Daniel, Minami dan Latifa. Tiga sahabat yang bermimpi membangun sebuah roket bersama. Impian besar ini mereka rancang sedari mereka masih berada di sekolah dasar. mereka berambisius untuk membangun roket bersama.
Namun kondisi Latifa begitu kritis, disaat-saat terakhirnya, Latifa ingin impian mereka tetap berjalan meski tanpa dirinya.
Daniel dan Minami berjanji untuk menuntaskan misi besar yang diberikan Latifa sebelum dirinya tiada.
ini adalah kisah tiga sahabat yang bermimpi membawa umat manusia selangkah lebih maju.
ManuverNine.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awazaki Chiru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Soloist in the Stage I
"Lagian, kamu kenapa dilahirkan se imut itu, pantes aja Chiru suka sama kamu, hahah.." Daniel kembali tertawa.
"Maaf, ya! Jika terlahir seperti ini! Tapi aku senang kamu suka!" Latifa tersenyum.
"Yaa,... Aku gak bisa bilang begini sih, nanti Chiru mukul aku lagi!" Ucap Daniel.
"Karna itu, kamu jangan deket-deket aku dulu! Nanti kena lagi..." Latifa menyarankan untuk tidak mendekatinya sampai masalah ini bisa mereda.
"Kan aku gak deketin kamu, karna kondisi Minami aja kemaren yang bikin aku jadi begini" Ucap Daniel
"Bukan bearti aku menyalahkan Minami, ya!" Ucap Daniel lagi.
"Iya, iya.. Kamu mau nyalahin aku, kan? tapi kamu gabisa nyalahin aku karna aku ini adik imut mu" Ucap Latifa.
"Bukan begitu, Latifa! Kamu salah paham!" Daniel Panik karna Latifa terlihat tidak senang dengannya.
Daniel berusaha bangkit dari tempat tidurnya namun karna kondisi tangannya yang masih mengalami cidera, Ia tak sanggup menopang tubuhnya dengan tangannya itu.
"Ah, udah-udah. Aku cuman becanda! Kamu tidur aja" Latifa membantu membaringkan Daniel yang memaksa untuk berdiri dari tempat tidurnya.
"Iya, maaf!" Ucap Daniel pelan
Latifa memandang Daniel kesihan, ia bingung harus bagaimana, karna semua ini bersumber dari dirinya. Tapi Latifa hanyalah seorang gadis imut yang tak berdaya. Ia tak bisa melakukan apa-apa.
Latifa tak bisa membantu dalam berkelahi, namun mungkin ia bisa membantu dalam meredakan suasana.
"Kalau begitu, aku pamit dulu ya, Daniel. aku akan ke sini besok setelah tampil" Latifa berdiri untuk segera pergi.
"Eh.. Kok sebentar banget, sih? Kenapa gak lebih lama aja di sini bareng aku!" Daniel sedikit sedih karna Latifa akan pergi.
"Kenapa, sih. Aku pulang bentar aja, besok aku harus tampil concerto bareng dua instrument lainnya, sorenya aku ke sini lagi" Ucap Latifa
"Yah, sendiri lagi. Minami juga gak mungkin mengunjungiku, kan. Kondisinya juga belum stabil" Daniel berharap bisa lebih lama bersama sahabatnya itu.
"Belakangan kan kau tau, kalau kita sudah jarang untuk bertemu, aku juga ingin banget kalau kita bisa kumpul lagi tapi karna Chiru kita semua jadi kayak gini " Daniel mengatakan yang ia sangat sesali tentang bertemu dengan Chiru.
"Andai saja aku tak bekerja di Restoran Pak Mil, mungkin aku masih bisa bebas berteman bertiga" Ucap Daniel. Mendengar itu Latifa juga bimbang, Ia juga ingin sekali berkumpul bersama semuanya, namun ada masalah yang dihadang Daniel jika mereka melanggarnya. Bukan hanya Latifa yang akan kebingungan, tapi Daniel akan ikut merasakan dampaknya.
"Daniel, Kita akan cari jalan keluarnya bersama" Latifa menggengam tangan Daniel dan meyakinkannya bahwa akan ada jalan keluar dari masalah ini.
Daniel Melirik Wajah Latifa yang tampak serius, kemudian Ia menjentiknya dihidung. Itu membuat Latifa kesal.
"Apasih, Kamu" Ucap Latifa.
Daniel tertawa kecil. Latifa yang melihat Daniel kembali ceria ikut lega. Malam itu ditutup dengan kehangatan dan tawa.
...
Alarm pagi berdering, Latifa segera mematikannya. Jam menunjukan pukul 6.20 pagi.
"Hari baru, Semangat baru" Latifa beranjak dari kasurnya dan segera pergi mandi pagi. selesai mandi ia mengambil tas berisi flute. Ia berangkat dengan semangat pagi.
