NovelToon NovelToon
Dari Rival Jadi Ibu Tiri

Dari Rival Jadi Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Nikah Kontrak
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.

Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.

Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.

"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"

Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."

Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12. RASA PENASARAN REBECA

Rebeca memandangi layar ponselnya cukup lama. Jantungnya masih berdebar tak karuan. "Tenang ... jangan sampai kelihatan terlalu antusias," gumamnya pada diri sendiri. Ia menghapus kalimat yang sudah diketik.

Setelah beberapa kali mengubah kata-kata, akhirnya ia memberanikan diri mengirim balasan. "Tentu boleh, Kak. Ini nomor WhatsApp aku. 081333222010. Senang bisa kenal langsung sama Kak Elgar." Pesan itu terkirim.

Rebeca langsung memeluk bantal. "Ya Allah ... aku benar-benar ngasih nomor WhatsApp ke Elgar Jeverson."

Beberapa detik berlalu. Sebuah notifikasi WhatsApp muncul di layar.

Pesan baru dari nomor tak dikenal.

Rebeca buru-buru membukanya.

Foto profil yang muncul membuat napasnya tercekat. "Elgar!" Tangannya langsung gemetar lagi. Dengan jantung yang nyaris melompat keluar, ia membuka ruang obrolan itu.

Pesan pertama yang dikirim Elgar sangat singkat.

Elgar: Halo, Rebeca. Ini Elgar. Nomor kamu sudah aku simpan.

Rebeca mematung. Detik selanjutnya ia menjerit sambil menutup mulut dengan bantal agar tidak terdengar ke seluruh rumah. "Dia nge-chat aku duluan." Matanya berbinar-binar.

Ia membaca pesan WhatsApp itu berkali-kali, seolah takut tulisan tersebut tiba-tiba menghilang. Jarinya bahkan belum sempat membalas pesan pertama Elgar. Pesan dari idolanya itu sudah kembali masuk.

Elgar: Maaf ya, Rebeca. Aku harus lanjut syuting dulu. Nanti kalau sudah selesai, kita lanjut chat-an lagi.

Rebeca sontak menegakkan tubuhnya. "Dia bilang nanti lanjut chat lagi?" Ia terus membaca pesan itu untuk memastikan tidak salah baca. Bibirnya perlahan membentuk senyum lebar.

Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, ia membalas. "Iya, Kak. Semangat syuting ya. Semoga lancar. Nanti kalau sudah selesai, chat aja. Aku tunggu."

Tak lama kemudian, centang dua biru muncul. Beberapa detik setelahnya, Elgar mengirim balasan singkat.

Elgar: Makasih. Sampai nanti.

Rebeca mematung beberapa saat. Lalu ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur sambil memeluk guling erat-erat. "Ya ampun. Hari ini benar-benar hari paling bahagia." Ia menatap langit-langit kamar dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.

Kalau beberapa jam yang lalu ia hanya bersorak karena mendapat izin pergi ke Korea, kini kebahagiaannya berlipat ganda.

Bukan hanya akan bertemu sang ibu, tetapi kemungkinan juga akan bertemu langsung dengan Elgar.

Membayangkan hal itu saja sudah cukup membuat pipinya memerah dan jantungnya kembali berdebar. "Aaaaaaa!" Tubuhnya berguling ke kanan. Lalu ke kiri. Kembali ke kanan.

"Ya Tuhan ... terima kasih." Setelah puas berguling-guling selama beberapa menit, ia tiba-tiba bangkit. "Eh!" Ia merapikan rambutnya. "Aku harus ganti foto profil media sosialku. Takutnya nanti Elgar membuka lagi profilku. Aku harus mengganti dengan foto yang sempurna." Rebeca langsung membuka Instagram. Ia memilih-milih foto hampir sepuluh menit lamanya. "Yang ini terlalu biasa." Ia tak jadi menggunakan foto itu.

Jarinya memilih-milih lagi, "Hmm ... yang ini kurang elegan." Tangannya terus menggulir, dan akhirnya ia menemukan foto selfie dengan riasan tipis, rambut tertata rapi, dan senyum terbaiknya. "Perfect." Foto itu langsung dijadikan foto profil Instagram. Belum puas sampai di situ, ia membuka WhatsApp. "Harus sama." Dalam hitungan detik, foto profil WhatsApp pun ikut diganti dengan foto yang sama.

Rebeca memperhatikan hasilnya sambil mengangguk puas. "Semoga ... Kak Elgar jadi makin tertarik." Pipinya kembali memerah membayangkan kemungkinan Elgar melihat foto profil barunya.

Tak lama kemudian, ia teringat seseorang yang paling ingin mendengar kabar bahagia hari ini. "Mama!" Rebeca segera menekan tombol panggilan video.

Beberapa saat kemudian, wajah wanita cantik berusia paruh baya muncul di layar. "Selamat sore menjelang malam, Sayang."

