"Ini bukan tentang pergi meninggalkanmu. Ini beasiswa, Alfa. Kesempatan sekali seumur hidup yang diberikan Ibu Amara untukku bekerja dan belajar di Paris. Hanya tiga tahun..."
"Tiga tahun?!" Alfa tertawa sumbang, langkah kakinya maju mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Zia bisa merasakan aura intimidasi yang pekat.
"Kamu menyebut tiga tahun itu hanya? Kamu mau meninggalkanku di sini sendirian, sementara kamu bersenang-senang di Paris?!"
Zia menatap wajah pria yang teramat dicintainya itu dengan pandangan kabur oleh air mata. Alfa selalu seperti ini. Posesif, mengekang, dan selalu ingin memegang kendali penuh atas hidupnya. Namun, selama ini Zia selalu mengalah. Bagi Zia yang sebatang kara, kekangan Alfa adalah wujud dari rasa sayang yang teramat dalam.
Tapi apakah kali ini Zia kembali mengalah? Atau dia akan mengikuti kata hatinya? Pergi mengejar cita - citanya dan meninggalkan Alfa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebersamaan Untuk Sabrina
"Ray... badannya panas sekali, tolong... Apa sebaiknya di bawa ke rumah sakit saja?"
Zia menyambut Rayyan di ambang pintu kamar dengan seluruh tubuh yang gemetar. Air matanya telah membasahi seluruh pipi, kontras dengan wajah Sabrina di dalam dekapannya yang memerah padam akibat suhu tubuh yang melonjak ekstrem.
Rayyan, yang hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit untuk membelah jalanan Singapura dari apartemen pribadinya, langsung melangkah masuk tanpa alas kaki. Begitu matanya menangkap sosok bayi mungil yang sedang merintih lemas di pelukan Zia, jantung Rayyan rasanya seperti berhenti berdetak.
"Sini, berikan Sabrina padaku," ujar Rayyan cepat, memotong tangisan Zia.
Tanpa membuang waktu, Rayyan langsung melepas kemeja hitam yang dikenakannya, menyisakan dada bidangnya yang polos.
"Zia, buka baju Sabrina sekarang. Biarkan dia hanya memakai popoknya saja,"
"Tapi Eay, dia sedang menggigil... apa tidak kedinginan?" tanya Zia ragu, suaranya parau karena ketakutan.
"Tidak, Zia. Ini metode skin-to-skin. Panas tubuhnya harus ditransfer ke kulitku agar suhunya bisa turun dengan cepat. Percayalah padaku," desak Rayyan, nadanya parau namun penuh keyakinan yang tak terbantahkan.
Dengan jemari yang gemetar, Zia melonggarkan kancing baju bayinya hingga terlepas sepenuhnya. Rayyan dengan sangat hati-hati menerima tubuh mungil Sabrina, menempelkan dada bersuhu tinggi milik bayi itu langsung ke atas permukaan kulit dadanya yang hangat. Tangan tegap Rayyan mendekap punggung Sabrina dengan begitu protektif, sementara tangan lainnya menyangga kepala bayinya agar tetap nyaman.
"Jam berapa terakhir Sabrina minum obat?"
"Setengah jam yang lalu, sebelum aku nelpon kamu,"
"Kalua gitu, cepat ambil air hangat di mangkuk dan kain bersih. Kita butuh mengompres lipatan ketiak dan selangkangannya sekarang," perintah Rayyan lagi, matanya tidak lepas dari wajah Sabrina yang sedang merintih.
Meskipun sudah berada di dalam dekapan erat Rayyan, Sabrina kecil masih tampak sangat rewel. Napasnya pendek-pendek, dan matanya yang berair sesekali terbuka sedikit, memandang sayu ke arah pria yang mendekapnya. Bibirnya yang kering bergerak meluncurkan gumaman parau yang memilukan.
"Pa... pa... Pa..."
"Iya, sayang. Ini Papa. Sabrina yang kuat ya, Nak. Papa nggak akan kemana - mana. Anak Papa..."
Jemari mungil Sabrina yang gembul bergerak-gerak gelisah di udara, mencengkeram dengan kaku seolah sedang mencari sesuatu untuk dipegang. Rayyan pun segera mengulurkan jari telunjuknya. Begitu kulit mereka bersentuhan, refleks jemari kecil Sabrina langsung mencengkeram erat jari telunjuk Rayyan, menempelkannya di atas dadanya yang naik turun.