Hari ini ia akan tampil di stasiun, sebelum ke sana, Latifa harus ke sekolah untuk menyerahkan selembar kertas untuk meminta izin tampil.
Setelah menyerahkan selembar kertas izin, Latifa bergegas untuk pergi ke gedung latihan. Baru saja ia keluar dari ruang guru, Ia malah berpapasan dengan Chiru. Latifa berusaha menghiraukannya, Namun Chiru malah menariknya.
"Latifa, Tunggu! Aku ingin berbicara sebentar denganmu" Ucap Chiru
Latifa masih berusaha untuk tidak ingin menjawabnya.
"Aku tau kamu marah, tapi tolong dengerin aku dulu" Chiru semakin memaksa Latifa.
Latifa berusaha melepaskan tangan Chiru yang dari tadi menggenggamnya.
Setelah lepas Latifa langsung berlari dan tak menjawab sedikitpun apa yang Chiru ucapkan. Latifa tak mengenal siapa itu Chiru, Latifa tak peduli. Rasa kesal di dalam dirinya terus menghantui. Latifa benar-benar emosi saat mengingat wajah Chiru.
"Aku gak mau berbicara dengannya" Gumam Latifa sembari berlari ke luar sekolah.
Untungnya Chiru tidak mengejar Latifa. Latifa bisa bernafas lega karna ia benar-benar tak ingin bertemu dengan Chiru.
"Kenapa di hari yang cerah ini aku malah bertemu dengan Chiru, sih?" Latifa bergumam sepanjang jalan menuju gedung. Ia tak habis pikir mengapa dirinya bisa bertemu dengan Chiru.
"Yang penting aku gak akan pernah membalas apapun perkataan dirinya sampai dia ingin meminta maaf dengan Daniel" Gumam Latifa.
Sesampainya di gedung, Latifa mulai latihan. Ia latihan sendiri karna ia akan tampil pada siang hari, karna waktu masih banyak, ia masih bisa latihan sembari bersantai.
"Hari ini aku tak usah memikirkan Chiru, Cukup selesaikan ini dan pergi menjenguk Daniel" Ucap Latifa.
"Seharusnya Daniel besok bisa kembali bersekolah.."
"Semoga gak terjadi apa-apa deh antara mereka"
"aku berharap Pak Mil sudah menegur keras Chiru agar tidak melukai orang lagi"
Latifa berhenti sejenak dan mulai berpikir
"ngomong-ngomong, ini kali pertama ada yang berantem demi aku, ya"
"kok sampai segitunya"
"apakah aku memang pantas diperebutkan?' Latifa mulai tertawa seperti seseorang yang baru saja mendapat sebuah buku ajaib dari penyihir jahat.
Tak lama ia kembali tersadar, ia memukul pipinya dan mulai mencoret-coret buku partiturnya. Di sana ia menulis sesuatu yang cukup pribadi.
"Aku bermain untuk Daniel" Di pojok kanan buku partiturnya, ia menulis hal ini. Ia seketika memerah namun ia lupa kalau dia menulis pakai spidol dan itu tak bisa dihapus.
"Astaga!!! Tapi gak akan ada yang lihat juga, kan" Baru saja mengucapkan kalimat tersebut, seseorang tiba-tiba muncul dari belakang dan tak sengaja melihat apa yang Latifa tuli.
"'. 'Aku bermain untuk Daniel' wah.. Daniel siapa, Latifa?" Ucap orang itu.
Latifa reflek mengambil bukunya dan menutupnya.
"S-Sophia, Kamu ngapain?" Latifa terkejut.
"Engga, Aku kan hari ini tampil bersama kamu, kok kayak terkejut gitu, sih?" Jawab Sophia yang akan bermain Violin bersama Latifa.
"Ha-haha.. Kamu benar, tapi kenapa tidak salam dulu, sih" Latifa kesal.
"Haha, ngapain? Kan pintu masuk dengan ruang latihan jauh, Latifa. jadi ngapain aku harus izin" Ucap Sophia.
"Kamu gak kenal sopan santun banget sih, dasar!" Ucap Latifa.
"Hahah, iya-iya. Maaf, lain kali nanti aku pakai salam, Deh!" Jawab Sophia sembari tertawa.
"Ngomong-ngomong, siapa itu Daniel? Pacar kamu, ya?" Sophia menggoda Latifa dan sedikit mempermainkannya.
"Paan sih, dia temenku, kenapa jadi pacar" Jawab Latifa
"Temen, ya? Kok namanya di taruh di buku partitur sih?" Tanya Sophia.
"ahh,Kamu latihan aja sana. Jangan nganggu aku' Ucap Latifa yang kemudian menjauh dari ruang Latihan