Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.
Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.
Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.
Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 : Arga merasa bingung
Arga masih berdiri di tepi jalan dengan tatapan yang belum lepas dari arah kepergian Winarsih. Angin siang berembus pelan, membuat jas dokternya sedikit berkibar. Namun pikirannya jauh lebih gaduh daripada suasana di sekitarnya.
"Ada yang tidak beres."
Ia mengenal sorot mata Winarsih saat wanita itu menoleh tadi. Bukan marah, bukan juga kecewa. Melainkan... takut, takut yang seolah memaksanya menjauh.
"Kenapa dia seperti sedang menghindariku?" gumam Arga pelan.
Perawat Dessi yang baru saja keluar dari puskesmas melihat Arga masih berdiri di pinggir jalan.
"Dok?" panggilnya.
Arga menoleh.
"Loh, Dokter belum pulang?"
Arga tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. "Iya, tadi saya habis bertemu seseorang."
"Mba Winarsih, ya?"
Arga sedikit terkejut. "Kok kamu tahu?"
Dessi tersenyum kecil. "Tadi saya juga melihat Mbak Winarsih mengantar roti ke warung depan. Tapi kok buru-buru sekali perginya."
Arga mengangguk pelan. "Itu juga yang sedang saya pikirkan."
"Memangnya ada apa, Dok?"
Arga menggeleng. "Saya juga belum tahu."
Dessi tidak bertanya lagi. "Kalau begitu saya masuk dulu, Dok."
"Iya."
Setelah Dessi kembali masuk ke dalam puskesmas, Arga masih memandang jalan yang kini sudah sepi. Perlahan ia mengeluarkan ponselnya. Ia membuka daftar kontak, lalu berhenti pada sebuah nama.
Kenji Sato.
Sahabat lamanya yang kini bekerja di sebuah rumah sakit di Jepang sekaligus memiliki banyak relasi di sana.
Arga menarik napas panjang. "Aku harus segera mencari keberadaan Benni."
Tanpa menunggu lama, ia langsung menekan tombol panggil.
Beberapa saat kemudian...
Tut... tut...
"Halo, Arga!" Suara pria di seberang terdengar ramah.
"Halo, Kenji."
"Wah, sudah lama sekali kamu tidak menghubungiku. Bagaimana kabarmu?"
"Baik."
"Terdengar seperti ada sesuatu."
Arga tersenyum tipis. "Aku memang butuh bantuanmu."
"Tentu. Katakan saja."
"Aku sedang mencari seseorang yang kabarnya bekerja di Jepang."
"Siapa namanya?"
"Benni."
"Hanya Benni?"
"Iya. Aku belum punya data lengkap. Nanti akan kukirimkan foto dan informasi yang berhasil kudapat."
Kenji berpikir sejenak. "Kalau datanya terlalu sedikit memang agak sulit. Tapi aku akan mencoba membantumu."
"Terima kasih."
"Kamu sendiri kenapa tiba-tiba mencari orang itu?"
Arga terdiam beberapa detik. "Ada seseorang di sini yang sangat ingin berbicara dengannya."
Kenji tidak bertanya lebih jauh. "Baik. Kirim semua data yang kamu punya. Aku akan minta bantuan beberapa teman."
"Terima kasih, Kenji."
"Sama-sama."
Sambungan telepon pun berakhir.
Arga memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. "Setidaknya masih ada harapan," gumamnya.
Ia memutuskan untuk pulang ke rumah dinas. Namun jauh di belakang mobil Arga. Sedan hitam yang sejak tadi terparkir perlahan menyalakan mesinnya.
Brumm...
Mobil itu bergerak dengan kecepatan sedang, menjaga jarak agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Pria di balik kemudi kembali menghubungi seseorang melalui earphone. "Nona."
Suara Clarissa terdengar dari seberang. "Iya."
"Dokter Arga baru saja menelepon seseorang. Saya tidak bisa mendengar isi pembicaraannya."
Clarissa terdiam sejenak. "Terus ikuti dia."
"Baik, Nona."
"Tapi jangan sampai Arga sadar."
"Siap."
Telepon ditutup.
Clarissa yang sedang duduk di balkon sebuah vila menatap hamparan perbukitan di depannya. Entah mengapa, hatinya justru semakin gelisah.
"Apa sebenarnya yang sedang kamu lakukan, Arga?" bisiknya pelan. Kenapa aku merasa... kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku?"
Sementara itu, mobil Dokter Arga melaju meninggalkan Puskesmas Sekar Sari menuju rumah dinas yang tidak terlalu jauh dari sana.
Arga menyandarkan punggungnya sejenak di kursi kemudi. Namun pikirannya masih dipenuhi bayangan Winarsih yang tiba-tiba menghindarinya.
"Jelas ada sesuatu yang terjadi."
Ia masih mengingat tatapan mata Winarsih beberapa menit lalu. Tatapan itu dipenuhi ketakutan, seolah-olah ada seseorang yang memaksanya menjauh.
"Apa pagi tadi setelah aku pergi... terjadi sesuatu?" gumamnya.
Semakin dipikirkan, semakin banyak pertanyaan yang bermunculan di kepalanya. Tak lama kemudian, mobil Arga memasuki halaman rumah dinas.
Brumm...
Ia mematikan mesin mobil, tetapi tidak langsung turun. Tangannya mengambil ponsel, lalu membuka galeri. Di sana masih tersimpan foto secarik kertas berisi identitas Benni yang sempat diperlihatkan Winarsih beberapa waktu lalu. Arga menatap foto itu beberapa saat.
"Aku harus menemukanmu, Benni," ucapnya pelan. "Setidaknya, Winarsih berhak mendapat jawaban langsung darinya."
