NovelToon NovelToon
BOBON PENDEKAR TERKUAT

BOBON PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

Di Desa Angin Tenang, Bobon hanya dikenal sebagai bocah gendut yang pelupa, suka makan, dan dianggap kurang cerdas. Tak ada yang tahu bahwa di dalam tubuhnya tersimpan segel kuno yang menahan kekuatan terhebat di seluruh Benua Tengah.

Saat penagih pajak kejam melukai Nenek Sumi yang merawatnya, Bobon hanya menepuk seperti mengusir lalat. Satu pukulan itu menghancurkan pedang pendekar ahli dan melemparkan musuhnya hingga puluhan meter jauhnya. Namun sesaat kemudian ia kembali bingung, dan malah menangis sedih karena tahu kesayangannya tertutup debu.

Kini kekuatan dahsyatnya terbongkar, dan ancaman gelap mulai bergerak mendekat. Bobon tak peduli jadi pahlawan atau penguasa dunia persilatan. Ia hanya ingin melindungi neneknya dan memastikan mangkuk makannya tak pernah kosong. Siapa pun yang berani mengganggu dua hal itu, harus berhadapan dengan kekuatan yang tak bisa dibayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 - Keputusan sang Tetua Luar

Kepulan debu dari runtuhan batu granit pos pengawasan perlahan melayang di udara kedai yang sempit, menciptakan pendar abu-abu yang suram di bawah sengatan sinar matahari siang yang terik. Pemilik kedai sudah lama memilih untuk tiarap di balik tungku pemanggangan yang panas, memeluk kepalanya erat-erat dengan tubuh yang menggigil hebat sembari tanpa henti merapalkan doa keselamatan kepada leluhur. Di tengah kekacauan kecil yang menegangkan itu, Bobon masih berdiri tegak dengan kokoh di atas kedua kaki gempalnya. Kedua tangan gempalnya memeluk baskom kayu kosong kesayangannya erat-erat ke dada bulatnya, sementara bibirnya sengaja dimajukan beberapa senti ke depan, pertanda yang sangat jelas bahwa suasana hati sang bocah gendut saat ini sedang berada di titik terburuk.

Tetua Jian berdiri memaku di tempatnya seolah-olah seluruh tubuhnya telah diikat oleh jaring energi tak kasat mata. Kaki tuanya yang semula berdiri sekokoh akar pohon pinus di puncak gunung kini mendadak terasa lemas dan kehilangan daya bertumpu. Sepasang matanya yang tajam tidak lagi memancarkan keangkuhan ataupun wibawa seorang pendekar tingkat lima yang disegani di wilayah perbatasan, melainkan telah dipenuhi oleh riak horor dan ketakutan yang sangat mendalam.

Sebagai seorang Tetua Luar dari Sekte Pedang Ganda yang telah menghabiskan puluhan tahun berurusan dengan berbagai konflik berdarah di wilayah perbatasan barat, dia tahu persis kapan harus menuntut kehormatan sekte dan kapan harus menundukkan kepala demi menyelamatkan nyawa. Getaran murni tak berwarna yang baru saja meretakkan tiang granit kokoh posnya sama sekali bukan berasal dari manipulasi Kara bumi ataupun elemen alam lainnya. Itu adalah jenis tekanan fisik murni yang terlalu destruktif, sebuah manifestasi kekuatan mutlak yang melampaui seluruh batas logika persilatan tingkat lima miliknya. Fenomena aneh tanpa warna seperti ini hanya pernah dia baca sekilas di dalam gulungan kulit rahasia kuno milik sekte, yang menceritakan tentang keberadaan para penguasa legendaris dari tingkat atas yang sudah lama menghilang dari muka bumi.

Waja Lin yang sejak tadi mengamati perubahan raut wajah sang tetua segera menangkap peluang bisnis di tengah ketegangan ini. Sebagai seorang pengelola keuangan tertinggi Klan Waja, dia tahu betul bahwa setiap orang, bahkan seorang pendekar kaku sekalipun, pasti memiliki titik lemah yang bisa dinegosiasikan jika kepentingannya terdesak.

