Dalam setiap alur cerita novel ini, mengandung harapan dan doa baik untuk kehidupan author yang lebih bahagia ke depannya.
Di usia dua puluh lima tahun, Raya Nareswari masih berjuang mencari pekerjaan yang layak. Nasib membawanya bertemu Bram dan Sinta Mahendra setelah ia pingsan saat hendak melamar kerja di kota. Karena terpesona oleh ketulusan dan kepribadian Raya, Sinta mengangkat gadis berhijab itu sebagai karyawan di butik miliknya.
Seiring waktu, Bram dan Sinta berniat menjodohkan Raya dengan putra tunggal mereka, Juan Arsen Mahendra, seorang CEO tampan yang tak pernah sekalipun memperkenalkan wanita kepada keluarganya. Kedekatan Juan dengan asisten pribadinya bahkan membuat kedua orang tuanya curiga bahwa sang putra tidak tertarik pada perempuan.
Awalnya Juan menolak kehadiran Raya. Namun perlahan, ketulusan gadis desa yang sering diremehkan itu berhasil meluluhkan hati pria yang dikenal dingin dan sulit didekat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keanehan Raya
Malam sudah semakin larut, tapi sedari tadi Raya menahan kantuknya demi mengantarkan keberangkatan ibu dan bapak mertuanya yang akan terbang ke negara tetangga.
Dihalaman rumah, dengan ditemani gelap malam dan suara hewan yang bersahutan. Raya menatap punggung Juan yang sedang membereskan beberapa koper pada bagasi mobil, sementara bu Sinta sedang merapikan jaket hangat yang dipakaikan oleh suaminya, pak Bram memang selalu manis. Raya tersenyum melihat kelakuan ibu dan papa mertuanya itu, yang menurutnya selalu romantis. Cinta mereka yang tidak pudar walau sudah termakan usia.
Juan sudah selesai dengan kegiatannya, ia menoleh ke arah Raya yang sedang tersenyum manis dengan tatapan yang tertuju pada Bu Sinta dan pak Bram. Juan menunduk ia memasukan kedua tangannya pada saku celana demi mengusir rasa dingin yang kian menusuk tulang, lalu berdiri disebelah Raya.
"Bang, mama sama papa emang se lucu itu ya?" Raya dengan tatapan yang masih tertuju pada ibu mertuanya.
Juan malah menyinsring hidungnya yang terasa gatal dan mulai berair, efek udara dingin malam ini.
"Heem.." kemudian Juan menjawab singkat.
"Dingin? Kenapa gak pake jaket tadi sebelum turun." ucap Raya, matanya melirik Juan sekilas. Kemudian ia menunjukkan kardigan tebal berwarna putih yang membungkus tubuh mungilnya, dengan hiasan bunga kecil dibagian tengahnya.
"Lupa." jawab Juan singkat, hidung mancungnya sudah terlihat sedikit memerah.
"Segalanya harus diurusin sama istri," cibir Raya.
"Memang fungsi istri seperti itu kan?"
Deg.
Debar jantung Raya kembali meningkat, seiring dengan senyum tipis terukir diwajahnya.
Kami memang belum sepenuhnya mengenal satu sama lain, tapi beberapakali bang Ju mengakui aku sebagai istrinya, entah mengapa membuat jantung ini berdebar kencang diiringi dengan desiran hangat didalam dada.
"Ray."
"Raya..."
Panggilan Bu Sinta sontak membuyarkan lamunan Raya.
"Eh i iya ma?"
"Lagi mikirin apa si sampe senyum-senyum seperti itu?"
"Eh eng enggak ma." Raya melirik Juan yang menatap ke arahnya sambil menautkan alis.
"Yaudah mama sama papa pamit, kalian baik-baik ya dirumah." Bu Sinta menatap Juan dan Raya bergantian. Dalam penglihatan Bu Sinta, Juan ini lebih cocok menjadi kakak Raya dibanding jadi suaminya. Dilihat dari sikap Juan yang terkesan sangat kaku.
"Juan! Jangan tinggalkan Raya dirumah sendirian kalau malam, pokoknya kalian akur-akur deh dirumah. Mama percaya sama Raya, tapi mama gak percaya sama kamu Ju." ucap bu Sinta yang kemudian memeluk erat Juan setelah itu memeluk erat menantunya yang sangat ia sayangi.
Juan hanya mengangguk kala mendengar omelan dari ibunya.
"Mama jangan lama-lama ya, Raya akan kesepian banget gak ada mama dirumah."
"Kan ada Juan. Cuman satu atau dua Minggu kok. Kalau Juan nakal telpon aja mama ya."
Raya mengangguk dengan air mata yang sudah mengembun, ia akan merasa sangat kesepian sekali. Karena setiap harinya ia selalu ditemani dengan bu Sinta, seperti memasak, menonton tv ataupun mengobrol hangat sambil minum teh.
Kini giliran pak Bram yang merangkul putranya.
"Papa titip kantor dulu."
"Aman pah."
