NovelToon NovelToon
KAISAR 100.000 DUNIA

KAISAR 100.000 DUNIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tawaki

Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Arena Seratus Langkah

Fajar hari keenam mentari muali menyinari Kota Qingyun dengan cahaya keemasan yang tajam. Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh ribuan remaja di seluruh wilayah:

Ujian Masuk Akademi Langit Biru Cabang Qingyun.

Akademi Langit Biru bukan sekadar sekolah bela diri biasa. Itu adalah institusi elit yang didukung langsung oleh Kerajaan Tengah. Lulus dari akademi ini berarti jaminan posisi sebagai pejabat militer, alkemis kerajaan, atau bahkan masuk ke sekte kultivasi tingkat atas. Bagi keluarga seperti Klan Lin, memiliki anggota yang diterima di akademi adalah tiket untuk naik kelas sosial secara drastis.

Arena ujian terletak di pusat kota, sebuah amphitheater batu raksasa yang mampu menampung sepuluh ribu penonton. Sejak pagi buta, tempat itu sudah dipenuhi oleh kerumunan warga, pedagang, dan tentu saja, para tetua dari berbagai klan besar yang datang untuk menilai calon-calon terbaik.

Lin Fan berdiri di barisan peserta ujian, mengenakan jubah putih sederhana yang telah dicuci bersih. Di sekitarnya, ratusan remaja lainnya tampak gugup. Ada yang berdoa kepada dewa-dewa lokal, ada yang melakukan pemanasan berlebihan hingga berkeringat dingin, dan ada yang sibuk pamer kekuatan kecil pada teman-temannya untuk membangun citra.

Lin Fan tetap diam. Matanya setengah tertutup, mempertahankan keadaan Kehampaan Jiwa sebagian. Ia tidak melihat orang-orang di sekitarnya sebagai rival, melainkan sebagai kumpulan data: postur tubuh, tingkat ketegangan otot, dan aliran Qi yang bocor dari meridian mereka yang belum stabil.

"Perhatian Semuanya!" suara keras bergema dari panggung utama.

Seorang pria paruh baya dengan jubah biru tua bersulam awan perak melangkah ke depan. Dia adalah Elder Mo, penguji utama dari Akademi Langit Biru. Auranya berat, menekan dada setiap peserta hingga sulit bernapas. Ini adalah tes pertama: ketahanan mental terhadap tekanan aura seorang ahli.

Banyak peserta muda langsung berlutut, wajah mereka pucat karena ketakutan instingtif. Beberapa bahkan muntah karena tidak bisa menahan tekanan spiritual Elder Mo.

Lin Fan tidak berkedip. Tekanan itu bagaikan angin sepoi-sepoi bagi jiwanya yang telah berlatih menghadapi badai kehampaan. Ia berdiri tegak, napasnya tetap teratur.

Elder Mo menyapu pandangan matanya yang tajam ke arah kerumunan peserta. Matanya berhenti sejenak pada Lin Fan, lalu pada beberapa peserta lain yang masih berdiri, termasuk Lin Hao yang berada di barisan depan dengan senyum sombong, dan seorang pemuda bertubuh tinggi dari Klan Zhao bernama Zhang Wei.

"Boleh juga, ternyata ada 3 orang anak yang Tahan Aura ku" gumam Elder Mo pelan, meski hanya ia sendiri yang mendengarnya.

Ia mengangkat tangan, dan tekanan aura itu hilang seketika. Para peserta yang jatuh segera bangkit, lega namun malu.

"Selamat datang di Ujian Akademi," kata Elder Mo, suaranya menggema tanpa perlu berteriak.

"Tahun ini, kami memiliki kuota penerimaan yang sangat ketat. Hanya 50 orang dari 500 peserta yang akan lolos. Ujian terdiri dari tiga tahap.

Tahap pertama: Tes Fisik – Lari Seratus Langkah "

Kerumunan penonton bergumam penasaran. Lari Seratus Langkah? Itu terdengar mudah.

Elder Mo tersenyum tipis. "Jangan tertipu oleh namanya. Jalur lari sepanjang seratus meter ini telah disiram dengan Cairan Penghambat Qi. Cairan ini akan membuat meridian kalian terasa berat seperti timah. Selain itu, di sepanjang jalur terdapat rintangan fisik: ayunan palu, lubang jebakan, dan dinding geser. Kalian harus menyelesaikannya dalam waktu kurang dari satu menit untuk lulus. Waktu tercepat akan mendapatkan poin bonus."

