NovelToon NovelToon
Veto Sang Ketua BEM

Veto Sang Ketua BEM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kara

​"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
​Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
​Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
​Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Napas Panjang di Atas Kertas Folio

Gerimis di pelataran fakultas terasa seperti jarum-jarum es yang menusuk kulit, tapi Lyana nyaris tidak merasakannya. Matanya masih terpaku pada kertas HVS putih yang tertancap di mading utama. Di sebelahnya, Rumi mematung. Bahu tegap laki-laki itu turun, seolah seluruh udara di dalam paru-parunya baru saja dikuras habis.

Gema langkah kaki Satria sudah lama menghilang ditelan hujan, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara mereka.

"Lyan," panggil Rumi. Suaranya serak, nyaris tenggelam oleh suara rintik hujan yang menghantam atap kanopi. Laki-laki itu menunduk, mengusap wajahnya dengan kasar hingga rambutnya berantakan. "Aku... aku bener-bener minta maaf. Aku nggak mikir panjang."

Lyana memejamkan mata. Kepalanya berdenyut hebat. Ketakutan akan beasiswanya yang dicabut kembali merayap, mengancam untuk mencekiknya. Namun, saat ia membuka mata dan melihat wajah Rumi yang pucat pasi di bawah cahaya lampu jalan yang redup, kemarahan yang tadi sempat memercik perlahan padam. Ini bukan saatnya untuk saling menyalahkan. Panik tidak akan menyelamatkan saldo kas mereka. Panik tidak akan menyelamatkan masa depannya.

Tiba-tiba, Lyana melangkah maju. Tangannya bergerak cepat mencabut push pin merah itu dan menarik surat panggilan sidang beserta lampiran fotonya dari mading. Ia melipat kertas itu menjadi dua dan memasukkannya ke dalam saku celana.

"Mas," ucap Lyana, nadanya berubah datar, kembali pada mode seorang Bendahara Umum yang siap berperang. "Uang yang kamu kasih ke anak-anak mural tadi siang, kamu tarik dari ATM mana?"

Rumi mendongak, tampak bingung dengan perubahan sikap Lyana yang tiba-tiba pragmatis. "ATM bank depan kampus. Kenapa?"

"Jam berapa?"

"Sekitar jam dua siang."

"Punya struk penarikannya?"

Rumi merogoh saku jeans-nya dengan panik, lalu saku jaketnya, sebelum akhirnya menggeleng lemah. "Aku nggak pernah cetak struk kalau ambil uang tunai. Tapi ada mutasi di m-banking."

"Bagus." Lyana berbalik, mulai berjalan setengah berlari kembali menuju lorong kampus yang gelap. "Kita ke sekre sekarang. Nggak ada waktu buat nyesel di bawah hujan. Sidangnya jam delapan pagi, dan kita punya satu buku besar, dua kotak brankas kas, dan puluhan kuitansi yang harus direkap ulang malam ini juga."

Rumi tertegun sejenak, menatap punggung Lyana yang makin menjauh, sebelum akhirnya berlari menyusul gadis itu.

Pukul satu dini hari, Sekretariat BEM beraroma kertas apek, debu, dan kopi instan yang diseduh terlalu kental. Suara pendingin ruangan yang sesekali berderik menjadi satu-satunya latar suara yang menemani mereka.

Di atas meja kayu di tengah ruangan, tumpukan map, ordner biru, dan kuitansi berserakan. Lyana duduk bersila di atas karpet tipis, memangku kalkulator besar. Jari-jarinya menari cepat di atas tombol-tombol angka, mencocokkan setiap nominal di kertas dengan catatan di buku besar. Di sebelahnya, kotak uang tunai dari besi berwarna merah terbuka lebar, menampilkan tumpukan uang pecahan lima puluh dan seratus ribu yang baru saja ia hitung dua kali.

Rumi duduk di kursi, menatap layar laptop Lyana. Ia sedang mencoba memilah file laporan bank sesuai instruksi gadis itu, meski matanya sudah merah karena mengantuk dan frustrasi.

"Uang kas tunai sisa lima juta delapan ratus ribu rupiah. Sesuai sama catatan pengeluaran terakhir buat konsumsi rapat minggu lalu," lapor Lyana. Ia menghela napas panjang, mencoret sebuah baris di buku catatannya dengan stabilo kuning. "Rekening bank juga udah aku cek. Nggak ada mutasi keluar selain bayar DP vendor tenda kemarin. Secara finansial, laporan kita bersih, Mas. Nggak ada satu rupiah pun uang BEM yang keluar buat proyek muralmu."

