Jodoh itu rahasia Allah. Takdir juga Allah yang menentukan. Tidak ada siapapun makhluk di dunia ini yang tau selain Dia.
Alea Widya Laksono (35 tahun) dinyatakan telah sembuh usai tiga tahun menjadi pasien di rumah sakit jiwa. Di usianya yang semakin bertambah, kedua orang tuanya cemas karena jodoh tak kunjung datang untuk putri mereka.
Suatu hari Alea akhirnya pasrah untuk menerima perjodohan yang disodorkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang berasal dari kalangan militer. Lelaki itu bernama Mayor Prabu Rasyid Wicaksono (38 tahun) yang berstatus duda tanpa anak.
Konon kabarnya, pernikahan Mayor Prabu sebelumnya harus kandas karena masalah ranjang. Desas-desus beredar bahwa sang suami yang menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) tersebut menderita impo_ten.
Apakah benar faktanya seperti itu? Benang merah seperti apa yang pada akhirnya mengikat takdir antara Mayor Prabu dengan Alea.
Simak kisah mereka.💋
Bagian dari Novel : Permata Hatiku🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Trauma Masa Lalu Alea
"Se_jak ka_pan Mas Pra_bu di situ?" tanya Alea terbata dengan tatapan polosnya.
Seharusnya ia tak perlu tanya hal itu pada sang suami. Kamar ini adalah kamar mereka berdua, maka Prabu ingin keluar-masuk jam berapapun tentu bebas saja.
"Ya ampun, Alea. Bodoh sekali kamu ini! Kenapa tanya begitu ke Mas Prabu?" batin Alea merutuki dirinya sendiri.
"Ehm, mak_sud a_ku jam berapa Mas Prabu pu_lang?" tanya Alea masih dengan suara terbata.
Gugupnya jelas terbaca oleh Prabu.
"Aku tadi enggak dengar suara kendaraan atau pintu terbuka waktu Mas pulang," lanjutnya.
"Belum ada sepuluh menit yang lalu aku pulang. Mungkin kamu mandi terlalu lama atau keasyikan di dalam jadi gak dengar aku masuk," tukas Prabu dengan nada suara terdengar dingin.
Pembawaan Prabu memang seperti itu. Namun, saat ini sebenarnya ia sedang berusaha sekuat tenaga mengatur nafas serta menekan gai_rah yang muncul secara tak terduga olehnya.
"Maaf, aku tak tau Mas Prabu pulang." Ucap Alea seraya menjatuhkan pandangannya ke arah lantai. Sungguh, ia tak berani menatap wajah Prabu saat ini. Nyali Alea menciut dan merasa malu.
Padahal keduanya adalah pasangan yang sudah sah dan halal. Alea telan_jang sekali pun di depan Prabu maka tak dosa, justru berpahala jika memang Prabu ingin.
"Tak perlu minta maaf," ucap Prabu seraya bangkit dari posisinya saat ini.
Prabu melangkah dengan pasti menuju ke tempat Alea berdiri.
Alea merasakan hal itu. Justru hal itu semakin membuat Alea gugup dan berkeringat dingin.
Sreett...
Prabu menyambar sebuah handuk miliknya yang berada di samping Alea.
"Jangan mandi malam-malam. Gak baik buat kesehatan," tutur Prabu.
"Iya, Mas."
Prabu kemudian melanjutkan langkah untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Alea melirik ke arah pintu kamar mandi yang sudah tertutup sempurna. Ia bernafas lega.
Jujur, Alea masih takut jika bersentuhan lebih in_tim dengan lawan jenis. Namun, hati kecilnya juga merasa cemas karena hingga detik ini Prabu belum meminta hak berhubungan ranjang padanya.
Alea ingin berbakti pada Prabu sebagai istri yang sesungguhnya. Akan tetapi, lagi-lagi Alea menyalahkan dirinya sendiri yang tak sempurna akibat kejadian masa lalunya.
"Apa Mas Prabu tak menyentuhku karena jijik aku bekas korban pemer_kosaan?" batin Alea menduga-duga.
Padahal faktanya, Prabu sendiri juga enggak meminta hak sebagai suami pada Alea di atas ranjang karena khawatir saat penyatuan tubuh akan berujung mengecewakan seperti yang terjadi di pernikahan sebelumnya bersama Kinan. Prabu masih belum percaya diri akan kemampuan megalodonnya sendiri.
Alea akhirnya memutuskan untuk merebahkan dirinya di atas ranjang.
☘️☘️
Di dalam kamar mandi, Prabu begitu terkejut saat membuka seluruh kain yang membalut tubuhnya. Ia mendapati si megalodon dalam kondisi bangun, tegak dan menantang. Bahkan ia merasakan jelas ujungnya cukup basah.
"Baru dua malam menikah dengan Alea. Aku belum ciuman, pelukan hingga lebih, tapi justru sudah dua kali aku harus mencuci celana da_lam ku sendiri karena si baper ini!" keluh Prabu seraya telapak tangannya memukul senjatanya sendiri yang masih tegang tersebut.
