Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Andrea segera berdiri ketika melihat Bara datang.
"Selamat pagi."
Suaranya lembut dan terdengar sedikit gugup. Bara tidak menjawab. Ia hanya menarik kursi lalu duduk di tempat biasanya. Andrea tampak canggung, tetapi tetap berusaha untuk tersenyum.
"Andrea baru sampai semalam," ujar Selina dengan wajah bangga ke arah Bara. "Mulai bulan depan dia kuliah di kampus yang sama denganmu."
"Lalu?" sahut Bara sambil mengambil gelas di hadapannya.
Seketika suasana meja makan menjadi hening. Wajah Selina berubah tidak senang.
"Bara, tidak bisakah kau bicara lebih baik sedikit?"
Namun sebelum Bara menjawab, Andrea buru-buru menyela.
"Tidak apa-apa Ma .... "
Gadis itu tersenyum kecil kepada ibunya lalu menoleh ke arah Bara.
"Aku memang baru datang, Kak Bara."
'Kak Bara.'
Sebutan itu membuat Bara mengangkat alis tipis. Andrea kembali melanjutkan dengan polos.
"Mama sering cerita tentang Kak Bara."
Bara nyaris tertawa. Cerita yang mana. Tentang dirinya yang dianggap anak pembangkang, atau tentang dirinya yang setiap hari berharap keluarga mereka hancur.
"Kak Bara pasti sibuk," lanjut Andrea.
"Tidak," jawab Bara pendek, namun Andrea malah terlihat senang karena akhirnya mendapatkan respons.
"Aku senang akhirnya kita bisa bertemu langsung," ucap Andrea lagi, membuat Bara menatap ke arahnya beberapa detik. Tidak ada kepura-puraan dari kalimat itu, tidak ada kesombongan, juga tidak ada tatapan merendahkan, yang ada hanya ketulusan, dan bagi Bara, itu aneh.
Selama bertahun-tahun ia membayangkan putri Selina pasti sama liciknya dengan ibunya. Manja, angkuh, menyebalkan, namun Andrea justru terlihat seperti anak yang terlalu baik untuk keluarga ini. Bahkan ketika menoleh kepada pak Danu, ayah kandung Bara. Gadis itu berkata dengan sopan.
"Om, nanti Andrea boleh lihat kampusnya?"
'Om' bukan Papa, bukan Ayah, atau sebutan keluarga lainnya. Andrea tetap menjaga batas yang jelas. Meskipun sudah bertahun-tahun ibunya menikah dengan pria itu.
Pak Danu pun tersenyum hangat.
"Tentu boleh."
Andrea mengangguk senang. Sedangkan Bara hanya memperhatikan semuanya dalam diam.
'Bodoh.'
Begitulah penilaiannya. Andrea terlalu polos. Terlalu mudah percaya pada orang lain. Terlalu naif untuk menyadari bahwa orang yang ia panggil 'Kak Bara' barusan, sebenarnya sedang memikirkan cara untuk bisa menghancurkan hidupnya, dan justru karena kepolosan itulah, Andrea menjadi target yang sempurna.
Bara menyesap kopinya perlahan. Tatapannya dingin. Di balik wajah tenangnya, sebuah rencana sudah mulai bergerak. Ia akan membuat Andrea jatuh ke dalam rayuannya.
Membuat gadis itu mempercayainya. Membuatnya bergantung padanya. Lalu ketika saatnya tiba, Ia akan menghancurkan semua yang dimiliki Andrea dengan tangannya sendiri.
Namun ada satu hal yang belum diketahui Bara. Andrea bukan hanya berbeda dari bayangannya. Gadis itu juga menyimpan sesuatu yang dapat mengubah seluruh rencana balas dendamnya di masa depan.
***
Pagi berikutnya, rumah Adikara terasa lebih ramai dari biasanya. Andrea sudah duduk di meja makan sejak pukul enam pagi. Padahal kuliahnya baru akan dimulai beberapa hari lagi, namun hari ini gadis itu terlihat sangat bersemangat untuk datang ke kampus sekedar melihat-lihat tempat di sana.
Bara yang baru turun dari lantai atas hanya melirik sekilas sebelum mengambil secangkir kopi.
"Kak Bara," panggil Andrea tiba-tiba, sementara Bara tidak langsung menjawab. Meski begitu Andrea tetap tersenyum.
"Apa aku boleh ikut ke kampus bareng sama Kak Bara?"
Pertanyaan itu membuat Bara mengangkat sebelah alisnya. Ia menatap Andrea beberapa detik lalu kembali meminum kopinya.
"Tidak."
Jawaban singkat yang membuat Andrea tampak kecewa.
"Oh .... "
Namun hal itu hanya berlangsung beberapa saat, karena kemudian Andrea kembali tersenyum dan berkata, "tapi kampusnya sama kan?"
"Iya."
"Kalau begitu Andrea ikut saja. Please ... boleh ya .... " rengek Andrea yang membuat Bara hampir tertawa karena kebodohan gadis di hadapannya.
"Terserah padamu saja," jawab Bara kemudian. Andrea pun langsung terlihat senang.
"Terima kasih Kak Bara! kalau gitu aku ganti baju dulu," serunya riang.