Ajaibnya, sentuhan kulit dan aroma tubuh Rayyan yang menenangkan perlahan-lahan meredakan tangisan Sabrina. Embusan napas bayi itu yang semula memburu secara bertahap mulai melambat dan teratur. Matanya perlahan-lahan terpejam sepenuhnya, tertidur pulas dalam pelukan hangat sang pelindung.
Melihat bagaimana Sabrina bisa langsung tenang dalam hitungan menit di pelukan Rayyan, dada Zia seketika bergemuruh hebat oleh luapan emosi yang campur aduk. Rasa haru yang teramat sangat menyergap hatinya, namun di saat yang bersamaan, sebuah rongga kosong yang menyakitkan mendadak menganga di dalam dadanya.
Zia tidak sanggup lagi berdiri di sana. Dia membalikkan tubuhnya, melangkah cepat keluar dari kamar bayi, lalu menutup pintunya dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara.
Zia bersandar pada dinding lorong yang dingin, merosot pelan hingga terduduk di lantai dengan kedua lutut yang ditekuk. Dia menenggelamkan wajahnya di antara lipatan tangan, membiarkan air matanya mengalir tanpa suara di tengah kesunyian malam.
Di dalam benaknya yang kacau, sebuah bayangan masa lalu mendadak berputar tanpa izin. Zia membayangkan... bagaimana jika pria yang bertelanjang dada di dalam kamar sana, yang memeluk erat tubuh panas Sabrina dengan penuh kepanikan dan kasih sayang murni, adalah Alfarizky Abraham? Bagaimana jika ayah kandung putrinya sendirilah yang berdiri di sana, menjadi benteng pertama saat anaknya sedang kesakitan?
"Bodoh... Kamu benar-benar wanita bodoh, Zia!" bathin Zia.
Zia merutuki dirinya sendiri di dalam hati dengan rasa benci yang teramat sangat pada hatinya yang keras kepala. Mengapa di saat seperti ini, di saat seorang pria luar biasa seperti Rayyan telah mengorbankan seluruh hidup dan waktunya demi menjaga mereka, otaknya masih saja menyimpan bayangan pria kejam yang telah membuangnya ke jalanan? Pria yang bahkan tidak pernah tahu dan tidak pernah peduli apakah anaknya lahir dengan selamat atau tidak.
Zia mengepalkan tangannya kuat-kuat, mencoba menghalau rasa sakit dan sisa-sisa harapan semu yang seharusnya sudah mati sejak malam jahanam di Jakarta itu.
Setelah berhasil menata kembali emosinya dan menghapus sisa-sisa air mata di pipinya, Zia berdiri. Dia berjalan ke dapur bersih, menyeduh secangkir kopi hitam pekat tanpa gula untuk Rayyan, berharap minuman itu bisa membantu pria itu tetap terjaga malam ini.
Zia melangkah kembali ke kamar bayi dengan membawa cangkir hangat tersebut. Saat pintu terbuka tipis, pemandangan di dalam kamar membuat langkah kaki Zia kembali tertahan.
Rayyan kini telah kembali mengenakan kemeja hitamnya, namun kancing bagian atasnya dibiarkan terbuka santai. Pria bertubuh tegap itu sedang mengambil posisi berjongkok di tepi ranjang rendah tempat Sabrina ditidurkan.
Tubuh Rayyan condong ke depan, matanya yang tajam tampak tidak berkedip sedikit pun, memperhatikan setiap embusan napas dan pergerakan kecil dari tubuh Sabrina dengan tatapan yang luar biasa lembut.
Dan yang paling menyentuh hati Zia adalah, tangan kanan Rayyan sama sekali tidak bergerak dari posisinya sejak tadi, jari telunjuknya masih berada di dalam cengkeraman erat jemari mungil Sabrina yang sedang tertidur lelap. Sabrina benar-benar terlihat sangat nyaman.
"Ray..." panggil Zia dengan suara yang sangat pelan, berjalan mendekat.
"Minum kopi dulu, Ray. Aku sudah buatkan,"
Rayyan menoleh, memberikan senyuman tipis yang menenangkan. Dia melirik cangkir di tangan Zia, lalu beralih menatap wajah bayinya kembali.
