Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.
Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir Mempertemukan Kembali
Beberapa bulan berlalu, hingga tibalah hari di mana Kenan harus melakukan perjalanan dinas luar ke Surabaya untuk mengurus beberapa urusan penting perusahaan. Ia berangkat ditemani Rizky dan beberapa pengawal kepercayaannya, namun selama perjalanan, Kenan mulai menyadari ada sesuatu yang janggal. Sebuah mobil gelap terus mengikuti dari belakang, tak mau menjauh dan tak juga menyalip, jelas-jelas membuntuti pergerakannya.
Meskipun menyadari bahaya itu, Kenan sama sekali tak menunjukkan rasa takut. Wajahnya tetap tenang, bahkan terlihat dingin dan penuh kewaspadaan. Ia segera berbisik memberikan arahan kepada Rizky:
“Biarkan mereka terus mengikuti. Arahkan mobil ke jalanan yang sepi dan sepi dari pemukiman. Kita hadapi mereka di sana, tak perlu berputar-putar lagi.”
Rizky mengangguk patuh, meski hatinya berdebar khawatir melihat ketenangan bosnya yang justru membuat suasana makin menegangkan. Mobil pun berbelok masuk ke jalan raya pinggiran kota yang sepi, tak ada lampu penerangan yang cukup, dan tak ada kendaraan lain yang lewat. Sesampainya di tempat yang dirasa tepat, Kenan memberi isyarat, dan mereka pun menghentikan kendaraan secara tiba-tiba.
Tak lama kemudian, mobil yang membuntuti itu juga berhenti tepat di belakangnya. Segerombolan pria bertubuh kekar turun sambil membawa senjata tajam, berjalan mendekat dengan niat yang jelas-jelas ingin mencelakai. Kenan dan anak buahnya langsung turun, bersiap bertahan dan melawan. Perkelahian pun tak terelakkan, terjadi dengan sengit di tengah kegelapan malam itu.
Kenan bertarung dengan gagah, namun jumlah lawan terlalu banyak dan gerakan mereka licik. Di tengah kekacauan itu, salah satu penyerang berhasil mendekat dan menyabetkan pisau tajam ke arahnya. Kenan tak sempat menghindar sepenuhnya, hingga sabetan itu melukai lengan kanannya, darah segar langsung membasahi lengan bajunya yang mahal.
“Bos!!!” teriak Rizky panik melihat darah yang mengalir deras.
Ia segera melindungi tubuh Kenan sambil terus melawan, sementara di saat yang bersamaan, pasukan bantuan yang sudah dikoordinasikan sebelumnya akhirnya tiba juga. Puluhan orang yang merupakan anak buah kepercayaan Rizky datang menyerbu, dengan cepat melumpuhkan dan menangkap semua penyerang itu. Tak ada satu pun yang berhasil melarikan diri; mereka langsung diborgol dan diamankan untuk diserahkan ke pihak berwajib nanti.
Rizky tak membuang waktu lagi. Ia segera menggendong dan menuntun Kenan masuk kembali ke dalam mobil, dengan wajah penuh kekhawatiran yang mendalam.
“Kita ke rumah sakit terdekat sekarang juga, Bos! Luka ini cukup dalam, tak boleh dibiarkan terlalu lama!” ucap Rizky tergesa-gesa, langsung menginjak gas sekuat tenaga menuju rumah sakit terdekat di kota itu.
Kenan hanya menahan rasa perih di lengannya, matanya menyala tajam, ia tahu persis siapa dalang di balik serangan ini, dan ia berjanji dalam hati akan membalasnya nanti. Namun saat ini, satu hal yang tak disadarinya, takdir justru membawanya semakin dekat dengan orang yang paling ia rindukan di kota yang sama itu.
Tak butuh waktu lama, mobil itu melaju kencang dan tiba di Rumah Sakit Sentral Medika dalam waktu singkat. Begitu sampai di depan pintu Instalasi Gawat Darurat, Kenan langsung dituntun masuk ke ruang perawatan UGD. Suasana di sana sibuk namun tertata rapi, dipenuhi suara langkah cepat dan peralatan medis.