Kali ini Bara tidak menjawab, namun jauh di dalam pikirannya, sebuah rencana mulai bergerak. Hari ini akan menjadi langkah pertama untuk pembalasan dendamnya.
Sekitar satu jam kemudian, Bara berdiri di dekat mobil sport hitamnya sambil memainkan kunci. Ia menunggu Andrea dengan wajah datar. Sampai akhirnya pintu rumah terbuka.
Bara menoleh dan untuk sesaat ia terdiam. Bukan karena kagum, melainkan karena Andrea lagi-lagi menghancurkan asumsi yang sudah ia buat.
Selama ini Bara membayangkan putri Selina pasti akan tampil seperti kebanyakan gadis kaya. Pakaian mahal. Riasan tebal. Aksesoris berlebihan dan sikap yang menyebalkan, namun yang muncul di depan matanya justru sebaliknya.
Andrea mengenakan kemeja putih simple yang lengannya digulung sampai siku, dipadukan dengan celana jeans biru dan sepatu sneakers putih. Sedangkan rambut hitam panjangnya hanya diikat sederhana ke belakang. Tidak ada perhiasan mencolok. Tidak ada riasan berlebihan. Hanya ada gelang aksesoris yang melingkar di pergelangan tangannya.
Penanpilan itu sungguh sederhana. Terlalu sederhana untuk ukuran putri keluarga Adikara, namun ada satu hal yang tidak bisa diabaikan Bara. Andrea cantik, bahkan sangat cantik, dan meskipun berpakaian sederhana, gadis itu memiliki postur tubuh yang proporsional. Tinggi, putih, langsing, dan se k si.
Bukan tipe kecantikan yang berusaha menarik perhatian, tapi justru kecantikan yang muncul begitu saja tanpa perlu usaha.
Kini Andrea berjalan menghampiri Bara dengan senyum riang di bibirnya.
"Kak Bara, lama ya nunggunya?"
"Nggak kok, ayo buruan masuk!"
Andrea tersenyum mendengar ajakan itu, sedangkan Bara memalingkan wajah. Entah kenapa ia mulai merasa kalau sosok Andrea sangat berbeda, namun Bara sudah bertekad bahwa apapun yang terjadi, tetap tidak akan mengubah apa pun. Andrea tetap anak Selina, dan itu sudah cukup.
Perjalanan menuju kampus berlangsung cukup sunyi. Andrea beberapa kali mencoba mengajak Bara untuk bicara. Sebagian besar hanya mendapat jawaban satu atau dua kata. Anehnya, gadis itu tidak pernah terlihat kesal.
"Kampusnya besar ya? tanya Andrea memecah keheningan.
"Hm."
"Jurusan seni ada di gedung mana?"
"Belakang."
"Oh."
Hanya sebatas itulah percakapan yang terjadi sebelum akhirnya hening lagi. Andrea kembali melihat keluar jendela. Sedangkan Bara diam-diam mengirim pesan kepada seseorang.
"Semuanya sudah siap?"
Tak lama kemudian, jawaban langsung masuk.
"Siap, Bos."
Senyum tipis seketika muncul di sudut bibir Bara. Ia yakin kalau hari ini akan menjadi awal yang bagus.
Sesampainya di kampus, seperti biasa kedatangan Bara langsung menarik perhatian. Mahasiswa dan mahasiswi menoleh ke arahnya. Beberapa bahkan berbisik senang.
Andrea memperhatikan semua itu dengan penasaran.
"Kak Bara terkenal ya?" tanyanya lagi.
"Nggak," jawab Bara ketus, membuat Andrea tersenyum karena jelas-jelas semua orang memperhatikan mereka, namun Bara tetap bersikap seolah tidak ada apa-apa.
Mereka berjalan melewati beberapa gedung. Sampai akhirnya tiba di area fakultas seni. Gedung itu sedikit terpisah dari bangunan utama, dan Bara sengaja mengajak Andrea menuju ke galeri seni lama yang ada di bagian sudut paling belakang gedung.
Suasananya lebih sepi karena galeri itu sebenarnya sudah tidak dipakai lagi. Sudah pindah ke area lantai dua yang lebih luas dan nyaman.
"Ini galeri seninya kalau kamu mau lihat banyak lukisan indah di dalamnya," ucap Bara menjelaskan.
"Tapi kok nggak ada orang sama sekali ya?"
"Nggak apa-apa, siang dikit juga ramai. Masuk aja, aku ada kuliah sebentar, nanti aku jemput lagi ke sini."
Andrea pun mengangguk setuju.
"Kalau gitu sampai nanti Kak Bara," pamit Andrea, sementara Bara hanya mengangkat tangan sedikit kemudian berbalik pergi, namun begitu Andrea menghilang ke dalam galeri, Bara menuju ke tempat teman-temannya sudah menunggu.
"Target masuk," ucapnya yang kemudian duduk santai di sebuah kursi. Salah satu temannya yang mendengar itu langsung tertawa.
"Kasihan juga tuh cewek," sahut yang lain.
"Apanya yang harus dikasihani? ini bahkan baru mulai."
Bara berkata dingin.