Ranti harus berusaha sekuat tenaga untuk bisa lebih bersabar dalam menghadapi cobaan hidupnya yang teramat berat & amat kelam. Dia terpaksa harus hidup dengan laki-laki kejam salah satu Bos mafiah terkuat di negri ini karena kesalahan dan kerugian yang telah Ayah & kakak tiri laki-lakinya lakukan kepada Bos mengerikan itu. Salah satu alasan dirinya bertahan adalah nyawa Adik kandung laki-lakinya yang mengidap penyakit asma akut serta Ibu kandung yang sangat ia sayangi. Ibunya pernah berkata akan ada hal baik dari setiap kesabaran, dan tanpa Ranti duga kesabaran nya lah yang membuatnya jatuh cinta pada seorang Bos mafiah kejam nan tampan itu.. Akankah hidup Ranti akan menjadi indah atau akan menjadi semakin kelam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Verraa Chen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 (Kedatangan Budiman & Anto)
Suara tembakan terdengan begitu nyaring mengenai papan bidikan dengan mulus dan tepat sasaran. Calvin amat serius saat menembak sasarannya hingga pelurunya habis tak tersisa.
"Wow.. your shots are always right." Ujar Rico disebelahnya menemani Calvin yang sedang latihan menembak di sebuah markas ruang bawah tanah rumah.
"You wanna try?" Tanya Calvin, Rico menggeleng dia tidak begitu hobi menembak namun bukan berarti dia tidak bisa. Hanya terkadang menggunakan tembakan dalam keadaan darurat saja.
Calvin meletakan pistol nya ke meja yang terletak disampingnya lalu mengambil senapan sniper model baru dan mencoba membidik papan sasarannya lagi. Suaranya tidak begitu keras seperti suara tembakan tadi karena senapan ini senapan model baru yang minim suara. Setelah selesai mencoba senapannya, Calvin nyengir ceria menatap sahabatnya.
"Bagus, gue suka senapan ini. Suara tembakannya gak begitu berisik gue gak perlu pake alat penutup kuping ini." Kata Calvin melepaskan headset nya dan melempar keatas meja begitu saja. "Dari bokap gue ini?"
"Iyesss.." Rico hanya berdiri memperhatikan sahabatnya memeriksa senapan barunya itu. "Hadiah pernikahan lo katanya." Kata Rico terkekeh.
Huft! Calvin mendengus geli. "Baru ngasih sekarang, telat banget. Gue nikah sudah mau 2 tahun kan."
"Anniversary, maybe." Rico mulai cekikikan.
"Halah.. Dia dimana sih sekarang? Apa masih di Italy? Betah banget disana."
"Karantina, Vin. Om Marwan gak bisa terbang kesana sini sementara ini, tau kan situasinya disana mencekam banget. Tapi kabarnya sih Om Marwan lagi mencari kesempatan dalam kesempitan."
Calvin mengerutkan kening sambil menoleh Rico. "Maksudnya?"
"Vaksin. Kenalan Om Marwan di Cina lagi berusaha ngedapetin Vaksin itu untuk di jual lagi dengan harga tinggi."
"Emang udah jadi vaksin nya? bukannya masih di teliti ya?"
"Sebenernya udah, cuma masih ilegal belum legal ke pemerintah."
"Kita dapet jatah kan? Bokap gue gak mungkin lupa sama keadaan disini."
Rico mengangguk pelan. "Sudah ada di ruang kerja lo, Vin. Tinggal kita panggil dokter Kenzo aja buat suntik kita semua."
"Bagus. Utamain Ranti ya, dia harus selalu sehat jangan sampai dia sakit apalagi terluka lagi." Ucapnya serius masih sambil melihat-melihat jenis senapannya itu.
"Saking cintanya ya lo sama Ranti." Rico tertawa geli melihat perhatian sahabatnya pada Ranti.
"Makanya punya istri, Ric! Atau minimal pacar lah, jangan cewek bayaran mulu!" Ledek Calvin. "Chris keliatannya suka lho sama lo, kalian juga cocok sih menurut gue!"
Namanya Christina. Anak perempuan pertama nya Om Roy. Wanita cantik, modis dan sexy tapi sayang sifatnya selalu dingin terhadap orang, raut wajahnya pun angkuh apa lagi jika dia sedang di dalam pengadilan. Semua keangkuhannya selalu keluar, namun itu yang mungkin membuatnya bisa memenangkan banyak kasus besar. Christina juga pengacara sama seperti Roy dan Rico, Om Roy memang sengaja menyiapkan Christ untuk mengurus kasus-kasusnya agar kelak bisa meneruskan kantor hukum kepunyaannya bersama Rico.
