Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.
Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.
Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?
Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
"Tch! Wanita sialan! Masih untung aku mau menikah denganmu!" geram seorang pria berperawakan tambun dengan usia tak muda lagi. Pria itu menendang berkali-kali perut seorang wanita yang sudah tak berdaya terbaring di lantai rumahnya sendiri.
Aruna Cheryl Adijaya atau kini berganti nama menjadi Aruna Cheryl Binanggar hanya bisa meringis menahan sakit dengan airmata yang terus saja mengalir diwajahnya yang penuh lebam. Melihat dengan kedua mata redupnya, bagaimana wajah pria yang sudah setahun menjadi suaminya itu berdiri sembari memeluk pinggang wanita lain. Tak ada yang bisa Aruna lakukan selain menatap Carlo Binanggar—suaminya sendiri dengan tatapan sendu. Meski ia di pukul dan disiksa hingga sedemikian rupa, tidak ada satupun pelayan di rumah itu yang akan datang menolongnya. Mereka hanya mampu menundukkan kepala dan akan bersikap tidak terjadi apapun.
Ia pikir setidaknya pernikahan ini akan menyelamatkan dirinya dari rumah itu. Ternyata malah tak jauh berbeda. Jika di kediaman Adijaya kehadirannya seperti duri yang mengganggu, maka dirumah suaminya ia bagaikan benalu yang merusak pemandangan. Tidak dianggap sama sekali dan di perlakukan begitu kejam. Rasanya seperti keluar dari goa singa dan masuk kedalam goa serigala.
"Ke-kenapa?" tanyanya dengan suara pelan juga parau akibat rintihan kesakitan diseluruh tubuhnya.
"Kenapa?" pria itu tertawa sejenak lalu dengan kejamnya menginjak jemari Aruna hingga wanita itu menjerit kesakitan, "karena sejak awal aku tidak pernah mencintaimu. Satu-satunya alasan aku menikah denganmu karena saham perusahaan keluargamu. Jadi, cukup tanda tangani surat pernyataan itu, sialan!" ucapnya lalu berjalan keluar bersama kekasihnya, meninggalkan Aruna tergeletak tak berdaya dengan tubuh penuh luka.
Malam itu Aruna menangis tertahan sembari menahan rasa sakit diseluruh tubuhnya.
Sejak awal pernikahan, pria itu memang sudah mengasarinya dengan alasan Aruna tidak menjadi istri yang baik. Para pelayan di Rumah itu pun hanya bisa diam menyaksikan, mereka tidak berani menolong atau hanya sekedar mengasihaninya karena takut mengalami hal yang sama.
Aruna tak masalah dengan itu, karena yang paling menyakitkan adalah ketika keluarganya tahu tentang keadaannya tapi mereka hanya diam mengabaikan seolah tak ada yang terjadi. Menolak kedatangannya ketika ia pulang kembali untuk meminta pertolongan dengan begitu pilu. Mereka mengirimnya kembali ke rumah itu tanpa mendengarkan apapun darinya. Berkali-kali Aruna memohon dan menangis meminta pertolongan pada keluarga Adijaya, mereka mengabaikannya.
Jika begitu, kenapa mengadopsinya?
Kenapa mengambilnya menjadi bagian dari keluarga mereka lalu mengabaikan dan menyakitinya?
Kenapa?
Kenapa memperlakukannya sekejam ini?
Kalau akan berakhir begini, lebih baik biarkan ia kelaparan di panti asuhannya dulu. Setidaknya disana ia disayang dan dilindungi oleh kepala pantinya. Dapat bermain dengan ceria bersama mereka yang ia anggap sebagai saudara-saudarinya tanpa perlu merasakan sakit seperti ini.
Ah, ia merindukan Ibu panti. Wanita berusia tak muda lagi dengan keriput di seluruh wajah teduhnya, juga rambut putih yang begitu mendominasi. Ibu panti selalu tersenyum hangat dan memeluknya ketika Aruna menangis ketakutan. Mengucapkan kata-kata penenang untuknya.
"Aruna, ibu harap kamu bahagia, nak"
Pesan terakhir sang Ibu Panti saat keluarga Adijaya datang menjemputnya.
Senyum tipis Aruna terbit ketika mengingat ucapan itu.
"Ibu, maaf karena tidak memenuhi harapanmu," ucapnya lirih.
Pandangan Aruna memburam, tubuhnya terasa mendingin dan semakin melemah. Ia sama sekali tak memiliki tenaga karena di kurung di gudang dan dibiarkan kelaparan selama 3 hari serta hanya diberikan segelas air putih saja.
Jika ini akhirnya, ia harap kematiannya tidak semenyakitkan ini.
Ia harap setelah ini semua selesai, setidaknya ia bisa merasakan sedikit saja bahagia.
Tapi meski begitu, ada sebagian di dalam hati kecilnya yang masih ingin hidup. Setelah semua kesialan ini, entah kenapa ia masih berharap untuk tetap hidup.