"Tetua Jian," Waja Lin kembali bersuara, memecah keheningan yang mencekam dengan nada suara yang sengaja dibuat lebih lembut namun tetap sarat akan penekanan wibawa yang kuat. "Ganti rugi berupa sepuluh balok besi hitam murni dari Kota Logam yang saya sebutkan tadi tentu saja tetap berlaku sepenuhnya. Dan sebagai bentuk rasa hormat kami atas ketegasan Anda dalam menjaga keamanan di jalur ini, klan kami akan menambahkan lima kantong gandum kualitas terbaik untuk persediaan logistik pos perbatasan ini, dengan syarat kami diizinkan untuk melanjutkan perjalanan sekarang juga tanpa ada penundaan lebih lanjut."

Mendengar tawaran tambahan yang sangat menggiurkan dari Waja Lin, Tetua Jian seperti melihat sebuah tangga turun yang kokoh dari atas tebing harga diri sektenya yang semula terasa sangat curam dan buntu. Mengambil tindakan keras terhadap bocah monster ini hanya akan berujung pada hancurnya seluruh pos penjagaan dan hilangnya nyawa belasan murid luar secara sia-sia. Pria tua itu mendeham dengan sangat keras demi menyembunyikan getaran parau di tenggorokannya, lalu secara perlahan menarik kembali seluruh sisa hawa tajam pedang yang sempat memancar dari tubuh jubah abu-abunya.

"Ehem... Nona Muda Waja Lin dari klan saudagar memang selalu tahu bagaimana cara menyelesaikan setiap urusan wilayah dengan sangat bijak dan saling menguntungkan," kata Tetua Jian, mencoba sekuat tenaga memaksakan suaranya agar tetap terdengar berwibawa dan tenang, meskipun sepasang matanya sesekali masih melirik penuh kewaspadaan ke arah sepasang kaki gempal Bobon yang siap menghentak tanah kapan saja. "Sekte Pedang Ganda tentu saja bukan sekte kaku yang tidak tahu cara menghargai niat baik dari rekan dagang lama. Karena urusan ganti rugi dan kejelasan identitas rombongan Anda sudah beres, kami tentu saja tidak memiliki alasan lagi untuk mempersulit perjalanan dagang resmi Klan Waja."

Bambu Jaya yang sejak tadi menahan napasnya hingga wajah cerdiknya memerah, langsung mengembuskan napas lega yang sangat panjang bagaikan baru saja lolos dari terkaman harimau gunung. Keringat dingin yang membasahi punggungnya perlahan mulai mengering tertiup angin lereng. Dengan gerakan yang sangat lincah, dia segera melangkah maju dan menyenggol pelan lengan gempal Bobon yang masih cemberut.

"Dengar itu, Bobon! Kakek berbaju abu-abu ini ternyata adalah orang yang sangat baik dan murah hati. Beliau sudah memberikan izin penuh bagi kita semua untuk lewat agar bisa mencari kota depan yang punya banyak makanan enak!" bisik Bambu Jaya dengan senyum cerdiknya yang kini telah kembali mengembang dengan sempurna di wajahnya.

Mendengar frasa makanan enak di kota depan, binar polos di sepasang mata bulat Bobon langsung kembali menyala dengan sangat cerah seketika. Seluruh rasa lapar dan kemarahan kekanak-kanakannya yang membara seolah langsung menguap tanpa bekas bagaikan kabut tebal yang diterpa kehangatan matahari pagi. Bocah gempal itu segera menurunkan baskom kayunya dari dada, lalu mengulas sebuah senyuman lebar yang sangat jenaka hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.

"Wah! Kakek baju abu-abu ternyata baik juga ya! Maaf ya Kakek, tadi Bobon kesal karena lapar, jadi tidak sengaja membuat tiang rumah batunya retak sedikit," kata Bobon dengan suara parau khas anak kecilnya yang polos, melambaikan tangan gempalnya yang masih sedikit berminyak bekas lemak domba dengan sangat santai, seolah-olah meretakkan bangunan batu granit raksasa hanyalah sebuah urusan kenakalan sepele di halaman rumah.