Rumi menyandarkan punggungnya ke kursi, memijat pangkal hidungnya yang pegal. "Tapi Satria nggak butuh laporan kita bocor, Lyan. Dia cuma butuh narasi. Foto amplop BEM itu udah cukup buat dia menggiring opini di depan Dekan kalau aku menyalahgunakan wewenang dan fasilitas organisasi."

"Makanya kita harus serang balik pakai data," Lyana meletakkan bolpoinnya, lalu mendongak menatap Rumi. "Kamu screenshot mutasi rekening pribadimu yang jam dua siang tadi. Kita cetak. Terus, kamu ingat rincian barang yang dibeli anak-anak mural pakai uang itu?"

Rumi mengangguk pelan. "Cat, kuas, sama sewa scaffolding. Nota pembeliannya ada di pemuda gimbal yang tadi, namanya Bimo."

"Telepon Bimo besok pagi-pagi banget. Suruh dia fotoin notanya, kirim ke kamu. Kita jejerin jam penarikan uang dari rekening pribadimu, jam pembelian alat mural, sama saldo kas BEM yang utuh." Lyana menatap mata Rumi lekat-lekat. "Kita bikin Satria kelihatan kayak orang bodoh yang cuma bisa menyimpulkan sesuatu dari selembar amplop bekas."

Rumi menatap Lyana tanpa berkedip. Di bawah cahaya neon yang pucat, wajah Lyana terlihat lelah. Rambutnya diikat asal-asalan, dan ada sedikit noda tinta di pipi kirinya. Namun, di mata Rumi, perempuan yang sedang duduk di kelilingi lautan kertas ini terlihat jauh lebih tangguh daripada siapa pun yang pernah ia kenal.

"Lyan..." panggil Rumi lirih. Ia beringsut dari kursinya, ikut duduk bersila di atas karpet, berhadapan dengan Lyana. Meja kayu pendek menjadi pemisah di antara mereka. "Kamu nggak takut?"

Lyana menghentikan gerakannya yang sedang merapikan kuitansi. Tangannya tertahan di udara sejenak sebelum turun perlahan.

"Bohong kalau aku bilang nggak takut, Mas," Lyana tersenyum pahit. Ia menatap tumpukan kertas di depannya, seolah kertas-kertas itu adalah perisai terakhirnya. "Beasiswaku itu nyawaku di kampus ini. Kalau Satria berhasil ngeyakinin Senat buat ngeluarin rekomendasi sanksi, ibuku di kampung pasti hancur. Beliau jualan gorengan dari subuh sampai malam cuma buat bayar kos dan makanku di sini."

Rumi menelan ludah. Rasa bersalah kembali meremas dadanya, kali ini jauh lebih kuat. Karena kecerobohan bodohnya yang asal memakai amplop, ia menyeret nyawa orang lain ke tepi jurang.

"Maaf," bisik Rumi parau. Ia menunduk, tak berani menatap mata Lyana. "Aku terlalu egois. Aku terlalu sibuk mikirin gimana caranya berontak, sampai aku lupa ada orang-orang di sekitarku yang nggak punya hak istimewa buat berbuat salah. Kalau besok sidang memburuk, aku yang bakal maju. Aku bakal ngundurin diri. Asal namamu nggak ikut terseret."

"Jangan konyol," potong Lyana cepat.

Rumi mengangkat wajahnya, terkejut mendengar nada tegas gadis itu.

Lyana mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya yang kelelahan kini menyipit, memancarkan api perlawanan yang membuat Rumi terpaku. "Kamu pikir kalau kamu mundur, Satria bakal puas? Dia bakal makin semena-mena. Dan aku nggak sudi laporan keuanganku yang udah aku kerjain sampai tipus, dianggap cacat cuma karena selembar amplop."

Tangan Lyana bergerak melintasi meja, lalu mendarat di atas punggung tangan Rumi yang terkepal. Sentuhan itu ringan, tapi efeknya menjalar cepat ke seluruh saraf Rumi, menghantarkan kehangatan yang asing.

"Kita kerjain ini bareng, kita hadepin bareng," ucap Lyana, suaranya melembut, menyisakan kejujuran yang telanjang di antara mereka. "Aku bendaharamu, Mas. Tugasku memastikan kamu nggak hancur karena hitungan yang salah. Jadi, jangan berani-berani mikir buat mundur."

Rumi memandangi tangan Lyana yang menutupi tangannya. Udara di dalam sekretariat mendadak terasa lebih hangat. Segala kecemasan, rasa bersalah, dan ketakutan yang sejak tadi menggerogoti pikirannya perlahan mereda, digantikan oleh dorongan aneh untuk melindungi perempuan di hadapannya ini, apa pun taruhannya.

Rumi membalikkan telapak tangannya, balas menggenggam jemari Lyana. Kasar dan kapalan bertemu dengan kulit yang dingin.