Dibalik sikap dinginnya, Christ memang menyukai Rico. Perasaan itu tidak bisa dia tutupi, bahkan karyawan-karyawan kantornya juga sudah mengetahui tentang perasaannya terhadap Rico namun tentu saja tidak akan ada yang berani membicarakannya di kantor hanya bisa bergosip di luar kantor saja. Padahal Om Roy sangat berharap Christ bisa menikah dengan Calvin, Surya pun demikian karena merasa punya hutang budi. Namun mereka beralasan jika anak jaman now itu akan memilih pasangan hidupnya sendiri dan anti dengan yang namanya perjodohan, walaupun sampai sekarang Surya masih berusaha memaksa Calvin untuk bersama si bule.
"Apaan sih!" Sahut Rico mulai jengkel. Bukan maksudnya tidak suka tapi sebenarnya dia minder.
"Ngomong-ngomongin Ranti," Rico berusaha mengalihkan topik pembicaraannya. "Bram ngasih laporan. Mertua lo sama Anto makin hari makin gak bisa terkontrol nyabu nya. Jatah yang kita kasih selalu kurang."
"Gak pernah ada kabar bagus sih dari 2 orang gak berguna itu!"
"Iya. Pernah sekali Bram ngobrol sama Lasmi, dia minta Bram sampein ke lo kalo bisa bawa dia dan Hito tinggal disini bersama Ranti. Sudah gak tahan hidup sama Budiman dan Anto walaupun semenjak ada Bram, sifat seenaknya Budiman dan Anto berkurang."
Calvin mendengus jengkel mana mungkin dia akan memboyong Ibu mertua dan adik iparnya tinggal disini. Ranti saja dia sekap di kamar. Tidak sembarang orang bisa masuk kerumah ini karena rumah ini juga menjadi markas bisnis ilegalnya.
Tak lama Torry dateng menghampiri mereka.
"Bos, Budiman dan Anto datang mencari, Bos." Lapor Tori.
"Nah kan, panjang umur juga mereka." Calvin melirik Rico dengan raut wajah bertanya. Rico menaikan kedua bahunya tanda tidak tahu. "Berani banget itu orang dateng kesini nyariin gue! Sama Bram?"
"Nggak, Bos. Mereka datang berdua, Bram berjaga dirumahnya." Jawab Tori.
"Paling minta tambahan kokain. Terakhir dia maksa salah 1 kurir kita buat nganterin kokain kerumahnya." Ujar Rico.
"Terus dikasih?"
"Sialnya, Vin. Kurir itu takut karena Budiman bawa-bawa nama lo ngomong-ngomong kalo dia mertua lo." Jawab Rico.
Calvin tertawa mengejek sambil menggelengkan kepalanya.
"Saya usir aja ya, Bos?!" Sahut Tori tegas. Calvin mengangkat sebelah tangannya.
"Gak usah. Ayo Ric kita samperin Bapak mertua dan kakak ipar gue itu." Ejek Calvin. Rico tergelak.
Mereka meninggalkan ruang latihan menebak, berjalan keluar dari ruang latihan itu. Ruang bawah tanah itu sangat luas. Terdapat ruangan-ruangan lainnya lagi seperti gudang barang-barang narkoba nya, lab kedokteran lengkap dengan alat-alat dan beberapa pekerja nya. Ada juga ruang eksekusi di bagian belakang basement itu juga beberapa sel seperti sel tahanan. Di bagian depan basement terdapat ruang latihan tinju dengan area panggung dan ring yang melingkar disekelilinya. Lalu mereka sampai di aula yang tidak begitu besar namun juga tidak kecil dan di depan aula terdapat pintu besi tebal yang terbentang beberapa anak tangga menuju taman di samping rumah.
"Dimana mereka?" Tanya Rico.
"Ruang tamu, Bos."
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah melalui pintu kaca samping sebelum kolam renang yang cukup besar namun tidak pernah ada yang merenanginya.
"Ada apa Budiman?" Sapa Calvin. Mereka telah sampai di ruang tamu yang posisinya ada di bagian depan dalam rumah megah itu. Melihat kedatangan menantunya, Budiman dan Anto pun langsung bangkit dari duduk nyamannya.
