Keputusan Udin menerima perintah mutasi ke gudang cabang malah menyeretnya pada kasus dan fakta masa lalu.
.........
“Kecelakaan kerja lagi,” bisik buruh di sebelahnya. “Sudah yang ketiga. Katanya... ditagih hantu kepala pabrik.”
Udin kaku. Nama Bejo Santoso, korban terbaru, pernah ia lihat semalam. Di buku log lembur Bapak, tujuh belas tahun lalu. Tepat di bawah nama Budi Hartono. Ayahnya sendiri.
..........
Satu koper tua, satu daftar nama, satu pabrik yang gak pernah bener-bener mati.
Mampukah ia membongkar busuknya lantai produksi? Atau dia bakal jadi nama keempat di daftar korban?
'UDIN JAGOAN BAPAK'
So, kisah Udin hanya fiktif karangan Author ya. Jika ada kesamaan nama, lokasi, dan situasi, itu cuma kebetulan yang kebetulan banget. Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LUKA YANG LEBIH DALAM
Suara mesin ambulans memecah kesunyian gang. Warga yang sejak tadi menunggu di teras langsung berdiri. Pintu belakang ambulans dibuka pelan. Empat orang tetangga dengan sigap membantu mengangkat peti kayu berwarna coklat tua dan membawanya turun dengan hati-hati.
Bu Rukmini yang dari tadi duduk di kursi teras langsung berdiri. Tapi tubuhnya goyah. Begitu melihat peti itu diletakkan di ruang tamu, lututnya lemas. Ia ambruk ke depan, memeluk tiang kayu di sisi pintu. Tubuhnya bergetar hebat, namun mulutnya tidak mengeluarkan satu kata pun. Tidak ada teriakan, tidak ada ratapan panjang. Hanya napasnya yang patah-patah dan air mata yang jatuh tanpa henti.
Dina langsung berlari menghampiri. Ia berjongkok, memeluk bahu ibunya dari belakang. "Bu... Ibu... tarik napas, Bu," bisiknya dengan suara bergetar, sementara tangannya mengusap punggung ibunya berulang kali.
Udin turun terakhir dari ambulans dengan wajah pucat. Ia melihat ibunya dan adiknya dalam satu bingkai duka. Tanpa banyak bicara, ia melepas tasnya dan berjalan cepat, lalu berjongkok di depan ibunya, lalu merengkuh keduanya ke dalam pelukannya.
Tiga orang itu diam dalam satu pelukan. Tidak ada kata yang bisa mewakili sakitnya saat itu. Yang ada hanya kehangatan tubuh yang saling menguatkan di tengah kehilangan yang terlalu besar.
Prosesi pemakaman berlangsung sore itu juga, di pemakaman umum yang tidak jauh dari rumah. Hujan rintik turun, membuat tanah menjadi becek.
Tidak banyak orang yang berani bicara, hanya terdengar suara tanah yang ditimbun sedikit demi sedikit, diiringi doa dan isakan yang ditahan oleh puluhan orang yang hadir. Pilu dan sedih yang masih bercampur tanya tertahan di dada masing-masing.
..........
Malam harinya, setelah semua orang pulang, rumah menjadi lebih sepi, hanya tersisa keluarga inti, Sari, dan Pak Kardi.
Di dapur yang kecil, lampu bohlam kuning menyala redup. Dina berdiri di depan kompor, menuang air panas ke dalam teko. Tangannya masih gemetar, tapi ia memaksa dirinya sibuk agar tidak terus memikirkan peristiwa hari ini.
Sari mencuci beberapa gelas dan menatanya di atas nampan lalu melirik Dina. 'Gadis itu terlalu diam untuk anak seusianya,' pikir Sari.
"Mbak Sari," suara Dina pelan, memecah keheningan. "Mbak Sari mengenal Bapakku?"
Sari berhenti sejenak. Ia menoleh. "Din..."
Dina tidak menatapnya. Matanya fokus pada tetesan teh yang ia tuang. "Maksudku, selama Mbak kerja di pabrik Tulungagung. Pernah lihat Bapak?"
Sari meletakkan gelasnya lalu menggeleng pelan. "Tidak, Din. Maaf. Aku baru bekerja di pabrik itu tiga tahun terakhir. Aku tidak pernah masuk ke gudang belakang. Aku... aku bahkan tidak tahu kalau di sana ada orang yang disekap," ucapnya lirih penuh sesal yang sulit diungkapkan.
Dina akhirnya menoleh dan tersenyum tipis, meski itu terlihat sangat dipaksakan. "Tidak apa-apa, Mbak. Aku cuma nanya." Ia menghela napas. "Aku sedih karena Bapakku meninggal. Tapi setidaknya... aku harus bersyukur. Aku diberi satu kesempatan untuk melihat wajahnya secara nyata, bukan hanya dari foto lama yang buram."
