Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.
Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.
Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.
Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.
Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.
Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Pertemuan Senyap di Sektor Anggrek
Garis-garis sirkuit energi biru di dinding-dinding besi *The Sky Leviathan* telah sepenuhnya meredup. Sesuai perintah Kapten Alden, kapal induk raksasa itu kini bergerak dalam mode senyap total, meluncur bagaikan hantu raksasa di balik tebalnya sabuk awan pelapis kedua. Hawa dingin dari utara perlahan-lahan tergantikan oleh kelembaban udara selatan yang hangat, menandakan bahwa mereka telah memasuki wilayah udara pinggiran ibu kota bawah.
Dari jendela ruang kemudi, kerlip lampu kota metropol Kekaisaran mulai terlihat samar di kejauhan. Namun, alih-alih menuju kemegahan dermaga militer pusat, haluan kapal berbelok perlahan menuju kawasan Sektor Anggrek Barat, sebuah wilayah pelabuhan logistik tua yang dikelilingi oleh hutan pohon anggrek raksasa terapung yang jarang dilalui oleh patroli rutin garda utama.
"Kapten, kita telah mencapai titik koordinat yang diberikan oleh Mayor Cakra," lapor Wakil Komandan dengan suara berbisik, seolah takut suaranya akan menembus dinding kapal dan terdeteksi oleh radar musuh. "Sebuah sekoci taktis berlogo militer cadangan terpantau sedang menunggu di dermaga usang nomor empat."
Alden mengangguk tegap. Ia kembali mengenakan jubah perang hitam militernya, lengkap dengan pedang pusaka *The Zephyr Blade* yang tergantung di pinggang kiri. "Bernet, tetap siaga di kursi kemudi utama. Jika dalam waktu satu jam aku tidak memberikan kode konfirmasi, segera terbangkan *The Sky Leviathan* keluar dari wilayah udara ibu kota dan amankan Clara serta anak-anak."
"Siap, Kapten. Semoga dewi langit melindungi Anda," jawab Bernet dengan hormat mendalam.
Clara melangkah maju, merapikan kerah jubah Alden dengan tangan kirinya yang tidak sakit. Mata jernihnya menatap langsung sepasang mata abu-abu badai milik suaminya. "Aku dan Hana akan ikut turun bersama tim cadangan. Aku tidak akan membiarkanmu berjalan masuk ke dalam potensi jebakan sendirian, Alden."
Alden sempat terdiam sejenak, namun melihat ketegasan yang tidak terbantahkan di wajah istrinya, ia akhirnya menghembus napas menyerah. "Baik, tapi tetap berada di belakang barisan pengawal pengintai. Hana, jaga area belakang Nyonya Clara."
"Serahkan padaku, Kapten," jawab Hana sembari memeriksa kesiapan belati sihir di balik manset lengannya.
Pintu pendaratan darurat di bagian bawah lambung kapal terbuka tanpa suara. Alden, Clara, Hana, dan empat prajurit elite bergerak cepat menuruni tangga tali sihir, menapakkan kaki di atas lantai kayu dermaga tua yang telah berlumut.
Bau harum khas bunga anggrek malam yang mekar di sekitar pelabuhan terapung itu terasa menenangkan, namun atmosfer sunyi di sekitar tempat itu justru memicu kewaspadaan tingkat tinggi.
Dari kegelapan bayang-bayang kontainer logistik yang usang, sesosok pria tegap dengan seragam militer berkerah tinggi melangkah keluar dengan perlahan. Kedua tangannya diangkat terbuka untuk menunjukkan bahwa ia tidak memegang senjata.
Begitu cahaya lampu minyak usang dermaga menerpa wajahnya, terlihatlah guratan wajah tegas namun lelah milik Mayor Cakranegara.
"Kau selalu tepat waktu, Kapten Alden," ujar Mayor Cakra dengan senyuman tipis penuh kelegaan.
"Dan kau selalu memilih tempat pertemuan yang paling buruk, Cakra," balas Alden, melangkah maju untuk menjabat erat tangan sahabat karibnya tersebut. Ketegangan di antara kedua perwira tinggi itu seketika mencair, digantikan oleh rasa saling percaya yang telah ditempa di ratusan medan pertempuran.