Kemudian pak Bram melirik ke arah Raya, "Papa berangkat ya Ray, hati-hati dirumah. Kalau bosan bisa main ke kantor Juan atau ke butik mama."
"Iya pah," Raya menyambut uluran tangan pak Bram, kemudian ia menyalami punggung tangan bapak mertuanya itu.
"Iya benar Ray, biar gak bosan dirumah mending main ke butik mama aja."
"Iya mahh.."
"Yaudah Ray, Ju. mama sama papa berangkat ya."
Raya dan Juan melambaikan tangannya seiring dengan mobil yang ditumpangi keluar dari bagasi dan menghilang dari pandangan mereka.
Setelah mobil itu menghilang Juan langsung membalikan tubuhnya dan melangkah menuju rumah meninggalkan Raya yang masih mematung di halaman rumah. Setelah masuk Juan melirik Raya yang masih mematung, Juan kira Raya akan mengikutinya ternyata tidak.
"Hey..." panggil Juan.
"Abang...kok ninggalin sih..." Raya berlari kecil menuju pintu utama rumah kediaman Mahendra.
Setelah Raya masuk, Juan langsung mengunci pintu besar yang berukiran kayu jati kokoh itu, setelah memastikan semuanya aman Juan melanjutkan langkahnya menuju tangga. Langkah Juan yang lebar sangat kontras dengan langkah Raya yang kecil, Raya cukup kewalahan untuk menyeimbangkan langkahnya dengan Juan.
Rumah besar itu kini hanya menyisakan dua insan yang masih terasa asing, Raya mulai merasakan rasa sepi itu. Bola matanya sibuk menyapu setiap ruang gelap dalam rumah, malam sudah semakin larut, dan rasa sepi dan takut kian menghimpit perasaan Raya.
"Bang.." ucap Raya pelan. Tangan mungilnya berhasil meraih lengan Juan. Raya baru merasa aman. Kakinya mulai melangkah menaiki tangga satu persatu, Juan hanya diam tanpa kata, tapi ia membiarkan tangan Raya yang memegangnya lengannya erat.
Deg.
Sampai pada ujung tangga. Tiba-tiba Raya menghentikan langkahnya.
Juan menoleh ke arah Raya, yang berdiri disebelah nya.
Raya memejamkan matanya, ia merasakan jantungnya yang berdetak kuat didalam rongga dadanya, diiringi dengan nafas yang tersengal, serta didalam dadanya terasa panas.
Sekuat tenaga Raya berusaha menghilangkan rasa takut yang sering tiba-tiba menyerangnya, takut dan cemas berlebihan sering Raya rasakan, dan kini penyakit itu kambuh lagi.
"Gak usah aneh-aneh, dirumah ini gak ada hantu."
"Penakut." Tambah Juan.
Raya menghirup nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskan nya perlahan. Ia melirik Juan yang masih berdiri disampingnya dengan raut wajah kesal.
"Enggak bang, ayok masuk. Raya ngantuk." Raya melepaskan cekalan tangannya dari lengan juan, ia berjalan mendahului Juan. Langsung masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuhnya serta menarik selimut untuk melindungi tubuhnya dari udara dingin.
Juan pun tanpa kata menyusul Raya dan merebahkan tubuhnya disamping Raya yang membelakanginya, walaupun ia merasa aneh dengan perubahan ekspresi Raya, yang tadinya ceria kini Raya tiba-tiba seperti orang yang sedang ketakutan.
Raya mulai memejamkan matanya begitupun dengan Juan. Beberapa menit kemudian Raya mengubah posisinya yang kini menghadap Juan yang tertidur dengan posisi terlentang.
Sudah setengah jam memejamkan mata serta mencoba berbagai posisi tidur yang enak, tapi nihil. Raya belum juga bisa tertidur lelap. Mata Raya terbuka, dengan posisi miring ia menatap wajah Juan yang sudah tertidur, terlihat sangat tenang tidak terusik dengan pergerakan Raya.
Juan menarik nafasnya, ia memang belum benar-benar bisa tidur, dan sebenarnya ia terusik dengan pergerakan Raya yang seperti sedang merasa gelisah. Perlahan Juan membuka matanya dan langsung melirik ke arah Raya, yang sedari tadi sedang menatapnya dengan raut wajah yang sangat menyedihkan.
Dengan sinar lampu temaram, mata Raya memantulkan cahaya, bergerak-gerak kecil dan sangat indah untuk dipandangi.
"Bisa diam gak? ini sudah malam Raya."
"Raya gak bisa tidur." ucap Raya pelan, suaranya seperti sedang menahan tangis.
"Kalau gak bisa tidur merem, nanti juga akan terlelap dengan sendirinya." ucap Juan tegas, dengan sorot mata tajam menatap manik bercahaya milik Raya.
"Gak bisa..."
Juan merasakan hembusan nafas hangat dari Raya. Karena jarak mereka sangat dekat, mungkin hanya sejengkal.
"Bahkan untuk memejamkan mata pun Raya gak berani"
Jawaban dari Raya sontak membuat rahang Juan menegas.
Bersambung
Jangan lupa like ya readers.
Dukung terus karya author.