Selama tujuh tahun, Zahira Narapati mengorbankan karier dan mimpinya demi mendampingi Deris Adikara membangun usaha. Namun, saat kesuksesan akhirnya diraih, Deris justru menceraikannya karena menganggap Zahira tak lagi sejalan dengan kehidupannya dan memilih wanita lain.
Semua orang mengira perceraian itu akan menghancurkan Zahira. Nyatanya, ia bangkit dari nol, membangun kembali kariernya hingga menjadi perempuan sukses yang berdiri di atas kakinya sendiri.
Dalam perjalanan itu, Zahira bertemu Revan Wiranata, pria yang menghargai kesetiaan dan memberinya kebahagiaan baru. Ketika Deris menyesali keputusannya dan ingin kembali, Zahira memilih melangkah bersama seseorang yang benar-benar menghargainya. Sebab, setiap luka bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode — 14.
Kabar mengenai pengangkatan Zahira sebagai General Manager Divisi Operasional Wiranata Corp menyebar jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan.
Dalam hitungan jam, berita itu sudah beredar di berbagai grup bisnis. Banyak yang terkejut karena perusahaan sebesar Wiranata Corp dikenal sangat ketat dalam memilih jajaran eksekutifnya.
Di rumah keluarga Adikara, Wulan sedang menyiram tanaman ketika salah seorang kerabat datang terburu-buru sambil membawa ponsel.
"Wulan! Kamu sudah baca berita ini?"
"Ada apa?"
"Baca sendiri."
Wulan menerima ponsel itu. Begitu melihat foto Zahira mengenakan blazer putih dengan latar belakang logo Wiranata Corp, ia seketika membeku.
'Wiranata Corp Resmi Mengangkat Zahira Narapati sebagai General Manager Divisi Operasional.'
Di bawah judul itu tertulis riwayat singkat mengenai kemampuan Zahira dalam manajemen operasional, efisiensi perusahaan, serta kepemimpinan organisasi.
Tangan Wulan perlahan bergetar.
"General... Manager?"
Suara wanita itu hampir tidak terdengar.
Tak lama kemudian, Bima yang baru turun dari lantai atas ikut membaca berita tersebut. Ia mengembuskan napas panjang. "Aku sama sekali tidak terkejut."
"Maksudmu?"
"Dari dulu Zahira memang memiliki kemampuan itu. Hanya saja, selama berada di keluarga kita, semua keberhasilannya selalu dianggap sebagai keberhasilan Deris."
Kata-kata itu membuat dada Wulan semakin sesak, Ia teringat begitu banyak kejadian. Saat perusahaan kehilangan puluhan karyawan karena krisis, yang berhasil menyusun ulang sistem kerja bukan Deris melainkan Zahira.
Saat perusahaan hampir gagal memenuhi pesanan besar, yang rela menginap tiga malam di gudang untuk memastikan seluruh pengiriman selesai tepat waktu juga Zahira. Bahkan... ketika Deris menerima penghargaan sebagai Pengusaha Inspiratif, orang yang bekerja hingga larut malam menyusun seluruh data presentasi penghargaan itu adalah Zahira.
Namun, tak sekali pun keluarga mereka menganggap semua itu sebagai prestasi. Yang mereka lihat hanyalah Deris. Sementara Zahira, selalu berdiri beberapa langkah di belakang.
"Selama ini... ternyata bukan Zahira yang bergantung pada keluarga kita." Air mata Wulan kembali mengalir, suara wanita paruh baya itu bergetar. "Kitalah yang terlalu bergantung padanya."
"Kita baru menyadari nilainya setelah kehilangannya." Bima memejamkan matanya dengan wajah penuh penyesalan.
Di sisi lain.
Kayla sedang makan siang bersama beberapa sahabatnya di sebuah restoran mewah.
Salah seorang temannya tiba-tiba berkata, "Kay, ini bukannya... mantan istrinya Mas Deris?"
Kayla langsung menoleh, sahabatnya menunjukkan sebuah berita di layar ponsel. Senyumnya perlahan menghilang. "General Manager?"
Ia membaca berita itu berulang kali. "Mustahil."
"Aku kira setelah diceraikan, dia bakal menghilang. Ternyata... malah masuk ke Wiranata Corp." Temannya ikut berkomentar.
"Hebat juga ya."
"Wiranata Corp bukan perusahaan sembarangan."
Semakin banyak pujian yang terdengar, semakin buruk suasana hati Kayla. Ia langsung mengambil tasnya. "Aku pulang dulu."
"Baru juga datang."
"Aku ada urusan."