"Iya, Ma!"

Melihat senyum putrinya yang begitu lebar, wanita itu ikut tersenyum. "Wah ... ceria sekali. Ada kabar baik ya?"

"Ada dong!" Rebeca mengangguk berkali-kali. "Papa akhirnya mengizinkanku ke Korea."

Mata sang ibu langsung berbinar. "Benarkah?"

"Iya, Ma! Minggu depan, pas libur semester, aku bakal ke sana."

"Syukurlah ..." ucap wanita itu haru. "Mama senang sekali akhirnya bisa bertemu kamu lagi."

"Aku juga, Ma." Suara Rebeca mulai bergetar. "Aku kangen banget."

"Mama juga sangat kangen."

Keduanya saling tersenyum dari balik layar.

Rebeca sangat antusias menceritakan tentang agenda liburan yang sudah ia susun. Tempat-tempat yang akan ia kunjungi, dan juga mau beli apa saja.

Di lantai lain rumah megah itu, Robinson baru saja selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sedikit basah. Kimono mandi warna navy membungkus tubuhnya yang kekar dan tinggi.

Perlahan, Robinson masuk ke walk in closet. Memilih baju yang akan ia pakai. Akhirnya, pilihannya jatuh pada kaus putih polos dan celana panjang santai. Tak sampai satu menit, outfit itu sudah melekat di tubuhnya.

Robinson pun berjalan menuju balkon kamar sambil membawa segelas air putih. Malam mulai turun. Ia memandang langit yang mulai dipenuhi cahaya lampu kota.

Namun pikirannya masih tertuju pada percakapannya dengan Rebeca beberapa saat yang lalu. "Anak itu ..." batinnya sambil menggeleng pelan. "Kalau bicara memang sering tidak dipikir dulu."

Ia masih sulit percaya putrinya begitu mudah mengatakan, "Silakan Papa menikah sama perempuan mana pun."

Padahal selama ini, ia mengira Rebeca akan menjadi orang pertama yang menolak rencana tersebut. Setidaknya akan marah atau menangis. Bahkan parahnya, anak semata wayangnya itu akan mengamuk.

Namun yang terjadi justru di luar dugaan. Rebeca hanya mengajukan satu syarat. Pergi ke Korea menemui ibunya.

Robinson mengembuskan napas panjang. "Syukurlah ..." gumamnya lirih. "Setidaknya, satu beban di hatiku sedikit berkurang." Meski begitu, ia tahu kenyataan sesungguhnya belum sepenuhnya terungkap.

Rebeca memang mengizinkannya menikah lagi. Tetapi putrinya belum tahu, siapa perempuan yang akan menjadi istri barunya.

Robinson memijat pelipisnya pelan. "Semoga nanti kamu bisa menerima semuanya, Beca."

Beberapa saat kemudian, ia kembali masuk ke dalam kamar. Robinson meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Pikirannya tiba-tiba beralih kepada Cika.

Ia teringat gadis itu memilih kembali ke rumah sakit untuk menemani Sinta. Tanpa berpikir panjang, Robinson membuka aplikasi pesan dan mencari nama Cika. Sesaat ia menatap kolom chat yang masih sepi. Lalu mulai mengetik. "Cika, kamu masih di rumah sakit atau sudah pulang?" Ia membaca ulang pesannya.

Singkat.

Sederhana.

Setelah merasa tidak ada yang perlu diubah, Robinson menekan tombol kirim.

Pesan itu pun meluncur. Kini ia hanya bisa menunggu balasan.

Robinson masih memandangi layar ponselnya ketika balasan dari Cika akhirnya masuk.

Cika: Masih di rumah sakit, Pak. Baru selesai salat.

Entah mengapa, Robinson merasa sedikit lega. Jarinya kembali bergerak di atas layar. "Kamu mau pulang jam berapa?"

Tak butuh waktu lama, Cika membalas. "Setelah Sinta tidur, Pak."

Kening Robinson berkerut. "Memangnya Sinta biasa tidur jam berapa?"

Cika: Sekitar jam delapan malam, Pak.

Robinson melirik jam digital di atas nakas. Sudah hampir jam tujuh. Kalau Sinta baru tidur pukul delapan, lalu Cika pulang setelahnya, berarti gadis itu baru akan tiba di rumah sekitar pukul sembilan malam. Sendirian lagi.

Entah mengapa, bayangan itu membuat dadanya terasa tidak nyaman. Tanpa sadar, jemarinya kembali mengetik. "Berarti kemungkinan kamu sampai rumah sekitar jam sembilan malam?"

Cika: Iya, Pak.

Robinson menghela napas panjang.

Sebelum sempat berpikir lebih jauh, jarinya sudah lebih dulu bergerak. "Jangan pulang dulu. Saya akan jemput kamu ke sana."

