Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Meskipun sudah diperingatkan dengan tegas, Lita tetap berdiri di tempat dengan wajah kesal dan sama sekali tidak berniat melangkah pergi. Ia malah bersandar di tepi meja kerja sambil melipat kedua tangannya di dada.
“Aku tidak akan pergi sampai kamu mau mendengarkan ku, Samuel! Kenapa kamu selalu bersikap sekejam ini padaku? Aku hanya menginginkan yang terbaik untukmu!” serunya dengan nada meninggi, berusaha memancing perhatiannya.
Belum sempat Samuel menjawab lagi, pintu ruangan terbuka lebar. Masuklah dua orang petugas kebersihan, diikuti dua orang petugas keamanan berseragam.
Tak lama kemudian, datang pula Susi sekretaris Samuel yang wajahnya sudah pucat dan gemetar ketakutan bersama Gio yang segera menghampiri setelah mendengar suara bentakan dari arah ruangan itu.
Susi melirik sekeliling dengan pandangan bingung dan cemas. Ia bergumam pelan, “Astaga… bagaimana bisa ada wanita di sini? Padahal tadi aku tidak melihat siapa pun masuk. Mungkin saat itu aku sedang ke toilet sebentar…”
Samuel mengalihkan pandangannya ke arah Susi dengan tatapan tajam namun tetap tenang. “Susi, ingat baik-baik perintahku. Mulai sekarang, tidak ada tamu perempuan apa pun yang boleh masuk ke ruanganku sebelum ada konfirmasi atau izin langsung dariku atau dari Gio. Jika ada yang berkeras datang, langsung halangi dan laporkan ke bagian keamanan. Jangan biarkan kejadian seperti ini terulang lagi.”
“Baik, Pak Samuel. Saya mengerti dan akan lebih berhati-hati lagi,” jawab Susi sambil membungkuk hormat, suaranya terdengar bergetar.
Sementara itu, Gio yang sudah mengenal siapa sosok wanita itu melangkah mendekat. Wajahnya kembali berubah dingin dan tegas seperti saat bertugas, tidak ada lagi keakraban sebagai sahabat. Ia menatap Lita dari atas ke bawah dengan pandangan tidak menyukai.
“Sudah cukup, Lita. Kamu sudah mendengar perintah pak Samuel. Keluarlah dari ruangan ini dengan sendirinya sebelum situasinya menjadi lebih buruk,” ujar Gio dengan nada datar namun berwibawa.
Namun Lita tetap menggeleng keras dan bersikap keras kepala. “Tidak! Aku tidak mau pergi. Ini belum selesai—”
“Kalau begitu, bawa dia keluar!” perintah Gio dengan lantang kepada kedua petugas keamanan yang sudah berdiri siap.
Tanpa menunggu perintah kedua, kedua petugas itu segera melangkah mendekat dan dengan sopan namun tegas memegang kedua lengan Lita untuk membawanya keluar. Lita langsung meronta, berteriak keras sambil memaki-maki.
“Lepaskan aku! Beraninya kalian menyentuhku! Samuel, kamu tidak boleh memperlakukanku seperti ini! Aku tidak akan berhenti sampai kamu sadar!” teriaknya dengan suara nyaring yang menggema sepanjang lorong kantor, sampai akhirnya suaranya makin menjauh saat ia dibawa pergi keluar gedung.
Setelah kehadiran Lita benar-benar hilang, Samuel menghela napas panjang seolah ingin mengusir rasa jijik yang menyelimuti hatinya. Ia segera menoleh ke dua petugas kebersihan yang masih menunggu di dekat pintu.
“Bersihkan seluruh permukaan meja kerja dan kursi ini sampai benar-benar bersih. Setelah itu semprotkan pengharum ruangan dan pembersih udara di seluruh sudut ruangan. Pastikan tidak ada jejak atau bau apa pun yang tertinggal dari wanita itu,” perintahnya tegas.
“Siap, Pak,” jawab kedua petugas itu serempak, lalu segera mulai mengerjakan tugasnya dengan cekatan.
Gio kemudian menoleh ke Susi yang masih berdiri di dekat pintu dengan wajah cemas. “Susi, kamu boleh kembali ke meja kerjamu di luar. Fokus saja pada pekerjaan dan jangan biarkan gangguan apa pun masuk lagi ke sini.”
“Baik, Pak Gio,” jawab Susi singkat, lalu segera keluar dan menutup pintu ruangan dengan hati-hati.
Sekarang hanya tinggal Samuel dan Gio di dalam ruangan itu. Gio melangkah mendekat, lalu menepuk bahu sahabatnya itu perlahan dengan nada yang kembali akrab dan menenangkan.
