NovelToon NovelToon
Panggil Aku , Ibu !!!

Panggil Aku , Ibu !!!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Ibu Tiri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Setelah mengantar Aisyah sampai di sekolah dan melepaskan rasa gelisah yang sempat muncul karena bertemu Bima, Samantha melajukan mobilnya menuju alamat yang baru saja dikirimkan Suci lewat pesan singkat. Hari ini ia sudah berencana mengajak sahabatnya itu berkeliling kota, sekadar melepas penat dan mengobrol panjang lebar seperti saat mereka masih remaja dulu.

Selama di perjalanan, pikiran Samantha teringat pada penuturan Suci beberapa hari yang lalu: bahwa ia tidak bekerja sama sekali meski sudah lama lulus kuliah, karena dilarang keras oleh ayah tirinya. Samantha sempat merasa heran, namun ia memilih menunggu sampai bertemu langsung untuk mendengar penjelasan lengkap dari Suci sendiri.

Setelah dua puluh menit berkendara, mobil Samantha sampai di sebuah gang sempit di pinggiran kota. Ia melambatkan laju kendaraannya, mencari nomor rumah yang sesuai dengan alamat yang diberikan. Begitu matanya tertuju pada satu bangunan di ujung gang, langkah kakinya terhenti sejenak.

Rumah itu terlihat sangat tua, temboknya banyak yang retak dan kusam, atapnya pun terlihat sudah lapuk dimakan usia. Halamannya sempit dan tidak terawat, bahkan beberapa bagian dinding terlihat rapuh.

Samantha merasakan perih di hatinya ia masih ingat betul, dulu keluarga Suci adalah keluarga yang cukup mapan dan hidup layak. Rumah mereka dulu luas dan bersih, jauh berbeda dengan pemandangan di hadapannya sekarang.

Apa yang sebenarnya terjadi selama aku pergi ke luar negeri? Mengapa keadaannya bisa berubah sejauh ini? batin Samantha dengan perasaan yang semakin prihatin.

Ia memarkirkan mobilnya dengan hati-hati, lalu turun dan berjalan mendekati pintu kayu yang sudah mulai pudar catnya. Belum sempat ia mengetuk, dari balik pintu itu terdengar suara teriakan keras yang menusuk telinga.

“Kamu ini memang tidak berguna! Apa yang bisa kau lakukan selain membebani hidupku? Makan saja banyak, tapi kerjanya tidak becus!” bentak suara seorang pria yang terdengar kasar dan marah.

Disusul suara isak tangis yang lembut namun terasa menyakitkan, “Maaf… saya berusaha mengerjakannya sebaik mungkin, Pak. Tolong jangan marah…”

Suara itu tidak lain adalah suara Suci. Jantung Samantha seketika berdegup kencang, rasa kesal dan khawatir bercampur menjadi satu. Tanpa ragu lagi, ia segera mengangkat tangannya dan mengetuk pintu itu dengan ketukan yang tegas namun sopan.

Tok… tok… tok!

Suara ketukan itu terdengar jelas di tengah suasana yang panas di dalam rumah. Teriakan dan tangis itu seketika berhenti. Beberapa detik kemudian, pintu itu terbuka perlahan.

Di ambang pintu berdiri seorang pria paruh baya dengan penampilan yang tidak rapi, wajahnya terlihat garang dan matanya melotot tajam ke arah Samantha. Ia menatap wanita di depannya dari atas sampai ke bawah dengan pandangan yang tidak ramah sama sekali.

“Siapa kamu? Mau cari siapa? Berani-beraninya datang ke sini!” bentak pria itu segera, suaranya masih terdengar tinggi dan penuh emosi yang belum reda.

Samantha menahan diri agar tidak terbawa emosi. Ia tetap berdiri tegak dengan sikap sopan namun tegas, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.

“Selamat pagi, Pak. Saya adalah teman Suci. Nama saya Samantha. Saya datang untuk menjumpainya, apakah ia ada di dalam?” jawab Samantha dengan nada tenang dan jelas, meski di dalam hatinya ia sudah sangat ingin masuk dan memastikan keadaan sahabatnya itu.

Mendengar penjelasannya, wajah pria itu justru semakin berubah masam. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada dan melangkah sedikit ke depan seolah ingin mengintimidasi.

“Teman? saya tidak kenal kamu! Pergilah saja, dia tidak punya waktu untuk bertamu. Jangan suka datang ke sini mengganggu urusan rumah tangga orang lain!” sergahnya lagi dengan nada kasar, bahkan mulai melontarkan kata-kata makian yang tidak pantas. “Dasar orang asing tidak tahu diri! Pergi sebelum aku benar-benar marah!”

