NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Perperangan / Akademi Sihir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Author Raf

Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.

Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.

Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.

Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.

Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.

Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 Dekapan The Sky Leviathan

   ​Langkah kaki Kapten Alden dan Clara bergerak cepat meninggalkan kompleks Istana Agung Kekaisaran bawah, melewati jalur evakuasi senyap di Sektor Anggrek Barat yang kini telah sepenuhnya diamankan oleh sisa-sisa pasukan elite yang setia.

   Di belakang mereka, Mayor Cakra dan Hana berjalan beriringan dengan langkah yang konstan, memastikan tidak ada mata-mata Divisi Zirah Hitam yang mencoba membuntuti pelarian mereka dari jarak dekat.

   ​Hembusan angin malam yang pekat menyambut mereka saat kendaraan militer cadangan yang mereka tumpangi akhirnya tiba di pinggiran dermaga usang.

   Di balik rimbunnya kelopak anggrek raksasa yang menggantung seperti tirai alam berwarna ungu tua, siluet megah kapal induk The Sky Leviathan berdiri kokoh dalam mode penyamaran magis yang sempurna.

   Kapal perang kebanggaan armada langit itu tampak seperti monster besi yang sedang tertidur di balik vegetasi hutan udara.

   ​Begitu Alden memimpin tim melangkah menaiki jembatan pendaratan kapal, lampu-lampu mekanis di sepanjang geladak bawah seketika menyala redup, memancarkan sorot hijau tanda aman. Pintu palka kabin utama bergeser terbuka dengan desisan udara bertekanan tinggi yang halus.

   ​"Ayah! Ibu!"

   ​Sebuah teriakan melengking yang memecah keheningan geladak dengan gembira. Sosok kecil Toby melesat keluar dari balik pintu kabin rahasia dengan langkah kakinya yang pendek dan tergesa-gesa.

   Di belakangnya, Rin (7 tahun) berlari kecil dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya, disusul oleh Leo yang berjalan lebih tenang namun tidak mampu menyembunyikan gurat kecemasan yang mendalam dari wajah mudanya.

   ​Clara langsung menjatuhkan dirinya berlutut di atas lantai besi geladak, mengabaikan rasa perih yang sempat berdenyut di pergelangan tangan kanannya. Dalam hitungan detik, tubuh ramping Clara sudah didekap erat oleh pelukan hangat Toby dan Rin yang menangis terisak di ceruk lehernya.

   ​"Kami takut... hiks... kami takut Ayah dan Ibu tidak kembali lagi seperti waktu di utara," tangis Rin sesenggukan, jemari kecilnya mencengkeram kuat jubah wol bulu beruang langit milik Clara seolah takut kehilangan ibunya lagi.

   ​Clara memejamkan matanya rapat-rapat, menghirup aroma khas anak-anaknya yang sangat ia rindukan. Tangan kirinya bergerak lembut, mengusap punggung Rin dan menepuk pelan kepala Toby dengan penuh kasih sayang seorang ibu tulen. "Ibu di sini, Sayang. Ibu dan Ayah sudah pulang. Tidak akan ada yang pergi lagi, Ibu janji."

   ​Leo melangkah mendekat, berdiri tegap di samping Kapten Alden. Sepasang mata bocah dua belas tahun itu menatap sang ayah dengan kilatan api Phoenix yang berdenyut redup di dalam pupilnya. "Semua berjalan lancar di ruang sidang, Ayah?"

   ​Alden meletakkan telapak tangannya yang besar dan kokoh di atas bahu Leo, meremasnya pelan sebagai bentuk penghargaan atas keberanian anak sulungnya menjaga adik-adiknya. "Nama baik kita sudah bersih, Leo. Kapal ini tidak lagi dicap sebagai pembelot. Kau telah melakukan tugasmu dengan sangat baik malam ini."

   Bernet, sang kepala pelayan tua yang sejak awal setia menjaga kenyamanan kabin utama, melangkah maju menyambut mereka dengan senyuman ramah yang tulus. "Selamat atas keberhasilan Anda, Kapten, Nyonya Clara. Saya sudah memastikan seluruh kebutuhan logistik dan keamanan anak-anak di kabin dalam terjaga dengan aman selama Anda berdua pergi."

   ​"Terima kasih, Bernet. Siapkan semuanya, kita akan segera berlayar kembali menuju pelabuhan udara selatan," perintah Alden dengan nada absolut yang dipenuhi rasa percaya pada pelayan setianya itu.  ​

   ​Setelah situasi geladak kembali tenang dan kapal mulai bergerak senyap meninggalkan hutan anggrek raksasa, kelompok tersebut berpindah ke dalam kabin utama yang lebih hangat.

   Hana dengan cekatan langsung bergerak menuju dapur kapal, menyiapkan teh herbal hangat untuk memulihkan kondisi fisik Clara yang sempat drop akibat minimnya oksigen di terowongan bawah tanah.

   ​Mayor Cakra berdiri di dekat jendela besar kabin, menatap sorot lampu ibu kota bawah yang perlahan mengecil di kejauhan. "Vane mungkin sudah membusuk di Menara Isolasi, Alden. Tapi Brakala tidak akan tinggal diam. Ancaman gugatan hak asuh anak yang dilemparkannya di depan Kaisar tadi bukan sekadar gertakan politik sambilan."

   ​Alden yang sedang duduk di samping Clara di atas sofa kulit panjang mendengarkan dengan rahang yang mengeras tegap. Pria itu menarik tubuh Clara sedikit lebih dekat, melingkarkan lengan kirinya di pinggang istrinya dengan gerakan yang sangat posesif.