“Tenangkan dirimu, Sam. Sudah selesai sekarang. Kamu tidak perlu membuang terlalu banyak energi dan emosi hanya untuk wanita seperti dia. Kamu tahu sendiri sifatnya itu dan dia tidak pantas membuatmu marah sedemikian rupa,” ujar Gio dengan nada lembut namun tegas.
Samuel memijat pelipisnya yang terasa berdenyut karena amarah yang baru saja meluap. Ia melirik ke arah meja yang sedang dibersihkan, lalu menjawab dengan suara berat, “Kamu benar, Gio. Tapi setiap kali dia muncul, rasanya rasanya seperti dia berusaha mengotori semua hal yang aku jaga. Aku benar-benar muak melihatnya. Semoga saja dia sadar diri dan tidak datang lagi ke sini atau ke rumah.”
“Dia akan berhenti pada waktunya, percayalah. Sekarang tarik napas panjang, tenangkan pikiranmu. Masih ada banyak pekerjaan penting yang harus kita selesaikan hari ini,” sambung Gio, berusaha memulihkan suasana kembali normal.
Samuel mengangguk perlahan, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih berdebar kencang. Ia tahu ia harus segera mengembalikan ketenangan agar bisa melanjutkan pekerjaannya.
Setelah menghabiskan waktu mengobrol lama dengan Suci, Samantha berpamitan untuk pergi ke perusahaan ayahnya . Ia ingin menyempatkan diri berkunjung ke kantor pusat milik keluarganya Grup Perusahaan Alexander yang terletak tidak terlalu jauh dari kafe itu.
Dengan mobil pribadinya, ia melaju menuju gedung megah yang sudah sangat dikenalnya sejak kecil. Begitu sampai di lantai tertinggi, ia langsung disambut hangat oleh para staf yang sudah mengetahui kedatangannya.
Samantha melangkah masuk ke ruangan kerja utama tempat ayahnya, Tuan Damian Alexander, dan kakak sulungnya, Aslan Alexander, sedang duduk berdiskusi. Begitu melihat sosoknya muncul di ambang pintu, wajah kedua pria itu langsung berseri-seri dan seketika suasana ruangan yang tadinya serius berubah menjadi hangat.
“Nah, inilah putri kesayangan keluarga Alexander akhirnya datang juga,” seru Damian dengan suara lembut sambil berdiri menyambutnya, diikuti oleh Aslan yang tersenyum lebar.
Samantha tersenyum lebar, lalu mendekat dan mencium punggung tangan ayahnya serta menyapa kakaknya. “Selamat siang, Ayah, Kak Aslan. Maaf menggangu kalian kerja tadi habis bertemu Suci setelah sekian lama tidak bertemu.”
“Tidak apa-apa, dek . Justru kami sangat senang sekali bisa melihatmu setiap hari sekarang, apalagi kamu sudah memutuskan untuk menetap kembali di sini,” sahut Aslan sambil menepuk pundak adiknya dengan sayang.
Mereka pun duduk melingkar di area santai ruangan itu. Samantha merasa sangat nyaman berada di tengah orang-orang yang sangat dicintainya. Tanpa diminta, ia pun mulai bercerita dengan rinci mengenai apa yang baru saja dialaminya beberapa saat lalu.
“Ngomong-ngomong, Ayah, Kak. Tadi di kafe tempat aku bertemu Suci, aku sempat mengalami kejadian yang agak memalukan ,” kata Samantha sambil menggeleng pelan seolah masih teringat jelas kejadian itu.
Damian dan Aslan menatapnya dengan pandangan penasaran sekaligus waspada. “Memangnya kenapa? Ada yang mengganggumu?” tanya Damian cepat.
Samantha menggeleng pelan. “Bukan begitu. Tadi aku sedang berjalan terburu-buru sambil membawa barang, dan tanpa sengaja aku menabrak seorang pria. Pria itu terlihat sangat tampan , tapi sikapnya dingin sekali, bahkan suaranya terdengar tegas dan tajam saat menegurku. Aku hanya bisa meminta maaf dan segera pergi, karena rasanya menatap matanya saja membuatku merasa tertekan.”
Mendengar cerita itu, Damian dan Aslan hanya saling berpandangan lalu tersenyum tipis seolah mengerti sifat dunia luar yang keras. Namun sesaat kemudian, Damian membuka percakapan yang sudah lama ingin ia tanyakan.
“Sudahlah, itu mungkin hanya orang yang sedang banyak pikiran. Sekarang giliran Ayah bertanya, Samantha. Kamu sudah berusia 30 tahun, sudah selesai kuliah dan sudah dewasa. Kapan nih Ayah dan Kakak bisa mendengar kabar baik soal pernikahanmu?” tanya Damian dengan nada santai namun serius.
Bersambung,,,