Tanpa menunggu lama, Arga mengirimkan foto dan seluruh informasi yang dimilikinya kepada Kenji.
Tak sampai beberapa menit, balasan pun masuk.
Kenji: Aku sudah terima datanya. Aku akan mulai mencari hari ini juga. Kalau ada kabar, langsung aku hubungi.
Arga mengembuskan napas lega. Semoga semuanya segera menemukan titik terang.
Di tempat lain...
Sedan hitam yang dikendarai Dimas berhenti tidak jauh dari rumah dinas Arga. Dimas mematikan mesin mobil, lalu mengamati dari kejauhan saat Arga masuk ke dalam rumah.
Beberapa detik kemudian, ia kembali mengambil ponselnya. "Nona, Dokter Arga sudah sampai di rumah dinas."
"Dia bertemu siapa saja?" tanya Clarissa dari seberang.
"Tidak ada. Setelah keluar dari puskesmas, dia langsung pulang."
"Baik."
"Tapi..."
"Ada apa?"
"Sebelum pulang, Dokter Arga sempat menelepon seseorang. Wajahnya terlihat serius."
Clarissa terdiam.
"Menurut saya, telepon itu penting."
Clarissa memejamkan matanya sejenak. "Kalau begitu, cari tahu siapa orang yang dihubunginya."
"Baik, Nona."
"Dan satu lagi."
"Iya, Nona?"
"Mulai sekarang, jangan hanya awasi Winarsih."
"Maksud Nona?"
"Aku juga ingin tahu semua kegiatan Arga."
"Baik."
Sambungan telepon pun berakhir.
Di balkon hotel tempat Clarissa menginap, angin sore bertiup lembut memainkan rambut panjangnya. Ia menggenggam cangkir kopi yang mulai mendingin. Dalam benaknya terus terbayang sikap Arga beberapa bulan terakhir.
Pria itu berubah, semakin sulit ditebak, semakin sering menyembunyikan sesuatu. Dulu, Arga selalu menceritakan apa pun kepadanya. Kini, jangankan bercerita, mengangkat telepon darinya saja sering kali tidak.
Tatapan Clarissa perlahan berubah sendu. "Apa benar..." bisiknya lirih. "Aku mulai kehilanganmu, Arga?" Ia menatap langit yang mulai berubah jingga.
"Tidak..." Clarissa menggeleng pelan. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilmu dariku." Sorot matanya kembali berubah tegas. "Termasuk wanita desa itu."
***
Kini kesibukan di Pabrik Roti Juragan Warso perlahan berkurang. Sebagian pekerja sudah mulai merapikan peralatan, sementara beberapa lainnya bersiap pulang.
Winarsih masih berdiri di dekat meja kayu tempat roti-roti disusun. Tangannya memang sibuk melipat beberapa kantong kertas bekas pembungkus roti, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana.
Bayangan wajah Dokter Arga saat ia meninggalkannya di depan warung terus terlintas di benaknya. Senyum hangat yang tadi sempat menghiasi wajah dokter itu... perlahan berubah menjadi tatapan penuh kebingungan.
Winarsih memejamkan matanya sejenak. "Maafkan aku, Dok..." Air matanya hampir kembali jatuh. "Aku tahu Dokter hanya ingin membantuku. Tapi... aku tidak punya pilihan."
Ucapan Clarissa kembali terngiang jelas di telinganya. Winarsih tanpa sadar menoleh ke arah luar pabrik. Jalan desa tampak biasa saja. Tidak ada seorang pun yang mencurigakan.
Namun entah mengapa, ia merasa seperti benar-benar sedang diawasi. Perasaan itu membuat dadanya semakin sesak.
"Kalau apa yang dikatakan Nona Clarissa benar..." gumamnya lirih. "Berarti setiap kali Dokter Arga menolongku... orang-orang itu juga melihatnya."
Ia menundukkan kepalanya. "Aku tidak mau gara-gara aku, Dokter Arga ikut mendapat masalah."
Baginya, Arga sudah terlalu banyak berbuat baik. Pria itu menolongnya saat ia di dekati preman, mencarikan kontrakan, bahkan sekarang bersedia membantu mencarikan nomer telepon Benni.
Sedangkan ia justru membalas semua kebaikan itu dengan pergi tanpa sepatah kata. "Mungkin sekarang Dokter Arga membenciku," bisiknya pelan.
Hatinya terasa perih saat mengingat ekspresi kecewa yang sempat dilihatnya sebelum ia mengayuh sepeda pergi.
"Maafkan saya, Dok... saya tidak bermaksud bersikap seperti itu. Tapi saya tidak ingin menyeret Dokter ke dalam masalah saya."
Saat itu, Rudi yang sedang menyusun keranjang roti memperhatikan Winarsih yang sejak tadi hanya melamun.
"Mbak Winarsih?"
Winarsih tersentak. "Iya, Mas?"
"Sejak pulang tadi Mbak kelihatan banyak melamun."
Winarsih tersenyum tipis. "Nggak apa-apa, Mas."
Rudi menggeleng pelan. "Kalau memang ada masalah, jangan dipendam sendiri."
Winarsih hanya mengangguk kecil. "Iya, Mas."
Namun dalam hati ia berkata, "maaf, Mas Rudi... kali ini saya benar-benar tidak bisa menceritakannya kepada siapa pun."
Ia kembali menatap ke luar jendela pabrik. Dalam hati, ia membuat sebuah keputusan. "Mulai besok... aku harus benar-benar menjaga jarak dari Dokter Arga. Meskipun itu membuatku terlihat tidak tahu berterima kasih. Asalkan Dokter Arga tetap baik-baik saja... itu sudah cukup."