Jika saja ia punya kesempatan lagi untuk hidup, ia akan menjalani hidup seperti keinginannya. Ia takkan perduli lagi kepada apapun, ia bahkan takkan takut menentang keluarga Adijaya.
Setidaknya biarkan ia bahagia kali ini.
Tuhan..aku mohon.
Aku ingin hidup.
***
Hangat.
Rasanya ia tak ingin bangun dan membuka matanya.
Terasa begitu nyaman juga menenangkan. Sudah lama sekali ia tak pernah merasa seperti ini lagi. Jika ini mimpi, maka biarkan saja ia terus tertidur seperti ini tanpa perlu terbangun lagi. Ia terlalu takut menghadapi realitanya yang begitu kejam dan tidak manusiawi. Namun, bisakah ia terus begini?
'Bangunlah'
Suara siapa itu?
'Bangunlah, nak'
Suara itu terus bergema disekelilingnya hingga anak itu membuka kedua matanya tiba-tiba dengan nafas terengah-engah. Kedua matanya menatap langit-langit kamar yang begitu familiar untuknya.
Bukankah ini kamarnya saat masih tinggal di kediaman Adijaya?
Apa yang terjadi?
Aruna pikir ia sudah mati.
Maka ia langsung bangkit terduduk di atas ranjang besarnya dan melihat sekeliling dengan kening berkerut bingung.
Ini benar kamarnya.
Tapi, bagaimana bisa?
Apakah salah satu anggota keluarga Adijaya datang dan menyelamatkannya?
Tidak mungkin.
Selama setahun mereka mengabaikannya, tidak mungkin salah satu dari mereka tiba-tiba datang dan membawanya pulang. Pikirannya mulai tak beres. Tanpa sadar Aruna terkekeh dan menunduk, kemudian ia menyadari ada yang aneh dengan rambutnya.
Kenapa rambutnya panjang? Seingatnya ia memotong pendek rambutnya beberapa bulan yang lalu karena suatu kejadian.
Loh?
Tunggu! Kenapa tangannya mengecil?!
Aruna semakin kaget melihat kedua tangannya yang mungil seperti anak kecil. Jadi ia melompat turun dari ranjang dan berlari ke arah cermin satu badan di kamarnya. Kedua mata Aruna semakin melotot syok melihat tubuhnya yang kembali mengecil seperti saat ia berusia 8-10 tahun.
Apakah ini mimpi?
Anak itu mencubit pipinya sendiri untuk memastikan dan ia memekik kesakitan pada akhirnya.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku kembali menjadi sekecil ini?" monolognya bingung sembari terus menatap wajahnya sendiri.
"Apa aku kembali ke masa lalu? Tidak mungkin," ucapnya lalu berjalan menuju meja belajarnya di mana terletak kalender kecil di sana.
November 2010.
"2010?!" Aruna memekik kaget tanpa sadar.
Itu berarti saat ia berusia 10 tahun.
Artinya ia kembali ke masa lalunya?
Rasanya seperti membaca cerita-cerita fantasi yang sering ia baca dulu.
Tunggu dulu, jika ia kembali ke saat usianya 10 tahun itu berarti sudah 2 tahun ia menjadi bagian dari keluarga Adijaya. Kedua matanya melihat ke atas meja di mana banyak sekali buku-buku pelajaran yang harus ia pelajari agar mendapat nilai sempurna dan tidak mempermalukan nama Adijaya. Dulu Aruna begitu bersemangat untuk membuat keluarganya senang dan bangga padanya. Bahkan ia sampai begadang bermalam-malam hanya untuk belajar saja.
Aruna rela bangun lebih pagi hanya untuk menyapa sang kepala keluarga juga ketiga saudaranya, tapi sapaannya tak pernah di gubris. Ketika ia menunggu dengan sopan di meja makan untuk sarapan bersama, tak ada satupun dari mereka yang hadir. Lalu saat ia demam tinggi hari itu, tak ada satupun yang datang dan menanyakan keadaannya. Apapun yang Aruna lakukan, eksistensinya tetap di abaikan.
Aruna tersenyum miris mengingat semua kerja kerasnya untuk membuat mereka bangga, untuk setidaknya tersenyum dan mengelus kepalanya lembut. Untuk setidaknya menghargai usahanya, untuk setidaknya layak diberi kasih sayang. Pada akhirnya mereka membuangnya dan membiarkannya mati mengenaskan di tangan seorang pria brengsek.
Tanpa sadar Aruna mengepalkan kedua tangannya dengan rahang yang mengatup marah.
Sekarang ia akan hidup seperti keinginannya. Ia takkan lagi mengemis cinta dan kasih sayang dari mereka.
"Kali ini, bukan kalian yang akan membuangku. Tapi, aku yang akan membuang kalian dari kehidupanku."