Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 — Arunika dan Hidup Baru
Pria tua itu mengepalkan tangan.
"Siapkan mobil."
"Ya, Tuan."
"Hubungi semua orang yang masih setia pada keluarga Aditya."
"Jangan biarkan polisi atau orang Mahardika menemukan Arunika lebih dulu."
"Baik!"
Langkah kaki tergesa-gesa segera memenuhi lorong rahasia itu. Beberapa orang berjas hitam mulai bergerak, membuka lemari besi, mengambil dokumen, dan menyiapkan kendaraan.
Pria tua itu kembali menatap foto bayi dalam genggamannya.
"Maafkan kami... karena baru bisa datang sekarang."
Sementara itu, Arunika masih tertidur pulas di kamar kecil penginapan, Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah jendela kayu yang sudah lapuk. Burung-burung berkicau di kejauhan, berpadu dengan suara kendaraan yang mulai memenuhi jalan.
Sudah bertahun-tahun Arunika terbiasa dibangunkan oleh suara pelayan yang mengetuk pintu kamarnya. Kini, yang membangunkannya adalah aroma nasi yang sedang dimasak.
Perlahan ia membuka mata, Selama beberapa detik ia menatap langit-langit kamar yang penuh bercak rembesan air. Barulah ia teringat, Ia bukan lagi putri keluarga Mahardika.
Ia kini hanyalah seorang gadis biasa yang harus memulai hidup dari nol, Arunika menarik napas panjang sebelum bangkit.
"Aku harus kuat."
Ia merapikan tempat tidur tipis itu serapi mungkin, lalu keluar menuju dapur.
Nenek pemilik penginapan sedang menanak nasi sambil mengaduk sayur bening.
"Selamat pagi."
Arunika langsung membungkuk sopan.
"Selamat pagi, Nek."
Nenek itu tersenyum hangat.
"Kau bangun lebih cepat dari yang kukira."
"Saya tidak ingin bermalas-malasan."
"Bagus."
"Kalau begitu, sarapan dulu."
Arunika menggeleng pelan.
"Nanti saja setelah bekerja."
Nenek itu justru menyodorkan sepiring nasi hangat.
"Orang bekerja harus punya tenaga."
"Kau anggap saja ini bagian dari gaji pertamamu."
Mata Arunika kembali memanas, Baru sehari meninggalkan rumah Mahardika, ia justru menerima lebih banyak perhatian dari orang asing dibanding keluarganya sendiri.
"Terima kasih."
Ia makan perlahan, Masakan sederhana itu terasa jauh lebih nikmat daripada hidangan mahal yang biasa tersaji di meja keluarga Mahardika.
Karena di dalamnya ada ketulusan, Setelah sarapan, pekerjaan pun dimulai. Arunika diberi sapu, ember, kain pel, dan daftar kamar yang harus dibersihkan.
Penginapan itu tidak besar, Hanya memiliki dua belas kamar, Meski begitu, hampir semuanya terisi.
Arunika mulai membersihkan satu per satu. Ia menyapu lantai, mengganti sprei, mencuci kamar mandi, hingga mengelap jendela.
Tangannya mulai memerah karena belum pernah melakukan pekerjaan seberat itu.
Di rumah Mahardika, bahkan menyeduh teh pun dilakukan pelayan. Kini semuanya harus ia kerjakan sendiri.
Beberapa kali napasnya terengah, Namun tak sekalipun ia mengeluh. Justru setiap tetes keringat membuatnya merasa semakin bebas. Setidaknya...
Ia hidup dari hasil usahanya sendiri, Menjelang siang, seorang tamu laki-laki paruh baya datang ke resepsionis.
"Nak, kamarku AC-nya tidak dingin."
"Saya cek sekarang."
Arunika segera naik ke lantai dua, Ia mencoba menyalakan ulang pendingin ruangan, tetapi tetap tidak berfungsi.
"Nek, saya rasa harus dipanggil teknisi."
Nenek itu menghela napas.
"Kalau begitu, pengeluaran bulan ini bertambah lagi."
Mendengar nada khawatir itu, Arunika memperhatikan mesin AC beberapa saat.
Semasa kecil, ayahnya—atau lebih tepatnya orang yang selama ini ia anggap ayah—pernah mengajarinya cara kerja beberapa peralatan rumah.
Ia membuka penutup filter, Debu tebal memenuhi bagian dalamnya.
"Sepertinya hanya tersumbat."
Dengan hati-hati ia membersihkan filter menggunakan air dan kain bersih.
Setelah dipasang kembali, AC kembali mengembuskan udara dingin.
Tamu itu tersenyum puas.
"Wah, hebat."