"Ayah. Panggil saya Ayah. Kita kan sekarang keluarga." Ucap Budiman bangga. Anto tersenyum lebar namun Calvin mengacuhkannya.
"Tori." Panggil Calvin, Tori mendekat. "Bilang Bibi, bawa Ranti kesini." Sejenak Tori heran. Ini pertama kalinya Bos menyuruh Bi Tuti membawa Ranti dari dalam kamarnya setelah hampir 2 tahun menikah. Tori menoleh ke Rico, Rico pun mengangguk.
"Baik, Bos." Tori keluar dari ruang tamu dan menghampiri Bi Tuti yang sedang di dapur.
"Sebenarnya, Calvin-- hmm.. Ranti gak perlu repot-repot nemuin kami, biarkan saja Ranti istirahat." Ucap Budiman dengan gugup namun berusaha untuk percaya diri. Anto pun geli dengan ucapan Ayahnya yang dengan tidak tau dirinya memanggil nama Calvin dan menegaskan kata Ayah pada mantan Bosnya.
"Bukannya keluarga seharusnya begitu? Orangtua datang pasti kangen sama anak gadis kesayangannya, ya kan?" Ejek Calvin.
Mereka berdua diam, merasa bahwa ucapan Calvin memang sebuah ledekan tentang anak gadis kesayangan.
"Iya tentu saja." Lagi-lagi Budiman menjawab dengan tidak tau malunya.
"Bi, Bos nyuruh bawa Ranti ke ruang tamu." Suruh Tori.
"Tumben. Ada apa emangnya?" Tanya Bi Tuti bingung namun dia juga lega akhirnya Calvin mau mengeluarkan Ranti dari dalam kamarnya. Bi Tuti pun sebenarnya tidak tega melihat Ranti yang hanya di dalam kamar saja.
"Ada Budiman sama Anto." Jawab Tori singkat. "Udah cepet sana, kelamaan ntar si Bos marah."
Bi Tuti mengangguk lalu segera berjalan cepat ke arah tangga megah rumah menuju kamar utama Bos nya. Di depan pintu kamar ada Beno yang setiap harinya selalu mengawal kamar Ranti bergantiang dengan Egil.
"Ben, saya di suruh Bos bawa Non Ranti ke ruang tamu." Sahut Bi Tuti.
"Ya, udah tau. Tori telfon dari bawah barusan." Ucap Beno.
Bi Tuti masuk ke dalam kamar megah nan mewah itu, melewati sofa santai berjalan masuk lalu melihat Nona Bos nya seperti biasa duduk melamun di pinggir jendela kamarnya dengan posisi menjatuhkan kepalanya di kedua dengkul kakinya yang dia tekuk sambil duduk di atas dudukan ujung tempat tidur yang selalu di geser kan agar merapat ke jendela.
"Non." Panggil Bi Tuti. Ranti menengok ke sumber suara. "Ayo ikut, Bibi Non. Ada Ayah dan Kakaknya Non di ruang tamu."
"Apa? Ayah dan Mas Anto?" Ranti sedikit kaget sejak pernikahannya dia tidak pernah melihat Ayahnya dan Anto. Padahal bukan mereka yang diharapkannya. "Untuk apa mereka kesini, Bi?"
"Kurang tau, Non. Bibi cuma di suruh bawa Non turun ke bawah aja."
"Emang gak papa sama Calvin? Nanti dia marah gak aku keluar dari sini?" Khawatir Ranti.
Bi Tuti menarik nafas prihatin melihat Nona Bos nya yang memang cantik tapi hanya hidup di dalam sangkar emas. Walaupun Dia merasa Calvin benar dalam memilih pendamping hidup. Ranti memang berbeda dari semua wanita yang dia kenal di lingkungan Bos nya bahkan anaknya sendiripun tidak sebaik Ranti.
"Gak papa, Non. Ini juga perintah dari Den Calvin." Jawab lembut Bi Tuti. Ranti langsung sumringah jika Calvin benar-benar mengizinkannya keluar dari kamar ini. "Ayo, Non. Nanti Den Calvin kelamaan nunggu."
Ranti bangkit dan berjalan mendekati Bi Tuti. Dia bahkan menggandeng lengan Bi Tuti. Bi Tuti adalah orang yang baik yang mengurusnya dirumah ini dengan lembut dan juga kasih sayang jadi tidak salah jika Ranti begitu nyaman berdekatan dengan Bi Tuti seperti ini.
Bersambung...
makin ujung makin seruu