Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia—wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.
"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.
"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.
"Nyonya, Tuan tidak mau berceri!" -Ervan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 ~ Jangan Tinggalkan Aku
Darahnya mendidih seketika, telinganya berdenging hebat. Ia tak percaya, Garra rela menunda semua urusan penting perusahaan, hanya demi menjemput wanita yang seharusnya sudah lenyap dari hidupnya?
"Tidak... ini tidak boleh terjadi..." gerutunya pelan, penuh kepahitan. Rahangnya mengeras, matanya menatap pintu tertutup itu dengan tatapan tajam penuh kebencian.
Garra miliknya. Hanya miliknya seorang. Dan kalau Garra masih memihak Hezlin, berarti ia harus menggunakan cara lain, cara yang lebih pasti untuk memisahkan mereka berdua selamanya.
Ia menurunkan tangannya perlahan, menyeringai tipis mengerikan.
Begitu pintu ruangan terbuka dari dalam. Garra baru saja melangkah keluar, dan ia langsung tertegun, Felicia sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Garra..." panggilnya pelan. "Ada yang ingin aku bicarakan."
"Aku tidak punya waktu," jawab Garra singkat, hendak melangkah melewatinya.
"Garra, tapi ini penting!" serunya menahan langkah pria itu.
"Minggir.." ucapnya rendah, namun tegas. Pria itu tetap melanjutkan langkahnya.
"Garra!" teriak Felicia.
Namun Garra tetap tak berhenti, berniat terus berjalan menjauh tanpa menoleh sedikit pun. Melihat itu, hati Felicia semakin meledak diliputi kecemasan sekaligus kemarahan yang membara. Ia tidak rela, tidak akan pernah membiarkan Garra pergi begitu saja demi wanita lain. Ia harus bertindak secepatnya, sebelum pria itu benar-benar menghilang dari pandangannya dan kembali ke pelukan Hezlin.
"Argh... perutku..." rintihnya tiba-tiba lemah, "Sakit sekali..."
Langkah Garra terhenti mendadak. Ia menoleh, menatap wajah Felicia yang tampak meringis kesakitan di lantai.
"Garra... tolong..." suaranya bergetar, "Perutku tiba-tiba terasa sangat sakit..."
Tanpa pikir panjang, Garra langsung berbalik dan berjalan cepat menghampirinya, lalu menopang tubuh wanita itu.
"Felicia, kamu tidak apa-apa?" tanyanya dengan nada khawatir.
Felicia menggeleng lemah. "Garra... perutku sangat sakit," desisnya pelan sambil mencengkeram lengan pria itu erat-erat. "Aku tidak bisa pulang sendirian... tolong antar aku pulang..."
Garra terdiam sejenak, diliputi keraguan yang mendalam. Ia sudah berpesan pada Ervan, bahwa sore ini dialah yang akan menjemput Hezlin sendiri, sekaligus akan mengantar istrinya ke dokter kandungan, untuk memastikan kebenaran dugaan soal kehamilan itu. Namun di saat yang sama, ia tak tega membiarkan wanita di hadapannya ini dalam kondisi tampak begitu lemah.
Belum sempat Garra menjawab, Felicia kembali merengek tertahan, kali ini suaranya terdengar makin lemah.
"Euughh... Garra.. aku tidak tahan lagi, rasanya sangat sakit." rengek Felicia sambil menggigit bibirnya kuat.
Mendengar itu, akhirnya tak lagi sanggup menolak. "Baiklah. Aku akan mengantarmu pulang.."
Dengan keputusan yang diambil dengan berat hati, Garra langsung mengangkat tubuh Felicia ke dalam pelukannya, lalu melangkah cepat menuju lift untuk membawanya turun ke bestmen kantor.
Sesampainya di halaman parkir, Garra segera membuka pintu mobil belakang dengan tangan yang satu lagi, sementara tubuh Felicia masih aman dalam gendongannya. Ia pun perlahan memasukkan wanita itu ke dalam kursi mobil, lalu menutup pintunya rapat.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Garra menatap sejenak ke arah Felicia yang masih meringis kesakitan di kursi belakang, lalu mengangkat ponselnya.
"Ervan," ucapnya tenang namun tegas, "Aku ada kepentingan mendadak. Tolong kamu berangkat segera ke kantor Xabiru untuk menjemput Hezlin. Pastikan dia sampai di rumah dengan selamat, dan jangan biarkan dia pergi ke mana pun."
["Baik, Tuan. Segera saya laksanakan,"] jawab Ervan singkat dari seberang.
Garra menurunkan ponselnya, lalu masuk ke kursi pengemudi, menyalakan mesin, dan melajukan kendaraan itu.
