seorang wanita yang mencintai sahabat kecilnya, dia merelakan cinta pertamanya bersama dengan wanita pilihannya. dalam diamnya dia harus memendam perasaan yang teramat menyiksa, tapi cinta yang teramat besar dengan sahabatnya menjadikan dia harus mengorbankan semuanya untuk laki laki yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kekesalan.
Ke esokkan harinya Neta bersiap akan berangkat kerja, baju atasan yang berwarna merah maron dan bawahan yang berwarna senada membuat Neta semakin terlihat segar .
Neta bersenandung menyanyikan lagu milik reisa_kali kedua, biar demi bait neta nyanyikan. Sampai akhirnya kini dia sampai di basemen apartemennya, pandangan mata Neta terbelalak sempurna melihat ban mobilnya yang terlihat kempes di bagian belakang.
"ya tuhan... Bagaimana bisa aku lupa kalau ban mobil belakang belum aku ganti "
Neta menepuk dahinya, dia menyesali kecerobohannya kali ini.
"aku harus segera pesan taksi."
lirih Neta segera menggambil ponselnya di dalam tas miliknya.
Tapi Neta berubah pikiran setelah teringat jika di depan apartemennya jika jam segini pasti banyak taksi yang akan lewat, Neta segera berlari kecil menuju ke arah lift, dia akan segera turun ke lantai dasar.
hari ini adalah hari terapes mungkin bagi Neta, beberapa taksi yang lewat selalu dia lihat pasti ada penumpangnya. Helaan nafas panjang Neta hembuskan berulang kali, dia tahu jika dia tidak secepatnya mendapatkan taksi pasti dia akan terlambat sampai di perusahaan.
Tin... Tin...
Bunyi klakson mobil menggagetkan Neta yang berdiri sambil memainkan ponselnya, Neta mengangkat kepalanya melihat mobil yang berhenti tepat di depannya.
"hei Neta, mau ke kantor bareng nggak...?"
Tawar seorang laki laki yang tak lain adalah Eric.
Seketika senyum Neta mengembang sempurna melihat Eric di dalam mobil, anggukan cepat Neta berikan ke arah Eric. Tanpa basa basi dan banyak bicara Neta segera masuk ke dalam mobil Eric, sedangkan Eric yang melihat antusias Neta hanya tersenyum melihat wanita cantik yang kini sudah ada tepat di samping kursi penumpang.
"untung ada kamu ric, thank's ya... Kamu sudah jadi dewa penolongku hari ini "
Neta menatap Eric dengan binar kebahagiaan, melihat Neta tersenyum senang entah kenapa jantung Eric menjadi berdegup kencang.
"huuuuhhh...."
Eric menormalkan detak jantungnya dengan menghembuskan nafasnya, dia berharap kali ini dia tidak akan Tremor saat bersama dengan wanita cantik di sampingnya.
"kita jalan sekarang...?"
Ucap Eric sambil menginjak pedal gas perlahan, Neta membetulkan rambutnya yang tampak berantakan karena terpaan angin saat mencari taksi di depan apartemen.
"kamu sudah sehat ta...?"
Tanya Eric mengisi obrolan.
"hmm... Sudah, kamu bisa lihat sendiri kan..?"
Neta kembali tersenyum manis menatap Eric, melihat senyuman yang Neta berikan membuat jantung Eric kembali berdetak dengan cepat.
"hmm... Iya, dan terlihat sangat cantik."
Gumam Eric yang di dengar Neta samar tapi tidak jelas.
"apa ric...?"
Tanya Neta ingin Eric mengulangi ucapannya.
"oh enggak, sepertinya kita harus cepat. Aku harap kita tidak terlambat sampai di perusahaan."
Eric segera menekan pedal gas, dia mempercepat laju mobilnya agar segera sampai.
Beruntung jalanan hari ini tidak begitu macet seperti hari hari biasa, jadi mereka hanya menempuh perjalanan selama sepuluh menit agar sampai di perusahaan.
"akhirnya sampai, makasih ya ric atas tumpangannya."
Tangan Neta terulur akan membuka pintu mobil, belum juga Neta membukanya ucapan Eric menghentikan gerakkan Neta.
"nanti kita pulang bareng aja, aku anterin kamu sampai apartemenmu. boleh....?"
Neta menoleh menatap ke arah Eric.
"oke... Kalau tidak merepotkan."
Neta segera membuka pintu mobil, dia turun dengan perlahan dari mobil Eric.