Cakra beralih menatap Clara dan Hana, lalu membungkuk hormat dengan sopan. "Nyonya Clara, sebuah kehormatan bisa bertemu langsung dengan wanita yang berhasil mengacaukan rencana pengepungan *Sekte The Obsidian Dawn* di utara. Kabar tentang keberanian Anda menembus gua es telah menjadi buah bibir rahasia di kalangan intelijen kami."
"Terima kasih, Mayor Cakra. Tapi saat ini, keselamatan armada dan nama baik suamiku jauh lebih penting. Bagaimana situasi sebenarnya di dewan menteri?" tanya Clara langsung pada inti permasalahan.
Wajah Cakra mendadak kembali mengeras, dipenuhi gurat kecemasan yang mendalam. Ia memberi isyarat agar mereka semua berpindah ke dalam kabin sekoci keamanannya yang lebih tertutup.
"Situasinya jauh lebih buruk dari yang kita bayangkan," buka Cakra setelah pintu sekoci terkunci rapat. "Menteri Pertahanan Luar, **Marsekal Vane**, telah menandatangani surat perintah eksekusi mati untukmu, Alden. Mereka menuduhmu melakukan pembelotan karena membawa kapal induk kelas berat kekaisaran keluar dari teritori tanpa izin tertulis dari dewan tinggi."
"Tikus-tikus itu tahu betul bahwa anak-anakku sedang sekarat akibat kutukan yang mereka tanam sendiri!" desis Alden, aura membunuhnya perlahan mulai menguar, membuat udara di dalam kabin sekoci terasa berat.
"Mereka memang sengaja memicu keberangkatanmu, Kapten Alden," timpal Hana, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Dengan begitu, mereka punya alasan hukum yang sah di mata publik untuk melucuti jabatanmu sebagai Kapten Langit dan mengambil alih kendali penuh atas The Sky Leviathan."
Cakra mengangguk membenarkan perkataan Hana. "Tepat sekali. The Sky Leviathan adalah satu-satunya kapal induk yang memiliki sistem inti energi purba yang tidak bisa dikendalikan oleh sihir hitam sekte. Selama kapal itu berada di bawah komandomu, faksi sekte di dalam pemerintahan tidak akan pernah bisa menguasai wilayah udara ibu kota secara mutlak."
Clara terdiam sejenak, otaknya yang cerdas menganalisis konstelasi politik yang sedang terjadi. "Jika mereka menginginkan kapal ini melalui jalur hukum dewan, itu berarti mereka harus membacakan dakwaan tersebut secara terbuka di hadapan Kaisar Tertinggi pada sidang agung besok lusa, bukan?"
Cakra menatap Clara dengan pandangan kagum. "Benar, Nyonya Clara. Sidang agung dua tahunan akan dilaksanakan besok malam. Masalahnya, mereka berencana untuk menangkap Alden di tengah jalan sebelum ia sempat menginjakkan kaki di ruang sidang, lalu mengumumkan bahwa sang Kapten tewas karena mencoba melawan."
"Kalau begitu, kita tidak akan memberikan mereka kesempatan untuk mencegat kita di tengah jalan," ujar Clara, sepasang mata jernihnya berkilat dengan rencana strategis yang brilian. Ia menoleh ke arah suaminya. "Alden, kita akan melakukan infiltrasi langsung ke dalam ruang sidang agung. Kita akan membawa bukti fisik sisa kutukan hitam dari utara, dan membersihkan namamu langsung di hadapan Kaisar Tertinggi sebelum Marsekal Vane sempat membacakan surat tuntutannya."
Alden menatap istrinya, sebuah senyuman bangga terukir di wajah tegapnya. Strategi Clara sangat berisiko, namun itu adalah satu-satunya cara untuk membalikkan keadaan secara total dan menghancurkan faksi sekte hitam hingga ke akar-akarnya.
"Cakra, apakah kau bisa menyelundupkan kami masuk ke dalam zona dalam istana melalui jalur logistik Sektor Anggrek?" tanya Alden tegas.
Mayor Cakra menegakkan tubuhnya, memberikan penghormatan militer terbaiknya kepada sang Kapten Langit. "Untukmu dan demi masa depan Kekaisaran, Alden... jangankan jalur logistik, aku akan membukakan gerbang utama istana dengan tanganku sendiri."
Perang politik di jantung ibu kota bawah kini telah resmi dimulai, dan keluarga sang Kapten siap merebut kembali takhta keadilan mereka.