Beberapa detik kemudian, balasan Cika muncul.

Cika: Tidak usah, Pak. Saya bisa pulang sendiri.

Rahang Robinson mengeras tipis. Ia kembali mengetik, kali ini tanpa ragu sedikit pun. "Jangan membantah, Cika. Kamu sekarang tanggung jawab saya. Kamu calon istri saya. Tetap di rumah sakit. Saya ke sana sekarang." Begitu pesan terkirim, Robinson langsung mengunci layar ponselnya. Ia sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Cika untuk menolak lagi.

Dengan langkah cepat, ia mengambil dompet, kunci mobil, lalu meraih jaket hitam yang tergantung di sudut kamar. Jaket itu langsung dikenakannya sambil berjalan keluar kamar.

Langkahnya panjang dan mantap menuruni tangga rumah megah itu.

Seorang asisten rumah tangga yang kebetulan lewat tampak terkejut. "Tuan mau ke mana?"

"Saya mau keluar, ada perlu sebentar," jawab Robinson singkat tanpa menghentikan langkahnya.

Tak lama kemudian, suara mesin mobil mewah mengaum pelan dari garasi.

Robinson melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang mulai dipenuhi lampu malam.

Di sepanjang perjalanan, pikirannya terus tertuju pada Cika.

Gadis itu selalu berkata sanggup melakukan semuanya sendiri. Namun mulai malam ini, Robinson tidak ingin membiarkannya menghadapi apa pun sendirian lagi. Mobilnya melaju semakin cepat menuju rumah sakit.

***

Rebeca melangkah keluar dari kamarnya dengan ringan. Senyum di wajahnya belum juga hilang sejak selesai mengobrol dengan sang ibu.

Sesekali ia bahkan membuka kembali WhatsApp, membaca ulang percakapannya dengan Elgar sambil tersenyum sendiri.

Saat menuruni anak tangga menuju ruang makan, aroma masakan yang menggugah selera langsung menyambutnya. "Mbok ..." panggil Rebeca sembari melarikan pandangan ke sekeliling ruang makan. "Papa ke mana? Tumben belum turun."

Mbok Nining yang sedang menata lauk di atas meja segera menoleh. "Tuan tadi pergi, Non."

"Pergi?" Rebeca tampak heran. "Ke mana?"

Mbok Nining mengangguk. "Mbok tidak tahu, Non. Tapi Tuan kelihatan buru-buru sekali."

Rebeca mengernyit. "Ke kantor?"

Mbok Nining menggeleng pelan.

"Nggak tahu, Non. Tapi tadi Tuan pakai baju santai. Bukan memakai pakaian formal."

Rebeca terdiam beberapa detik. "Nggak biasanya Papa pergi malam-malam," batinnya. Lalu ingatannya terlempar ke pengakuan ayahnya tadi. Tentang niat menikah lagi. Mata Rebeca seketika membulat. "Jangan-jangan ..." gumamnya pelan. Ia spontan menutup mulut sendiri. "Papa nyamperin calon istri barunya?" Kalimat itu meluncur begitu saja. Rasa penasaran langsung muncul tak terbendung. "Siapa ya perempuan yang berhasil membuat Papa jatuh cinta lagi? Aku jadi ingin bertemu."

1
PengGeng EN SifHa
Gkpp cika...seru kok pacaran setelah nikah...malu²in malah...seperti q dulu🤣🤣🤣🤣🤣🤣
PengGeng EN SifHa: sampai sekarangpun masih malu apabila tlf thooor🫣🫣🫣 pdhl udah 17thn lo
total 2 replies
PengGeng EN SifHa
tapi jangan jumawa dulu enteeee ELGAAARR...ada satpam gila di belakang becca nantinya..siap lagi kalau bukan si CIKA ..MAMUD nya BECCA...
PengGeng EN SifHa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪
total 2 replies
Popo Hanipo
udah sebaik itu masak iya gak ada rasa kagum dan berakhir jatuh cinta
Ama Apr: pasti ada🤭
total 1 replies
Popo Hanipo
logika aja seorang artis tiba2 chat tlpn penggemar secara terus2an itu nggak wajar sekarang sudah mulai ngatur outfit pasti ada niat terselubung ini pasti terinspirasi artis yg lagi viral ya yg menikah sama penggemar ,,yg skrg lagi ada masalah sama suaminya 😄
Ama Apr: hehe patut dicuraigai ya kk🤭
total 1 replies
Popo Hanipo
jangan ketemu sekarang nanti gagal,,ketemu nanti aja kalo bapakmu sudah menikah
Ama Apr: Iya, nanti Beca ngamuk
total 1 replies
Nice1808
parah si beca jatuh sendiri nyalahin cika, loe sehat beca🤣🤣🤣
Ama Apr: dia otaknya rada nyengsol🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!