Para peserta saling pandang dengan cemas. Menghilangkan efek penghambat Qi membutuhkan teknik sirkulasi khusus yang tidak semua orang kuasai dengan baik. Ditambah rintangan fisik, ini adalah tes kecepatan, kekuatan, dan kontrol energi sekaligus.

"Kelompok pertama, maju!" perintah asisten penguji.

Lin Hao ada di kelompok pertama. Ia melangkah maju dengan percaya diri, menatap Lin Fan sekilas dengan tatapan meremehkan sebelum berlari menuju garis start.

Saat aba-aba dimulai, Lin Hao melesat seperti anak panah. Tubuhnya bersinar dengan cahaya Qi emas, menunjukkan bahwa ia menggunakan teknik akselerasi tingkat menengah. Ia menghindari ayunan palu dengan lompatan anggun, menerobos dinding geser dengan bahu yang diperkuat Qi, dan menyelesaikan lintasan dalam waktu 48 detik.

Sorakan meriah pecah dari pendukung Klan Lin.

"Bagus! Tuan Muda Hao selalu yang terbaik!"

"Itu rekor tahun lalu!"

Lin Hao kembali ke barisan, dadanya naik turun sedikit, tapi wajahnya puas. Ia menatap Lin Fan, seolah berkata: Coba kau kalahkan itu.

Kelompok-kelompok berikutnya berlalu. Sebagian besar gagal mencapai batas satu menit. Beberapa terjebak di lubang jebakan, yang lain terseret oleh beratnya meridian mereka sendiri. Zhang Wei dari Klan Zhao mencetak waktu 46 detik, sedikit lebih cepat dari Lin Hao, memicu sorakan dari kubu lawan.

Akhirnya, giliran Lin Fan tiba. Ia berada di kelompok terakhir, bersama dengan sisa peserta yang dianggap "kandidat lemah".

Ketika nama "Lin Fan" dipanggil, bisik-bisik sinis terdengar di tribun penonton.

"Itu si Sampah Lin, kan?"

"Apa dia tidak malu ikut ujian? Dia pasti akan terjebak di langkah pertama."

"Kata orang dia baru saja sembuh dari sakit parah. Mungkin dia lari sambil batuk darah."

Lin Fan mengabaikan semuanya. Ia berjalan tenang menuju garis start. Ia tidak melakukan pemanasan dramatis. Ia tidak mengumpulkan Qi dengan teriakan keras. Ia hanya berdiri, mengatur napasnya, dan memasuki keadaan Kehampaan.

Dalam keadaan hampa, ia merasakan Cairan Penghambat Qi di udaranya. Rasanya lengket, berat, mencoba menembus pori-pori kulit dan membebani aliran darahnya. Bagi orang lain, ini adalah racun yang harus dilawan dengan kekuatan Qi murni.

Tapi bagi Lin Fan, ini hanyalah variabel fisika.

Bzzzt!

Bunyi peluit terdengar.

Peserta lain di kelompoknya melesat, namun gerakan mereka terlihat berat dan tersendat-sendat karena efek cairan. Mereka berjuang melawan berat tubuh mereka sendiri.

Lin Fan tidak berlari. Ia... meluncur.

Menggunakan Langkah Awan Hening, kakinya hampir tidak menyentuh tanah. Ia tidak mencoba melawan berat meridiannya. Sebaliknya, ia membiarkan berat itu menjadi momentum. Dengan presisi mutlak dari persepsinya, ia mengetahui persis kapan ayunan palu akan datang, di mana letak lubang jebakan, dan celah sempit di dinding geser.

Ia bergerak seperti air yang mengalir melalui celah-celah batu. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Tidak ada energi yang terbuang untuk perlawanan sia-sia terhadap cairan penghambat. Ia justru menggunakan aliran Qi internalnya untuk menciptakan lapisan licin di sekitar kulitnya, mengurangi gesekan dengan udara dan tanah.

Penonton di tribun awalnya diam, bingung melihat gerakan Lin Fan yang aneh. Ia tidak terlihat cepat seperti kilat, tapi ia juga tidak lambat. Ia terlihat... efisien. Sangat efisien.

Lin Hao menyipitkan mata, rasa tidak enak mulai muncul di perutnya. Kenapa dia tidak terlihat kelelahan?

Zhang Wei juga memperhatikan, alisnya berkerut. Gerakannya... tidak alami. Seperti robot yang diprogram sempurna.