"Bawa saja kopinya ke kamar ini, Zia," bisik Rayyan dengan suara yang sangat rendah, hampir menyerupai desiran angin agar tidak mengusik tidur Sabrina.
"Letakkan saja di atas nakas. Aku takut jika aku bergerak atau pergi ke luar, Sabrina akan mendadak bangun dan rewel lagi jika tidak merasakan kehadiranku,"
Zia mengangguk patuh. Dia meletakkan cangkir kopi itu di atas nakas di samping termometer.
"Terima kasih banyak ya, Ray. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa tadi kalau kamu tidak datang secepat ini,"
"Jangan berkata seperti itu lagi, Zia. Sudah kubilang, ini sudah menjadi tanggung jawabku juga," balas Rayyan, matanya kembali menatap lurus ke arah Sabrina. Dia menyesap kopinya menggunakan tangan kiri yang bebas.
"Sekarang, kamu pergilah tidur di kamar sebelah. Biar aku yang menjaga Sabrina malam ini,"
"Tapi Ray, Kakak pasti lelah setelah seharian mengurus berkas agensi..."
"Zia," potong Rayyan lembut namun tegas, menatap sepasang mata Zia yang tampak menghitam di bagian bawahnya karena kurang istirahat.
"Kamu adalah ibu menyusui. Jika kamu stres dan kurang tidur, kualitas asimu bisa terganggu, dan itu akan memperlambat kesembuhan Sabrina. Masuk ke kamar sebelah, istirahatlah. Percayakan putrimu padaku,"
Melihat keteguhan di mata Rayyan, Zia akhirnya tidak bisa membantah lagi. Dia melangkah keluar dari kamar dengan hati yang dipenuhi rasa syukur yang tak terhingga, menutup pintu dengan rapat di belakangnya.
Malam semakin larut, merambat naik menuju angka tiga dini hari. Suasana di dalam rumah mewah itu terasa sangat sunyi, hanya menyisakan suara detak jarum jam dinding yang teratur.
Di kamar sebelah, Zia mendadak terbangun dari tidurnya. Perasaan tidak tenang seorang ibu membuat matanya langsung terbuka sempurna. Dia melirik jam di ponselnya, lalu segera bangkit dari ranjang. Rasa khawatirnya terhadap kondisi Sabrina membuatnya tidak bisa tenang sebelum memastikan sendiri perkembangan suhu tubuh bayinya.
Zia berjalan tanpa suara di atas lantai kayu, lalu perlahan membuka pintu kamar Sabrina sedikit. Melalui celah pintu yang terbuka, penglihatan Zia seketika melembut, dan setitik air mata haru kembali menggenang di sudut matanya.
Di dalam kamar yang temaram oleh cahaya lampu tidur berwarna kuning redup, Rayyan sama sekali belum memejamkan matanya. Pria itu masih setia berada di posisi semula di tepi ranjang. Di tangan kirinya, ada selembar kain kompres kecil yang basah yang sedang dia usapkan dengan sangat lembut secara bergantian di area lipatan paha dan kaki gembul Sabrina yang malam itu tampak gelisah akibat efek demamnya.
Setiap kali Sabrina membuat gerakan kecil atau merintih dalam tidurnya, tangan tegap Rayyan akan langsung bergerak memegangi kaki dan tangan mungil Sabrina secara bergantian, mengusapnya dengan usapan halus yang menenangkan, seolah sedang mengirimkan sinyal bahwa dia tidak akan pernah pergi ke mana pun.
Zia berdiri terpaku di ambang pintu, menatap punggung tegap pria yang sedang menjaga putrinya dengan segenap jiwa. Pada detik itulah, dinding es terakhir di dalam hati Zia runtuh sepenuhnya. Sisa-sisa bayangan Alfa yang tadi sempat menghantuinya menguap tak berbekas, digantikan oleh sebuah keyakinan baru yang kokoh di dalam jiwanya.
Pria di dalam sana... Rayyan Mahindra, adalah takdir nyata yang dikirimkan Tuhan untuknya, dan Zia berjanji, dia tidak akan pernah menyia-nyiakan ketulusan luar biasa itu lagi sepanjang sisa hidupnya.