Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Keesokan harinya, takdir membawa Cia ke sebuah lembaran baru. Berkat koneksi lama yang ia miliki, Cia akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah toko kue artisan bergaya Prancis yang cukup ternama di pusat kota. Toko kue itu milik salah satu kenalannya, tempat yang sempurna untuk menyambung hidup sekaligus menjaga profilnya tetap rendah dari jangkauan radar keluarga Alessandro—atau begitulah pikirnya.
Pagi itu, Cia tampil manis dengan seragam celemek linen berwarna cokelat muda di atas kemeja rajut putihnya. Rambutnya dikuncir kuda dengan rapi, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah cantiknya yang kini sudah kembali segar, menyamarkan bekas luka semalam.
Pintu kaca toko berdenting, memicu lonceng kecil di atasnya berbunyi.
Sesosok wanita paruh baya dengan setelan bazer sutra berwarna emerald melangkah masuk. Aura elegan dan berkelas menguar kuat dari langkah kakinya yang anggun. Wanita itu tak lain adalah Nyonya Elena Alessandro. Hari ini, Elena sengaja keluar untuk membeli beberapa kotak kue premium guna menjamu teman-teman sosialitanya sore nanti.
Cia yang berjaga di balik etalase kaca langsung menyambutnya dengan senyuman paling ramah dan hangat yang ia miliki.
"Selamat pagi, selamat datang di Le Petit Plaisir. Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" sapa Cia lembut, suaranya terdengar begitu merdu dan menenangkan.
Elena menghentikan langkahnya di depan etalase, menatap deretan kue tart kecil yang tertata rapi. Ia sedikit terkejut melihat keramahan dan paras ayu pelayan di hadapannya. "Ah, ya. Saya butuh tiga kotak macarons varian rasa dan satu opera cake ukuran besar untuk dibawa pulang," ucap Elena, nadanya melunak karena merasa nyaman dengan pelayanan Cia.
"Baik, Nyonya. Satu opera cake dan tiga kotak macarons pilihan. Mohon tunggu sebentar, saya akan menyiapkannya. Sementara menunggu, Nyonya bisa duduk di area lounge di sebelah sana," ucap Cia sembari menunjuk deretan kursi beludru dengan sopan.
Elena mengangguk puas. Ia melangkah menuju meja di sudut ruangan, posisi yang sedikit menjauh dari meja kasir namun masih memiliki pandangan yang sangat jelas ke arah pintu depan toko kue tersebut.
Saat Cia sedang sibuk mengemas kotak-kotak kue pesanan Elena, pintu toko kembali berdenting. Seorang pria muda dengan pakaian kasual bermerek masuk, namun bukannya melihat ke arah menu, matanya langsung tertuju pada Cia. Pria itu melangkah mendekati meja kasir dengan senyum penuh percaya diri yang berlebihan.
"Hai, Cantik. Pegawai baru ya? Boleh minta nomor WhatsApp-nya nggak? Nanti malam kita jalan yuk," ucap pria itu tanpa basa-basi, mencondongkan tubuhnya di atas meja konter untuk mengintimidasi Cia.
Cia seketika merasa tidak nyaman. Ingatan tentang kejadian di lorong gelap semalam membuat tubuhnya refleks menegang. Namun, ia harus tetap profesional. Cia memundurkan langkahnya sedikit, mencoba mempertahankan senyum formalnya. "Maaf, Tuan. Saya sedang bekerja dan tidak diperkenankan memberikan kontak pribadi kepada pelanggan."
"Halah, jangan jual mahal dong. Cuma minta nomor telepon aja kok pelit amat," desak pria itu lagi, tangannya mulai terulur di atas meja, berniat menyentuh jemari Cia.
Tepat pada detik yang menegangkan itu, pintu kaca toko kue kembali terbuka lebar dengan kasar.
Sesosok pria bertubuh tinggi tegap, mengenakan setelan jas hitam buatan penjahit terbaik, melangkah masuk dengan aura dingin yang sanggup membekukan ruangan. Dixon Luca Alessandro. Pria berusia 39 tahun itu memang menjadwalkan pertemuan bisnis dengan salah satu klien pentingnya di ruang privat lantai dua toko kue mewah ini.
Namun, langkah kaki Dixon seketika terhenti di lobi. Sepasang mata elangnya langsung menangkap siluet punggung seorang pria yang sedang bertindak kurang ajar kepada pelayan toko. Dan saat tatapan Dixon beralih pada wajah sang pelayan, jantungnya berdesir hebat.
“Valencia?” batin Dixon, rahangnya seketika mengeras sempurna. Emosi yang tak menentu kembali bergejolak di dadanya melihat gadis yang memenuhi pikirannya semalaman kini sedang digoda oleh pria lain di depan matanya.
Di sudut lain, Elena yang sedang duduk santai langsung menegakkan punggungnya saat melihat putranya masuk. "Dixon?" gumam Elena terkejut. Ia baru saja membuka mulutnya, berniat memanggil nama putranya dengan keras.
Namun, ucapan Elena seketika tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak melihat pergerakan Dixon.
Dixon tidak melangkah menuju tangga lantai dua. Dengan langkah lebar yang sarat akan dominasi dan amarah yang tertahan, Dixon berjalan lurus menghampiri meja konter. Pria itu langsung berdiri tepat di belakang pria pengganggu tersebut.
"Minggir."
Satu kata bariton yang sangat rendah, berat, dan sedingin es keluar dari bibir Dixon. Suara itu begitu penuh penekanan mutlak, sanggup membuat bulu kuduk siapa pun meremang.
Pria pengganggu itu tersentak, langsung membalikkan badannya dengan wajah kesal. Namun, begitu melihat tubuh raksasa Dixon yang menjulang tinggi di depannya, ditambah dengan tatapan mata elang Dixon yang seolah siap mengulitinya hidup-hidup, nyali pria itu seketika menciut habis. Wajahnya berubah pucat pasi dalam hitungan detik.
selanjutnya rencana lebih menantang lagi Thor, mungkin buat dia belajar beladiri dikit lah
saran thor
biar dia yg tercia dan ga bisa jauh sama kamu
ayo cia kamu harus kuat
balas semua rasa sakitmu ke Mora..
kamu jangan gegabah tarik ulur si duda karatan biar dia penasaran sama kamu
lanjut yu ka up nya bagus loh cerita kamu
biar si duda karatan kelabakan