Lin Fan mendekati garis finish. Di depannya, terdapat rintangan terakhir: sebuah tembok tinggi yang harus didaki. Peserta lain biasanya melompat dan memanjat dengan susah payah karena tangan mereka licin dan berat.

Lin Fan tidak melompat. Ia berlari lurus ke arah tembok, dan tepat sebelum menabraknya, ia menginjak dinding vertikal itu dua kali—sekali di kaki kiri, sekali di kanan—menggunakan gaya tolak minimal untuk mengubah vektor geraknya ke atas, lalu berputar di udara dan mendarat dengan ringan di sisi lain.

Teknik Wall Run tingkat dasar, tapi dieksekusi dengan presisi dewa.

Ia melewati garis finish.

Asisten penguji menekan tombol stopwatch, matanya membelalak saat melihat angka di layar.

39 Detik.

Hening.

Seluruh arena menjadi sunyi senyap selama tiga detik penuh. Bahkan Elder Mo, yang duduk di singgasananya, membungkuk ke depan, matanya terbuka lebar.

39 detik. Itu bukan hanya lulus. Itu memecahkan rekor akademi selama sepuluh tahun terakhir. Rekor sebelumnya adalah 42 detik, yang dipegang oleh seorang jenius yang sekarang sudah menjadi Jenderal di ibukota.

"Salah... pasti ada kesalahan alat!" teriak seseorang dari tribun Klan Lin, mencoba menertawakan hasil itu.

Tapi asisten penguji menggeleng, wajahnya pucat karena kagum. "Alatnya berfungsi normal. Lin Fan... 39 detik."

Elder Mo berdiri perlahan. Ia menatap Lin Fan yang sedang berdiri tenang di garis finish, napasnya bahkan tidak terengah-engah.

"Lin Fan," panggil Elder Mo, suaranya bergema di seluruh arena yang kini mulai ramai dengan desahan takjub. "Maju ke depan."

Lin Fan melangkah maju, wajahnya tetap datar, kosong dari kebanggaan maupun ketakutan.

"Teknik apa yang kau gunakan?" tanya Elder Mo, matanya meneliti tubuh remaja itu seolah ingin membedahnya. "Kau tidak menggunakan Qi eksternal untuk mempercepat lari. Kau bahkan sepertinya mengabaikan efek cairan penghambat."

Lin Fan menatap Elder Mo. Untuk sesaat, ia mempertimbangkan untuk berbohong. Tapi ia tahu Elder Mo adalah ahli sejati. Kebohongan akan terdeteksi.

"Saya tidak melawan arus, Guru," jawab Lin Fan dengan suara tenang. "Saya hanya belajar mengalir bersamanya."

Jawaban itu terdengar filosofis, hampir mistis. Beberapa tetua klan di tribun saling berpandangan, bingung. Tapi Elder Mo tersenyum. Senyuman yang jarang ia tunjukkan.

"Mengalir..." gumam Elder Mo. "Sederhana, namun sulit dikuasai. Kau lulus Tes Fisik dengan nilai Sempurna. Poin bonus maksimal diberikan."

Sorakan kini meledak, tapi kali ini bukan ejekan. Itu adalah sorakan kekaguman, keheranan, dan bagi sebagian orang, kecemburuan.

Lin Hao menggigit bibirnya hingga berdarah. Tangannya gemetar memegang pedangnya. 39 detik? Mustahil! Dia curang! Dia pasti menggunakan artefak terlarang!

Zhang Wei menatap Lin Fan dengan minat baru. Dia bukan sampah. Dia adalah predator yang bersembunyi.

Lin Fan kembali ke barisannya, mengabaikan tatapan-tatapan yang membakar punggungnya. Ia telah menyelesaikan tahap pertama dengan sempurna. Tapi ia tahu, ini baru permulaan.

Tahap kedua: Tes Teori.

Dan di situlah Lin Fan berencana untuk menghancurkan reputasi intelektual para jenius klan yang selama ini menganggapnya bodoh.

Elder Mo mengumumkan, "Persiapkan diri kalian untuk Tahap Kedua. Ambil tempat di ruang ujian tertulis. Dan ingat... kecurangan akan dihukum dengan pengusiran permanen dari kota."

Lin Fan tersenyum tipis dalam hati. Kecurangan? Aku tidak butuh itu. Aku punya ingatan dari kehidupan yang mencakup seluruh pengetahuan dunia ini.

Permainan baru saja menjadi serius.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!