Mobil melaju perlahan meninggalkan halaman kantor, sementara Felicia masih bersandar lemah di kursi belakang, sesekali merintih pelan sambil menyembunyikan senyum tipis di balik lengannya. Rencananya berjalan lancar, Garra kini berada di sisinya, jauh dari Hezlin.
••
••
Di sisi lain, Ervan segera melajukan mobilnya secepat mungkin menuju gedung Xabiru.
Baru saja Hezlin melangkah keluar dari lobi gedung, mobil Ervan berhenti tepat di hadapannya. Ia terdiam sejenak melihat kendaraan itu, ternyata Ervan benar-benar menepati ucapannya.
Pria itu turun, membukakan pintu dengan sopan. "Silahkan, Nyonya.."
Hezlin hanya menatapnya sekilas, lalu masuk ke dalam mobil tanpa mengucapkan satu kata pun.
Begitu memastikan Hezlin sudah duduk dengan nyaman di kursi belakang, Ervan menutup pintu mobil itu perlahan namun rapat. Ia pun segera berjalan mengelilingi kendaraan, menuju kursi kemudi, lalu masuk dan menyalakan mesin. Tak lama kemudian, mobil itu pun melaju pelan meninggalkan area lobi gedung Xabiru.
Sayangnya, semua kejadian itu tak sengaja tertangkap mata Kael yang baru saja melangkah keluar. Ia akhirnya paham sekarang. Janji lain yang Hezlin sebutkan di dalam lift tadi, adalah janji yang dibuatnya dengan Garra. Tangannya mengepal erat di sisi tubuh, dada terasa sesak menahan kecewa, namun suara asistennya menyadarkannya kembali.
"Tuan, silakan... klien sudah menunggu."
Kael menarik napas panjang, melepaskan kepalan tangannya perlahan, lalu berbalik menuju mobilnya sendiri.
Di dalam mobil Hezlin, suasana terasa begitu sunyi dan dingin. Hanya suara deru mesin yang terdengar. Lama Hezlin menatap ke luar jendela, sebelum akhirnya bertanya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Ervan... apa Garra sudah pulang?"
Ervan menatap sekilas lewat kaca spion, suaranya tetap lembut namun tegas. "Belum Nyonya. Beliau masih ada urusan mendadak di luar."
Hezlin menelan ludah pahit. "Jadi... kapan kira-kira beliau pulang?"
"Maaf Nyonya, saya belum bisa memastikan waktunya."
Hezlin kembali terdiam, memeluk tasnya erat seolah itu satu-satunya tempat berlindung. Pikirannya perlahan melayang, jika dugaan Bi Rumi benar, jika dia benar-benar sedang mengandung anak Garra... rasa takut perlahan merayap dingin di hatinya.
Bukan hanya soal kehamilan itu, tapi juga keputusan perceraian yang dia ajukan namun ditolak mentah-mentah oleh Garra. Entah bagaimana nanti nasib anak ini, dan bagaimana pula dia harus menghadapi pria yang tak mau melepaskannya itu. Harapannya perlahan runtuh pelan-pelan. Tak lama kemudian, mobil pun melambat dan berhenti tepat di halaman rumah yang terasa begitu sepi.
Ervan turun lebih dulu dan membukakan pintu untuknya. Hezlin melangkah keluar perlahan, matanya menatap pintu rumah yang tertutup rapat, seolah tak ada satu pun yang menantinya di sana.
"Silahkan Nyonya.. Tuan Garra berpesan anda harus beristirahat," ucap Ervan pelan.
Hezlin hanya mengangguk samar, tak bersuara. Ia melangkah melewati pintu utama, menyusuri lorong tanpa menoleh ke belakang, ia menaiki tangga menuju kamar, tempat yang seharusnya menjadi tempat istirahat, namun kini justru terasa seperti ruang tunggu yang penuh ketidakpastian.
••
••
Sesampainya di apartemen Felicia, Garra langsung membawanya masuk dan membaringkan tubuh wanita itu perlahan di atas tempat tidur. Ia menyelimutinya sebentar, lalu hendak berdiri untuk mengambil minum dan obat.
Belum sempat tubuhnya tegak sepenuhnya, tangan Felicia tiba-tiba mencengkeram lengannya kuat, menariknya dengan sekuat tenaga. Tubuh Garra pun kehilangan keseimbangan, dan jatuh tepat di samping wanita itu.
"Garra..." bisik Felicia dengan suara bergetar, matanya menatap tajam namun penuh bujuk, "Jangan tinggalkan aku..."
•
•
❤️