   ​"Dia mengincar Clara karena dia tahu dia tidak bisa menyentuhku dari jalur militer," desis Alden, suara baritonnya bergetar rendah di dalam ruangan. "Brakala mengira dia bisa memanipulasi hukum Kekaisaran kuno mengenai status ibu tiri dan hilangnya inti sihir Clara untuk mencabik-cabik keluarga kita."

   ​Clara menatap cangkir teh hangat yang baru saja disajikan oleh Hana, seulas senyum dingin terukir di bibirnya yang mulai kembali merona. "Dia mengira aku masih Clara yang sama seperti tiga tahun lalu, Alden. Pria itu mengira trauma masa lalu ketika dia menghancurkan inti sihir penyembuhku akan membuatku bertekuk lutut dan menyerahkan anak-anak begitu saja."

   ​Clara menoleh, menatap lurus ke dalam sepasang mata abu-abu badai suaminya dengan tatapan yang sarat tekad baja langit. "Aku kehilangan sihirku, tapi aku tidak kehilangan akal sehatku sebagai seorang ibu. Jika Brakala ingin bertarung di dewan hukum domestik satu bulan lagi, maka aku akan memastikan altar hukum itu menjadi tempat di mana seluruh kelicikan masa lalunya terhampar telanjang di hadapan publik."

   ​Mendengar ketegasan dari istrinya, kilatan rasa bangga dan cinta yang mendalam terpancar jelas dari balik mata dingin Alden. Ia mengangkat tangan kiri Clara, membawa jemari halus itu ke bibirnya, lalu mengecupnya dengan kelembutan yang sangat intim.

   ​"Aku akan mengerahkan seluruh pengaruh jaringan perwira seniorku di wilayah udara selatan untuk mengunci pergerakan intelijen Brakala, Nyonya Alden," timpal Mayor Cakra dengan seulas senyum tegap yang suportif. "Dia tidak akan bisa menyusupkan mata-matanya ke kediaman kalian selama masa persiapan sidang domestik ini."

   ​"Terima kasih, Cakra. Kehadiranmu dan Hana di istana tadi adalah kunci kemenangan kita," ujar Alden penuh rasa hormat pada sahabat karibnya.

   ​Malam kian larut ketika Mayor Cakra dan Hana pamit undur diri menuju kabin peristirahatan mereka di sektor tengah kapal.

   Di dalam kabin utama, ketiga anak Alden yang sempat menolak untuk tidur akhirnya kelelahan dan tertidur pulas di atas karpet bulu tebal di depan perapian magis kabin. Leo tidur dengan posisi memeluk pelindung pedang latihannya, sementara Rin dan Toby saling meringkuk di bawah selimut wol besar.

   ​Alden bangkit dari sofa, berjalan pelan ke arah anak-anaknya, lalu mengangkat tubuh kecil Toby dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan bocah itu, memindahkannya ke atas ranjang tidur kabin dalam, diikuti oleh Rin yang dipindahkan dengan kelembutan yang sama.

   ​Setelah memastikan ketiga anak kandungnya tertidur dengan aman, Alden kembali berjalan mendekati Clara yang masih duduk bersandar di dekat perapian. Pria tegap itu berlutut di depan istrinya, sepasang tangan besarnya yang hangat menggenggam kedua lutut Clara, menatap wanita itu dengan intensitas emosi yang luar biasa kental.

   ​"Maafkan aku, Clara... karena masa laluku sebagai seorang perwira dan status anak-anak ini kembali menyeretmu ke dalam radar bajingan seperti Brakala," bisik Alden, gurat bersalah sempat melintas di wajah tampannya yang kaku.

   ​Clara menggeleng cepat. Ia memajukan tubuhnya, melingkarkan kedua lengannya di leher kokoh Alden, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya yang beraroma maskulin dan besi perang. "Jangan pernah meminta maaf untuk hal yang menjadi alasan mengapa aku merasa hidup kembali, Alden. Menjadi ibu dari Leo, Rin, dan Toby, serta menjadi istri dari Kapten badai sepertimu adalah takdir terbaik yang pernah kupilih."

   ​Alden mempererat dekapannya, mengangkat tubuh ramping Clara dengan mudah ke dalam gendongan protektifnya, membawa wanita itu menuju ranjang utama mereka di balik tirai sutra perak kabin.

   ​Di atas kapal induk yang terus melaju membelah sabuk awan malam menuju pelabuhan udara selatan, sepasang suami istri itu mengunci janji batin mereka di bawah kehangatan sisa malam, siap membangun benteng pertahanan domestik yang tak tertembus oleh trik hukum apa pun yang akan dilemparkan oleh Penasihat Sihir Brakala demi melindungi keutuhan keluarga mereka.

Mohon dukungan dan follownya ya... 🙏🙏🙏

1
Al Ranai
semangat kakkk
HaRas_DeHas: Makasih banyak Kak. Jangan lupa follow ya.
total 1 replies
Al Ranai
semangatt kakk, di tunggu kelanjutannya yaaa💪💪😁
HaRas_DeHas: Siap...
total 1 replies
Al Ranai
bagus kakkk ceritanya, semangatt kakkk😊
HaRas_DeHas: Wahhh... makasih banyak Kak sudah mampir. Alhamdulillah, saat sepi pembaca ternyata ada yang mampir dan beri komen. Jangan lupa follow akun saya ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!