusan Astri menghubungi saya." Cika menoleh. "Dia minta kita datang ke butik lagi untuk fitting. Katanya ada beberapa bagian pakaian yang perlu dicocokkan sekali lagi sebelum proses akhirnya."
Cika tampak sedikit ragu. "Harus sekarang, Pak?" Ia melirik pakaian yang dikenakannya. "Saya belum ganti baju."
Robinson tersenyum tipis. "Nggak apa-apa. Yang penting kamu sudah mandi."
Cika tersenyum canggung. "Sudah mandi mah, Pak. Tadi di rumah sakit."
"Nah, berarti tidak ada masalah."
Cika mengangguk pelan. "Ya sudah, Pak."
"Ya. Kita langsung ke sana saja," ajak Robinson.
"Baik, Pak."
"Oh ya, bagaimana keadaan Sinta sekarang? Apakah sudah jauh lebih baik?"
"Alhamdulillah, Pak. Kata dokter ... keadaan Sinta sedikit demi sedikit menunjukan perubahan yang baik. Tapi kemoterapinya masih harus terus dilakukan."
Robinson mengangguk pelan. "Itu pasti, Cika. Karena penyakit kanker bukanlah penyakit yang bisa sembuh dalam waktu dekat. Butuh waktu lama dan kesabaran."
"Iya, Pak. Tapi saya selalu berharap ... ada keajaiban yang datang. Sinta bisa sembuh dalam waktu dekat."
"Aamiin. Terus lah berdoa. Karena tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah menghendaki."
"Iya, Pak."
Tak lama kemudian, mobil mewah itu berbelok menuju jalan utama yang mengarah ke butik milik Astri.
"Kita sudah sampai," ucap Robinson sambil menghentikan mobil.
Cika membuka sabuk pengaman, namun sialnya malah macet. "Ihh ... kok nggak bisa dibuka?" batinnya panik sendiri.
Robinson melirik dan bertanya, "Ada apa, Cika?"
Cika mengangkat wajah canggung. "I-Ini, Pak ... sabuk pengamannya susah dibuka," beritahunya. "Padahal biasanya suka gampang."
Robinson beringsut, mencondongkan tubuh. Mengukurkan tangannya untuk membantu membuka sabuk pengaman yang melingkar di bahu hingga pinggang Cika. Dengan mudahnya, lelaki itu melepasnya. "Sudah," katanya sambil mengangkat wajah dan untuk beberapa saat ... tatapannya dan Cika saling bertemu. Cukup dekat, sampai Cika bisa merasakan embusan napas Robinson di wajahnya.
Gadis itu menelan ludah susah payah tanpa bisa memalingkan wajahnya. "Ya Tuhan ... jika dilihat dari dekat begini, wajah Pak Robinson terlihat tampan sekali."