Di balik tubuh pria itu, terlihat Suci yang muncul dari ruang dalam dengan wajah yang basah oleh air mata, pipinya tampak sedikit memerah dan matanya sembab. Ia terkejut melihat kehadiran Samantha, sekaligus merasa sangat malu dan takut akan reaksi ayah tirinya itu.

Samantha melihat keadaan itu dengan jelas, dan tekadnya semakin kuat untuk tidak pergi begitu saja sebelum memastikan keselamatan dan keadaan sahabatnya itu.

 Begitu melihat Suci mencoba melangkah mendekat, pria itu langsung memutar tubuhnya dan menghalangi jalan gadis itu dengan tangan terentang lebar. Tatapannya semakin mengancam, seolah melarang Suci untuk bergerak sedikit pun ke arah pintu.

“Diam kau di situ! Tidak usah keluar dan bicara apa-apa dengan orang asing ini!” bentaknya lagi, suaranya bergema memenuhi ruangan sempit itu.

Samantha tidak mundur sedikit pun. Matanya yang tadinya lembut kini berubah tajam, menatap lurus ke mata pria itu tanpa rasa takut. Suaranya terdengar tegas dan penuh peringatan, tidak lagi sehalus sebelumnya.

“Dengar baik-baik, Pak. Saya tidak akan pergi sebelum melihat keadaan sahabat saya dengan jelas. Kalau Bapak masih bersikap kasar, menghalangi kami berbicara, atau berani menyakiti dia lagi, saya tidak akan segan-segan melaporkan perbuatan Bapak ke kantor polisi. Ini bukan cara yang benar untuk memperlakukan seseorang, apalagi wanita!” ancam Samantha dengan nada yang mantap, membuat pria itu tertegun sejenak karena terkejut melihat ketegasan wanita di hadapannya.

Saat suasana menjadi tegang, suara lembut namun bergetar terdengar dari balik tubuh pria itu. Suci menatap Samantha dengan pandangan yang penuh kesedihan, rasa malu, dan keputusasaan yang mendalam.

“Samantha… tolong jangan membuat keributan. Lebih baik kamu pergi saja dulu, nanti kita bicara di tempat lain,” pinta Suci lirih.

Namun Samantha menggeleng perlahan, matanya menyelidiki keadaan di dalam rumah. Sesaat ia merasa ada yang janggal pria ini tidak terlihat sama sekali seperti ayah kandung Suci yang ia kenal sejak kecil. Ayah Suci dulu adalah pria yang ramah, sopan, dan sangat menyayangi keluarganya. Pria di hadapannya ini memiliki wajah, sikap, dan cara bicara yang sangat berbeda.

Dengan rasa penasaran sekaligus khawatir, Samantha bertanya lantang agar didengar oleh Suci, sambil tetap menatap waspada ke arah pria itu.

“Suci, sebenarnya apa yang terjadi? Di mana Ayahmu? Mengapa ada pria asing yang bersikap seperti ini di rumahmu dan berani berbuat kasar padamu serta ibumu?” tanya Samantha dengan nada bingung, belum menyadari bahwa itu adalah ayah tirinya.

Mendengar pertanyaan itu, air mata Suci kembali menetes deras. Ia hanya bisa menatap Samantha dengan pandangan sendu, seolah ingin menceritakan semuanya namun takut akan reaksi pria yang menghalanginya itu. Ia menggeleng pelan, lalu mencoba mendesak pelan dari samping untuk melewati penghalang itu.

Setelah berhasil melangkah keluar sedikit, Suci segera menarik lengan Samantha dengan lembut namun tergesa, berusaha membawanya menjauh dari depan pintu.

“Dia bukan Ayah kandungku, Sam… dia suami baru Ibuku, ayah tiriku. Nanti aku jelaskan semuanya, tapi tolong sekarang ikut aku pergi saja dari sini. Aku tidak ingin keadaan menjadi semakin buruk,” bisik Suci dengan suara tertekan.

Ia menoleh sekilas ke arah pria itu dan berkata dengan nada pasrah, “Biarkan kami pergi sebentar saja. Saya akan kembali lagi nanti, jangan khawatir.”

Pria itu masih menatap keduanya dengan wajah masam dan curiga, namun karena merasa tertekan dengan ancaman Samantha tadi, akhirnya ia hanya mendengus kasar dan mundur sedikit sambil menggeram, “Cepat kembali! Jangan lama-lama di luar sana!”

Begitu mendapat kesempatan, Suci segera menarik Samantha berjalan cepat menjauh dari rumah itu, menuju tempat yang agak lapang dan jauh dari jangkauan pendengaran pria tersebut. Baru setelah merasa aman dan cukup jauh, Suci berhenti, memegang bahu Samantha sambil terisak, siap menceritakan segala kenyataan pahit yang ia alami selama ini.

Bersambung...

1
Anna Setyo
semangat up thor yg banyak👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!