NovelToon NovelToon
Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:62.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.

Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.

Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.

"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Keesokan paginya.

Sinar matahari pagi menembus celah tirai kamar. Evan mengerjapkan matanya perlahan. Kepalanya terasa berat, seolah baru saja melewati malam yang sangat melelahkan.

"Hm..." Ia mengusap pelipisnya, lalu perlahan bangkit dari tempat tidur.

Namun, begitu pandangannya menyapu seluruh ruangan, keningnya langsung berkerut.

"Ini ... bukan kamarku." Evan menoleh ke kanan dan ke kiri. Ruangan itu sederhana, dengan aroma lembut yang terasa asing baginya. Baru saat melihat pakaian wanita yang tergantung di dekat lemari, jantungnya berdegup lebih cepat.

"Ini kamar Laras..." Wajah Evan langsung berubah pucat.

Ia berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Namun, ingatannya hanya sampai saat meminum teh susu, kemudian semuanya terasa samar.

Pintu kamar terbuka perlahan.

Laras masuk sambil membawa nampan berisi sarapan dan segelas air hangat. Begitu melihat Evan sudah terbangun, langkahnya mendadak terhenti.

"T-Tuan..." Suasana mendadak menjadi canggung. Laras menundukkan wajahnya. Perlahan ia meletakkan nampan di atas meja.

Evan segera turun dari tempat tidur.

"Laras ... apa yang terjadi semalam?" Suaranya terdengar pelan, dipenuhi kebingungan.

Laras menggenggam ujung bajunya erat. Beberapa detik ia memilih diam.

"Tuan ... Saya..."

Evan melangkah mendekat. "Jawab aku. Apa semalam ... terjadi sesuatu di antara kita?"

Laras memejamkan mata sesaat. Lalu mengangguk pelan.

"Iya..." Jawaban singkat itu membuat Evan membeku. Laras kembali menundukkan kepalanya.

"Maafkan saya, Tuan. Saya seharusnya menghentikan Tuan. Saya seharusnya menolak."

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Tapi ... saya tidak sanggup."

Evan menatapnya tak percaya.

"Laras ... Saya juga bersalah."

"Sebenarnya..." Laras menarik napas panjang, lalu mengangkat wajahnya dengan mata yang berkaca-kaca.

"Saya mencintai Tuan. Sejak bekerja di rumah ini ... Saya berusaha menahan perasaan itu."

Saya tahu Tuan sudah beristri. Saya tahu saya tidak boleh berharap. Tapi semalam ... Saya gagal mengendalikan hati saya."

Laras menutup wajahnya dengan kedua tangan, seolah dipenuhi penyesalan.

"Maafkan saya ... Saya benar-benar minta maaf."

Evan mematung. Rasa bersalah mulai menghantam dirinya. Jika apa yang dikatakan Laras benar, maka ia telah mengkhianati rumah tangganya. Ia mengepalkan kedua tangannya.

"Aku ... Aku benar-benar tidak ingat."

Laras hanya mengangguk pelan.

"Tidak apa-apa, Tuan. Anggap saja ... semalam tidak pernah terjadi. Saya tidak akan menuntut apa pun. Saya juga tidak akan merusak rumah tangga Tuan. Saya hanya ingin tetap bekerja menjaga Aurora." Ucapan itu membuat rasa bersalah Evan semakin besar.

Sementara Laras kembali menundukkan wajahnya. Di balik ekspresi sedih dan air mata yang tampak begitu meyakinkan. Tersimpan sebuah tekad yang tak tergoyahkan. Semua kalimat yang baru saja ia ucapkan, adalah bagian dari skenario yang telah ia susun dengan sangat rapi.

Evan masih berdiri terpaku di tengah kamar .

Tatapannya tidak pernah lepas dari Laras yang masih menundukkan kepala, seolah dihantui rasa bersalah. Beberapa saat kemudian, Evan mengembuskan napas panjang.

"Laras..."

Wanita itu perlahan mengangkat wajahnya.

"Iya, Tuan?"

Evan melangkah mendekat. Sorot matanya dipenuhi penyesalan, tetapi juga sebuah keyakinan yang baru tumbuh.

"Aku tidak akan membiarkanmu menanggung semua ini sendirian."

Laras menggeleng pelan. "Tidak, Tuan. Tolong lupakan saja apa yang terjadi semalam."

"Saya tidak ingin merusak rumah tangga Tuan."

"Tidak." Evan kembali menggeleng.

"Rumah tangga itu memang sudah berada di ujung tanduk. Hubunganku dengan Carolin sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Setelah proses perceraian kami selesai..."

Evan menatap Laras dengan sungguh-sungguh.

"Aku akan menikahimu."

Laras membelalakkan mata, berpura-pura terkejut.

"T-Tuan ... kamu tidak perlu berkata begitu."

"Aku serius, kamu wanita baik. Kamu pantas mendapatkan status yang layak. Kamu berhak dinikahi. Laras ... terima kasih sudah datang ke hidupku. Selama ini, hanya kamu yang membuatku merasakan hangatnya sebuah keluarga."

Kalimat itu hampir membuat Laras tertawa getir.

'Hangatnya keluarga?' batinnya.