Sepanjang perjalanan menuju kantor Deris, satu pikiran terus memenuhi kepalanya. Kalau Zahira semakin sukses... apakah Deris akan semakin sulit melupakan mantan istrinya itu?
...***...
Sementara, di ruang kerja Revan. Seorang manajer senior baru saja selesai mempresentasikan hasil evaluasi rapat yang dipimpin Zahira pagi tadi.
"Pak Revan, kami sudah lama bekerja di perusahaan ini. Terus terang, awalnya kami meragukan Bu Zahira karena beliau baru bergabung."
"Lalu?"
"Setelah rapat tadi, keraguan kami hilang."
"Alasannya?" Revan berpura-pura menatap laporan di tangannya, padahal dia sudah bisa menebak.
"Beliau tidak banyak bicara, tetapi setiap keputusan memiliki dasar yang jelas. Bahkan beberapa masalah yang selama ini kami anggap biasa, ternyata sudah beliau siapkan solusinya."
Manajer itu tersenyum kecil. "Sudah lama kami tidak melihat rapat operasional selesai secepat tadi."
"Kalau begitu, mulai minggu depan... berikan seluruh akses data yang dibutuhkan Bu Zahira."
"Baik, Pak. Oh ya..." Manajer itu kembali teringat sesuatu. "Besok malam ada forum bisnis yang mempertemukan beberapa perusahaan besar, dan biasanya Bapak hadir sendiri."
"Kali ini Bu Zahira akan menemaniku."
Manajer itu sedikit terkejut, namun tak mengatakan apapun.
Sore harinya...
Zahira sedang menyelesaikan laporan ketika telepon internal di mejanya berbunyi.
"Silakan masuk."
Sekretaris Revan muncul di depan pintu. "Bu Zahira, Pak Revan meminta waktu sebentar. Apakah Ibu bisa ke ruang beliau sekarang?"
"Tentu."
Beberapa menit kemudian, Zahira berdiri di depan ruang Direktur Utama.
Tok... tok... tok...
"Masuk."
Wanita itu membuka pintu perlahan, Revan masih fokus membaca beberapa dokumen.
"Silakan duduk."
"Baik."
Setelah menandatangani berkas terakhir, Revan baru lah mengangkat pandangannya. "Besok malam ada forum bisnis yang dihadiri investor dan pemimpin perusahaan nasional, ini berbeda dengan forum kemarin. Saya ingin kamu ikut mendampingi saya."
"Saya, Pak?" Zahira tampak sedikit terkejut.
"Iya."
"Tapi saya baru beberapa hari bekerja."
"Itulah alasannya." Revan menyandarkan tubuhnya. "Semakin cepat kamu dikenal karena kemampuan sendiri, semakin baik untuk karier-mu."
Zahira terdiam, Ia tidak menyangka Revan memikirkan hal sejauh itu.
"Saya percaya pada kemampuanmu, jadi jangan membuat saya salah memilih."
Kata-kata pria itu sederhana, namun cukup membuat kepercayaan diri Zahira tumbuh kembali. Ia menganggukkan kepala mantap. "Baik, Pak. Saya akan mempersiapkan semuanya sebaik mungkin."
"Saya tunggu besok." Revan mengangguk singkat.
"Kalau begitu saya permisi." Zahira berdiri dari kursinya, lalu melangkah menuju pintu ruangan. Jemarinya baru saja hendak meraih gagang pintu ketika suara Revan kembali menghentikan langkahnya.
"Zahira."
"Iya?"
"Besok... datanglah sebagai General Manager Wiranata Corp, bukan sebagai perempuan yang pernah ditinggalkan seseorang."
Tatapan Zahira perlahan melembut. “Baik, Pak.“
Di luar gedung Wiranata Corp, sebuah mobil hitam berhenti di seberang jalan. Deris duduk di kursi belakang sambil memandangi pintu utama perusahaan. Tatapannya tepat menangkap sosok Zahira yang keluar dari lobi dengan langkah tegap dan senyum tipis di wajahnya.
Senyum yang dulu selalu ia anggap biasa, kini menjadi sesuatu yang sangat ia rindukan, tetapi sudah tidak lagi ia miliki. Kali ini, penyesalan benar-benar menggerogoti hatinya.
Dan kesalahan tu yg bikin mereka gx ingin melihat Dunia luar lgii ,, 😏😏😏😏😏😏
dsnii bakal keliatan ,,
mana yg berdiri dg kaki ny ,,
Dan mana yg berdiri msh menggunakan kaki orang tuany ,, 😒😒😒😒🤭🤭🤭🤭