NovelToon NovelToon
Janji Di Atas Kertas

Janji Di Atas Kertas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Neng Wendah

Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.

Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.

Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

~ Panggilan Mesra Dan Badai Media

Suasana ruang makan kediaman Menteng masih dilingkupi kehangatan yang amat mendalam usai penyematan cincin warisan milik Almarhumah Ibunda Reno di jari manis Aura. Pendar silau dari berlian bernuansa klasik itu tampak begitu cantik, anggun, dan sempurna melingkar di jemari mulusnya, seolah menegaskan status Aura yang kini benar-benar menjadi bagian paling berharga dari keluarga besar Adhyastha.

Nenek Ratna mengusap lembut punggung tangan Aura dengan raut wajah penuh haru dan kebahagiaan yang meluap-luap. "Nenek benar-benar tenang dan lega luar biasa sekarang. Melihat kalian berdua saling menyayangi, menghargai, dan memperhatikan seperti ini, beban berat di dada Nenek rasanya terangkat semua tanpa tersisa."

Aura tersenyum manis dengan tatapan mata yang sangat sejuk, lalu melirik ke arah Reno yang duduk tepat di sampingnya. Sesuai kesepakatan kecil mereka demi menjaga kebahagiaan sang Nenek, Aura memasang wajah penuh kehangatan.

"Nenek tidak perlu khawatir lagi ya..." tutur Aura lembut, suara merdunya mengalun begitu indah menghangatkan ruang makan yang megah tersebut. "Mas Reno sangat memperhatikan dan menjaga saya dengan sangat baik selama ini. Ya kan, Mas?"

Reno menoleh, beradu pandang tepat dengan manik mata jernih Aura. Sudut bibir Reno perlahan terangkat tipis, membentuk ukiran senyum tampan yang amat langka diperlihatkannya. Pria itu mengulurkan tangannya yang tegap, mengusap pelan jemari hangat Aura yang terbaring di atas meja makan.

"Tentu saja, Nek. Membahagiakan dan menjaga Aura sudah menjadi prioritas utama di dalam hidup Reno sekarang," balas Reno dengan nada suara beratnya yang begitu memikat, lalu memalingkan pandangannya menatap Aura dengan pendar mata kelam yang amat dalam. "Apa pun akan saya lakukan untuk istri tercintaku ini... ya kan, Sayang?"

Meskipun panggilan itu diucapkan semata-mata demi menjaga perasaan sang Nenek, tetap saja setiap kali sebutan 'Sayang' keluar dengan nada suara rendah dan penuh ketulusan dari bibir sang CEO Adhyastha Group, wajah Aura tetap terasa hangat membakar. Pipi mulusnya merona pink pekat secara alami.

Aura menggigit bibir bawahnya pelan, meremas ujung gamis berwarna pink pastel yang dikenakannya demi menutupi debaran dadanya yang mendadak menggebu liar tak terkendali di balik pakaiannya.

Nenek Ratna yang menyaksikan interaksi manis itu tertawa renyah penuh rasa bahagia yang tak terhingga.

"Aduh, romantis sekali cucu-cucu Nenek ini!" goda Nenek Ratna dengan mata berbinar-binar gembira.rumah tua yang sepi ini terasa penuh dengan warna cinta kembali. Nenek jadi makin tidak sabar ingin segera menimang cicit dari kalian berdua."

Mendengar kata cicit, rona merah di pipi Aura makin menjalar hingga ke balik hijabnya, sementara Reno hanya mampu berdehem keras untuk menutupi rasa salah tingkahnya yang membuncah.

Satu jam kemudian, jam dinding kayu berukir di sudut ruang tamu menunjukkan pukul sembilan pagi. Udara pagi Menteng yang segar mengiringi langkah Reno dan Aura yang bersiap-siap untuk pamit kembali, mengingat ada beberapa berkas dokumen kantor penting yang harus segera diperiksa dan ditandatangani oleh Reno sebelum awal pekan.

Di teras depan kediaman besar Menteng yang asri dan dikelilingi pepohonan rindang, Nenek Ratna memeluk Aura dengan sangat erat, menepuk-nepuk pelan punggung cucu menantunya itu dengan pendar kasih sayang seorang ibu yang begitu mengayomi.

"Aura sayang, sering-sering main dan menginap di rumah ini ya, Nak," bisik Nenek Ratna lembut tepat di dekat telinga Aura. "Ingat baik-baik pesan Nenek... dalam sebuah ikatan pernikahan, kunci utamanya adalah saling percaya, terbuka, dan melengkapi. Jangan pernah biarkan pihak luar, rumor busuk, atau godaan apa pun merusak keharmonisan rumah tangga kalian berdua."

"Iya, Nek. Terima kasih banyak atas seluruh wejangan yang sangat berharga, kehangatan, dan cincin indah ini," balas Aura penuh takzim seraya membungkuk santun, mencium kedua pipi dan punggung tangan wanita sepuh tersebut dengan amat hormat.

Reno juga melangkah mendekat, menggenggam dan mencium tangan Neneknya dengan penuh rasa hormat. "Kami pamit pulang dulu ya, Nenek. Reno janji akan selalu menjaga Aura dengan baik."

Namun, tepat saat Reno membukakan pintu mobil Alphard hitam untuk Aura melangkah masuk, ponsel kerja di dalam saku jas hitam Reno bergetar nyaring tanpa henti. Nama Pak Aslan tertera jelas di layar panggilannya.

Reno menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel mewah itu ke telinganya. "Ya, Aslan? Ada apa?"

