“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”
Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Ruang Kedap Suara dan Sisa Topeng yang Luruh
Suara selot pintu yang mengunci dengan bunyi klik tajam seolah menjadi ketukan palu vonis di dalam kamar bernuansa klasik Eropa tersebut.
Udara di dalam ruangan seluas puluhan meter persegi itu mendadak mendingin, menyedot habis seluruh sisa oksigen yang susah payah dikumpulkan Alika ke dalam paru-parunya.
Narendra berdiri tegak di dekat daun pintu.
Postur tubuhnya yang tinggi besar melemparkan bayangan panjang yang seolah mengurung Alika di atas ranjang.
Kemeja kerjanya yang mahal kini tampak sedikit kusut di bagian lengan yang digulung hingga sebatas siku, menampilkan urat-urat tangan yang menegang.
Pria itu melangkah maju.
Setiap ketukan langkah sepatunya di atas lantai pualam terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur sisa waktu kebebasan Alika.
"Aku bertanya padamu, Alika," suara bariton Narendra mengalun rendah, memecah keheningan yang mencekik.
Matanya memicing, menatap tajam ke arah wajah istrinya yang basah oleh peluh. "Kenapa napasmu memburu seperti itu? Dan dari mana datangnya semua keringat ini? Kamar ini memiliki pendingin udara yang bekerja sempurna."
Alika meremas ujung selimut sutra di bawah dekapannya, berusaha menyembunyikan kedua tangannya yang kini bergetar hebat.
Rasa sakit akibat radang selaput paru (pleuritis) yang dipicu oleh serangan flare-up kembali menusuk dadanya seakan dihantam sebilah belati berkarat setiap kali ia mengambil napas.
Namun, di hadapan pria yang memenjarakannya ini, Alika tahu ia tidak boleh menumpahkan setetes pun kelemahan.
"Aku... aku hanya sedikit terkejut, Mas," jawab Alika, memaksakan suaranya keluar dengan nada sedatar mungkin, meski getaran samar di ujung kalimatnya tidak dapat sepenuhnya disembunyikan.
"Kamu bilang akan pulang terlambat malam ini karena ada makan malam dengan klien. Aku tidak menyangka kamu akan kembali ke rumah di jam seperti ini."
Narendra tidak langsung merespons.
Ia berjalan mendekati sisi ranjang, pandangannya tidak sedetik pun beralih dari figur Alika. Sepasang mata elang sang CEO memindai sekeliling ruangan dengan ketelitian seorang detektif.
Tatapannya tertuju pada layar televisi raksasa yang masih menyala menampilkan visual tanpa suara, lalu turun ke arah remote control yang tergeletak sedikit miring di atas nakas, seolah baru saja dilemparkan dengan terburu-buru.
Narendra meraih remote tersebut. Jemarinya yang kokoh memutar-mutar benda hitam itu sebelum matanya kembali mengunci wajah Alika.
"Membatalkan pertemuan dengan klien demi memastikan istriku tidak bertingkah aneh di belakangku bukanlah kerugian besar bagi Artha Group," ucap Narendra dengan nada yang sarat akan arogansi mutlak.
Ia melemparkan kembali remote itu ke atas kasur dengan bunyi debukan pelan. "Dan melihat reaksimu saat aku membuka pintu tadi... sepertinya keputusanku untuk pulang lebih awal adalah hal yang sangat tepat."
Narendra mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan satu tangannya di atas tiang ranjang kayu mahoni, memaksa Alika untuk mendongak menatapnya.
Jarak mereka begitu dekat hingga Alika bisa mencium aroma parfum maskulin Narendra yang tajam, berbaur dengan bau besi dari rasa takutnya sendiri.
"Ada apa dengan televisi itu? Sejak kapan kamu tertarik dengan acara memasak, bahkan sampai menontonnya dalam keadaan mute?" tanya Narendra penuh selidik.
Nada suaranya merendah, menuntut jawaban jujur yang mustahil bisa Alika berikan.
Alika merasakan tenggorokannya kering kerontang, seolah dilapisi pasir.
Di dalam benaknya, ia terus merapalkan doa agar riwayat pencarian pada web browser di televisi itu benar-benar telah terhapus sempurna.
Jika Narendra mengetahui bahwa ia baru saja mengirimkan pesan darurat kepada dr. Raditya, tamatlah riwayatnya. Pria ini tidak akan segan-segan menghancurkan apa pun, termasuk sisa-sisa hidupnya yang berharga.
"Kepalaku... kepalaku sangat pusing, Mas," dusta Alika, menyandarkan punggungnya yang kaku pada bantal besar di belakangnya.
"Rasi bintang di luar sangat silau, dan suara dari televisi membuat denyut di keningku semakin parah. Aku hanya butuh visual yang bergerak agar tidak merasa terlalu sepi di kamar ini. Jika kamu tidak suka, aku bisa mematikannya."
Narendra terdiam sejenak, matanya menyipit seolah sedang menakar kadar kebohongan dari setiap untai kata yang keluar dari bibir Alika.
Namun, alih-alih membahas televisi itu lebih lanjut, perhatian Narendra mendadak teralih pada garis wajah istrinya.
Di bawah pencahayaan lampu kamar yang terang, riasan tebal yang diaplikasikan Alika pagi tadi mulai tampak retak di beberapa bagian akibat keringat dingin yang terus mengucur.