Ya, sudah dua kali celana da_lam Prabu basah kuyup karena megalodon mengeluarkan es krim vanilanya. Walaupun tak begitu banyak, tetapi Prabu tetap malu bila Alea harus mencuci celana da_lam tersebut.
Jejak-jejak vanila nya harus Prabu bersihkan sendiri agar tidak diketahui oleh siapapun terutama Alea. Bisa-bisa Prabu bingung nanti meletakkan wajahnya di mana bila Alea sampai tau hal tersebut.
Setelah selesai urusan di kamar mandi, Prabu pun keluar. Ia mendapati Alea sudah dalam kondisi memejamkan kedua matanya di atas ranjang. Ia berpikir Alea sudah tidur.
Prabu memilih duduk di atas ranjang sembari menyandarkan punggungnya. Ia mengambil ponsel, lalu membukanya.
Detik selanjutnya, Prabu membaca beberapa pesan yang masuk ke ponselnya. Ada dari Bunda Citra yang menanyakan kabarnya bersama Alea. Ada juga pesan lain urusan pekerjaan.
Seketika, Prabu teringat dengan secuil kejadian di Senayan tadi saat dirinya bertugas menjaga keamanan di sana dari para demonstran.
Pagi saat datang, ia sudah disambut riuh oleh rekan-rekan sejawat dan bawahannya.
"Selamat ya Ndan, atas pernikahannya."
"Hem,"
"Semoga langgeng, Ndan."
Masih banyak ucapan yang lain diterima oleh Prabu pagi tadi.
Cepat dapat momongan dan sebagainya.
Semua doa baik tersebut, Prabu aminkan. Walaupun ia merasa cinta belum tersemat antara dirinya dengan Alea, tetapi Prabu tak pernah main-main dengan urusan sebuah pernikahan yang sakral.
Saat menjelang sore hari dan suasana cukup kondusif, Prabu istirahat sejenak di tenda khusus satuannya. Seketika ia teringat dengan bekal pemberian dari Alea pagi tadi.
Ia membawanya di sudut yang cukup sepi.
Prabu menatap seksama untuk beberapa saat tas bekal itu. Pagi tadi saat membawanya, ia sama sekali tak memperhatikan secara detail.
Sebuah tas bekal warna hijau army yang di sudut kanan atas terdapat bordiran huruf A & P.
Ia menebak arti huruf tersebut adalah huruf depan dari nama mereka berdua yakni Alea dan Prabu.
Perlahan Prabu membuka tas bekal tersebut. Ia menemukan sebuah kotak bekal warna biru navy, alat makan lengkap serta tisu basah ukuran sachet dan tumbler kecil warna hitam.
Prabu menyentuh tumbler hitam tersebut yang terasa hangat di telapak tangannya.
Prabu penasaran. Lalu, ia membukanya.
Seketika indera penciumannya dipenuhi aroma wangi dari jahe dan sereh serta kayu manis berpadu cengkeh. Sungguh, ia tak menyangka jika Alea bisa membuat minuman tradisional seperti ini.
Prabu pun mencicipinya.
Rasanya begitu harum, enak dan pas di lidahnya karena tidak terlalu manis. Satu hal yang pasti, tenggorokan dan tubuhnya seketika menghangat.
Sedangkan kotak bekal dari Alea berisikan sandwich yang berisi lengkap sayur, telur dan daging. Pencuci mulutnya yakni buah apel dan jeruk.
Prabu menghabiskan seluruh isi bekal dari Alea dengan suasana hati penuh haru dan bahagia.
Tanpa sadar Prabu tersenyum sendiri mengingat kenangan manis perdana dirinya makan bekal buatan istri. Di pernikahan sebelumnya, ia tak punya kenangan seperti itu dari Kinan.
Bip...
Tiba-tiba lampu kamar milik Alea yang dari baterai tadi padam. Kemungkinan baterainya habis daya. Seketika kamar mereka gelap gulita karena listrik juga belum menyala.
"ARGHH !! TOLONG !!" jerit Alea secara tiba-tiba.
Prabu yang berada di samping Alea, otomatis terkejut mendengarnya.
Alea ternyata belum tidur sejak tadi.
Alea takut akan kondisi gelap gulita. Dikarenakan hal itu sering kali mengingatkan atas trauma kejadian pemerko_saan yang dialaminya tujuh tahun yang lalu.
Dalam gelap, Prabu coba menyentuh dan meraih tubuh Alea. Ia berniat untuk membangunkan sang istri. Di benak Prabu, mungkin saja Alea sedang mimpi buruk.
"Alea bangun. Kamu mimpi buruk kah?"
"Jangan sen_tuh! Aku mohon. Hiks...hiks...hiks..."
Seketika Alea menangis dan dari gerak tubuhnya seakan berusaha menghindari sentuhan Prabu.
"Alea, ini aku."
"Jangan per_kosa aku! Dasar penjahat!"
Alea terus berusaha memberontak seakan hendak melepaskan diri dari ceka_lan tangan Prabu. Hal ini semakin membuat Prabu kebingungan.
BUGH !!
Tubuh Alea seketika terjatuh dari ranjang.
"ALEA !!"
Bersambung...
🍁🍁🍁