Suara Pak Aslan di seberang telepon mengalun begitu tegang dan panik. "Tuan Reno, mohon maaf mengganggu waktu Anda! Ada situasi darurat yang pecah di portal berita media online saat ini! Miss Clara Hermawan baru saja menggelar konferensi pers mendadak di Ballroom Hermawan Corp!"

Alis tebal Reno bertaut tajam. "Konferensi pers soal apa?"

"Miss Clara memanfaatkan fakta bahwa pernikahan Anda belum dipublikasikan, Tuan! Dia mengumumkan secara sepihak di hadapan puluhan wartawan bahwa proyek investasi mega-properti terbaru Adhyastha Group adalah bentuk komitmen aliansi pernikahan antara Anda dan dirinya! Berita ini langsung menjadi trending topic nomor satu di seluruh media nasional!" lanjut Pak Aslan penuh kekhawatiran.

Pandangan mata Reno yang tadinya tenang seketika berubah menjadi sangat dingin dan tajam. Sorot matanya memancarkan amarah besar yang ditahannya setengah mati. Rahang tegas pria itu mengeras rapat. Clara Hermawan benar-benar telah melampaui batas dengan menyebarkan kebohongan publik demi menjerat dirinya.

Aura yang memperhatikan perubahan drastis pada sorot mata Reno dan bagaimana pria itu menahan amarah yang membuncah usai mematikan sambungan teleponnya, merasa cemas. Aura melangkah mendekat.

"Ada apa, Reno? Apa ada masalah serius di kantor?" tanya Aura reflek, menyuarakan rasa penasarannya.

Reno menghela napas panjang, berusaha menetralkan raut wajahnya di hadapan Nenek dan sopir agar tidak menimbulkan kepanikan yang tak perlu.

"Bukan masalah besar, hanya ada hal teknis di kantor," jawab Reno singkat dan tenang, menutupi amarahnya. "Kita pulang sekarang."

Reno membukakan pintu mobil dan membiarkan Aura masuk terlebih dahulu, sebelum ia menyusul duduk di sampingnya. Pintu mobil ditutup rapat, dan kendaraan mewah itu melaju membelah jalanan ibu kota menuju tempat tinggal mereka.

Di dalam mobil, Reno memilih bungkam dengan tatapan lurus menatap jalanan,Aura yang mengerti situasi juga tidak mendesak, meski kepalanya dipenuhi tanda tanya besar.

Begitu sampai di penthouse dan pintu utama tertutup rapat menyisakan mereka berdua di dalam ruangan yang privat dan tenang,barulah Reno membuka suara. Pria itu melepaskan jas hitamnya dan menyampirkannya di sandaran sofa, lalu membalikkan badan menatap Aura.

Aura berdiri beberapa langkah darinya, menatap Reno dengan raut wajah cemas dan menanti penjelasan.

"Telepon dari Aslan tadi..." ujar Reno dengan suara berat, mencoba mengatur nada bicaranya agar tetap terkontrol. "Clara baru saja menggelar konferensi pers mendadak. Dia mengklaim secara sepihak di hadapan puluhan wartawan bahwa Adhyastha Group dan Hermawan Corp akan melakukan aliansi pernikahan antara saya dan dirinya."

Aura tersentak kaget. Dada wanita itu seketika berdesir aneh. Ada riak halus ketidaknyamanan yang mendadak menyeruak di relung hatinya saat mendengar nama Clara disandingkan dengan pria yang kini berstatus sebagai suaminya meskipun ikatan di antara mereka hanyalah sebuah perjanjian tertulis.

Namun, perasaan mengganjal itu buru-buru ditepisnya,pikiran Aura langsung tertuju pada satu hal yang sangat penting.

"Lalu kamu mau bagaimana menanggapi semua itu?" tanya Aura cepat dengan nada khawatir yang tak bisa disembunyikan. "Terutama berita yang sudah tersebar luas ini... jangan sampai Nenek mengetahuinya, Reno. Nenek baru saja merasa tenang dan bahagia usai memberikan cincin ini. Kalau Nenek sampai dengar rumor ini, takut nya beliau drop atau salah paham."

Reno menatap lekat-lekat manik mata Aura. Ada kilat kepedulian yang tulus dari wanita itu terhadap sang Nenek, sesuatu yang membuat dada Reno berdesir hangat. Rasa panik yang sempat menahannya perlahan memudar, berganti ketegasan.

"Kamu tenang saja. Saya tidak akan biarkan berita ini sampai mengganggu Nenek," balas Reno lembut namun penuh kepastian. "Aslan dan tim Humas Adhyastha Group sudah saya perintahkan untuk menyiapkan rilis resmi dan konferensi darurat hari ini juga untuk membantah keras klaim sepihak dari Clara."

Aura menarik napas lega, mengangguk pelan menanggapi keputusan Reno. "Baguslah kalau begitu. Yang terpenting masalah ini bisa segera diluruskan sebelum dampaknya makin meluas."

Aura kemudian berbalik melangkah menuju kamarnya untuk mengganti pakaian. Sembari berjalan, jarinya tanpa sadar mengelus pelan cincin berlian warisan milik almarhumah ibu Reno yang melingkar cantik di jari manisnya. Di balik senyum lega karena Nenek terlindungi, ada ganjalan asing di relung hatinya sebuah rasa tidak nyaman yang enggan ia akui sebagai kecemburuan atas klaim wanita lain terhadap suami kontraknya.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
Neng Wendah: Terima kasih banyak Kak Rian sudah mampir! Selamat menikmati kisahnya ya 😊🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!