'Dulu ... saat aku menjadi Amelia, aku juga memberikan semuanya untukmu. Tapi yang kau balas justru pengkhianatan.'

Meski hatinya dipenuhi amarah, wajah Laras tetap menampilkan senyum tipis yang penuh keraguan.

"Tuan ... saya tidak meminta apa-apa. Saya hanya ingin Aurora tumbuh sehat."

Evan tersenyum lembut. "Itulah alasan aku semakin yakin memilihmu."

Tanpa berpikir panjang, ia membuka kedua tangannya, berniat memeluk Laras. Refleks, Laras mundur selangkah, wajahnya tampak gugup.

"Maaf, Tuan ... sebaiknya jangan."

Evan berhenti. "Kenapa?"

Laras buru-buru mencari alasan.

"Aurora ... Aurora masih di luar kamar. Kalau dia menangis dan saya tidak segera keluar, nanti pelayan akan mencari saya."

Evan menoleh ke arah pintu, lalu mengangguk pelan.

"Iya juga, kasihan Aurora." Ia tersenyum tanpa sedikit pun menaruh curiga.

"Pergilah, temui putri kita."

Kalimat itu kembali menusuk hati Laras.

'Putri kita? Dia memang putriku...' batinnya lirih.

'Tapi bukan lagi milikmu, Evan.'

Laras membungkukkan badan singkat.

"Permisi, Tuan." Tanpa menunggu lebih lama, ia berbalik dan melangkah keluar dari kamar.

Begitu pintu tertutup rapat. Senyum lembut di wajahnya perlahan menghilang. Berganti dengan tatapan dingin yang penuh tekad.

"Tidak akan lama lagi ... kamu sendiri yang akan menghancurkan semua kebohonganmu, Evan."

Sementara di dalam kamar, Evan tersenyum seorang diri. Ia sama sekali tidak menyadari. Bahwa, setiap langkah yang diambilnya kini justru membawanya semakin dekat menuju kehancurannya sendiri.

1
Lianty Itha Olivia
dlm cerita slalu byk org jahatnya
mimief
wkwkwkwk
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
❥␠⃝ ͭ🍁MI💋🅛🅚-🅒🅘🅣🅡🅐👻ᴸᴷ
kayaknya setelah semua masalah selesai Laras melakukan operasi lagi kewajah Amelia lagi biar makin meyakinkan kasus yang menyeret mereka biar hukumannya makin berat
mimief: kyk nya ga deh
dr percakapan elang sama Laras kemarin
mang Amelia dibikin udah ga ada
mungkin hukuman mereka malah tambah berat
total 1 replies
Oma Gavin
mampusss kalian semua
SasSya
semua akan terkuak satu persatu
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
Les Tary
ga kenal dari hongkong🤣🤣
Helen@Ellen@Len'z: 🤣🤣🤣🤣🤣loh kok dr hongkong
total 1 replies
mimief
gas keun
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
mimief: setujuu bangett
enak amet idup kyk ga punya dosa sm sekali 😌
total 2 replies
Les Tary
Carolina wajib nyusul Evan kepenjara dulu mereka berdua telah menghancurkan hati Amelia
Jaya Fandi
luaar biasa sekali kamu lang,,semoga engkau mendapatkan jodohbyg luaar biasa sprt mama ara
SasSya
Bagus!
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Dewi Ansyari
Tunggu saja kamu Carolin dan Evan sebentar lagi balasan buat perbuatan kalian selama ini pada Amelia akan membayar harganya
Dewi Ansyari
Bagus Tian Baskara semakin kamu emosi ,makasih Laras lebih mudah mendapatkan semua haknya,dan juga keadilan untuknya yg sebagai Amelia akan mendapatkan hak atas semaunya 😔
Dewi Ansyari
Tunggu saja kehancuranmu Evan😡😡😡
Dewi Ansyari
Akhirnya Laras benar2 bisa bebas dari kandang harimau Rvan
merry
bgss tu seret Caroline juga dan klurga y kn istri tua evan otomatis nikmati hrta ya laras dan parah laras dijadiin wadah benih mrk itu termsk nipu dan tindakan ilegal terhdp laras,,,
merry
heran sm evan harta yg dia nikmatin ko gk sdr dri gt ya 🤔🤔🤔santai ajjh
Rarik Srihastuty
aku thor, pemasaran dengan cerita Kenzo
Aisyah Alfatih: nanti aku rilis ya, tamat elang... biar nggak keteter up nya 😬😬
total 1 replies
neny
carolin ini gmn ya,,apa2 mau nya langsung beres,,percuma dng jalan tenang pun semua nya akan terkuak,,dan siap2 ajh senyum kemenangan,senyum kekuasaan dan senyum kesombongan itu sebentar lg akan hilang,,tunggu ajh
neny
heheehee,,carolina,,emng siape elo,,helloo,,ibu kandung nya tuh amelia,,cek ajh ath ke lab,,lagian km jg sebnyar lg akan nyusul evan,,🤣🤣
Makin seru ajh nih,,
Aditya hp/ bunda Lia
gak sabaaarrrrrrr ... pake banget aku mau tau gimana si Evan sama si Carolin dan bapaknya pas tau kelakuan mereka sebenarnya dan itu menghancurkan semuanya ....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!