Tetua Jian hanya bisa memaksakan sebuah senyuman kecut di wajah tuanya yang keriput. Hati kecilnya menangis perih melihat kerusakan parah pada struktur bangunan pos pengawasannya yang berharga, namun di depan umum, bibirnya harus tetap ditarik tersenyum ramah demi menjaga citra sekte.

"Tidak apa-apa, Adik Kecil... Pergilah melanjutkan perjalananmu dengan sangat hati-hati," jawab Tetua Jian dengan nada yang luar biasa ramah, sesuatu yang belum pernah didengar oleh para muridnya sendiri selama belasan tahun terakhir.

Rombongan kecil itu pun segera berkemas dengan cepat. Waja Lin berjalan mendekati meja kayu, meletakkan beberapa keping perak tambahan di atas permukaan meja sebagai biaya ganti rugi kepada pemilik kedai domba bakar yang masih ketakutan, lalu kembali mengenakan caping bambu lebarnya dengan anggun. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, mereka melangkah kaki meninggalkan area kedai sederhana serta bangunan pos pengawasan yang kini tampak miring dan retak di bagian fondasinya. Mereka berjalan beriringan menyusuri jalur setapak dari susunan batu hitam yang mulai menurun tajam, mengarah langsung menuju dataran rendah yang luas di bagian terdalam wilayah barat.

Saat bayangan rombongan Waja Lin dan Bobon mulai mengecil dan menghilang di balik belokan bukit batu yang gundul, raut wajah Tetua Jian langsung berubah menjadi luar biasa serius dan dingin. Dia berbalik dengan cepat, mengabaikan debu yang masih pekat, lalu melangkah masuk ke dalam sisa ruang dalam pos pengawasan yang masih utuh. Jantungnya masih berdegup kencang saat tangan tuanya meraih selembar kain sutra putih kecil berukuran khusus dan sebuah alat tulis rahasia yang tersembunyi di balik laci batu.

"Ini sama sekali bukan lagi masalah pelanggaran batas wilayah yang biasa," gumam Tetua Jian dengan suara lirih yang sangat tegang, sementara jemari tangannya yang gemetar mulai menggoreskan guratan tinta hitam di atas kain sutra untuk menuliskan laporan darurat. "Sebuah wadah atau mungkin titisan murni dari kekuatan tanpa warna kuno telah resmi muncul dan melintasi wilayah barat. Hubungan dagang dan pergerakan Klan Waja harus segera diawasi dengan tingkat keamanan tertinggi. Kirimkan pesan rahasia ini langsung menggunakan elang emas tercepat menuju Aula Tetua Inti di puncak tertinggi Gunung Dua Bilah!"

Hanya dalam hitungan menit, seekor burung elang pembawa pesan berbulu emas milik sekte melesat terbang tinggi membelah angkasa, membawa kabut berita darurat yang dipastikan akan mengguncang ketenangan jiwa para master pedang tertinggi di seluruh penjuru Gunung Dua Bilah. Namun, jauh di bawah sana, di sepanjang jalan batu hitam yang sepi, Bobon justru berjalan di barisan paling belakang sembari bersenandung kecil dengan riang, melompat-lompat ceroboh sembari membawa baskom kayunya yang tebal. Bocah gempal itu sama sekali tidak tahu, dan memang tidak pernah peduli, bahwa sisa potongan daging domba bakar yang masih tersangkut di sela giginya yang polos baru saja memicu pergerakan rahasia skala besar dari salah satu sekte persilatan terbesar di Benua Tengah. Kesepakatan di atas reruntuhan pos perbatasan itu kini telah resmi membuka babak baru yang jauh lebih berbahaya dalam perjalanan sang Pendekar Dewata yang sedang mencari pemuas perut kosongnya.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Tak kira judulnya Babon, jebule Bobon🗿👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!