Lapisan foundation berdaya tutup tinggi itu tidak lagi mampu menyembunyikan dengan sempurna semburat warna merah pekat yang membentuk pola sayap kupu-kupu di kedua pipi dan melintasi batang hidung Alika.
Narendra mengulurkan tangannya.
Jari telunjuknya yang dingin menyentuh dagu Alika, memaksa wanita itu untuk tetap diam saat ibu jarinya bergerak perlahan naik, mengusap tulang pipi Alika dengan penekanan yang cukup kuat.
"Aw..." Alika tidak dapat menahan ringisan kecil yang lolos dari belahan bibirnya.
Sentuhan seringan apa pun pada kulit wajahnya saat terjadi flare-up terasa seperti sundutan besi panas yang membakar jaringan sarafnya.
Narendra menarik kembali tangannya. Di ujung ibu jarinya, kini menempel lapisan krim kosmetik berwarna beige yang tebal.
Dan di pipi Alika, tempat di mana riasan itu terhapus oleh usapan Narendra, kini terpapar kulit yang melepuh kemerahan, tampak kontras dan mengerikan.
"Kosmetik apa yang kamu pakai pagi ini, Alika?" suara Narendra meninggi, dipenuhi oleh rasa tidak suka yang amat sangat.
"Lihat wajahmu. Merah dan kasar seperti ini. Apakah ini caramu merawat diri sebagai istri seorang CEO? Memakai produk murahan hingga kulitmu mengalami alergi parah?"
Alika memalingkan wajahnya ke arah lain, membiarkan rambut hitamnya—yang sebenarnya disokong oleh hairpiece agar tidak terlihat pitak—jatuh menutupi pipinya yang terluka.
Di dalam hatinya, sebuah tawa getir bergaung.
Alergi? Produk murahan? Betapa ironisnya pria ini. Narendra lebih memilih memaki kualitas kosmetiknya daripada mengakui bahwa wanita yang dinikahinya sedang sekarat akibat sistem imun yang mengamuk karena ulahnya sendiri.
"Aku hanya salah menggunakan produk baru, Mas. Nanti juga akan hilang sendiri jika dibersihkan," sahut Alika dengan suara yang kian melemah.
Rasa ngilu di persendian tangannya kini mulai merambat naik menuju bahu, membuat tubuhnya terasa luar biasa berat.
Narendra berdiri kembali dengan tegak, mengusap sisa kosmetik di jarinya menggunakan saputangan sutra yang ia ambil dari saku celana. "Besok aku akan meminta dr. Hendrawan membawa dokter spesialis kulit saat dia datang untuk mengambil sampel darahmu. Aku tidak ingin menghadiri pertemuan tahunan minggu depan dengan membawa istri yang berwajah cacat seperti ini. Kamu paham, Alika?"
Kalimat itu bagai hantaman ombak yang memecahkan sisa-sisa ketabahan di hati Alika. Tidak ada rasa khawatir, tidak ada pertanyaan apakah bagian itu terasa sakit.
Di mata Narendra, dirinya hanyalah sebuah aset, sebuah pajangan berharga yang harus tampil sempurna di depan kolega bisnisnya.
"Aku paham, Mas," ucap Alika lirih, menutup matanya rapat-rapat demi menghalau air mata yang nyaris mendesak keluar.
Bertahanlah, Alika. Pesan itu sudah terkirim.
Raditya pasti akan membaca pesanmu, bisik hatinya berulang kali, mencoba mencari pegangan di tengah badai keputusasaan.
Narendra menatap figur istrinya yang memejamkan mata dengan rahang yang mengeras. Entah mengapa, ada secercah perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba berdesir di relung dada pria itu saat melihat betapa rapuhnya Alika saat ini.
Namun, egonya yang setinggi langit segera menepis perasaan asing tersebut. Pria itu berbalik membelakangi ranjang dan berjalan menuju pintu interkom.
"Rasti, bawa makan siang Nyonya ke atas sekarang juga," perintah Narendra dingin melalui alat komunikasi tersebut sebelum mematikan sambungannya.
Ia kemudian berbalik kembali menghadap Alika, menatap wanita itu dengan tatapan penuh kuasa. "Aku akan berada di ruang kerja bawah sampai sore ini. Habiskan makananmu, minum vitaminmu, dan jangan coba-coba melakukan hal bodoh yang bisa merusak reputasiku."
Tanpa menunggu jawaban dari Alika, Narendra melangkah lebar keluar dari kamar, meninggalkan keheningan yang kembali merayap di setiap sudut ruangan steril tersebut.
Begitu pintu tertutup, Alika membuka matanya.
Ia memandangi langit-langit kamar dengan pandangan yang kian mengabur. Tubuhnya terasa semakin panas, dan detak jantungnya berdentum kencang di dalam rongga dadanya yang sesak.
Di dalam kesunyian kamar yang megah namun tak ubahnya seperti sangkar besi itu, Alika menyadari satu hal: waktu yang dimilikinya tidak banyak lagi.
Hidupnya kini sepenuhnya bergantung pada sebaris pesan elektronik yang mengapung di dunia maya, menanti sang penyelamat datang sebelum tubuhnya benar-benar hancur dari dalam.