Kirana adalah gadis pekerja keras yang hidup sederhana, rela lembur sampai larut malam demi menabung untuk masa depan yang lebih baik. Suatu malam saat hujan deras mengguyur kota, ia melihat seekor anak kucing terlantar di tengah jalan. Tanpa ragu ia menolongnya, namun justru ia yang tertabrak truk melaju kencang. Di detik-detik terakhir hidupnya, Kirana memohon dengan sekuat tenaga agar diberi kesempatan hidup sekali lagi.
Saat terbangun, ia tidak lagi berada di jalan raya atau rumah sakit. Ia kini menempati tubuh Elena—istri dari Leonid, seorang pemimpin kelompok mafia yang ditakuti banyak orang. Elena asli dikenal wanita yang licik, kejam pada anak kandungnya sendiri yang baru berusia empat tahun bernama Alvaro, serta diam-diam menjalin hubungan gelap dan merencanakan pelarian membawa harta suaminya.
Kini Kirana harus bertahan hidup dengan menyamar sebagai Elena. Ia berj
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang yang Mulai Terurai
Bab 7
Matahari pagi menyelinap masuk lewat celah tirai, menyentuh wajah Elena yang baru saja terbangun. Pertama yang ia rasakan adalah beratnya tubuh, namun hatinya jauh lebih ringan dibanding malam-malam sebelumnya. Di sampingnya, Alvaro sudah terjaga, sedang duduk diam memain-mainkan ujung selimut dengan jari-jarinya yang kecil. Saat melihat Elena membuka mata, ia langsung tersenyum malu-malu.
"Mama sudah bangun?" suaranya lembut sekali.
Elena langsung merangkulnya erat. "Iya, sayang. Mama sudah bangun. Kamu sudah lama bangun?"
Alvaro menggeleng pelan, lalu menyandarkan kepalanya di dada Elena. "Belum lama. Aku takut kalau aku bangun duluan, Mama akan pergi."
Hati Elena teriris sakit sekaligus hangat mendengarnya. Ia mengecup ubun-ubun anak itu berkali-kali. "Mama tidak akan pergi ke mana-mana. Mama janji akan selalu ada di sini buat Alvaro."
Setelah bersiap, mereka turun ke ruang makan. Suasana pagi itu terasa berbeda—pelayan yang menyambut mereka tersenyum sopan, bukan lagi dengan wajah tegang penuh rasa takut. Leonid sudah ada di sana, sedang membaca berkas-berkas tebal di meja makan. Saat melihat mereka masuk, ia meletakkan kertasnya perlahan.
"Duduklah," ucapnya singkat, namun nada bicaranya sudah tidak sedingin dulu.
Saat sarapan berlangsung hening, Elena memberanikan diri bicara. "Leonid... bolehkah aku mengajak Alvaro berjalan-jalan di halaman belakang nanti? Sepertinya dia butuh menghirup udara segar."
Leonid berhenti menyuap. Ia menatap Alvaro yang menatapnya berharap sambil memegang ujung baju Elena. "Boleh. Tapi jangan pergi terlalu jauh. Dan pastikan ada pengawal yang menjaga kalian."
"Makasih, Ayah!" seru Alvaro tanpa sadar, lalu langsung menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya pucat seketika takut dimarahi.
Leonid terpaku. Matanya melebar sedikit menatap anaknya. Selama empat tahun, belum pernah Alvaro menyebutnya begitu dengan sukarela. Perlahan, rahang yang biasanya tegang itu melunak. "Sama-sama... Nak."
Suasana pagi itu terasa begitu hangat, seolah kabut dingin yang menyelimuti rumah itu selama bertahun-tahun mulai perlahan menguap. Namun Elena tahu, di balik kehangatan itu, bahaya masih mengintai. Rian belum pergi, dan ia pasti sedang merencanakan sesuatu yang lebih buruk.
Benar saja, tak lama kemudian pesan singkat dikirimkan ke ponsel Elena—pesan yang tidak ada nama pengirimnya, tapi Elena tahu persis siapa yang mengirimnya: "Kau pikir kau bisa bermain peran sebagai ibu dan istri baik begitu saja? Sampai kapan kau bisa menutupi semuanya? Bertemu aku di gudang tua belakang kebun nanti sore sendirian. Kalau tidak, aku akan datang sendiri menemui suamimu."
Tangan Elena gemetar memegang ponselnya. Ia tahu itu jebakan, tapi ia tidak punya pilihan lain. Jika ia tidak datang, Rian akan melancarkan ancamannya yang pasti akan menghancurkan semuanya.
Sore harinya, setelah memastikan Alvaro sedang tidur siang dan Leonid sedang mengurus urusan di ruang kerjanya, Elena menyelinap keluar menuju gudang tua yang sudah lama ditinggalkan di ujung kebun belakang. Tempat itu sunyi, penuh debu, dan jauh dari jangkauan pandangan siapa pun.
Saat ia masuk, Rian sudah menunggu di sana, berjalan mondar-mandir dengan wajah penuh amarah yang tak bisa lagi disembunyikan.
"Kau akhirnya datang juga," katanya tajam. "Kau pikir pesananku hanya bualan semata?"