Nenek pun tampak terkejut.
"Kau bisa memperbaikinya?"
Arunika tersenyum malu.
"Hanya kebetulan pernah belajar sedikit."
"Kalau begitu, kau benar-benar membawa keberuntungan ke tempat ini."
Ucapan itu membuat hati Arunika terasa hangat, Sudah lama ia tidak mendengar pujian yang tulus. Di sisi lain kota, Ruang rapat keluarga Mahardika dipenuhi suasana tegang.
Maya duduk dengan anggun sambil, menyeruput kopi. Clarissa tersenyum tipis.
"Polisi pasti segera menangkapnya."
Direktur hukum perusahaan mengangguk.
"Semua dokumen sudah kami serahkan."
"Tinggal menunggu proses."
Namun sebelum rapat berakhir, pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka. Seorang staf berlari masuk dengan wajah pucat.
"Bu Maya!"
"Ada masalah."
Maya mengernyit.
"Apa lagi?"
"Rekening pribadi Nona Arunika."
"Kenapa?"
"Setelah kami telusuri..."
"nona Arunika tidak pernah menerima transfer lima miliar seperti yang kita laporkan."
Ruangan langsung sunyi.
Clarissa berdiri.
"Itu tidak mungkin."
Staf itu menelan ludah.
"Kami sudah memeriksa berkali-kali."
"Data banknya bersih."
Wajah Maya perlahan berubah dingin.
"Kalau begitu...Pastikan tidak ada yang mengetahui hasil pemeriksaan itu."
"Bu..."
"Lakukan saja."
Staf itu hanya bisa mengangguk dengan wajah gelisah, Sore harinya, Arunika selesai membersihkan seluruh kamar.
Tubuhnya terasa pegal, Namun saat melihat setiap kamar bersih dan rapi, muncul rasa bangga yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Nenek menghampirinya sambil membawa segelas teh hangat.
"Capek?"
"Sedikit."
"Itu wajar."
"Kau bekerja sangat baik."
"Lusa, kalau tetap betah, akan kutambah sedikit gajimu."
Arunika tersenyum.
"Terima kasih, Nek."
Saat itu juga, sebuah mobil mewah berhenti di depan penginapan, Semua orang menoleh.
Seorang pria mengenakan jas turun dari mobil, Langkahnya tenang namun berwibawa.
Arunika ikut melihat sekilas, tetapi segera kembali menyapu halaman. Ia tidak ingin lagi berurusan dengan orang-orang kaya.
Pria itu adalah Adrian, Ia sebenarnya datang untuk memastikan keadaan Arunika, Namun ketika melihat gadis itu tersenyum sambil bekerja, ia menghentikan langkahnya.
Sekretaris berdiri di belakangnya.
"Tuan, apa kita masuk?"
Adrian menggeleng pelan.
"Belum."
"Tapi..."
"Dia sedang mulai membangun hidupnya."
"Kalau aku muncul sekarang, semuanya hanya akan membuatnya semakin curiga."
Ia menatap Arunika beberapa saat, Sorot mata dingin yang selama ini dimilikinya seolah melembut.
"Pastikan penginapan ini tetap aman."
"Tapi jangan sampai dia tahu."
"Baik, Tuan."
Mobil itu pun kembali pergi tanpa diketahui Arunika, Malam kembali turun. Setelah makan malam sederhana bersama sang nenek, Arunika duduk sendirian di halaman belakang.
Langit dipenuhi bintang, Sudah lama sekali ia tidak menikmati malam setenang ini. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Nomor tak dikenal.
Arunika ragu beberapa saat sebelum membuka pesan itu.
"Besok pagi pukul delapan, polisi akan datang menangkapmu."
Jantungnya berdegup kencang, Belum sempat ia mencerna isi pesan itu, pesan kedua masuk.
"Jangan melawan."
"Pergilah melalui pintu belakang penginapan pukul tujuh."
"Seseorang akan menunggumu."
Arunika menggigit bibir, Siapa sebenarnya pengirim pesan ini?
Musuh?
Atau justru orang yang selama ini diam-diam melindunginya?
Di saat yang sama, dari kejauhan, sebuah mobil polisi mulai memasuki wilayah tempat penginapan itu berada.
Lampu rotatornya belum dinyalakan, seolah mereka tidak ingin menarik perhatian, Di dalam mobil, seorang penyidik membuka map berisi foto Arunika.
"Besok pagi kita jemput dia."
Namun tanpa mereka sadari, dua mobil lain telah mengikuti dari belakang.
Satu milik Adrian Group.
Satu lagi milik kelompok pria berambut perak.
Perburuan terhadap Arunika... baru saja dimulai.