Namun detik itu juga, napas Kenan seolah terhenti. Pandangannya langsung terpaku pada sosok yang sedang berdiri memeriksa catatan pasien, seorang dokter dengan perut yang mulai membuncit, terlihat jelas sedang mengandung. Dan sosok itu tak lain adalah Kinasih, wanita yang telah ia cari ke seluruh penjuru negeri, wanita yang tak pernah lepas dari pikirannya siang dan malam.
Jantung Kenan berdegup kencang tak terkendali, matanya langsung berkabut. Rindu, kaget, haru, dan rasa bersalah bercampur menjadi satu, membuat seluruh tubuhnya terasa lemas. Ia tak menyangka sama sekali bahwa takdir akan mempertemukan mereka kembali dengan cara yang tak terduga seperti ini.
Kinasih pun menoleh saat mendengar kedatangan pasien baru. Begitu matanya bertemu dengan wajah Kenan, seluruh tubuhnya menegang kaku. Detak jantungnya melonjak hebat, wajahnya memucat lalu berubah memerah. Ia melihat mantan suaminya itu berdiri di depannya dengan lengan kanan berlumuran darah, terlihat lemah namun tatapannya tetap menusuk hingga ke dasar hatinya.
Namun sebagai seorang dokter, Kinasih berusaha menguasai dirinya sekuat tenaga. Ia mengenyahkan segala gejolak perasaannya, lalu melangkah mendekat dengan sikap profesional yang tegas dan sigap.
Tanpa bicara sepatah kata pun, ia langsung membersihkan luka itu, menekan bagian yang berdarah, menyuntikkan obat bius, lalu menjahit dan membalut luka di lengan Kenan dengan gerakan yang cekatan dan terampil, seolah sedang menangani pasien biasa, bukan laki-laki yang pernah menghancurkan dan mengisi seluruh hidupnya.
Selama proses itu berlangsung, Kenan hanya diam membisu. Matanya tak pernah lepas dari wajah Kinasih, menatapnya lekat-lekat seolah ingin menghafal kembali setiap lekuk wajah yang sangat ia rindukan, lalu pandangannya beralih ke perut besar itu, tempat di mana darah daging mereka tumbuh dan berkembang.
Di samping mereka, Rizky yang juga mengenali Kinasih berdiri terpaku, matanya melotot tak percaya, mulutnya terbuka namun tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya bisa menatap bolak-balik antara bosnya dan dokter itu, menyadari bahwa inilah wanita yang selama ini dicari-cari Kenan.
Setelah luka itu selesai dirawat dan dibalut rapi, Kenan tak bisa lagi menahan dirinya. Dengan suara lirih dan bergetar penuh rindu, ia akhirnya membuka suara.
“Kinasih… ini benar-benar kamu?”
Tangannya terulur perlahan, ingin menyentuh wajah Kinasih, lalu bergerak turun perlahan menuju perut besar itu, ingin merasakan keberadaan anak mereka. Namun begitu jari-jarinya hampir menyentuh, Kinasih langsung mundur tergesa dengan jarak yang cukup jauh, wajahnya terlihat tegang dan dingin, matanya berusaha menghindari tatapan Kenan.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, ia langsung membalikkan badan, memanggil perawat yang lewat dan berkata dengan nada datar dan profesional:
“Pasien ini sudah selesai ditangani, silakan dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Saya ada pasien lain yang harus ditangani segera.”
Setelah berkata demikian, Kinasih langsung melangkah pergi menjauh dengan langkah cepat, tak menoleh sedikit pun, meninggalkan Kenan yang terdiam terpaku, hatinya terasa tercabik melihat sikap dingin itu, namun sekaligus merasa sangat lega karena akhirnya ia berhasil menemukan wanita dan anaknya yang selama ini hilang dari pandangannya.
Setelah selesai dirawat, Kenan dan Rizky langsung bergegas pergi dari ruang UGD. Kenan menolak tegas saat perawat menyarankannya untuk dirawat inap, ia tak ingin berlama-lama di tempat itu, takut justru mengganggu Kinasih atau membuat wanita itu makin menjauh darinya.
Ia melangkah keluar dengan langkah yang terasa berat, wajahnya terlihat muram dan sedih yang tak bisa disembunyikan, meski berusaha keras terlihat biasa saja di depan Rizky. Begitu masuk ke dalam mobil, Kenan menunduk dalam, menatap luka yang sudah dibalut di lengannya, namun pikirannya hanya tertuju pada sosok Kinasih dan perut besar yang baru saja dilihatnya.