"Aku datang seperti yang kau minta. Sekarang katakan apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanya Elena tegas, berusaha menahan getaran suaranya.
"Apa yang kuinginkan? Uang! Hakku! Dan kau kembali seperti dulu!" bentak Rian mendekat. "Kau merencanakan semua ini bersamaku, kau yang bilang Leonid tidak mengerti kau, kau yang bilang kita akan lari dan hidup kaya raya! Kenapa tiba-tiba kau berubah jadi wanita yang tidak kukenal?!"
"Itu bukan aku, Rian! Itu bukan aku yang sebenarnya!" Elena membentak balik. "Aku sadar betapa salahnya aku. Aku punya anak yang butuh aku. Aku punya suami yang meski keras, tapi sebenarnya menyayangiku! Dan kau... kau hanya memanfaatkanku!"
Wajah Rian berubah gelap. Ia mencengkeram lengan Elena dengan kuat hingga terasa sakit. "Jangan bermimpi! Kau sudah terlanjur kotor! Tidak ada jalan kembali buat kau! Kau tetap milikku, dan rencana kita tetap berjalan!"
Lengan Elena terasa perih, tapi ia tidak mundur. "Lepaskan aku! Atau aku akan berteriak dan membiarkan semua orang tahu siapa kau sebenarnya!"
Rian tertawa sinis. "Berteriaklah! Siapa yang akan percaya pada istri pengkhianat sepertimu? Leonid akan membunuhmu lebih dulu sebelum dia percaya pada kata-katamu!"
Belum sempat ia melanjutkan, terdengar suara langkah kaki berat dan cepat mendekat. Wajah Rian seketika berubah pucat. Pintu gudang tua itu didorong terbuka dengan kasar.
Di sana berdiri Leonid. Matanya menyala penuh amarah yang mencekam, namun yang lebih mengerikan adalah tatapan dinginnya yang seolah siap melenyapkan siapa saja yang ada di hadapannya. Di belakangnya berdiri dua pengawal yang sudah siap siaga.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" suara Leonid rendah, namun setiap kata terasa seperti guntur yang menggelegar.
Rian melepaskan cengkeramannya pada Elena dengan tergesa-gesa, mundur selangkah mencoba mengatur sikapnya. "Leonid... aku... aku hanya mencoba menegur Elena. Dia terlihat tidak enak badan..."
"Diam!" bentak Leonid, suaranya menggetarkan dinding gudang tua itu. "Jangan berpikir kau bisa berbohong di hadapanku. Aku sudah mendengar semuanya."
Leonid melangkah maju perlahan, menatap Rian dengan pandangan yang begitu mengancam hingga pria itu gemetar ketakutan. "Kau berani menyentuh istriku? Kau berani mengancam keluargaku?"
"Aku... Elena sendiri yang memintaku datang! Dia yang merencanakan semuanya!" Rian mencoba melemparkan kesalahan pada Elena.
Elena maju selangkah, menatap Leonid lurus ke mata meski hatinya hancur takut. "Leonid... apa yang dia katakan sebagian benar... dulu aku memang merencanakan itu. Tapi sekarang... aku sudah berubah. Aku tidak mau lagi. Tolong percayai aku sekali saja."
Leonid menatapnya lama sekali. Di matanya terlihat pergolakan yang hebat—antara rasa sakit karena pengkhianatan masa lalu, dan keyakinan pada perubahan tulus yang ia lihat selama ini. Akhirnya ia berbalik menatap Rian kembali.
"Pengkhianatan masa lalunya adalah urusan denganku," ucap Leonid dingin dan tegas. "Tapi kau... kau yang datang mengancam, kau yang memaksanya, dan kau yang berani mengganggu keluargaku. Itu adalah kesalahan yang tak termaafkan."
Dengan satu isyarat tangan, pengawal segera menangkap Rian yang mencoba melarikan diri.
"Bawa dia pergi. Dan pastikan dia tidak akan pernah bisa mengganggu siapa pun lagi," perintah Leonid singkat.
Setelah Rian dibawa pergi dan gudang kembali hening, hanya tinggal mereka berdua. Elena menunduk, air mata jatuh membasahi pipinya. Ia siap menerima apa pun kemarahan Leonid.
Namun bukannya bentakan atau kemarahan, Elena merasakan sentuhan hangat di lengannya. Leonid memegang bahunya perlahan, mengangkat wajahnya agar menatapnya.
"Kau bilang kau sudah berubah," ucapnya pelan. "Buktikan padaku. Jangan pernah menyembunyikan apa pun dariku lagi. Kita hadapi semuanya bersama-sama."
Elena menangis terisak, lalu memeluk pinggang Leonid erat seolah takut ia akan hilang. "Terima kasih... terima kasih sudah memberiku kesempatan."
Leonid membalas pelukannya perlahan, menepuk punggungnya dengan kaku namun penuh makna. Untuk pertama kalinya, beban berat yang dipikul Elena sendirian kini terbagi dua. Perjalanan mereka belum berakhir, masih banyak hal yang harus diperbaiki dan dihadapi, namun setidaknya sekarang mereka tidak lagi berjalan sendirian.
bersambung...