"Nggak akan," janji Rumi pelan, matanya mengunci tatapan Lyana. "Besok, kita bikin mereka nyesel udah ngajak kita main-main."

Pukul setengah delapan pagi, langit Solo masih mendung, menyisakan hawa dingin yang menusuk. Di depan cermin kamar mandi fakultas yang retak di bagian ujungnya, Lyana membasuh wajahnya dengan air dingin. Ia menepuk-nepuk pipinya, berusaha mengusir sisa kantuk yang menggelayut di kelopak mata.

Ia membenarkan kerah kemeja putihnya, merapikan ikatan rambutnya agar kembali kencang dan rapi. Di luar, Rumi sudah menunggu sambil menyandarkan punggung ke dinding koridor. Laki-laki itu memakai kemeja hitam yang lengannya digulung sebatas siku, membawa tas ransel berisi amunisi mereka semalam.

"Udah siap?" tanya Rumi saat Lyana keluar dari kamar mandi.

Lyana mengangguk mantap. Ia mengambil alih ordner biru tebal dari tangan Rumi dan memeluknya di depan dada. "Ayo."

Mereka berjalan beriringan menyusuri lorong panjang menuju Ruang Sidang Senat di lantai tiga gedung rektorat. Mahasiswa yang berpapasan dengan mereka melirik dengan tatapan berbisik. Berita tentang panggilan sidang darurat itu rupanya sudah menyebar cepat dari grup ke grup.

Sesampainya di depan pintu kayu jati berukir yang tertutup rapat, Rumi menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Lyana. Tidak ada kata yang terucap, tapi dari tatapan itu, Lyana tahu mereka sedang menguatkan satu sama lain.

Rumi mendorong pintu ganda itu hingga terbuka lebar.

Ruangan ber-AC itu terasa sangat dingin. Meja panjang berbentuk tapal kuda sudah terisi penuh. Di ujung meja pimpinan, Satria duduk bersandar santai sambil memutar-mutar bolpoin di sela jarinya. Di sebelah kanannya, duduk Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dengan wajah keras dan lipatan kening yang dalam. Anggota Senat lainnya duduk berjajar, menatap Rumi dan Lyana seolah mereka adalah pesakitan yang sudah pasti bersalah.

"Ah, tepat waktu," sambut Satria dengan senyum culasnya. Ia mengetukkan palu kayu kecil ke atas meja satu kali. Tok. "Silakan duduk, Saudara Presiden dan Bendahara. Kita tidak perlu basa-basi. Kita langsung ke agenda utama."

Rumi menarik kursi untuk Lyana, membiarkan gadis itu duduk lebih dulu, sebelum ia sendiri duduk di sebelahnya.

"Berdasarkan temuan bukti visual yang kami dapatkan kemarin sore," Satria menekan tombol mikrofonnya, suaranya menggema ke seluruh penjuru ruangan. "Ada indikasi kuat bahwa Saudara Arshaka Rumi telah menggunakan dana taktis BEM untuk kepentingan pribadi di luar program kerja. Bukti amplop BEM yang Anda gunakan untuk transaksi liar sudah ada di meja Bapak Wakil Dekan."

Wakil Dekan berdeham berat, menatap Rumi dari balik kacamata bacanya. "Rumi, tindakan menggunakan fasilitas dan nama organisasi untuk pendanaan yang tidak terdaftar adalah pelanggaran serius. Sanksinya bisa sampai pencopotan jabatan dan skorsing akademis. Apa pembelaanmu?"

Ruangan itu hening. Beberapa anggota Senat tersenyum meremehkan. Satria menatap Rumi seolah kemenangannya sudah berada di dalam genggaman.

Rumi tidak langsung menjawab. Ia justru menoleh ke arah Lyana dan memberikan anggukan pelan.

Lyana menarik napas dalam-dalam. Ia meletakkan ordner biru tebal di tangannya ke atas meja, lalu membukanya dengan satu gerakan halus yang presisi. Jari-jarinya menelusuri batas indeks berwarna merah, menarik tumpukan kertas print-out dan buku kas fisik BEM, lalu menyorongkannya ke tengah meja.

Tatapan dingin Lyana kini menusuk lurus ke arah Satria. Gadis itu menekan tombol mikrofon di depannya.

"Silakan periksa saldo kas BEM per pagi ini, Bapak Wakil Dekan, dan Ketua Senat yang terhormat," ucap Lyana lantang, suaranya membelah keheningan ruangan tanpa getar sedikit pun. "Karena saya bisa menjamin, tidak ada satu sen pun uang organisasi yang hilang."

Pertarungan baru saja dimulai.

1
Lilik Juhariah
mulai baca
Emi Sudiarni
kren kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!