Ujung mata Dina kembali basah. Ia cepat-cepat mengusapnya dengan punggung tangan. "Tapi Ibu... dan Mas Udin... mereka pasti lebih terluka dibanding aku. Ibu kehilangan suaminya untuk kedua kali. Mas Udin kehilangan Bapak yang baru saja ia temukan."
Sari terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Rasa bersalahnya semakin dalam menggerogoti. Ia hanya bisa mendekat dan menepuk bahu Dina pelan. "Kamu anak yang kuat, Din. Bapakmu pasti bangga melihatmu sekarang."
Dina mengangguk. Ia menyeka sisa air matanya dan menarik napas dalam. "Sudah, Mbak. Kita bawa ini ke depan ya. Biar Ibu, Mas Udin, dan Pak Kardi ada teman ngobrolnya. Jangan sampai suasana makin berat." Ia mengangkat nampan berisi teh hangat dan sepiring kue kering. Sari membantu membawakan biskuit.
Keduanya berjalan dari dapur menuju ruang tengah. Kehangatan dari uap teh seakan menjadi satu-satunya penghangat di rumah yang dingin itu.
.........
Di ruang tengah, Bu Rukmini duduk di sofa. Matanya sembab, tapi ia berusaha duduk tegak. Di sebelahnya, Udin duduk dengan punggung sedikit membungkuk karena lelah. Sedangkan Pak Kardi duduk di kursi plastik, agak menjaga jarak, wajahnya tampak iba.
Dina dan Sari meletakkan nampan di atas meja. "Teh hangatnya, Bu. Mas Udin, Pak Kardi," ujar Dina pelan.
"Terima kasih, Nak," jawab Bu Rukmini lirih.
Udin mengambil gelasnya, tapi belum ia minum. Ia menatap Sari, lalu Pak Kardi. "Terima kasih banyak, Mbak Sari, Pak Kardi. Saya tahu ini bukan urusan kalian. Tapi kalian merelakan waktu dan tenaga untuk datang sampai Jakarta. Menemani saya dari rumah sakit."
Udin menegakkan punggungnya. "Kalau tidak keberatan... menginaplah di sini malam ini. Rumah kami sederhana, tapi masih cukup tempatnya. Besok pagi saya akan bantu cari tiket bus untuk kalian kembali ke Tulungagung."
Sari hendak menjawab, tapi Pak Kardi mengangkat tangannya pelan. Ekspresi wajahnya berubah. Ponsel di sakunya bergetar. Ia mengeluarkannya dan menatap layar beberapa detik. "Maaf," katanya cepat, suaranya sedikit serak lalu berdiri. "Saya harus terima panggilan ini dulu. Penting."
Tanpa menunggu jawaban, Pak Kardi langsung berjalan keluar. Langkahnya cepat menuju halaman depan.
Di halaman yang gelap, ia menempelkan ponsel ke telinga. Suaranya langsung berubah, tidak lagi lembut seperti biasanya.
"Tak semudah itu," bentaknya pelan, tapi nadanya tajam. "Bersabarlah sedikit lagi!"
Pak Kardi tampak sangat berhati-hati. Ia langsung menoleh ke arah pintu, wajahnya terlihat gugup. Pak Kardi mengusap tengkuknya, berharap tidak ada yang mendengar. Tapi, ada sesuatu yang janggal dari nada suara Pak Kardi barusan.
Pak Kardi masih memegang ponsel yang ia tempelkan di telinganya, tapi kini tatapan matanya tertuju pada arah lain. Pak Kardi menegakkan punggungnya, ia tahu seseorang mengawasinya dari balik pagar samping rumah Udin.
Pak Kardi bergegas menutup ponselnya dan memasukkannya lagi ke saku celana, kemudian bergegas masuk lagi ke dalam rumah.
"Ada apa, Pak?" selidik Sari. "Kok mendadak pucat gitu?"
"Hmm...." sahut Pak Kardi ragu lalu kembali duduk di tempatnya semula. "Rumah sebelah gelap sekali, apa penghuninya lagi pergi?" Pak Kardi seolah sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Iya, rumah itu kosong hampir satu tahun terakhir. Penghuninya transmigrasi ke Sumatera," jawab Bu Rukmini datar.
Sementara Sari memperhatikan sorot mata pak Kardi, sepertinya ia menangkap hal lain. 'Kenapa Pak Kardi kelihatan gugup? Jangan-jangan Coki mengawasi...."
...****************...
Bersambung