Melihat Neta keluar dari mobil, Eric segera menyusul Neta keluar dari mobilnya. Kini Neta dan Eric berjalan beriringan menuju ke ruang kerja mereka, Neta yang naik menuju ke lantai sepuluh harus berpisah dengan Eric setelah Eric sampai di lantai tempat dia kerja.
langkah ringan Neta terlihat ringan menuju ke meja kerjanya, meja yang tampak rapi dan terlihat bersih menyambut kedatangan Neta.
"hai meja kerjaku, apa kabar kamu selama beberapa hari ini...?"
Batin Neta sambil mengelus meja kerjanya.
Neta menghidupkan layar monitor di depannya, sebelum memulai semua pekerjaannya.
langkah kaki seseorang terdengar sangat ringan, sepatu pantofel yang beradu dengan lantai membuat atensi Neta teralihkan.
"Neta... kamu berangkat...?"
Tanya James melihat Neta yang melihatnya, senyum manis Neta perlihatkan di depan James.
"hmm... Aku tidak akan membiarkan kamu bekerja sendiri, aku tahu pasti kamu sangat membutuhkan ke hadiran ku bukan...?"
tanpa sadar James mengangukan kepalanya cepat, dia memang sangat membutuhkan Neta di perusahaan untuk menghandle semua pekerjaannya seperti biasa.
"hmm... Semangat pak James, hari ini kita tidak ada waktu bermalas malasan. "
Tangan Neta terkepal dia angkat seperti layaknya sedang mengangkat barbel, James juga memberikan gerakkan yang serupa ke arah Neta.
Hari ini James seakan mendapatkan semangat melihat kedatangan Neta, dengan penuh kegembiraan James masuk kedalam ruang kerjanya.
menit berganti menit, dan jam pun berganti jam. Tibalah waktunya istirahat makan siang, Neta yang sedang merapikan semua berkas di depan meja kerjanya gerakkannya terhenti saat melihat Eric yang tiba tiba berdiri di depan meja kerja Neta.
"makan siang bareng yuk...?"
Ajak Eric sambil mengulas senyumnya, Neta menatap Eric dengan wajah cengonya.
"kamu ngajak aku "
Neta menunjuk ke arah dirinya sendiri dengan telunjuknya, Eric mengangguk mantap menjawab pertanyaan Neta.
"bentar ya... Aku kasih tahu James dulu, takutnya dia nyariin aku."
Neta berdiri dengan cepat, dia berjalan ke arah tempat kerja James. Belum juga Neta mengetuk pintu, pintu ruang kerja James terbuka. Tampak james dengan setelan kerja yang terlihat rapi terlihat akan keluar, James menatap ke arah Neta.
"Neta..."
Panggil James terkejut melihat Neta yang tepat ada di depannya.
"kmu mau keluar...?"
James mengangukan kepalanya menjawab pertanyaan Neta.
"oh... Kalau begitu aku ijin mau makan bersama Eric."
mendengar nama Eric entah kenapa James menjadi kesal, seakan Eric adalah saingannya.
"Mau kemana...?"
Tanya James terdengar ketus, Neta mengangkat kedua bahunya, dia tidak tahu akan di ajak kemana Neta nanti.
"hai James, aku mau ajak Neta makansiang keluar. Boleh kan....?"
Eric tiba tiba berjalan dan berdiri di samping Neta, dia menatap James seakan meminta ijin ke James untuk membawa Neta keluar.
"hanya kalian berdua, atau ada yang lain...?"
Tanya James memastikan.
"entahlah, aku tadi juga ajak Amelia dan juga Joni. Tapi entah mereka jadi ikutan apa enggak."
James mengangukan kepalanya, mendengar nama yang Eric sebutkan entah kenapa James menjadi sedikit tenang.
"oke... Kalian boleh pergi, aku juga akan keluar bersama Clara. Mungkin aku agak terlambat balik ke kantor, atau bisa jadi aku akan langsung pulang. Kamu enggak apa apa kan Neta, sendirian aku tinggal."
Suara James terdengar ramah sambil menatap ke arah Neta, sedangkan Neta yang mendengar James akan pergi bersama Clara merasa hatinya sedikit pilu. Seakan dia akan kehilangan sosok orang yang dia sayang, Neta mengangukan kepalanya menjawab pertanyaan James.
"kamu tidak usah kawatir James, dia akan pulang bersama ku seperti tadi waktu berangkat."
Eric merangkul pundak Neta, dia merasa sangat bangga karena bisa membuat Neta datang dan pulang bersamanya.
tanpa James sadari tangannya terkepal erat, dia merasa jika Eric sengaja melakukannya di depan James.
"oh... Ya sudah terserah apa yang akan kalian lakukan."
James segera pergi meninggalkan Neta dan Eric yang menatap kepergiannya.